
Pagi-pagi sekali aku udah sampe sekolah. Menjadi orang pertama yang duduk di kelas saat belum ada siapapun disini. Aku memang sengaja ngehindari ketemu sama Arsya dan pergi sebelum bunda memanggilku untuk sarapan bersama.
Sejujurnya aku ga tau harus bersikap gimana ke Arsya. Aku ga bisa pura-pura ceria kaya biasa di hadapan bunda saat telingaku masih dengan jelas mengingat ucapan Arsya.
Entahlah. Anggap aja aku memang berlebihan dalam menanggapi semua hal. Tapi memang, dari kenyataan pahit yang kuterima dari cinta pertamaku, ucapan Arsya jauh menyakitkanku.
"Morning, Vaa.."
Karin berlari kecil dengan senyuman manis lalu memutar kursi dan duduk di mejanya. Dibelakangnya Hajoon dan Kai berjalan santai. Nampaknya mereka bertiga pergi bareng. Seakrab itu ya, mereka. Seru banget kayanya.
"Lo.. kenapa?"
Tanya Karin akhirnya. Dia pasti ngeliat mataku yang sedikit bengkak. Padahal aku udah kompres pakai es, tapi masih keliatan, ya.
Kai dan Hajoon duduk. Mendengar pertanyaan Karin membuat keduanya juga memperhatikanku.
Hening beberapa detik, mereka menunggu jawabanku.
"Gue.. putus."
Walau hanya menatap meja, aku bisa merasakan keterkejutan mereka.
"Putus dari Juna? Serius lo?"
Aku menoleh pada Kai, "Emang muka gue keliatan lagi becanda?" Jawabku dengan suara serak. Setelah menangis panjang ternyata menyisakan suara yang tidak enak didengar.
"Tapi kenapa, Va? Bukannya kemarin masih baik-baik aja?" Tanya Karin.
"Gue dilabrak cewenya pas lagi nge-date sama Juna. Apes banget."
Kini pandanganku terarah pada Hajoon dan Kai bergantian. Mereka temen akrabnya Juna. Pasti tau soal ini, kan.
"Jujur deh, kalian pasti tau kalo Juna punya cewek. Ya, kan?"
Dua laki-laki itu malah saling toleh. Nah, kan.
"Gue selingkuhan. Dan lucunya dia udah tiga taun pacaran sama cewe itu. Dari SMP." Tekanku pada dua orang yang hanya diam.
Aku menghela napas. Masih pagi, harus jaga emosi.
"Kita ga tau, va." Sahut Hajoon. "Maksud gue kita memang tau dia punya pacar yang udah tiga taun itu. Tapi setau kita dia udah putus lama. Iya kan, Kai?"
Yang disebut namanya mengangguk-angguk. "Waktu itu dia bilang, dia putus sama kak Ares. Tapi kita ga terlalu ngerespon karena dia emang putus nyambung sama cewenya."
"Lo.. kenal, ya?"
"Iyalah. Dia kan, sering main sama kita. Juna sering bawa dia dulu." Jawab Kai.
"Dia tinggal di luar kota, Va. Mereka LDR dan ketemunya bisa dua minggu sekali, sebulan sekali. Seingat gue emang Juna pernah cerita kalo dia pacaran sama kak Anes dari kelas 3 SMP. Mereka dulunya satu SMP. Si Juna juara 2, kak Anes juara 1." Jelas Hajoon. Kalimat terpanjangnya saat bicara padaku walau sebenarnya aku ga perlu tau sampe juara-juaranya juga, Joon.
Btw dia pinter sampe juara umum tapi ucapannya kayak ga berpendidikan gitu. Mana ngatain-ngatain lagi. Ga respect.
"Waktu lo sama Juna pacaran, kita pikir ya sama kak Anes udah selesai." Sambung Kai pula.
__ADS_1
Gitu, ya. Jadi mereka emang sering putus nyambung. Pasti karena LDR, kan.
"Eh tapi.. bukannya dia juga punya mantan yang namanya Dinda?"
Iya, kan. Aku jadi teringat kakak senior cantik itu.
"Yaa.. kayak lo juga. Pacaran pas putus sama kak Ares. Putus dari Dinda, dia balik lagi sama Ares."
"Brengsek, dong." Desisku pelan.
Ketiganya tidak lagi menyahuti. Aku juga jadi melamun mikirin kisah cinta mengerikan ini.
...🍭...
Begitulah. Hari-hari berlalu bersamaan dengan kak Juna yang berhenti mengganggu. Gak tau kenapa, soalnya terakhir kali dia datang ke kelas, aku menolak ketemu. Alhasil dia ga pernah lagi ganggu aku setelahnya.
Aku pun ga keluar kelas kalo bukan ke toilet. Biasanya Kai yang bawain aku makanan kantin. Baik banget padahal ga aku suruh. Bener juga kata Karin, sebenarnya kita cuma ga saling kenal aja.
Selama di rumah juga aku terus di kamar. Tidur cepat untuk membatasi komunikasi dengan Arsya walau sebenarnya dia juga sibuk dengan aktifitasnya. Aku tahu, sebab melihat Arsya dan Vita di story milik Hani. Belakangan teman kentalku itu sering gabung dengan mereka, sesuai keinginannya dan dia tampak amat sangat bahagia. Hebat. Aku aja ga bisa kaya gitu.
