HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Terkuaknya Rahasia 80


__ADS_3

...Numpang Adegan 18+ Syahdu dan Arga, ya....


"Siapa yang cemburu." Papa melepas pelukannya dan duduk di meja makan. "Kamu tuh, suka banget ngintip orang tua lagi mesraan." Ucapnya sembari membuka laptop.


"Bukan ngintip, tapi mama sama papa kayak ga kenal tempat." Aku pun duduk di meja makan, menuang air putih dan menenggaknya.


"Gak suka kamu, liat mama papa mesra? Sana, masuk kamar aja jangan keluar-keluar." Gerutu papa kesal.


"Hei, hei, hei. Bertengkar mulu. Mau mama hukum lagi kaya kemarin, hm?" Mama menengahi kami. Aku tahu pasti mama selalu pusing tujuh keliling melihat tingkah papa yang kekanakan.


"Ga jadi pergi, sayang? Katanya ada acara makan siang sama keluarga Vita." Mama bicara tanpa melihat karena sibuk memasukkan daging ke dalam wajan.


"Kayak hubungan serius aja pake acara kenalan sama keluarganya." Sahut papa dengan tetap fokus pada laptop. Meledekku.


Mama tersenyum. "Mama seneng akhirnya kamu punya kenalan cewek yang lain. Soalnya kan, selama ini selalu sama Ari. Bisa juga kamu lepas dari dia dan pacaran sama Vita."


"Bukan pacar, Ma." Jawabku malas. Kenapa sih, orang-orang ga percaya kalo aku ga pacaran sama Vita.


Mama duduk di kursi, memegang tanganku. "Sya, mama masih tetep ingatin kamu buat hati-hati kalau pacaran. Mama gak mau kamu sampe kelewatan batas sama perempuan. Ingat, perempuan bukan untuk dimainin. Apalagi disentuh di tempat yang gak semestinya."


Aku menggaruk kepala. Udah beribu kali aku mendengar nasehat mama yang aku pun sampai hapal isinya.


"Iya, Ma.. iyaa. Arsya ingat, kok. Lagian kan, udah Arsya bilang, Arsya gak pacaran."


"Satu lagi. Jaga Ari, ya. Soalnya kan, dia ga pernah keluar tanpa kamu. Apalagi sekarang dia punya pacar. Mama.. agak khawatir."


"Iya, Ma. Aman soal itu." Tenang, Ma. Aku juga khawatir. Soalnya pacar Ari bajingan tengik.


"Masa disuruh ngawasin cewek yang ditaksirnya lagi pacaran, sih. Bisa serangan jantung, dia." Celetuk papa, memulai pertengkaran.


Hah. Papa mulai lagi. Kayaknya emang aku harus buat kalimat yang jelas agar ga ada lagi kesalah pahaman. Aku ga mau Ari malah mikir lain soal aku.


"Arsya ga suka sama Ari."


"Hooo, yang bener?"


"Ari itu ngerepotin. Dikit-dikit minta anterin, minta bantuan ini itu. Sekarang dia punya pacar, Arsya agak lega."


Aku menggaruk leher belakang. Kenapa rasanya agak kelewatan ya, ngomong gitu. Terasa banget bohongnya. Padahal aku suka direpotin olehnya.


"Yang benerr? Bukannya kemaren waktu Ari mau dijemput Papanya, kamu sedih?" Kini mama pula ikut-ikutan meledek.


"Nggaak. Dah, ah. Arsya mau naik dulu."


Aku langsung naik ke kamar untuk liat Ari. Aku mau tanya dia pengen apa, supaya aku bisa belikan dan buat dia semangat lagi. Tapi saat aku sampai, kulihat dia tak ada di kamarnya. Apa di kamar mandi? Atau keluar lagi?


Hadeh. Disuruh istirahat aja susah, ya. Ya sudahlah. Aku keluar aja buat main sama Danu dan Zaki.


Saat menuruni tangga, aku mendengar mama berbicara dengan suara sedih. Dapur ada dibawah tangga, sampai aku bisa mendengarkan mereka.


"Soal itu?.." kulihat papa menggenggam tangan mama. "Kan, aku udah bilang. Arsya itu beda."


Lagi bicarain aku, ya?


"Kamu udah ngedidik dia jadi laki-laki yang sangat menghargai perempuan. Aku bisa liat gimana dia memperlakukan Ari."


Kata papa menenangkan mama. Kayaknya aku tau ini ngarah kemana pembicaraannya.


"Bener, gitu?"


"Iya, sayang." Papa berdiri. Kini ia mengangkat mama duduk di atas meja makan.


"Kamu perempuan terbaik, ibu yang paling baik, dan istri ter hot. Hehe."


Hadeh. Kenapa sih, orang tua ini nganggap rumah tak berpenghuni. Ada guaa woy.


"Is, kamu. Aku lagi gak becanda."


