HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Patah Hati Pertama 40


__ADS_3

"Maaf untuk waktu itu."


Tanganku yang menggeser jendela pun terhenti. Kembali kutatap wajah Arsya. Wajah yang kulihat datar di acara pesta, kini kembali menunjukkan rasa bersalah.


"Gue emang salah karena udah ngomong gitu soal lo. Tapi terus terang gue ga bermaksud nganggep lo beban buat gue. Sama sekali enggak. Lo, gue, udah dari kecil saling butuh. Lo tau itu, kan? Ucapan gue soal lulus sama-sama itu serius. Dan lo gak pernah sama sekali ngerepotin gue, Ri."


Bagaimana aku setelah mendengar itu? Tentu diam sambil mengutuk kak Tari yang aku yakin udah cerita soal papa yang datang ke Indo.


Tapi denger Arsya minta maaf sungguh-sungguh begini, aku lega dan senang banget.


"Apa egois kalo gue minta lo tetap disini? Terus terang sebenarnya gue.." Kalimat Arsya menggantung beberapa detik. Bola matanya menurun, lalu menatapku lagi. "Gue mau lo ngerepotin gue lagi."


Aku masih diam menatapnya sementara dalam hatiku bertanya-tanya. Sya, lo ngomong kaya gini ke gue, tapi lo tadi dimana? Tadi banget, barusan terjadi dan lo nggak datang nolongin gue. Lo tau nggak gimana gue malu dan sedihnya jatuh ke kolam jadi perhatian banyak orang. Lo tau nggak, kalo kehadiran lo selalu berhasil buat gue tenang, tapi lo menolak ada. Bukannya Vita juga udah tau kalo kita itu dekat, dan lo ga nolong gue karena apa? Malu karena gue selalu aja buat masalah.


Inginnya bicara begitu. Tapi aku enggan hingga yang keluar dari mulutku hanyalah, "Thanks, Sya. Gue tidur dulu. Good night."


Aku menggeser jendela dan tirai saat kulihat sekilas Arsya hampir menaikkan tangan melarangku menutup jendela. Masih ada yang mau dibicarain? Menurutku udah selesai. Tapi thanks udah ngucapin kata maaf dengan tulus, aku bakalan pikirin lagi semuanya sambil ngeliat apa emang kamu suka aku repotin seperti yang kamu bilang itu?


Bukannya apa. Sampai sekarang aku masih teringat sama apa yang dikatakannya. Bertahun-tahun lho, kita berteman dan semua terlihat tulus tanpa pura-pura. Tentu aku sulit menerima saat dia mengatakan itu dengan leluasa seperti sedang curhat. Aku kan, jadi bingung. Emang bisa bilang ngerepotin di belakang dan bilang pengen direpotin di depan?


Kembali ke tempat tidur saat kak Juna menelepon. Gilirannya yang bertanya banyak hal padaku. Yah, malam minggu dan aku menghabiskannya dengan bertelepon santai bersama kak Juna.


...🍭...


Bentar lagi ulang tahun Arsya, trus jarak sehari ulang tahun kak Juna. Tadi malam aku udah ngobrol panjang lebar tentang perayaan kecil-kecilan yang mau diadakan kak Juna.


Tapi lagi-lagi aku mikirin Arsya. Kayaknya aku udah salah sikap soal tadi malam. Seharusnya aku baikan aja, kenapa harus berlarut soal ucapan yang mungkin emang dia ga bermaksud begitu.


Lagi pula, aku juga sih yang terus minta tolong ini itu ke Arsya. Minta maaf juga ah, soalnya jujur aku rindu dan sepi banget kalo ga ada Arsya. Dia pasti ngerasain itu juga kan, makanya minta maaf ke aku.


Setelah berpikir lebih dalam, aku memutuskan ke rumah sebelah.


Sambil jalan, aku meninbang. Gimana cara ngomongnya, ya. Apa langsung akrabin diri aja? Apa aku langsung masuk ke kamarnya kaya biasa? Canggung ngga, ya.


Aku pun masuk ke pintu yang sudah terbuka. Isi rumah tampak sepi. Padahal biasanya di hari minggu semua orang bakalan di rumah dengan aktifitas bersama. Bunda sama Papa kemana, ya.


"Sya, please.."


Eh? Suara ini macam...


"Sekaliii aja. Please..."


Perlahan kakiku melangkah menuju taman samping. Bisa kulihat ada dua orang tengah berdiri saling merapatkan tubuh.


"Vita.."


Deg!


Astaga. Aku membalikkan tubuh cepat-cepat saat melihat adegan yang mengotori mata.


"Kenapa, sihh. Kamu berubah, deh." Tukas Vita dengan nada manja.


Kembali kuputar tubuh untuk mengintip apa yang terjadi.

__ADS_1


Kedua tangan Vita melingkar di pinggang Arsya. Gadis itu mendongak menatap Arsya yang lebih tinggi darinya. Arsya pula menunduk.


Bentar. Mereka ngapain...


"Aku kan, cuma mau liat keseriusan kamu..."


"Iya. Tapi-"


Ucapan Arsya terhenti saat dia melihat ke arahku. Mendadak aku menahan napas saat detik berikutnya Vita pula melihat kemana arah mata Arsya.


Ini kedua kalinya aku melihat mereka tengah bermesraan, dan mereka pasti terganggu karena aku.


Tanpa mengatakan apapun, aku keluar dari rumah Arsya. Rasanya malu banget kan, ketauan melihat adegan begituan temen sendiri. Ku yakin Arsya pun ga akan nyaman.


Aku berhenti tepat di depan kak Adit yang baru keluar membawa ember dari pintu depan.


