HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Kejutan! 59


__ADS_3

Siapa, ya..


Hah. Nambah lagi beban pikiranku. Aku pikir selama ini, semua hal buruk yang aku alami, Vita-lah pelakunya. Tapi tadi dia bilang, bukan dia.


Argh.. Aku memejamkan mata dan bersandar di bangkuku.


Hari ini memang banyak kejutan. Apalagi Vita, setelah minta maaf begitu, dia dipanggil kepala sekolah untuk mempertanggung jawabkan apa yang telah tersebar di media sosial. Lalu Arsya, apa dia juga dipanggil? Gimana kalau dia dikeluarkan dari sekolah?


Isk!


Ngomong-ngomong, siapa ya yang nyebarin foto mereka? Vita sampai menangis karena fotonya tersebar begitu. Aku pikir dia sengaja melakukannya.


Aku mengeluarkan ponsel dan membuka nomor orang yang mengirim foto itu padaku. Setelah aku cek, pemilik nomor ini memang milik Vita.


Dia mengirimkan ini padaku pasti sengaja, ingin membuat hatiku panas. Yah, walaupun dia memang berhasil.


Aku rasa banyak sekali yang belum kutahu jawabannya. Dan semua ini, benar-benar melelahkan.


"Mikirin apa, Bo?"


Kai. Dia datang dan meletakkan es coklat di atas meja. Masih jam istirahat, jadi kelas juga sepi dan hanya diisi beberapa orang. Dia datang sendiri, dan duduk di bangkunya.


"Thanks." Kataku, lalu menyedot es coklat itu.


Wah. Emang kalo lagi stres cocok banget minum es coklat. Lumayan, bisa nyiram otak yang lagi keriting dilanda masalah.


"Gimana?"


Hng?


Dengan sedotan yang masih menempel di bibir, aku menoleh pada Kai.


"Enak?" Tanyanya. Tangan Kai bertopang di atas meja menghadap ke arahku.


"E-enak."


"Itu bagus untuk nyingkirin stres, seenggaknya gitu kata Lee S Berk."


"Hng? Siapa itu?"


Kai malah ketawa mendengar pertanyaanku. Lalu dia diam beberapa detik sebelum kembali bertanya.


"Bebannya terlalu berat, ya?"


Mataku melebar. Kai kok tau? Apa keliatan, ya?


Dia menghela napas, lalu duduk menyandar di kursi sembari menatap ke depan.


"Gue perhatiin lo banyak ngelamun. Gue sedikitnya tau sih, situasi lo."


Nggak cuma kak Adit, Kai juga menyadari kalau aku banyak merenung.


"Jangan dipikirin, bawa santai aja."

__ADS_1


"Pengennya sih, gitu. Tapi.." Hah. Lagi-lagi aku menghela napas. Mana bisa...


Masalahnya berat. Bukan cuma soal keluarga, tapi juga perasaan yang datang pada orang yang salah.


"Lo udah berusaha. Sejauh ini gue liat lo cukup kuat. Padahal lo tau ada orang yang pengen nyakitin lo. Tapi lo ga nyerah. Lo ga berhenti dan pinter banget ngadepin situasi ini. Lo hebat."


Jempol kanan Kai mengacung, memberi senyuman padaku yang dianggapnya hebat. Padahal selama ini aku banyak mengeluh dan menangis.


Aku merasa hidupku ga pernah bahagia. Sampai aku berpikir, kenapa orang tua yang membuangku hidupnya malah bahagia? Bagaimana dengan aku?


Memangnya aku melakukan dosa apa, sampai tahun kedua masa sekolah membuat banyak sekali bercak-bercak kekecewaan yang begitu terasa di hatiku.


"Kayanya lo perlu ngomong sama adek lo, deh."


Hah?


"Adek siapa. Gue ga punya adek."


Kai tertawa lirih. "Ada. Inner child."


Aku diam, inner child?


"Semua luka, trauma, apapun yang menyakitkan di masa lalu, itu sebenarnya ga hilang walau kita udah berusaha menguburnya dalam-dalam. Memori itu akan tetap ada. Walaupun besarnya segini." Kai membentuk tangannya seolah tengah memegang sebuah kacang hijau. Kecil sekali.


"Setiap kali kita stres, ada masalah, memori itu akan muncul lagi dan membuat kita terus ingat masa-masa sulit itu."


Aku menatapnya dalam. Sesuatu hal serius yang aku dengarkan dari seorang Kai. Dan pembicaraan ini membuatku kagum dan sadar, betapa Kai adalah anak yang pintar.


"Lo mau menyapa adek lo? Inner child yang masih tersimpan baik disini." Kai menepuk pelan dadanya. "Ngobrol dikit, supaya lo bisa lebih baik."


Aku merenung sebentar. Apa ya, maksud Kai? Tapi terdengar menarik.


"Gi-gimana caranya?"