"Siapa yang bercanda." Papa lalu menangkup kedua pipi mama. "Dengarkan aku, ya. Aku yakin anak itu ga akan melakukan hal sepecundang aku dulu. Aku yakin dia jauh lebih baik dariku karena kamu yang mendidiknya. Aku selalu setuju apapun pendidikan yang kamu berikan ke Arsya. Anak itu.. walau banyak yang bilang sifatnya mirip aku, tapi soal cara dia memandang perempuan, dia jauh.. jauh lebih baik dari aku."


Mendengar kalimat papa, buat aku terhenyuh. Tapi sebenarnya masa lalu mereka itu gimana, sih. Aku ga pernah tau cerita sebenarnya kayak apa. Soalnya mama selalu takut aku seperti mereka dulu. Emang mereka ngapain?? Kalo hamil diluar nikah, kok sampe buat mama stres gitu? Aku juga waras, kok. Aku yakin, aku bisa menahan itu. Supaya mama pun ga kecewa ke aku.


"Kamu memang pernah salah, Ga. Tapi kamu juga laki-laki yang luar biasa di mataku. Jadi, jangan beranggapan seolah kamu ini bukan laki-laki yang baik."


Aku tersenyum mendengar jawaban mama. Lalu turun ke bawah menemui mereka untuk mengucapkan terima kasih telah melahirkanku dan hadir di keluarga seperti ini.


Tapi tepat saat di bawah, aku malah mendapati hal mesum. Papa dan Mama ciuman dengan sangat...


"Owhh!" Aku langsung berbalik arah sambil menutup mata.

__ADS_1


"Arsya ga liaatt! Arsya ga liattt. Tadi mau pamit keluar bentaaarr!" Aku berteriak sambil berjalan cepat menjauhi dapur. Sayup-sayup ku dengar suara papa dan mama tertawa.


Sampai di depan, aku tertawa. Ah, senangnya liat papa dan mama selalu mesra layaknya pengantin baru. Semoga aja aku bisa ketemu sama perempuan yang cocok untukku. Ari, misalnya. Hehehe.


...🍭...


"Maafin aku, ya."


Suara diseberang terisak-isak. Aku yang mendengar ini pun merasa bersalah. Katanya, dia malu karena udah siapin acara buat papanya, dan ternyata aku ga jadi datang. Belum lagi beberapa jam aku ga angkat telepon darinya.


"Aku yang salah. Aku minta maaf dan sampein maaf aku ke keluarga kamu. Aku akan kesana malam ini sebagai gantinya. Kamu jangan nangis lagi, ya?"


Akhirnya aku berjanji lagi. Padahal aku udah bertekat untuk ga kenalan ke keluarga Vita berhubung hatiku gak ngarah ke dia. Tapi sialnya, dengar suara tangisan cewek buat aku langsung merasa bersalah pol.


Aku pengennya langsung ngaku kalau aku ga ada perasaan, tapi kenapa berat, ya. Ga bisa nyakitin cewek. Rasanya kayak ngecewain mama. Salahku juga sih, main-main sama perasaan wanita.


'Kamu ga perlu datang. Aku udah terlanjur sebel sama kamu!'


Aku menghembuskan napas perlahan. Sabar, Sya. Ini emang salah lo!


"Oke. Jadi, aku harus apa supaya kamu berhenti nangis dan maafin aku?" Tanyaku perlahan pada Vita.


Dia terisak, sampai akhirnya berujar. 'Ga tau! Kamu nyebelinnn.'


Vita menutup panggilan begitu saja, membuatku langsung merebahkan tubuh di ranjang.


Sebenarnya ada opsi untuk menelepon balik. Tapi aku lelah. Aku mau istirahat.


...🍭...


Dering ponsel membuatku berlari kecil dari dapur saat membantu mama mencuci piring, sejak tadi berdering, mungkin ada hal penting dari orang lain.


"Halo."


'Syaaa...'


Vita. Here we go again...


Aku segera meluncur saat Vita mengatakan mobilnya mogok di jalan dengan asap keluar dari kap depan.


Sebenarnya aku yakin Vita bisa telepon montir atau keluarganya yang lebih bisa diandalkan. Tapi ga apa, aku juga perlu ngomong ke dia soal hubungan ga jelas ini.


"Syaaa. Gue takutt.." Vita memelukku, lalu menunjuk kap bagian depan mobil. "Tadi keluar asap dari situ."


Aku melepas pelukannya dan mencoba membuka kap mobil yang berasap. Panas. Ini overheat.


"Aku telepon montir aja, gimana?" Usulku supaya bisa cepat pulang.


Vita mengangguk setuju. Hah. Padahal dia bisa telepon dari tadi, kan.


Setelah menelepon montir, aku menyandar di kap mobilku, bersama Vita disebelahku.


"Kamu ga marah lagi?" Tanyaku iseng.


Dia tersenyum malu sambil menggeleng pelan.


Oke, saatnya mengatakan yang sebenarnya pada Vita.


"Ada yang mau aku omongin."


Vita mendongak, menyembunyikan senyuman saat melihatku.


