
"Good morning, cantik. Ready to go to school together?"
Baru membuka pintu, aku udah disuguhkan pemandangan ga enak di depan panti.
"Ready.."
"Belum ready, nih."
"Pegangan yang kuat."
"Oke, pak."
Cih.
Mereka tertawa lalu melajukan motor dengan kecepatan pelan.
Kalau liat Ari sebahagia itu bareng Juna, aku bisa apa?
Huffft.
"Syaa.. kok melamun." Mama datang bersama papa yang hendak ke kantor.
"Papa antar, ya." Ujar papa.
"Badan kamu masih hangat, apa bisa bawa motor sendiri? Atau istirahat aja ga usah sekolah, ya?" Kata mama, terus mengusap kepalaku dengan lembut.
"Ngga apapa, ma. Arsya bisa bawa motor, kok."
"Uuu, jangan-jangan ga sabar ketemu Vita, yaa.." ledek mama.
"Hah." Papa menghela napas, lalu duduk di kursi teras dan memakai kaus kakinya. "Wajahnya datar gitu, masa bisa jadian sama yang lain. Nonsense.."
Emang ga ada hari tanpa menggangguku. Itulah papa.
"Arsya berangkat, ma." Aku menyalami dan mencium pipi mama. Lalu mendekati papa untuk bersalam.
"Baik-baik, jangan sampe nyesel." Ujar papa saat aku mencium tangannya.
"Ngomong apa, sih. Kok mama ga ngerti."
"Yah, begitulah. Memang cuma Arsya yang paham." Kata papa yang kemudian mendekati mama, cemberut karena ga dikasih tau maksudnya. "Aku berangkat, sayang." Papa mengecup kening, kedua pipi, dan bibir mama sekilas.
Aku yang sudah bersiap di atas motor hanya geleng-geleng kepala.
"Hati-hati, syaa."
Aku mengangguk lalu menjalankan motor. Setiap liat mama dan papa bermesraan begitu, semangatku memuncak drastis. Impianku pastilah sama, memiliki istri yang seperti mama. Aku mau hidupku seperti papa, yang setiap hari bersyukur karena memilih istri yang sangat tepat dalam hidupnya.
Melihat bagaimana keluarga lain bertengkar dan bercerai hanya masalah kecil, aku jadi sangat menyayangi orang tauku. Walau sering juga kulihat papa dan mama saling bercekcok kecil, tapi diantara mereka selalu ada yang mengalah.
Bisakah aku seperti itu nanti?
Lagi melamun hal indah, aku malah bertemu dengan Ari dan Juna yang menaiki motor dengan sangat lamban. Padahal aku udah memberi jarak yang cukup lama, tapi ketemu juga.
Aku memperhatikan Ari dari belakang. Dia memeluk erat Juna yang sesekali tertawa bersamanya.
Taukah, setiap hari rasanya jadi berat. Semua terasa sejak aku menyadari kalau aku punya perasaan yang berbeda buat Ari.
Awalnya, ku pikir aku cuma ga suka ada orang lain yang bermain bersama Ari. Tapi lama-lama memang terasa aneh. Aku sadar, aku sudah terbiasa bersama Ari yang buat aku perlahan jatuh hati.
Tapi Ari, dia ga begitu padaku. Dia.. jatuh hati pada orang lain.
Aku mempercepat laju motor dan melewati mereka. Terlalu mengganggu pemandangan.
Aku sampai duluan, dan begitu tiba, Vita datang terburu-buru ke arahku.
"Arsyaa. Katanya tadi sakit, kok kamu datang ke sekolah?"
Vita menyentuh dahi dan pipiku dengan khawatir. Tapi mataku mengarah pada Ari yang tangannya digandeng Juna melangkah jauh.
Aku yakin dia dengar seruan Vita kalo aku sakit. Tapi.. dia ga peduli?
"Syaa.. kita ke UKS aja, ya??"
"Ngga apapa. Ini udah mendingan."
"Yang bener.." Vita menggenggam tanganku dengan raut cemas.
Ada yang perhatian, tapi aku malah mencari perhatian orang lain.
"Ke kelas, yuk." Aku menggandeng tangannya dan melangkah bersama.
~
Jam istirahat, Vita udah datang ke kelas dan mengajakku makan. Saat di jalan, Vita menarik Hani yang tadinya ingin menghindar ketika melihatku.
"Udah, ikut aja!"
