HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
High School Moment 25


__ADS_3

Ga terasa, udah tiga hari aku ga masuk sekolah. Aku betah di dalam kamar menghabiskan waktu dengan membaca novel. Jendela ku tutup rapat dan ku kunci beserta tirai berwarna gelap supaya Arsya ga bisa liat aku dari kamarnya. Sengaja kulakukan karena aku masih ingin menyendiri.


Aku tahu kak Tari khawatir, dia sampai berulang kali mengetuk pintu kamar demi memastikan aku baik-baik aja. Hanya sesekali anak panti lain datang membawakan makanan yang dipesan Arsya untukku. Perhatiannya memang patut kuacungi jempol.


Kak Juna juga ga pernah lagi telepon atau kirim pesan setelah aku bilang kalau aku baik-baik aja dua hari lalu.


Aku ga apapa, aku memang baik-baik aja walau bingung juga kenapa kak Juna ikut menghilang sekarang. Padahal sebentar lagi ulang tahunnya dan aku mau merayakan itu dengannya.


Ku pandang bunga mawar yang masih segar setelah ku letak di dalam vas kecil berisi air. Tulisan cinta yang menggantung pun belum ku lepas. Bunga dari kak Juna, tapi dia kemana, ya.


Tok..tok..


"Ariva." Setelah mengetuk, kak Tari membuka pintu yang memang tidak ku kunci.


"Temen kamu datang. Cowok, ganteng-ganteng lagi."


Alisku mengerut. Siapa? Ah, sudah pasti kak Juna, kan. Tanpa sadar senyumku mengembang.


"Cieee. Masa muda indah banget, ya. Ckck."


Aku tertawa kecil, lalu kak Tari meninggalkanku yang langsung membuka lemari untuk berganti pakaian yang lebih baik. Tak lupa ku poles bibir dengan warna nude supaya terlihat natural.


Eh tapi, kak Juna udah tau ya aku tinggal di panti. Dia marah ga ya, karena aku ga jujur. Ah, nanti aku tinggal minta maaf, kan?


Aku menuruni anak tangga dengan hati yang membuncah senang. Rindu dengan kak Juna, nanti tinggal tanya kenapa dia ga ngubungi aku, apa dia sibuk?


Baru ingin menyapa, aku terdiam dengan senyum luntur saat melihat dua laki-laki kini berdiri saat melihatku datang.


"Ariva."


Kai.. Hajoon? Mau apa mereka?


Ck. Aku berbalik badan lalu menghela napas. Sial, siapa yang kasih tahu alamat aku pada mereka? Apa Karin?


"Ariva, bisa kita bicara sebentar? Ada yang perlu gue sampein ke lo."


Mendengar penuturan Kai, aku berbalik badan dan duduk di depan mereka.


"Permisi." Kak Tari dengan senyum lebar meletakkan tiga minuman di atas meja. Lalu pergi setelah mengangguk mendengar ucapan terima kasih dari keduanya.


"Mau ngomong apa? Cepet, gue ga bisa lama-lama." Ucapku dengan ketus pada mereka.


"Gue mau minta maaf soal kejadian belakangan yang buat lo gak nyaman." Ungkap Kai, dan aku langsung membuang wajah. Bukan ga nyaman, aku bahkan ga mau lagi masuk sekolah karena kalian!


"Gue emang jailin lo, ngerjain lo dengan nempelin kertas di punggung lo. Tapi sumpah demi Tuhan gue ga pernah ngunci lo dalam toilet yang waktu itu lo marah ke gue. Juga bukan gue yang nyiram lo pake air kotoran itu. Gue berani sumpah demi apapun supaya lo percaya. Lo bisa tanya anak-anak lain yang ngumpul disana bareng gue. Gue gak kemana-mana dan disitu terus sampe lo dateng ngelempar ember ke depan kita."

__ADS_1


Penjelasan Kai membuatku diam seketika. Ini serius, bukan dia yang ngerjain aku? Lalu.. siapa..


"Bener, Va. Gue juga disitu, gue mau bilang kalo Kai sama gue disana. Kita memang jail tapi ga pernah sampe nyiksa lo kaya gitu. Itu udah keterlaluan." Imbuh Hajoon yang lebih membuatku yakin.


"Jadi.. kalian.."


"Sumpah, Va. Gue ga ngelakuin sejauh itu." Sambung Kai lagi. Lalu siapa? Aku menggigit bibir, bingung dengan situasi ini.


"Gue juga udah coba liat kamera cctv, tapi videonya terpotong. Cuma ada saat lo masuk trus lo keluar dalam keadaan basah." Ujar Kai lagi.


Aku sampai tidak bisa berkata-kata. Siapa ya, yang ngerjain aku dan udah merencanakan jauh sampai kamera pengawas pun menghilang.


Setelah Kai dan Hajoon pulang, aku melamun di dalam kamar. Seingatku, aku tidak punya musuh sesiapa pun. Bahkan Kai yang belakangan jail pun mengaku tidak melakukan apapun soal kemarin.


Ga bisa kaya gini. Aku harus tau siapa pelakunya. Aku mau tau alasan apa yang membuatnya menjahiliku seperti ini. Ya, aku harus tahu...


...🍭...


Bel berbunyi. Perlahan aku melangkahkan kaki, tidak ingin terburu-buru seperti yang lain. Dengan tenang, aku berusaha memandang lurus ke depan walau aku menyadari banyak tatapan mengarah padaku. Untuk kali ini, aku hanya akan peduli pada diriku sendiri dan harus cepat mengetahui siapa yang telah bermain-main denganku.