Kai meraih kedua tanganku dan menyilangkannya seperti aku tengah memeluk diriku sendiri.


"Oke, sekarang tutup mata."


Bola mataku malah bergulir ke kanan dan kiri. Ini serius? Lagi nggak ngerjain aku, kan...


"Tutup-tutup-tutup." Kai menjentikkan jarinya di depan wajahku. Hingga aku langsung menutup kedua mataku.


Beberapa detik hening, aku mengintip. Ternyata Kai juga melakukan hal yang sama. Dia menutup matanya. Lalu memulai ritualnya.


"Tarik napas lewat hidung pelan-pelan..."


Aku melakukannya dengan perlahan.


"Keluarin dari hidung pelan-pelan..."


Kai mengatakan itu beberapa kali, sampai aku merasa sedikit lebih tenang.


Setelah itu, Kai memulai lagi. "Untuk diri kecilku..."

__ADS_1


Suara bariton Kai terdengar. Aku mengintip, dan dia masih memejamkan matanya dengan memeluk diri sendiri seperti yang ku lakukan. Lalu aku pun berpejam.


"Makasih udah bertahan di saat kamu merasa bahkan dirimu tidak akan sanggup bertahan...." Ucap Kai pelan-pelan.


Aku mulai mendengarkan dengan baik. Suara Kai membuatku nyaman, dan kalimat yang keluar membuatku merenungi masa-masa beratku.


"Kamu hebat sekali... Kamu ga perlu membuktikan banyak hal, kamu ga perlu melakukan apapun karena aku.. mencintaimu tanpa syarat. Aku mencintai kekuranganmu. Kita tumbuh sama-sama, yuk."


Kai diam beberapa detik, dan semua ucapannya ini membuat dadaku mulai bergemuruh sesak, meresapi kata demi kata yang Kai katakan.


"Kita hebat banget. Aku bangga dengan setiap proses yang kita lakukan. Keren ya, hari ini kamu juga udah ngelakuin hal yang baik. Besok kita bareng-bareng ngelakuin hal yang terbaik lagi, ya. Satu hal lagi.. terima kasih udah mau menjalani hidup dan bertahan sampai hari ini..."


"..peluk tubuhmu lebih erat, Ariva..."


Aku melakukannya. Aku memeluk diriku lebih kuat sampai ternyata, air mataku sudah banjir...


"Katakan dalam hatimu, ucapkan terima kasih pada dirimu sendiri..."


Makasih, Ariva. Kamu hebat. Kamu masih belasan tahun, tapi yang kamu lalui luar biasa hebatnya. Terjangan dan badai, tidak ada apa-apanya. Hatimu kuat walau berkali-kali dikhianati. perasaanmu tidak lantas jatuh dalam keterpurukan saat mamamu tidak mengakuimu. Kamu hebat, Ariva. Kamu hebat...


"Tarik napas.. lalu keluarkan perlahan."


Kai diam lagi, sementara aku sudah menangis.


"Ariva.." dia menyentuh bahuku, lalu aku membuka mata.


Barusan aku mengucapkan terima kasih pada diriku sendiri. Mengakui bahwa aku kuat. Anak kecil yang dibuang di panti, kini sudah besar dan mampu mengatasi masalahnya sendiri. Anak kecil itu udah tumbuh besar dan tengah terseok-seok menahan banyak luka di sekujur tubuhnya.


Tapi dia tetap bertahan dan melangkah. Dan aku, terus mengucapkan ribuan terima kasih untuk diriku yang udah menjadi perempuan kuat sejauh ini.


Aku menunduk, membiarkan semua air mata banjir membasahi wajahku.


"Ariva! Astaga, Ariva kenapa, Kai??" Tanya Karin dengan panik, lalu mendorong Kai untuk menyingkir dan dia duduk disebelah ku.


"Vaa.. siapa yang nyakitin loo..."


Aku menggeleng sambil terus berusaha membuang air mata yang bersembunyi di wajahku. Aku ingin air mata ini habis sampai nanti aku lupa, kapan terakhir kali aku menangis.


"Kai! Ada apa?" Tanya Karin pada Kai sebab aku masih terus menangisi diriku.


"Ngga apapa. Pemulihan. Ya, kan?"


Aku menghapus air mata, lalu mengangguk dan mencoba untuk tersenyum.


"Pemulihan apa.. sini gue peluk." Karin merentangkan tangan dan memelukku.


Kulihat Kai tersenyum padaku. Makasih, Kai. Ini lebih baik.


TBC


Guys next bab jam berapa ya.. mau crazy up, nih. Ayo vote dong supaya dpt ranking vote terbanyak๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Oh ya, cara Kai diatas sbnrnya aku liat dimanaa gitu. Salah satu cara berterima kasih kepada diri sendiri. Semangat ๐Ÿ˜—

__ADS_1


__ADS_2