Bentar, dia gak salah sangka, kan. Aku bukan mau nembak lho, ini.


"Mau ngomong apa? Bilang aja.."


Aku menggaruk kepala. Ini.. kenapa jadi salah sangka. Tapi biarlah. Kalau ga gini, kapan aku mengatakan yang sebenarnya?


Aku dan Vita ga bisa lanjut. Hubungan ini ga berhasil, aku ga bisa.


"Vit-"


Drrrtt.. ponselku bergetar. Siapa, Ari?


Aku mengeluarkan ponsel di saku, Oma yang menelepon.


Vita ikut melihat layar di ponsel, lalu aku mengangkatnya.


"Ya, oma?"

__ADS_1


Vita memasang telinga, ikut mendengarkan.


"Jemput? Oke." Kulirik Vita yang mengangkat alis padaku.


"Iya, besok dijemput. Bye, oma. Love you, too."


"Oma kamu mau datang? Minta jemput di bandara?"


"Iya." Jawabku sambil memasukkan ponsel ke saku.


"Ikuttt. Aku mau ikut Jemput. Yaa??"


"Ngga bisa, Vit. Besok aku mau jemput sama Ari."


Dia merengut. "Kan, ada aku. Kenapa harus Ariari temen kamu itu, sih? Aku aja. Jemputnya sama aku, oke?"


Aku menghela napas. "Besok kan, minggu. Emang kamu ga mau kemana gitu."


"Enggak. Besok aku mau ikut kamu jemput oma. Aku mau kenalan sama semua keluarga kamu. Ehehehe. Seneng banget bisa jemput oma kamu."


Entahlah. Aku ga bisa berkata-kata. Mama mengajarkanku terlalu lembut dan baik sampai untuk menolak Vita aja aku susah. Lucu rasanya kalau hanya begini saja aku melarangnya datang. Padahal aku mau ajak Ari. Tapi, ya sudahlah.


~


Dan hari itu tiba. Aku menjemput oma dan kak Shania di bandara bersama Vita. Di mobil, gadis itu asyik bercerita sersama Oma. Lain hal dengan kak Shania, adik papa yang memilih duduk di sampingku sambil mendengarkan lagu lewat earphone. Dia memang bukan tipe cewek yang gampang berbaur.


Lalu, Vita minta diturunkan di dekat pusat perbelanjaan. Katanya ada yang ingin dibelinya.


"Kenapa bukan Ari yang jemput, sih." Tanya kak Shani setelah Vita turun.


Ari. Dia sibuk. Tapi lebih keliatan menghindari aku, sih. Aku ga tau kenapa, soalnya setiap ingin kudatangi, dia selalu berbelok ke arah lain.


~


Di bawah nampaknya lagi cerita seru banget. Aku turun menghampiri semua yang lagi kumpul.


"Iya? Tadi mama ga dikenali sebagai pacar." Kini oma beralih padaku yang memilih duduk tepat di hadapan Ari. "Vita ya, namanya?"


Aku mengangguk dan bersandar santai, menatap Ari yang sudah lama sekali ga berkunjung ke rumah ini.


"Cantik menurut mama?" Tanya kak Shani dengan nada yang amat datar.


"Cantik banget. Cucu Oma pinter ih, milihnya."


Ari membuang wajah. Entah kenapa itu membuatku sedih.


"Jadi, mentang-mentang ada pacar, Ari nggak diajak?" Sahut kak Tari yang baru muncul.


"Ari sibuk, kak." Jawabku mengarang. Dia hanya menunduk dengan senyum kecil.


"Pantes aja sekarang ga pernah sarapan atau makan malam disini lagi." Tukas mama dengan wajah cemberut. "Nanti dinner bareng ya, sayang."


Ari mengangguk walau sebenarnya keliatan gak minat. Aku yakin, pasti ada sesuatu yang ga beres disini.


"Ari ke belakang dulu." Dia beranjak, menuju dapur. Lalu aku mengikutinya. Aku ingin tahu, ada apa dan kenapa dia sampai menghindariku.


Ari mendekati westafel Cuci piring. Sepertinya dia mau nyuci tu piring-piring.


Aku dengan cepat meraih wadah sabun yang mau diambil Ari.


"Mau ngapain?"


Dia berdecak kesal, lalu merebut wadah sabun lagi.


"Siniin." Katanya sambil terus berusaha merebut, tapi dia gagal, ga bisa mendapatkan sabun karena aku lebih tinggi jauh darinya.


"Gue bantuin." Aku meletakkan wadah dan mulai menggulung lengan kemeja.


"Ngga usah. Gue ga butuh bantuan lo."


Bener, kan. Pasti ada sesuatu.


"Biar gue aja. Gue gak mau buat lo kerepotan." Katanya lagi.


"Siapa yang kerepotan."


Ari mendengkus. "Kalo gue bilang ga usah ya ga usah!!"


Aku terperanjat. Apa-apaan dia sampai teriak begitu...

__ADS_1


__ADS_2