Aku melangkah masuk ke dalam kelas. Kusadari tatapan anak-anak berbeda padaku. Entah merasa kasihan, atau apapun itu aku tidak peduli.


"Welcome back to the school, Ariva."


Karin menyambutku seolah aku ini telah pergi berbulan-bulan dari sekolah. Dia menggenggam kedua tanganku dengan senyum lebar.


"Bener. Pokoknya lo harus cepat kabarin kita kalo lo dijailin lagi." Ujar Hajoon meyakinkan bahwa mereka akan sedia membantu.


Aku mengangguk, lalu duduk disebelah Kai yang tak lama guru pun masuk.


Kai mendekatkan kepalanya lalu berbisik. "Mulai sekarang gue juga bakalan ngasih lo contekan kalo lo mau."


Mataku mendelik sementara dia terkekeh. Ternyata jailnya juga ga ngilang.


~


Kak Juna tau gak ya, aku udah masuk sekolah. Belakangan dia susah dihubungi, jadi aku inisiatif datangi dia duluan dan biasanya dia di kantin.


Aku berdiri di pintu masuk dengan pandangan menebar ke seluruh tempat, mencari sosok yang wajahnya sudah ku rindukan. Karena ramai dengan orang yang berlalu lalang, aku masuk ke dalam dan menemukan kak Juna disana.


Aku ingin mendekati, namun langkahku harus terhenti saat melihat tangan siapa yang singgah di bahunya, menempel disana dengan tawa yang tampak akrab sekali.


Seseorang dari member cheers memberi kode pada dua orang yang tengah bercanda riang untuk melihat ke belakang.


"Ariva?" Hani berdiri dan mendatangiku. Dia memelukku erat. "Rivaa, are you okay? Gue khawatir banget..." ucapnya lalu melepas pelukan. "Gue denger lo dikerjain ya. Gue pengen banget ke panti, tapi gue belakangan sibuk banget, maaf yaa."

__ADS_1


Hani. Kenapa dia menyebut tempat tinggalku sebegitu jelas?


"Sayang.." kak Juna, dia mengelus kepalaku. "Syukurlah kamu udah kembali sekolah. Baru aja kita mau rencanain jenguk kamu."


Kita? Maksudnya siapa? Lagian kenapa harus rame-rame kalo jenguk aku. Bukannya dia sendiri juga bisa dateng?


"Kamu udah makan?" Tanya kak Juna, dan aku mengangguk walau sebenarnya belum. Tapi selera makanku mendadak hilang setelah melihat keanehan ini.


"Temenin aku makan-"


"Enggak. Aku mau ke toilet." Aku melepaskan tangan kak Juna, tapi dia kembali meraih lenganku.


"Tunggu, Ariva. Ada apa? Kamu ga kaya biasa."


Aku melirik Hani di belakang kak Juna dan beberapa orang lain yang fokus pada kami. Jelas aku tidak nyaman untuk bicara saat ini.


"Ga apapa." Aku melepaskan paksa tangan kak Juna dan berjalan cepat meninggalkan kantin.


Kak Juna dan Hani terlihat begitu akrab. Aku ga tau ada hubungan lain atau hanya sebatas teman saja diantara keduanya. Walau yang kulihat memang mereka tidak tampak mesra. Tapi kenapa terasa sesak, ya. Kak Juna ga ngubungi aku karena sibuk, sibuk apa? Apa gak punya waktu beberapa detik hanya untuk menanyakan kabarku?


Aku terus berjalan sampai melewati ruang UKS yang pintunya sedikit terbuka.


"Kamu ga percaya sama aku?"


Eh. Itu suara Vita. Dia.. sama siapa?


Rasa penasaranku muncul. Perlahan aku membuka pintu dan melihat Vita diapit Arsya dan mereka begitu dekat. Aku sampai kaget hingga membuat pintu terbuka lebar.


Arsya dan Vita tersentak mendengar suara pintu yang tiba-tiba terbuka. Sekarang aku terlihat seperti tengah mengintip mereka bermesraan.


Buru-buru aku menunduk. "Maaf, maaf, gue ga tau kalian disini. Maaf bangett."


Vita melengos tak senang saat aku mengganggunya. Arsya pula mematung menatapku, dan sebelum terjadi sesuatu yang tak ku inginkan, aku buru-buru kabur setelah menutup kembali pintu.


Hah. Sial-sial-sial. Kenapa sih, harus liat adegan mesra Arsya dan Vita. Mana mereka berdiri rapet banget kayak mau ciu- ehh aduh, apaan sih mikirnya.


Aku menggelengkan kepala membuyarkan pikiran kotor yang mulai bersarang, hingga tanpa sadar aku hampir saja menabrak dua orang yang berhenti di depanku.


"Eh, sorry, kak." Ucapku menunduk. Dia malah diam saja dengan tangan melipat di dada.


Teman di sebelahnya berbisik, hingga membuat kakak yang hampir ku tabrak mengangguk-angguk lalu tersenyum miring.


"Oh, jadi ini dia, pacar Juna."


Eh?

__ADS_1


Aku melihat nama di seragam senior di depanku. Namanya.. Dinda?


Oh, tunggu. Bukannya ini mantan kak Juna?


__ADS_2