HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Patah Hati Pertama 39


__ADS_3

"Astaga, Vaa!"


Kakiku reflek mencari lantai kolam yang kutahu ga dalam. Tapi senggolan Hani mampu membuat seluruh tubuhku basah tanpa terkecuali. Teriakan Hani masih bisa kudengar walau saat ini aku berusaha sekuat tenaga untuk tenang.


Aku berhasil berdiri sempurna, menelan ludah saat menyadari semua tatapan tertuju padaku. Kupeluk tubuhku saat dingin kini menempel di kulitku.


"Va, maafin gue. Gue ga sengaja." Hani mengulurkan tangan. "Gue bantu, Va. Ayo."


Han, apa ini bagian dari balasan atas keirianmu padaku? Semoga aja enggak, karena sampai detik ini aku masih ingin berpikir positif tentangmu.


"Astaga, Ariva. Kenapa bisa jatuh?" Lelaki yang kini menjadi pacarku lagi menatap Hani yang masih mengulurkan tangan padaku.


"Lo sengaja, ya?"


"Apa? Kakak gila, ya? Mana mungkin aku dorong Ariva!"


Mereka bertengkar disana. Ayolah, apa ini waktu yang tepat?


"Sayang, sini pegang tangan aku." Kata kak Juna yang berjongkok di tepi kolam.


Ingin kugapai tangannya, namun suara air membuatku menoleh.


Kai masuk dan berjalan di dalam air yang tingginya di bawah dada. Dia berjalan tenang sembari melepas jas dari tubuhnya.


"Pabo. Baju lo tipis banget, tau." Bisik Kai sembari menyelimuti pundakku dengan jasnya.


Kai merangkulku berjalan keluar dari kolam, membuat kak Juna melongo disana.


Yah, kalo dipikir-pikir memang aneh. Pacarku sendiri hanya mengulurkan tangan. Sementara orang ini langsung masuk untuk membantuku keluar.


Di tepi lain, Hajoon sudah berjongkok sambil menenteng jas yang sudah ia lepas.


Sesampainya di tepi, aku meraih tangan Hajoon yang membantuku naik ke darat.


Hajoon mengikatkan jasnya di pinggangku. "Lo emang ga cocok pake yang pendek-pendek." Katanya sambil senyum manis dengan tahi lalat di dagu. Seharusnya gue meleleh, Joon. Tapi lo itu udah gue anggep temen termanis gue.


"Ariva." Kak Juna datang dengan wajah panik. Kai juga baru naik. Dia merangkulku padahal ada Juna disana.


"Biar aku antar pulang." Kata kak Juna.


Dengan matanya, Kai memerintahkan Hajoon sampai membuat lelaki itu mengobrol sebentar pada kak Juna, sementara Kai membawaku berjalan keluar dari acara itu.


Jangan tanya gimana reaksi semua orang karena aku ga tau. Aku hanya nunduk karena rasa malu.


Kai membukakan pintu belakang mobil, dan aku masuk ke dalam.


Tak lama, Hajoon datang dan duduk dibalik kemudi.


"Sorry, lama." Katanya, lalu menjalankan mobil, membawaku pergi jauh dari tempat yang berhasil memberikan kenangan buruk bagiku.


...šŸ­...


"Kan! Apa gue bilang. Ini pasti jebakan."


Aku berdiri menatap wajahku di cermin. Kudengar suara Karin dari walk in closet. Gadis itu tak terima dengan apa yang terjadi padaku.

__ADS_1


Setelah berganti pakaian, aku keluar dan kudapati tiga orang itu menatapku yang berdiri kaku. Aku menunduk, merasa bersalah. Seharusnya, aku ga perlu datang ke acara itu. Karena gara-gara aku, mereka harus terganggu dan sibuk mengurusiku.


"Maunya apa sih, tu anak!" Geram Karin.


"Gue ga apapa kok, Rin. Lagian yang tadi itu cuma accident karena Hani emang kesandung kakinya." Setidaknya aku memang melihat ketakutan di mata Hani. Iya, dia ketakutan sambil terus minta aku meraih tangannya.


"Lo itu polos atau bego sih, Va. Kan udah gue ceritain gimana busuknya Vita. Hani-Hani itu pasti suruhan dia! Dia sengaja suruh orang lain yang ngelakuin itu supaya tangannya bersih!"


Aku menunduk. Masa, sih. Seumur hidup baru ini aku mendengar cerita yang aneh dan buat aku penasaran dengan semua ini. Kaya ga masuk akal, tapi Karin lebih tau soal Vita.


"Ya udah la, yang penting sekarang Pabo udah ngga apapa." Sahut Kai.


"Ngga apa-apa, apanya? Ariva dijeburin ke kolam dengan alasan kakinya kesandung?? Are you kidding?" Pekik Karin. Menurutnya, semua cerita yang kami sampaikan tidak masuk akal jika hanya sebuah kecelakaan. Feeling-nya kuat bahwa semua adalah ulah Vita.


"Menurut lo, gara-gara apa Vita sampe buat gue kaya gini?" Tanyaku pada Karin. "Dia ga punya alasan, kan. Maksud gue, tanpa dia ngelakuin semua ini. Gue anak panti, dia juga taunya gue miskin. Ya, kan? Jelas dia tau kalo gue bukan saingannya."


Tak ada yang menjawab. Karena apa yang aku katakan benar. Atas dasar apa Vita melakukan semua ini padaku?


Karin menghela napas, lalu menyugar rambutnya ke belakang.


