HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Arsya Alexander 64


__ADS_3

Guys chat Vita di eps sebelumnya udah aku ganti ya. Kalian bisa cek dan baca lagi isi percakapannya dengan Arsya.


...****...


'You have slain your enemy.'


"Yeeeaayy!!" Teriak Danu dan Zaki bersamaan saat pemain basket di depan kami memasukkan bola ke keranjang lawan.


"Sya, menang, Sya." Zaki mengguncang lenganku yang tengah fokus bermain game di ponsel.


"Ah, sial. Apa sih, Jek!" Ganggu konsentrasi aja.


"Menangg. Yaelah, malah maen game. Ini tuh, kita lagi nonton pertandingan basket. Lu gimana, sih!" Gerutunya lagi. Aku mengabaikan dan terus bermain lantaran nanggung. Ngga bisa diberitiin gitu aja.


"Hooh, senyam-senyum kirain apaan. Ternyata liatin Kak Junaa!"


Aku mendongak saat mendengar suara dan nama itu disebutkan. Kulihat ada Ari dan dua orang temannya lagi duduk menghadap ke arah lapangan tak jauh dariku.


Aku mengikuti arah mata Ariva menyorot, dan ku dapati siapa yang berdiri di pinggir lapangan.


Cowok itu yang selalu diceritain ke Ari sampe kupingku berkerak.


Liat tuh, sampe senyam senyum gitu liatin tu cowok. Dasar ganjen!


"Si Ari kenapa?" Tanya Danu, ikut menatap ke arah Ariva.


"Kayaknya dia sukak sama cowok itu." Zaki ikut mengamati Juna, lalu kembali menatapku. "Lo cemburu, Sya?"


"Cemburu pala lo."


"Lo nggak tau, Jek, si Arsya baru dapat pesan dari Vita."


Mata Zaki membulat dengan mulut menganga. "Vitaa, Vita yang itu??" Tangannya menunjuk seorang gadis berpakaian mini berteriak di tepi lapangan bersama anggota lainnya.


Yeaaaayyyy!! Ga-ru-da!!" Sorak sorai para cheerleader memeriahkan permainan. Yang paling depan, berambut panjang di kuncir kuda dan cantik itu namanya Vita. Cewek yang kemarin ngubungin aku. Hehe.


"Gilaa. Yang bener lo, Sya??" Tanyanya lagi tak percaya. Lalu dia menggelengkan kepala sambil berdecak penuh kagum. "Tu cewek diincer banyak cowo, Sya. Kok lo yang diam-diam bisa di chat sama dia?"


"Mana gue tau." Jawabku cuek, lalu kembali memainkan game di ponsel.


"Sebenarnya, ada satu lagi sih, cowo tampan di sekolah kita." Celetuk seseorang yang kutahu dari mana asal suaranya.


"Hah, siapa?" Tanya Ari. Suaranya samar-samar ku dengar.


"Tuuuhh.."


"Arsya??"


Sebenarnya kepalaku ingin mendongak, tapi kutahan karena masih ingin mendengar percakapan mereka. Btw ini sengaja supaya aku denger atau gimana?


"Iya. Dia tuh kan, ganteng. Keren lagi. Bedanya, tuh anak suka ngumpet-ngumpet."


Siapa yang ngumpet-ngumpet? Gue cuma ga suka keramaian, berisik.


"Arsya ganteng banget. Tapi bokapnya lebih ganteng, sih. Hehehe."


Cih. Pake bandingin gue sama bokap. Sialan.


"Alis mata dan rambutnya mirip mantan penyanyi Arga Alexander."

__ADS_1


"Ya iyalah. Bokapnyeee.."


"Kata temen-temen yang lain, Arsya tuh perpaduan Mama dan Papanya banget."


Siapa yang bilang? Pengen gue tonjok. Gue cuma mirip nyokap!


"Tapi, jangan pernah ngomongin bokapnya di depan dia. Katanya sih, dia nggak suka dibandingin sama bokapnya."


"Mungkin karena gantengan bokapnya, kali."


"Entah. Gue juga ga tau."


Kayak ngga ada pembahasan lain ya, ciwi-ciwi? Pada so tau lagi. Itu juga, cewek satu itu. Malah diem aja. Gue kerjain lo!


Aku mengangkat kepala dan mendapati Ariva juga menatap ke arahku.


"Eh eh, dia ngeliatin." Bisik mereka.


Aku berdiri, berniat nyamperin Ari. Pake acara sok ga kenal segala, tapi malah ngomongin aku sama teman-temannya. Minta dikasih pelajaran.


"Eh, mau kemana?" Tanya Zaki dan Danu yang ikut berdiri dan mengekor di belakangku.


Aku berhenti tepat di depan mereka. Niatnya ingin menjaili Ari. Tapi liat matanya. Melebar dengan tatapan mengerikan. Aku bisa baca pikirannya yang isinya gini, 'Awas aja lo, Sya. Berani lo negor gue disini, abis lo di rumah'.


Salah sendiri, ngomongin aku.


"Kalo ngomongin orang, jangan sampe kedengeran satu sekolah!" Ucapku dengan ketus, menatapi mereka yang menunduk satu persatu, lalu pergi begitu saja.


