
"Hahaha, kakak bisa aja!"
Aku menyeruput es teh sambil terus mendengar pembicaraan dua sejoli yang nampaknya tengah bermain dibelakang Ari.
Hani dan Juna ternyata janjian bertemu di sebuah kafe yang agak jauh dari sekolah.
Si brengsek Juna ini tahu nggak, kalo Ari disiram air kotor oleh perempuan yang tengah ia ajak bercanda ria. Apalagi Hani, walau tidak melihat wajahnya, aku tau suara ceria itu tidak meninggalkan sedikitpun penyesalan atas apa yang dia lakukan tadi.
"Oh ya, soal Ariva.."
"Dia baik-baik aja." Sahut Juna.
"Gitu, ya."
"Tapi siapa ya, yang nyiram dia pake air kotor begitu."
"Hmm. Mungkin orang yang ga suka sama Ariva, kak. Kakak kan, tau, kalo dia ga disukai karena pacaran sama kakak."
"Apa iya? Jadi ini karena aku?"
"Ya enggaklah. Emang Arivanya aja yang agak..." Hani menghentikan ucapannya.., "Sorry."
Beberapa detik terdengar hening. Akh, kapan mereka pulang? Masa aku harus disini terus sampe telingaku pecah karena terus dengerin percakapan ga penting mereka ini!
"Tapi.. kakak beneran sukak, sama Ariva?"
Aku mengetuk-ngetukkan jari di atas meja, menunggu jawaban Juna. Tinggal melancarkan serangan kalau dia berani mengucapkan kalimat yang membuatku murka.
"Sukak."
Eh.
Bukan cuma aku. Nampaknya Hani juga agak kaget mendengarnya. Apa ini? Kenapa dia suka dengan Ariva? Bukannya dia punya pacar lain?
"Sukak? Bukannya... kakak deketin Ari, karena Salma?" Tanya Hani dengan sangat hati-hati.
Aku mendengarkan dengan seksaama. Apa tujuan Juna sebenarnya?
"Awalnya gitu. Tapi ternyata aku suka beneran."
Seperti ada sesuatu di hatiku saat mendengar penuturan Juna.
"Aku pikir mungkin hubungan ini ga lama, tapi ternyata suka sama Ariva yang ga butuh waktu lama. Dia cewe yang baik dan menarik. Mungkin kalau diliat aja ga bakal bisa nebak gimana nyamannya bersama Ariva-"
BRAK!!
Hening. Suara yang tadinya bising kanan kiri mendadak diam dan menatapku.
Ahh. Shitt. Kenapa aku jadi ngegebrak meja??
Aku langsung keluar dari kafe dan menjauh dari mereka. Untung aja posisiku bagus, jadi aku yakin, baik Hani maupun Juna ga akan tau aku yang duduk membelakangi mereka.
Dari pada itu, emang lebih bagus cari tempat yang agak jauh. Aku memilih duduk di bangku pinggir jalan. Setidaknya duduk disini masih bisa memantau mereka tanpa harus mendengarkan pembicaraan sampah itu.
Tapi kalau dipikir-pikir, bukannya aku terlalu berlebihan, ya. Kenapa aku kesal mendengar ucapan Juna?
Seharusnya memang kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Aku malah berencana menghajarnya kalau dia mengatakan cuma main-main sama Ariva. Tapi pernyataan Juna barusan justru buat aku ngga suka.
Apa dia serius soal Ariva?
Kenapa jadi risau.
Hah. Kalau Juna jatuh cinta beneran, artinya hubungan mereka bisa aja semakin panjang.
__ADS_1
Mendadak males. Kenapa ya. Perasaanku jadi ga karuan. Rasanya ga bisa jelasin secara gamblang kaya gimana aku setelah mendengar ucapan Juna.
Ari memang begitu, sih. Juna benar, kalau orang liat gitu aja, Ari tampak biasa. Beda kalo udah ngobrol dan akrab. Ada tarikan tersendiri untuk terus ada di dekatnya.
Menyadari ada orang lain yang kenal Ari sampai seperti itu buat aku ga suka. I know aku ga ada hak buat larang-larang Ari dekat sama siapapun. Tapi ini apa. Cemburu? Akh. Kaya anak-anak banget.
Pemikiranku terhenti saat aku melihat mereka keluar dari kafe tadi. Nggak pulang bareng, Juna pulang dengan mobilnya sementara Hani melambaikan tangan padanya yang cabut duluan.
Kenapa ngga diantar?
Tapi bagus. Aku jadi bisa ngikutin Hani.
Dia menyetop taksi dan aku mulai mengikutinya.
Setelah beberapa menit, dia turun dan masuk ke salah satu gang kecil yang hanya muat untuk satu mobil.
Baru jalan beberapa langkah, aku langsung menghadang jalannya dengan menghentikan motor tepat di depannya.
Dia terkejut, namun tidak sampai lari saat ada orang dengan pakaian serba hitam dan tertutup menghambat langkahnya. Hani memperhatikan aku cukup lama, sampai aku membuka helm dan membuatnya membelalakkan mata.
"Arsya?"
~
Hani menggulirkan bola matanya keseluruh ruang VIP yang sengaja kupesan di sebuah restoran. Dia terlihat sungguh menahan rasa penasaran, kenapa aku tiba-tiba datang dan mengajaknya makan. Kalau dilihat dari pertanyaanya, sepertinya dia belum tahu aku punya kedekatan dengan Ari.
"Emm.. ada apa sampai bawa aku kesini, Sya?"
Lihat wajahnya itu. Senyum-senyum ga menentu.
"Menurut lo?"
Ditanya begitu, dia tertunduk malu.
"Yap!"
