HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Hari-Hari Berat 81


__ADS_3

Pertengkaran aku dan Ari berakhir dengan rasa penyiksaan di hatiku. Aku udah buat Ari nangis karena ucapanku sendiri. Aku ga tau kalau Ari sampai datang dan mendengar semua yang kuucapkan kemarin yang bukan karena kebenaran.


Aku salah. Memang ga seharusnya aku mengatakan kalimat yang aku sendiri kesal mengingatnya. Dia ga pernah jadi beban. Sama sekali enggak. Aku harus jujur kalau Ari adalah orang yang selalu kurindukan.


Tapi Ari menghilang. Aku mengejar Ari ke dapur yang lari karena ada Vita di depan. Ucapan gadis itu pasti membuat Ari kesal. Akh...


Sial. Aku benar-benar bodoh banget!


"Kayaknya kamu ngelakuin kesalahan, ya."


Aku berbalik dan mendapati papa menuang air di gelas, lalu meneguknya.


Melihat papa membuatku ikut duduk duduk di meja makan, menunduk dan menahan kepala yang terasa berat. Kutukan demi makian kulontarkan untuk diriku sendiri yang ga bisa tegas kayak papa. Aku jadi kesal sendiri.


Kenapa aku ga peluk aja Ari dan minta maaf. Dengan memberi penjelasan malah membuat kami semakin jauh.


"Kalau ga suka, bilang ga suka. Kenapa dipaksa?"


Ucapan yang pernah aku katakan ke Ari, kini berbalik padaku. Ternyata aku juga ga mampu jujur.


Papa menepuk-nepuk bahuku. "Papa cuma ga mau kamu nyesal, Sya. Kehilangan orang yang kita sayang itu menyakitkan dan merusak semangat hidup."


I know, pa..


"Papa bicara gini karena udah ngerasain sendiri. Itu sebabnya papa ga akan mau buat mama kecewa. Karena papa sangat menghargai mama yang mau bertahan bersama papa. Maka itu, kalau merasa udah mendapatkan yang cocok, kenapa mengulur waktu?"


Kali ini aku diam, merenungi setiap kata yang papa ucapkan. Aku ga ngelak lagi soal perasaan ini, karena papa juga pasti udah tahu lama.


"Ari ga suka sama aku, pa. Dia.. sampai rela melakukan apa aja demi pacarnya yang brengsek itu. Kayak ga ada harapan."


"Sama dong, kaya papa dulu. Kayak ga ada harapan."


Pandangan papa menerawang ke depan, seperti tengah memikirkan masa lalu yang sangat aku ingin tahu.


"Kamu tau, dulu mama pernah pacaran sama laki-laki keren yang buat papa ga berharap mama bisa mencintai papa. Laki-laki luar biasa yang pernah papa temuin. Dan papa yakin, papa ga sebaik dirinya."


Papa memilin jari di atas meja. Ini kali pertama kulihat papa begitu serius saat bercerita padaku. Memuji laki-laki lain? Itu bukan karakter papa. Tapi siapa laki-laki itu sampai buat papa insecure begini?


"Maksud papa, dulu mama gak pernah cinta sama papa?" Tanyaku penasaran. Benar-benar penasaran sampai kuharap jangan ada yang mengganggu pembicaraan kami.


"Yah, mungkin begitu. Mama itu.. anugerah terindah yang papa miliki. Walau caranya, membuat mama kamu seperti kehilangan dunia dan mimpinya. Sampai dia pergi 7 tahun untuk menyendiri."


Papa tersenyum kecil, mengingat masa lalunya yang ku tahu ga mudah ditinggal mama selama 7 tahun. Aku tahu, aku membacanya di internet. Tapi ga ada penjelasan apa yang membuat mereka pisah selama itu.


"Tuhan menyisipkan rasa rindu di hati mama untuk papa, di saat papa hampir menginjak titik menyerah dalam penantian. Hingga akhirnya mama pulang, dan kami bertemu kembali."


Mengingat masa manis itu, senyum papa terangkat.


"Upaya untuk membuat mama bertahan pun papa lakukan. Apa aja. Asal gadis bernama Syahdu itu gak pergi lagi." Kata Papa diselingi tawa kecil.