"Kenapa terkejut gitu wajahnya?"


Aku menengok ke belakang. Arsya ngga ngejar aku. Ya iyalah, dia juga keganggu sama kedatanganku tadi.


Kak Adit mulai menyirami motornya dengan air dari selang di teras garasi. Sementara aku duduk dan memperhatikan mobil Vita.


Bodo banget ga liat ada mobil lain di teras rumah. Huff. Kenapa ya, liat mereka tadi dadaku langsung sesak. Rasanya kaya ga terima, tapi kenapa?


Sebenarnya daripada kak Juna, Arsya memiliki pacar sudah membuatku patah hati. Patah karena akhirnya dia lebih banyak meluangkan waktu buat pacarnya, ketimbang aku.


"Belakangan suka melamun. Kenapa?" Tanya kak Adit. Sesekali dia melirikku, sambil mulai membersihkan motornya dengan sabun.


"Siapa yang melamun?"


Aku menghela napas. Belakangan emang banyak yang terjadi dalam hari-hariku, tepatnya sejak aku mengenal Vita dan yang lainnya. Dan bisa dibilang, awal mula aku berpacaran dengan kak Juna.


"Bukannya seharusnya senang karena akhirnya dijemput papa?"


"Ngga. Ga ada yang mau pergi dari sini." Jawabku cepat.


Kak Adit tersenyum. "Arsya sampe sedih gitu waktu tau kamu mau dijemput. Jarang banget liat muka anak dingin itu berubah. Ketauan banget ada apa-apa sama kamu."


"Ada apa, apa? Jangan nuduh yang nggak-nggak ya, kak." Sanggahku dan kak Adit malah tertawa.


"Emang nuduh apa? Kalian kan, emang ada apa-apa. Teman gitu misalnya."


Jelas-jelas maksud perkataannya beda.


"Arsya udah punya pacar..." desisku pelan, tapi sepertinya kak Adit denger.


"Kamu juga udah punya pacar, kan?"


Iya, sih. Ck. Kenapa aku jadi kesal gini, coba.


Arsya dan Vita keluar rumah. Kulihat lelaki itu mengantar Vita sampai ke depan mobilnya.


"Jelek gitu mukanya. Cemburu, ya?"

__ADS_1


Alisku berkerut. Ledekan kak Adit berlebihan. Yah. Mungkin juga namanya cemburu, sih. Soalnya aku selalu ga suka setiap melihat mereka bersama. Tapi, cemburu karena Arsya biasa hanya bersamaku. Sekarang, dia udah punya teman lain.


"Hai, Ariva."


Eh. Dia menyapaku dari sana, melambaikan tangan dengan senyuman.


Kubalas dengan lambaian tangan dan senyuman pula. Palsu. Ngapain juga aku sok imut padahal ga suka sama cewek itu.


Kak Adit terkikik diam-diam. Bisa kulihat bahunya yang terguncang.


"Lepasin aja sih, ketawanya." Ucapku dengan bete. Barulah kak Adit tertawa lepas. Cih. Ngeledek mulu.


"Kamu tuh, emang ga cocok pura-pura senyum gitu. Keliatan banget."


Eh, iya, kah? Tuh kan, aku bilang juga apa. Aku paling ga bisa senyum saat perasaan mengekspresikan hal lain.


"Mau kemana, kak?"


Arsya tiba-tiba muncul, berdiri tak jauh dariku. Ada yang beda darinya. Pipi yang merah bekas ciuman ada disana.


"Ngga kemana-mana. Kenapa?" Tanya kak Adit balik.


"Tumben nyuci motor. Mau kencan, ya?"


Ditanya begitu, kak Adit mendadak diam.


"Weh, bener. Ceileee..."


Aku jadi tergelak mendengar ledekan Arsya pada kak Adit. Bener ya, mau kencan? Jadi penasaran cewe mana sih, yang bisa taklukin hati cowok yang kalo deket cewek bisa diam kaya batu ini.


"Ngarang lu." Jawab kak Adit fokus mencuci motor. "Lu tuh, masih pagi udah bawa cewe ke rumah. Pas bunda sama papa ga ada lagi. Ngapain kalian di dalam, hayo??"


Kini gantian kak Adit yang meledek Arsya. Lelaki itu diam seketika. Aku meliriknya yang ketepatan tengah melirikku.


"Nah, diem kan lu." Kak Adit tergelak.


"Ngga ngapa-ngapain. Jangan ngada-ngada."


Ngga ngapa-ngapain katanya. Aku sampai memutar bola mata, kesal mendengar jawabannya.


"Ya kalo mau bohong minimal hapus dulu lah, bekas ciuman di pipi." Ledek kak Adit lagi. Buru-buru Arsya mengelap pipinya dengan punggung tangan diselingi tawa terbahak-bahak kak Adit.


Aku masih terus berusaha menghapus bekas di pipinya, sementara aku ogah melihat ke arahnya.


"Eng, Ri. Bisa ngobrol bentar?" Tanya Arsya setelah berhasil menghapus bekas merah di pipinya.


"Ngomong apa, sih. Disini ajalah." Sahut kak Adit.


"Ari, sini bentar." Kak Tari memanggilku dan aku pun segera menjawab panggilan kak Tari, mengabaikan Arsya yang entah kenapa membuatku ingin kabur saja darinya.


TBC


__ADS_1


Hari ini aku pengen UP beberapa bab. Tapi kalian kudu kasih rate bintang 5 dulu sampe minimal 40 penilaian ☆☆☆☆☆ ditunggu yaa makasih imunnya😆🤗🤗. Salam, Ari.



__ADS_2