Mau tak mau, Hani yang tertekan oleh tatapanku dan perintah Vita pun menunduk sepanjang jalan.
"Aikkhh! Bisa diem gak, sih. Muka aja tua kelakuan kaya anak-anak."
Suara Ari, ternyata dia berjalan di depanku bersama Hajoon dan Kai. Mereka jadi akrab, ya.
__ADS_1
"He, Pabo. Belakangan lo digangguin lagi, gak?" Tanya Kai.
"Engga, kok. Padahal aku nungguin juga karena mau tau banget siapa pelakunya."
Hani menunduk, terlebih saat dia tahu aku terus menatapnya.
"Udah tau dia, kalo ada dua guardian angel yang ada di belakang lo." Celetuk Hajoon.
"Hah? Siapa guardian angel?"
"Kita lah!" Jawab Kai dan beradu tos dengan Hajoon sambil tertawa.
Guardian angel. Hh. Ini, dibelakang lo orangnya, Ri.
"Tapi Pabo, lo pendek juga, ya."
"Sialan, lo pikir ketek lo wangi!" Ari mencubit Kai yang terus meledeknya.
Kenapa jalanku jadi sangat curam. Sekarang Ari senang banget, walau ga sama aku, dia punya banyak teman. Tapi kenapa cowok semua, sih!
"Ariva." Hani menemukan jalan untuk lepas, dia mendekati Ari.
Ari menoleh ke belakang. Tatapannya lurus padaku. Kuperhatikan matanya, ada rasa khawatir disana.
"Mau ke kantin, ya?"
Ari mengangguk lambat.
"Pas banget. Gue juga mau ke kantin." Hani meraih dan melingkarkan tangannya di lengan Ari. "Bareng, ya. Gapapa, kan?"
Mereka berjalan menuju kantin, sementara langkahku terhenti.
"Kenapa, Sya?" Tanya Vita.
Aku melirik layar ponsel. Berapa menit untuk melewatkan waktu istirahat? Kayaknya aku ga mau kesana.
"Aku balik ke kelas aja, gapapa, kan?"
Vita menggeleng. "Nggak. Ga bisa. Kamu harus makan."
"Aku pasti makan. Tapi sekarang perutku mual." Ucapku bohong. "Aku ke toilet, ya."
Vita meraih ponsel di tanganku. "Oke, tapi ini aku pegang. Kamu temenin aku."
Hah. Ga bisa kabur.
~
"Sya. Kenapa lo? Lemes banget." Tegur Zaki saat aku menghampirinya di bawah tangga.
"Mana Hp lo? Biasanya ngajak."
"Sama Vita."
"Cielee. Dititipin pacar." Ledek Danu.
"Bukan pacar."
"Hah? Belom lo tembak?"
"Belom."
Zaki dan Danu saling pandang.
"Gila lo, ngegantung anak orang. Emang Vita kurang apa?"
Ditanya begitu oleh Zaki, aku diam. Tapi dalam hatiku menjawab begitu banyak kurang yang kurasa. Dan yang paling terasa adalah kurang nyaman.
Sekuat apapun aku berusaha mengenalkan Vita ke duniaku, dia ga mau terima. Dialah yang justru memaksa aku meninggalkan aktifitasku yang biasa kulakukan dan menyuruhku untuk terus ada di dekatnya. Awalnya aku bisa, tapi sekarang terasa sangat-sangat melelahkan.
Aku beranjak dari duduk. Hendak menyusul Vita.
"Heh. Mau kemana? Main pergi aja lo. Mentang-mentang punya pacar!" Seru Danu dari jauh.
Aku masuk ke kantin, dan mendapati Vita duduk satu meja dengan Ari.
"Dari mana aja? Lama banget." Bisik Vita setelah aku duduk.
"Toilet." Mataku menangkap Ari yang mengaduk kuah bakso. Lagi mikirin apa dia?
"Nih." Vita menyerahkan ponselku yang dalam keadaan terbuka.
Vita membuka ponselku? Kucek dalamnya, ternyata chat terbuka di ruang obrolan bersama Ari. Dia menyelidikiku?
Tak lama, Juna datang dan mengecup puncak kepala Ari.
"Kak!" Ari mendelik, menegur Juna yang sembarang menciumnya.
Udah berapa kali mereka melakukannya? Jika di depan orang berani, apa artinya dibelakang.. astaga. Mikir apa aku?