"Sebenarnya, kalo kamu bilang dari tadi mau ketemu, aku bakalan ngasih waktu sepulang sekolah buat kamu."
Ni anak pasti ngira aku naksir. Dih.
"Hm.. bukannya kamu lagi dekat sama Vita, ya? Apa aku salah? Atau kamu ditolak Vita?
Bacot!
BRAK!
Aku membalikkan meja sampai membuat Hani bungkam dan mendadak tegang dengan raut ketakutan.
Makanan dan minuman berserakan bersamaan pecahan kaca dari piring dan gelas.
"Ngga usah banyak bicara. Gue muak dengar suara lo!"
Hani menggenggam lengan kursi dengan sangat kuat. Beberapa kali kulihat dia menelan ludah.
"Ma-maksudnya.. apa?"
Aku menatapnya dengan tajam. "Gue ga akan basa-basi. Gue tau lo yang nyiram Ariva pake air kotor itu."
Dia terdiam dengan seribu pertanyaan di benaknya. Terlihat bagaimana gelisahnya saat ini Hani di tempat duduknya.
"Ja-jangan asal tuduh!"
Aku menunjukkan layar ponsel padanya yang berisikan video dirinya membawa air kotor itu.
__ADS_1
"Apa perlu gue share ke sosial media, atau lapor ke kepala sekolah?"
Ketakutan Hani kian menjadi-jadi, dia terlihat semakin pucat.
"Mau lo apa, hah?"
Aku tertawa mendengarnya. Lucu dia bertanya begitu. Kayaknya memang harus kuperjelas.
Aku duduk di kursiku dengan melipat kaki, memperhatikan gerak-gerik Hani yang nampaknya tengah menyusun rencana untuk kabur, sebab yang dipandanganya hanya pintu.
"Gue ga mau tau apa yang buat lo ngelakuin itu. Tapi gue akan buat perhitungan kalau sampai lo melakukan hal yang sama lagi ke Ariva."
Hani membuang wajah, menahan amarah yang dia tak bisa lakukan.
"Jangan pikir gue ga bisa lakuin kekerasan karena lo cewek. Gue akan ngelakuin apapun kalo orang yang gue sayang diganggu."
Hani langsung menatapku. Mendengar ucapanku membuatnya penasaran, apa hubunganku dengan Ariva sebenarnya.
"Lo.. sama Ariva.."
"Bukan urusan lo."
Hani malah membuat wajah mengerikan. Dia tertawa pelan. "Jadi, lo punya hubungan sama Ariva? Hah? Hahaha."
Entah kenapa rasa takutnya jadi hilang. Dia terlihat gila dengan tawanya itu.
"Wah. Bukannya ini berita bagus? Di sekolah keliatan ga kenal dan punya hubungan dengan orang lain, tapi ternyata diluar kalian pacaran?"
Hais. Anak ini!
"Royal Residence, nomor 71B."
Senyumnya pudar. Dia bahkan terdiam setelah aku menyebut alamat itu.
"Keluarga Feriana, memiliki usaha terbesar di bidang farmasi." Melihat wajahnya berubah-ubah membuatku agak senang. "Orang tuamu kerja disana, kan. Sebagai..." kupandang wajahnya yang memuakkan itu. Dia mencengkram lengan kursi.
"Pembantu?"
Nah, gitu dong. Takut, itu yang kuharapkan.
"Bisa sekolah di Garuda berkat biaya majikan, bukannya seharusnya lo belajar bener-bener?"
Hah. Untung aku sempat cari tau soal keluarga ini. Sekarang ngeliat wajah Hani yang tertekan saja udah cukup membuatku senang.
"Bukan hal sulit untuk buat1 orang tua lo dipecat dari sana." Aku mengeluarkan ponsel dan menunjukkan layar dengan nomor tante Feriana tertera disana. "Gue akrab dengan keluarga besarnya. Gimana? Mau coba?"
Mata Hani berkaca-kaca. "Jangan.. ganggu.. keluargaku."
"Right. Lo bener. Jangan.. ganggu.. keluargaku." Ucapku mengulang ucapan Hani, yang kuharap dia mengerti soal aku dan Ari. Aku juga ga mau kalau Hani melakukan hal aneh lainnya hingga sampai melukai Ari.
Aku berdiri dengan tangan di saku. "Gue rasa cukup sampe disini. Kalo sampe gue liat lo masih macam-macam ke Ariva, lawan lo gue. Gue ga segan buat ngehajar lo, ngancurin keluarga lo, dan buat lo dikeluarkan di sekolah kalo sampe lo ganggu Ariva. Oh satu lagi."
Aku mengacungkan jari telunjuk, membuat peringatan lain. "Jangan sampe ada yang tau soal ini. Lo tau apa yang akan terjadi, kan?"
Hani meremas roknya dengan kuat. Air matanya menetes. Lalu ia mengangguk lambat.
Cengeng. Diancam doang takut. Lo tadi pasti ketawa-ketawa pas liat Ari kesiram air. Iya, kan? Padahal gue juga ga kenal tuh, siapa majikan lo itu.
Aku berjalan keluar. Kurasa begini saja cukuplah. Aku juga ga bisa kejam-kejam amat sama perempuan. Ah, satu lagi, hampir lupa.
"Tapi kalo lo mau rebut Juna, gue ga ngelarang, sih."
Setelah mengatakan itu, aku membuka pintu dan keluar dari sana. Kalau dilihat dari ketakutannya, aku yakin Hani ga akan ngelakuin hal buruk lagi. Kecuali kalau dia gila.
__ADS_1
Soal ucapan terakhir yang aku ucapkan, itu serius. Aku ga akan masalahin kalau dia mau ngerebut Juna. Toh, si brengsek itu memang harus menjauh dari Ari, kan.