Dan semua ini bukanlah akhir dari masalah. Tetapi awal dari segalanya.
Setelah beberapa hari bertelur di dalam kamar, aku dikagetkan dengan suara yang sangat aku kenal dari dalam kamar Arsya.
"Ariiii.. are you there?"
Aku segera menuju jendela dan membukanya. Disana, tante Shania, ah maksudku, kak Shania, tersenyum manis di bingkai jendela Arsya. Ada lelaki itu pula di belakang dengan wajah datarnya.
"Kak Shani. Hai." Aku melambaikan tangan, berusaha senyum semaksimal mungkin pada gadis 24 tahun itu.
"Are you on vacation now?" Tanyaku pada gadis keturunan inggris itu.
"Yassh!" Jawabnya dengan anggukan cepat. "Come here. There are so much things i wanna share with you!"
Aku melirik Arsya sebentar, kemudian mengangguk mengiyakan permintaan perempuan yang tak suka penolakan.
Akhirnya setelah seminggu berlalu, aku menginjakkan kaki lagi di rumah Arsya. Entah gimana nanti, aku ga bisa berakting baik dan berpura-pura. Wajahku terlalu menampakkan isi hati.
"Ari, how are you?"
Baru sampai di depan, Ibu dari Papa yang tengah duduk bersama yang lain menyambutku. Oma Julia, perempuan yang usianya tak muda lagi ini masih saja kelihatan fresh.
"Good, grandma. How are you."
"Good." Nenek Arsya itu memelukku erat, lalu mengurainya dan menarik lenganku untuk duduk bersama.
"Tadi kenapa ga ikut jemput oma?"
Hung?
"Biasanya kan, Ari sama Loui yang jemput oma." Loui, panggilan oma kepada Arsya, cucu satu-satunya oma Julia.
Aku aja ga tau oma mau datang. Arsya ga bilang apa-apa. Kita juga sekarang ga kaya dulu, oma.
__ADS_1
"...tadi malah jemputnya sama orang lain."
Orang lain, siapa?
"Bukan orang lain, Ma. Itu pacarnya Arsya." Sahut bunda. Di saat bersamaan kulihat Arsya menuruni tangga.
"Iya? Tadi mama ga dikenali sebagai pacar." Kini oma beralih pada Arsya yang duduk di hadapanku. "Vita ya, namanya?"
Arsya mengangguk dan bersandar santai, menatapku.
"Cantik, Ma?" Tanya kak Shani.
"Cantik banget. Cucu Oma pinter ih, milihnya."
Aku mengalihkan pandangan saat Arsya menatapku seperti itu. Atau mungkin karena ga suka saat oma memuji Vita seperti itu? Entahlah.
"Jadi, mentang-mentang ada pacar, Ari nggak diajak?" Sahut kak Tari pula.
"Ari sibuk, kak." Jawab Arsya.
"Pantes aja sekarang ga pernah sarapan atau makan malam disini lagi." Tukas bunda dengan wajah cemberut. "Nanti dinner bareng ya, sayang."
Aku mengangguk walau sebenarnya agak berat. Entahlah, dulu aku suka berada diantara keluarga ini. Sekarang rasanya aneh.
Mungkin ini karena ucapan Areska waktu itu, atau juga karena ucapan Arsya. Ditambah lagi rasa cemburu pada Vita yang berhasil masuk ke dalam keluarga Arsya.
"Ari ke belakang dulu."
Aku beranjak, menuju dapur untuk sekedar melapangkan perasaan aneh yang muncul tiba-tiba.
Dari pada berpikir yang tidak-tidak, aku memilih membersihkan piring yang masih berserak di atas meja. Bunda memang sendiri, ga pakai asisten rumah tangga. Biasanya bunda rajin dan sigap. Tapi karena ada tamu penting, bunda sampai meninggalkan ini dulu dan ikut bergabung di depan.
Tak apa, biar aku yang bantu bunda.
Saat ingin meraih wadah sabun, Arsya menariknya terlebih dahulu.
"Mau ngapain?"
Aku tak mau bicara banyak padanya. Aku meraih wadah sabun, tapi Arsya mengumpetkannya ke belakang badan.
"Siniin." Aku berusaha merebut, sialnya dia memang sigap sekali.
"Gue bantuin." Arsya meletakkan wadah dan mulai menggulung lengan kemeja.
"Ngga usah. Gue ga butuh bantuan lo."
Arsya, memang sejak kapan dia peduli dengan ucapanku? Dia mengabaikanku sambil memutar keran air di westafel.
"Biar gue aja. Gue gak mau buat lo kerepotan."
"Siapa yang kerepotan."
Ck. Nyebelin banget, sumpah.
__ADS_1
"Kalo gue bilang ga usah ya ga usah!!" Aku melepaskan suara tinggi tanpa sadar, sampai Arsya melihatku dengan dahi yang sedikit berkerut. Aku yakin dia pun terkejut dengan suara tinggiku padanya. Sesuatu yang belum pernah aku lakukan sebelumnya.