Syukurlah, Tuhan. Terima kasih telah menyatukan papa dan mama. Sampai aku hadir atas cinta luar biasa dari mereka berdua.


"Trus, mantan pacar mama kemana, pa?" Tanyaku penasaran, yang mana orangnya sampai buat papa memuji dirinya.


"Laki-laki itu, namanya Wicak. Aditya Wicaksana."


"Wi..cak?" Tunggu. Aku pernah dengar nama ini. Tapi dimana, ya.


"Dia itu kekasih mama dari SMP, selama 7 tahun mereka pacaran."


"Trus, kenapa putus?"


"Meninggal."


"Hah?" Aku kaget. Beneran. Padahal aku mau tau banget laki-laki mana yang dikagumi papa. Tadinya aku mau kenalan. Kalau papa sampai begini, artinya dia beneran keren, kan.

__ADS_1


"Jadi maksud papa, aku harus nunggu Juna brengsek itu mati, gitu? Supaya aku bisa rebut Ari?"


Papa menatapku dengan alis berkerut. "Ya enggak, lah."


Sebenarnya pengajaran apa sih, yang mau papa sampaikan ke aku? Cerita kok sepotong-sepotong. Katanya anugerah dari Tuhan, tapi jalur kematian. Masa aku harus ikutin juga.


"Rebut dia, Sya. Apapun caranya, buka matanya untuk liat kamu. Papa yakin kamu bisa. Kamu lebih unggul. Masa kalah sama keong."


Pfftt.. aku menahan tawa mendengar ucapan papa. Kenapa cocok sih, sama karakter Juna. Keong.


"Yah, walaupun dulu rasanya, kalau gak karena Wicak meninggal, mungkin papa ga bisa miliki mama kamu."


"Iya, sih. Kalau dari wajah papa sampai merasa kalah dari orang itu, pasti dia emang keren banget."


Papa menatap tajam, kesal dengan jawabanku yang seolah tak mendukungnya bersama mama. Matanya yang tajam itu seperti mengatakan, 'Aku loh bapakmu. Kamu lahir dari benihku. Bukannya ngedukung!'


"Tapi aku yakin, asal mamanya itu yang bernama Syahdu, anaknya pasti keren dan tampan. Mau itu om Wicak, atau papa. Aku pasti tetap keren!"


"Heii!"


"Lagian, kata om Ibra juga gitu, kok." Sahutku lagi.


"Hah. Bilang apa dia??" Tanya papa dengan wajah kesal. Papa emang paling ga suka kalo om Iip cerita masa lalunya.


"Ya gitu, katanya papa menangin mama karena jalur orang dalam. Kalau Tuhan ga ambil nyawa om itu, mungkin papa sampe sekarang ga nikah-nikah." Ah, aku ingat. Kayaknya om Ibra yang pernah menyebut nama Wicak.


"Brengsek Ibra." Desis papa, dan aku tertawa lebar.


"Makasih ya, pa. Arsya jadi tau harus ngapain. Intinya ga boleh dipaksa, kan?"


Papa mengangguk. "Good. Papa yakin kamu bisa dapatkan orang yang tepat menurut hatimu." Kata papa dengan tatapan bangga padaku.


...🍭...


Ari pergi, entah kemana. Dia ga ada di kamarnya. Aku telepon juga ga diangkat, pesanku cuma dibaca.


Aku tau, sebab Vita menggerutu lantaran melihat media sosial Kai yang membawa Ari dan yang lain ke rooftop perusahaannya yang Vita ingin sekali datangi.


"Syaaa... anter aku pulang, yah." Vita mengayun manja di lenganku. Udah jam 11 malam, Ari belum pulang.


"Sorry Vit. Kayanya ga bisa."


"Hah? Kenapa.."


"Soalnya..." Apa alasannya ya, Tuhan..


"Arsya mau pergi bareng aku." Sahut kak Shani yang duduk di depan. Dia melipat tangan di dada dan kaki terlipat, menatap dingin pada Vita yang merengek padaku.


"Pergi kemana, kak? Kan udah malem."


"Kemana kek, terserah gue, lah."


