HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
High School Moment 26


__ADS_3

"Oh, jadi ini dia, pacar Juna."


Eh?


Aku melihat nama di seragam senior di depanku. Namanya.. Dinda?


Oh, tunggu. Bukannya ini mantan kak Juna?


Astaga, apa lagi ini.


"Gue kira, Juna ninggalin gue karena apa." Dia berdesis dengan tawa.


Tunggu, kak Juna ninggalin dia karena apa? Maksudnya aku?


"Masih elo jauh lah, Din." Sahut temannya dan mendapat anggukan pasti dari senior itu.


Iyaa. Iyaa. Aku juga tau masih cantikan kamu. Aku kan, emang gak cantik.


"Permisi kak, saya duluan, ya."


"Eits, bentar dong." Tangan kak Dinda mengulur ke depan, menghalangiku melangkah. "Jangan buru-buru gitu. Santai aja lagi, kita gak gigit, kok. Hahahaa." Dia dan temannya malah tertawa, padahal ga lucu. Suer.


"Gue cuma mau kasih wejangan aja, kok. Karena gue ngeliat lo tuh cewe baik-baik."


Wejangan apaan. Yang ada nih, kayanya aku bakalan dibully lagi.


Aku tersentak saat kak Dinda menepuk-nepuk pundakku. "Hati-hati, ya."


Hung? Alisku sampai bertaut mendengar penuturannya barusan.


"Pokoknya gue yakin bentar lagi akan ada kejutan baru buat lo." Lalu dia mendekatkan bibirnya ke telingaku. "Karena gue juga ngerasain hal yang sama sebelumnya."


Setelah mengatakan itu, kak Dinda dan temannya pergi sambil tertawa. Sesekali dia menoleh ke belakang, menertawakan lagi kebingunganku.


Kejutan baru apa lagi? Aku ga mau nunggu, soalnya setiap detik jadi kejutan buatku. Pertama di kantin, kedua di ruang UKS, ketiga disini. Mudah-mudahan ga ada kejutan lain, ya. Kasian jantungku, deg-degan terus.


...🍭...


Hari-hari berlalu begitu saja. Hubunganku dengan kak Juna membaik, setelah dia datang ke panti dengan tenang tanpa menilaiku ini dan itu. Aku menjelaskan kenapa tidak menceritakan bahwa aku adalah anak panti, dia memaafkanku dan tidak mempermasalahkan itu. Lalu, aku bertanya dari siapa dia tahu soal aku anak panti. Dan dia menjawab bahwa Hani lah yang menceritakannya, membuatku sedih.


Kenapa Hani menceritakan ini? Padahal kemarin dia meyakinkan bahwa dia takkan menceritakan pada siapapun. Yah, walaupun sebenarnya tidak masalah juga. Toh, sekarang semua sudah tahu tempat tinggalku, kan?

__ADS_1


Lalu, kak Juna meyakinkan bahwa dia tak punya hubungan khusus dengan Hani. Dia mengatakan itu dengan sungguh-sungguh kalau dia berteman dengan Hani karena gadis itu orang yang friendly, dan aku percaya. Lagian Hani juga tidak menyukai kak Juna. Aku masih ingat kok, beberapa hari lalu Hani mengirimi pesan memintaku mengenalkannya lebih dekat dengan Kai, walau aku hanya membalas sekenanya saja. Itu artinya Hani masih menyukai Kai, kan.


Tidak ada kejadian lain setelahnya. Ucapan kak Dinda waktu itu pun kuanggap angin lalu. Ku yakin dia hanya ingin menakutiku saja, membuatku panik supaya aku lepas dari kak Juna. Begitu, kan?


Lalu Arsya, setelah kejadian aku melihatnya bersama Vita di UKS, dia tidak pernah lagi muncul di hadapanku. Bahkan tidak mengirim pesan atau makanan. Jendelanya pun selalu tertutup padahal aku membuka akses untuk kita berkomunikasi kembali. Apa dia malu? Kurasa begitu.


Oh, aku chat saja dia. Aku ingin cerita banyak padanya. Lagian dia juga sebentar lagi ulang tahun, kan? Eh, ulang tahun Arsya ternyata berdekatan dengan kak Juna, ya. Hehe. Bisa gantian deh, ngerayainnya.



Hufff. Lagi bareng Vita, ya. Mana Vita cakep banget lagi.


Tanpa sadar aku terus menatap foto yang dikirim Arsya. Wajar sih, kalo Vita jadi incaran banyak orang, termasuk Arsya. Soalnya dia secakep ini.


Hah. Ya udahlah. Mending aku baca novel di balkon depan sekaligus menghirup udara sore. Pasti asyik banget, kan.