"Ari nggak marah lo samperin gitu?" Tanya Zaki, berjalan bersisian di sisi kananku.


"Gue pikir lo mau ngobrol sama Ari. Hampir aja gue ngingetin lo disana tadi." Sambung Danu pula.


Drrt. Ponselku bergetar. Aku duduk di bangku dan mengeluarkan gawai.


"Vita? Vita yang itu, Sya?" Zaki yang mengintip isi pesanku langsung heboh bertanya.


"Emang Vita mana lagi?" Tanyaku mengingatkan bahwa cuma ada satu Vita di sekolah ini.


Aku mendengkus saat Danu dengan sesuka hatinya menarik ponselku dan mengintip isi percakapan di dalamnya.


"Gue kira lo bercanda, Sya. Ternyata beneran Vita." Ucap Zaki kemudian setelah melihat foto profil cewek itu. "Tapi kok lo tiba-tiba ngegaet Vita? Lo gak pernah cerita suka sama ni cewe."


"Lo baca dong. Vita tuh, yang ngehubungin Arsya duluan." Seru Danu keras di telinga Zaki.


Aku menarik lagi ponselku dan membalas pesan Vita, sementara dua orang itu tampak mengagumi aku yang bisa langsung mendapatkan nomor Vita tanpa berusaha sedikitpun. Karena dialah yang ngehubungi aku duluan.


"Apa katanya, Sya?" Zaki mengintip lagi, ingin tahu isi percakapan kami. "Eh, kok lo tolak??"


"Kan, kita udah janji mau main PS bareng." Jawabku santai.


"Yaelaaah. Kita mah, santai. Mending lo bilang ke dia, ga jadi janjinya ke kita, trus lo pegi aja sama dia sanaa!" Tukas Danu dengan semangatnya.


"Nggak deh besok aja. Gue juga lagi pengen maen."


Kedua orang itu malah menggerutu mendengar jawabanku.


"Kalo itu gue, udah gue sikaaattt tuhh si Vitaa!!" Seru Zaki dengan kesal padaku.


__ADS_1


...🍭...


Aku membuka pintu kamar dan melemparkan tas. Kulihat dari jendela, Ari tengah tidur. Masih pakai seragam pula. Ckck. Dasar nih anak.


Setelah berganti pakaian, aku keluar kamar dan masuk ke kamar Ari yang ngga dikunci.


Aku merunduk melihat wajahnya yang pulas. Ingin membangunkan, tapi kasihan. Mungkin capek. Yah, walau aku ga tau dia capek apa.


Aku duduk di karpet dan bersandar di tepi ranjangnya. Lalu mulai bermain game di ponselku sembari menunggu dia bangun.


Setelah beberapa menit, dia terbangun. Aku bisa merasakan dia bergerak.


"Lama banget bangunnya."


Kataku tanpa menoleh. Dikit lagi kelar nih, game-nya.


Ku lirik dia dari bahuku. "Lo itu nggak bersih-bersih, ya. Bisa-bisanya tidur masih pake seragam. Cepet bangun. Ini udah jam 6!" Aku meletakkan ponsel diatas nakas, lalu memutar tubuh kearahnya yang masih tergeletak mengumpulkan kesadaran.


Mata kami bersitatap beberapa detik. Sampai dia tiba-tiba meraba guling dan melemparkan kearahku.


"Aduh! Apaan, sih!"


Dia duduk dan mencoba merapikan rambut. "Kan, udah gue bilang jangan berlagak kenal di sekolah! Gue nggak mau orang-orang tau kalo gue kenal sama lo."


Nah, kan. Wkwkwk. Bangun-bangun langsung marah.


"Kenapa? Padahal gue nggak ngapa-ngapain lo tadi."


"Pokoknya gue nggak mau ada orang yang tau. Titik!" Tegasnya dengan kalimat yang sengaja ia tekankan padaku.


"Emang gue negur lo? Enggak, kan! Lagian ngapain juga kalian ngomongin gue."


"Mana gue tau kedengeran sampe sana."


Jawabnya sembari meregangkan leher ke kiri dan kanan. "Keluar, gih. Gue mau mandi."


Senyum licikku mulai muncul. Mandi?


"Yauda, mandi aja sana. Emang kenapa kalo ada gue?"


"Jangan sampe gue tampol, ya!" Tangan Ari meraih guling untuk ia lemparkan ke arahku.


Aku tersenyum lagi, lalu kembali menggoda Ari. "Udah dari kecil kita berteman, masa gue ga pernah-"


BUK! BUK! BUK!


"I-iya iya, gue keluar. Hahaha." Aku malah tergelak liat kelakuannya yang terus memukuliku dengan guling sampai aku keluar dari kamarnya. Dia langsung mengunci pintu, takut aku masuk lagi dan ngintip. Hahaa.


TRING


Eh, ponselku.


"Rii buka, Ri.  Hp gue ketinggalan di dalam!" Teriakku dari luar saat mendengar ponselku berdering.


"Woi, Ri. Bukaaak!"


"Bodo amat!!" Balasnya dari dalam dan terdengar pula pintu kamar mandi tertutup kuat.


Hah. Sial. Padahal kan, itu pesan dari Vita.

__ADS_1


__ADS_2