Vita berdecak kecil. "Ya udah. Aku pulang!" Dia mengambil tasnya dan langsung keluar rumah. Tak lagi berpamitan karena oma dan yang lain sudah menuju kamar masing-masing.


"Kok bisa sih, dekat sama anak kaya gitu." Gerutu kak Shani pula, sambil menaiki tangga.


Hah. Aku pun ikut naik ke atas, ingin melihat Ari dari balkon.


Dan tak lama setelah itu, sebuah mobil merah berhenti di depan panti. Ari turun, melambaikan tangan pada yang ada di dalam mobil.


"Nanti kita main lagi ya, Vaaa." Teriak Karin dari dalam.


"Okee."


Mobil berjalan, dan Ari hendak masuk. Namun dia terhenti saat melihatku berdiri di atas balkon.

__ADS_1


Apa yang harus gue lakuin, Ri? Gue pengen lo senyum lagi ke gue.


Tapi liat tatapan Ari yang seperti itu padaku seakan menghunus jantung dan terasa menyesakkan.


Dia mengabaikanku, dan masuk ke dalam panti tanpa menoleh lagi.


...🍭...


Aneh aja, tiba-tiba Vita membuat acara pesta yang akan mengundang banyak orang. Dia memaksa aku untuk datang, dan sialnya, papa Vita meneleponku untuk meminta aku mendampingi anaknya sepanjang acara.


Dan acara itu bukanlah acara kecil. Karena dia mengundang banyak orang.


Aku yang malas ini hanya diam sepanjang jalan. Oke, terakhir. Anggaplah ini yang terakhir karena aku benar-benar bosan.


"Syaaa..."


Vita datang memelukku yang baru keluar dari mobil.


Aku melirik sekitar. Masih sepi.


"Kenapa belum ada orang?" Tanyaku.


"Oh. Acaranya jam 7."


Dahiku mengerut. "Kamu bilang jam 6."


Dia malah cengengesan. "Biar kamu datang paling awal, lah."


Hah. Sial.


"Ganteng banget..." Vita mengelus pipiku dengan lembut.


Aku mencengkram tangan Vita, sampai membuatnya kaget.


Ah. Aku berlebihan.


"Aku laper."


Vita berkedip beberapa kali, lalu kembali tersenyum. "Oke, aku ambilin makanan buat kamu, ya." Katanya, berlalu pergi dengan melihatku beberapa kali. Kayaknya dia beneran shock.


~


Dari sekian banyak orang yang datang, mataku belum menemukan orang yang dekat denganku. Entah siapa yang diundang Vita. Orang-orang yang aku ga kenal.


"Sya, sini deh." Vita melingkarkan tangannya di lenganku, lalu membawaku menuju pintu masuk.


Mau ngapain lagi. Aku bosan di tempat seperti ini. Apalagi ga ada yang ku kenal dekat. Kecuali... Ari.


Aku sampai merasa detakan jantungku berhenti saat melihat siapa perempuan bermantel coklat berjalan menuruni beberapa anak tangga.


Ari, dia ga pernah dandan begini. Tapi penampilannya saat ini lebih dari yang bisa kubayangkan soal Ari. Cantik sekali...


Vita membawaku mendekati Ari yang bergandengan dengan Kai, sebagai pasangannya.


Kai? Kenapa bukan Juna?


"Haaaiii. Ya ampun, Ariva. Akhirnya datang jugaa." Vita menyapa dengan semakin mengeratkan tangannya.


Mataku tak bisa lepas dari wajah Ari yang membuat bosanku mendadak hilang.


Kira-kira, dia mau ngga, kubawa pergi malam ini? Kabur dari tempat yang Ari pun sebenarnya tidak suka. Aku yakin.


Senyum ke gue, Ri. Senyum ke arah gue sebagai kode biasa dari lo kalo lo ga nyaman disini. Gue selalu bisa baca kode dari lo. Gue akan langsung tarik lo keluar dan kita akan buat acara kita sendiri. Ucapku dalam hati, sambil terus menatap dan berharap Ari akan menatapku kembali.


...***...

__ADS_1


...Kisah Arga dan Syahdu ada di Novel Teman Tidur Kontrak...


__ADS_2