Aku meletakkan jus jeruk dan beberapa makanan ringan di atas meja. Sambil membuka halaman novel, aku berselonjor di atas sofa panjang. Angin dan cahaya hangat membuatku merasa nyaman. Belum lagi suara anak-anak yang bermain di halaman depan, aku menyukai keceriaan mereka. Ramai, walau aku tidak bergabung dan memilih menyendiri di atas sini.


Lama aku menghabiskan waktu sampai tak terasa petang menjadi malam. Suhu terasa lebih dingin sekarang, dan perutku terasa lapar. Apa aku ke rumah bunda aja, ya? Makan malam bareng Papa dan Bunda sambil menunggu Arsya pulang.


Aku pun membereskan sampah makanan dan hendak membawanya ke belakang. Tetapi suara mobil yang berhenti di depan membuatku mendekati besi pembatas, mengintip Arsya yang sudah pulang.


Dress hitam dengan high heels di kakinya, tampilan yang sama dengan yang Arsya kirim padaku beberapa jam lalu. Itu Vita. Dia melangkah dengan senyum lebar bersisian dengan Arsya.


Tanpa sadar aku mengikuti langkah mereka, sampai bahuku menyentuh tembok ujung dengan mata yang terus fokus pada mereka.


Di depan, Bunda sudah menyambut. Vita menyalaminya, dan Bunda memeluknya. Sambutan hangat untuk Vita dari keluarga Arsya, membuat perasaanku tiba-tiba saja berubah sendu.


"Ayo, masuk sayang." Ajak Bunda pada Vita dengan suara lembut khas bunda Syahdu.


Aku.... meremas pagar besi pembatas. Kenapa dengan diriku?


Aku terkesiap saat Arsya menoleh ke atas, melihatku dari sana. Aku yang terlalu kaget hanya menampilkan senyum kaku, tak lupa melambaikan tangan kecil padanya.


Arsya tersenyum, lalu membawa Vita masuk ke dalam rumah mereka setelah Bunda memerintah kedua kali.


Jadi, ini kali pertama Arsya membawa perempuan lain masuk ke dalam rumahnya? Ya, ini memang pasti terjadi, kan. Secara Vita adalah pacar pertamanya.


Aku masuk ke dalam rumah, memilih istirahat saja di dalam kamar dari pada pusing memikirkan Vita yang ada di kamar Arsya. Wait, kamar?


Aku mendekati jendela saat sayup-sayup mendengar suara berisik dari seberang.

__ADS_1


"Rapi banget ya, Sya."


I-itu.. suara Vita? Jadi, Arsya juga ngizinin orang lain selain aku masuk ke kamarnya?


"Ini jendela, Sya?"


Eh? Aku buru-buru merapatkan tubuh ke tembok.


"Jangan dibuka."


Telat, jendela digeser separuh, lalu terdengar jelas pembicaraan mereka.


"Eh, kenapa?" tanya Vita dengan nada yang merasa bersalah.


Aku merasa jantungku mau copot saja.


"Eng.. ga papa." Jawab Arsya kemudian.


"Sya, Vita nya ajak makan, nak." Suara bunda pula terdengar.


"Iya, Ma. Ayo, Vit."


"Bentar, Sya. Ini.. kamar siapa?"


Deg-deg-deg, mati aku, mati.


"Oh, ini.." suara langkah bunda mendekat pun terdengar. Bersamaan gemuruh di dadaku begitu terasa. Jangan sampai bunda bilang apa-apa tentang aku. Please, kumohon jangan.


"..ini kamar Ari. Kan, dia satu sekolah sama kalian." Jelas bunda. "Emang Vita ga kenal?"


"Ari? Ari siapa, Sya?" Tanya Vita.


"Nanti aku ceritain, sekarang kita makan malam dulu, ya." Arsya nampaknya menggeser jendela dan menutup tirai, membuatku merosot ke lantai seketika. Syukurlah..


Tapi, mereka makan malam bersama. Pasti ketawa bersama juga. Apalagi bunda baik banget sama siapa aja, apalagi pacar Arsya. Bunda pasti merangkul Vita dan bercanda ria bersama seperti saat bersama denganku.


Vita juga pasti betah disana. Dia pasti suka sama keluarga hangat Arsya.


Duuh.. kenapa sih aku harus punya sifat iri kaya gini. Aku.. ga suka kalo kebahagiaan yang kupunya dirasakan juga oleh orang lain. Aku udah kehilangan keluarga kandungku, dan aku ga mau kalo sampe kasih sayang bunda dan Arsya pun berkurang karena Vita. Aku ga mau...


TBC

__ADS_1


__ADS_2