"Sorry ya, Rin. Gue bukan bermaksud ngeremehin dugaan lo soal Vita. Gue emang sempat mikir gitu di awal. Tapi gue bingung, kalo pun Vita harus jadiin gue target, alasannya apa, gitu." Kataku menjelaskan perlahan. Dan lagi, Karin diam.


"Mungkin dia cemburu." Sahut Karin akhirnya.


"Cemburu soal ap-" tiba-tiba saja aku teringat ucapan Vita waktu di rumah Arsya. Bahwa dia cemburu padaku.


"Remember something?" Tanya Kai dengan alis terangkat.


Aku menggeleng cepat. "No. Aku mau balik."


"Thanks ya, Kai. Makasih banyak, lo udah nolongin gue tadi." Ucapku bersungguh-sungguh pada lelaki yang sudah mengantarkanku pulang ini.


"Kan, udah gue bilang ke lo. Kalo gue dan Hajoon itu guardian angel. Ya nggak, Joon?" Lirik Kai dari spion depan.


"Yoiii." Jawabnya dari belakang.


Aku tertawa tanpa suara mendengarnya. Oke, yang kemarin itu rupanya bukan cuma omongan belaka, ya. Aku mengangguk-angguk setuju dengan pernyataan barusan.


"Tapi kayanya.. ini ngga gratis, ya. Seorang Kai dan Hajoon jadi guardian? Pasti bayarannya gede, nih."


"Oh, bagus juga lo paham."


Hajoon tergelak di belakang mendengar perkataan Kai.


"Kalo gitu kalian tinggal bilang aja mau gue traktir apa, oke?"


"Ahaha. Siap, bos." Sahut Hajoon dengan jempol terangkat.


Aku keluar dari mobil Kai, melambaikan tangan sampai mobil itu menghilang. Setelahnya, aku pun masuk ke dalam rumah.


Sesampainya di kamar, aku membaringkan tubuh. Kuhela napas dengan bebas. Rasanya sangat lelah seharian penuh dengan rasa penasaran dan kebingungan.


Soal Vita, dia benar-benar buat aku kepikiran. Sebenanrnya, ini beneran atau Karin yang berlebihan?


Terkadang aku merasa Vita memang terlihat kejam. Tapi sisi lain dia bisa berubah lembut dan manja sampai aku sendiri ga bisa menolak permintaannya untuk datang ke pesta yang ternyata membuatku malu.

__ADS_1


Ponselku berdering. Aku merogoh kantong dan mendapati nama Arsya tertera di layar.


'Gue ganggu lo, Ri?' Tanya Arsya di seberang untuk pertama kali. Biasanya dia ga akan mau tau aku sibuk atau enggak. Asal dia butuh, aku wajib ada. Pertanyaan itu muncul karena kita udah renggang. Lo ngerasa kita jauhan kan, Sya?


"Engga."


'Bisa bicara bentar? Gue di samping.'


Dengan ponsel yang masih di telinga, aku bangkit dan membuka jendela. Kulihat Arsya udah berdiri dengan tangan yang juga menempelkan ponsel di pipinya.


"Gimana keadaan lo, Ri?"


"Baik." Jawabku dan Arsya pun diam.


Nampaknya dia baru pulang, melihat pakaian yang sama masih menempel. Bedanya, udah ga ada dasi kupu-kupu dan dua kancing kemeja berlapis jas itu terbuka hingga memperlihatkan dada putihnya.


Aku sampai tersadar saat kami sama-sama belum memutuskan sambungan telepon.


"Sorry ya, acaranya rusak gara-gara gue." Ucapku sembari menurunkan ponsel dari telinga. "Vita pasti kecewa."


Ngomong-ngomong soal Vita, aku jadi ingin ceritain ke Arsya apa yang kudengar dari Karin, tentang bagaimana Vita sebenarnya. Tapi waktunya pas nggak, ya? Apa Arsya percaya? Karena aku dulu juga ga percaya waktu Arsya ngomongin kak Juna.


"Dia nanyain kabar lo."


Aku menurunkan pandangan spontan. Oh. Jadi lo nanya keadaan gue buat laporan ke Vita, Sya? Ya sih, lo kan ngerasa gue terlalu membebani lo.


By the way, lo tadi disana, kan? Lo ga lari atau apaa gitu pas gue nyemplung?


Untung aja ada Kai dan Hajoon. Ngerasa beruntung banget bisa bareng mereka disana.


"Istirahat, gih. Lo pasti capek."


Itu aja? Lo nyuruh gue buka jendela cuma buat lo nanya dan liat keadaan gue, trus lo laporan ke Vita, gitu?


"Sorry udah ganggu waktu lo." Imbuhnya lagi.


Sebelum mengangguk, aku menatap Arsya beberapa saat. Sejujurnya gue rindu lo, Sya.


"Oke."


Setelah mengatakan itu pun aku belum menutup jendela.


Huuwff. Terus terang aku sedih setelah sadar kalo Arsya makin lama makin jauh dari aku. Ga pernah ada di bayanganku kalau hubungan ini bakalan renggang kayak sekarang.


Tapi aku tau semua juga karena aku yang terlalu bergantung pada Arsya. Dia juga lelah karena punya kegiatan sendiri. Terlebih ada Vita yang sekarang masuk ke dalam aktifitasnya. Ya kan, Sya?


"Maaf untuk waktu itu."


Eh?


...TBC...


'Yaah, gimana. Gue sih, maunya up terus, ya. Tapi kok lama-lama jumlah like-nya nurun? Ga bener, nih. Gue tunggu sampe banyak dulu like-nya baru up, oke? Salam, Arsya A. Louiā™”'


__ADS_1


Eaakkk!


__ADS_2