Seharusnya aku ga perlu nurutin Vita untuk duduk disini kalau yang kulihat hal semacam ini. Lebih baik kualihkan pada game saja.
"Hehee. Makan apa, sayang?"
__ADS_1
"Ini. Mau?"
"Enggak, kamu aja."
Percuma. Game yang biasa sangat gampang kutaklukkan, jadi terasa berat saat ternyata telingaku tetap fokus pada mereka.
"Tolong ya, jangan mesra-mesraan disini." Tegur Vita.
"Halah, kalo lo yang mesraan gue biasa aja."
Vita berdecak, lalu mengalihkan perhatian ke aku. "Syaa.. isk. Main game muluu."
"Bentar, nanggung nih." Jawabku dengan malas.
...🍭...
[Jangan lupa besok acara makan siang bareng keluarga aku❤️]
Aku menghela napas setelah membaca pesan dari Vita. Aku lupa kalau aku udah janji akan datang ke acara keluarganya. Bukan acara besar, hanya makan siang bersama papa dan mama Vita.
Kemarin aku masih berpikir untuk menembaknya di acara itu. Tapi sekarang terasa berat.
Gimana pun, aku lelah. Semua ini ga seperti kehidupanku yang asli. Aku harus ini, itu, kesana, kemari, sampai nge-game juga jadi jarang banget apalagi kumpul bareng teman.
Jangankan Danu dan Zaki, Ari yang ada di dekatku aja jadi terasa jauh banget.
Ari, lagi ngapain ya.
Aku mendekati jendela yang tertutup. Udah tidur belum, ya?
Drrrt!
Aku sedikit kaget saat menggeser jendela dan mendapati Ari berdiri disana. Setelah sekian lama, baru ini aku dan Ari kembali berhadapan seperti ini.
Trus, aku harus apa. Untuk bicara jadi terasa berat. Padahal aku senang liat dia ada di depanku begini.
"Udah sehat, Sya?"
Pertanyaan itu, aku pikir dia ga tau kalau aku sempat sakit.
"Lumayan."
Boleh aku ke kamar? Boleh mampir? Atau.. mau night drive, Ri? Tapi kenapa lidahku kaku.
"O-oke. Kalo gitu.. istirahat, gih."
Aku refleks mengangguk, "Lo juga."
Srukk! Langsung kututup jendela.
Aarrghh Gila! Kenapa jadi kaku begitu? Aku juga jadi salah tingkah, kan.
Ck. Asli, semakin aku sadar, perasaanku semakin menjadi-jadi.
Ini gimana? Apa aku masih bisa berteman saat ngobrol kecil aja aku kayak linglung.
Ah, Ari. Kenapa gue jadi gini? Seharusnya lo tanggung jawab, Ri..
...🍭...
Apa aku berlebihan? Jas, bunga, hadiah buat papa Vita?
Entahlah. Aku cuma melakukan apa yang Vita perintahkan.
Mobil pun masuk ke lingkungan rumah Vita, lalu kulihat dia sudah berdiri di depan rumahnya dengan senyum sumringah. Dia tampak memakai dress merah muda.
Aku keluar dari mobil dan memberikannya sebucket mawar putih.
"Aaa.. so sweet. Makasih, Syaa.." Vita memelukku begitu erat. Rasanya terlalu hambar. Beda dengan Ari yang belakangan buat tanganku gemetar.
"Ini buat papa kamu."
Dia melingkarkan tangannya di lenganku. "Masuk, yuk." Kata Vita setelah menerima bingkisan yang kuberikan.
Drrt..
Ponselku bergetar. Nama Ari terpampang di layar.
"Bentar, ya."
Aku menjauh dari Vita lalu mengangkat telepon.
"Ya, Ri?"
"Halo Sya.." Suaranya terdengar panik.
"Kenapa? Ada apa?" Aku jadi tegang, terlebih diseberang terdengar berisik. Suara Ari serak dan seperti hampir menangis. Kenapa? Ada apa?
Aku segera melangkahkan kaki keluar dengan cepat menuju mobil setelah Ari menyebutkan dimana posisinya berada.
"Syaaa.." Teriak Vita dari depan rumahnya.
Arrgh sial.
__ADS_1
"Sorry, nanti aku jelasin. Oke? Aku pergi bentar, ada hal penting."
Aku melajukan mobil dengan cepat, tak ingin dia menunggu lama saat aku sudah mendapatkan kembali Ari yang menggangguku. Aku merindukan itu...