
Aku langsung berlari keluar saat papa baru saja memarkirkan mobil. Aku sempat mendengar teriakan papa memanggilku. Tapi aku mengabaikannya, aku tak ingin terlambat.
Aku berlari dan masuk ke dalam. Kubaca board keberangkatan, memastikan apakah penerbangan Ari sudah lepas landas atau belum.
Ah, ternyara lima menit lagi. Aku berlari lagi, tapi saat itu, aku bertemu ketiga teman Ari yang tadi kulihat bangkunya kosong saat di kelas. Ternyata, mereka ada disini dan tahu Ari akan pergi.
Saat itu aku merasa kecil. Aku yang sahabatnya, tapi tidak tahu.
"Arsya.."
Aku mendekat. "Ari udah pergi? Dia dimana?" Tanyaku dengan terburu-buru. Tapi mereka tampak diam dalam bingung. Bahkan memperhatikan lenganku yang sakit ini.
"Dia..." Karin, saat itu tergagap, menunjuk ke arah belakangnya.
Saat itu juga aku lari menatap ke lantai dua. Sialnya, aku sudah tidak bisa masuk lagi. Ada penjaga dibawah tangga.
"ARIII!"
Aku berteriak ke atas. Di saat itu pula banyak yang memperhatikanku dengan keanehan.
Aku membuka ponsel dan menghubungi Ari. Sayangnya, nomornya tidak aktif. Pesan yang kukirim juga tidak sampai. Beberapa menit menunggu dengan tatapan yang terus ke atas berharap Ari muncul, tapi tidak terjadi apa-apa. Ari... sudah pergi.
Hah. Terlambat. Aku terlambat.
"Arsya." Papa datang, merangkulku yang masih diam menatap ke atas. Berharap Ari muncul dari sana. "Ayo, kita pulang."
Aku melepaskan tangan papa yang menyentuh bahuku. Aku melangkah pergi. Rasanya kecewa. Kenapa aku tidak diberitahu sejak awal, padahal aku yakin papa sudah tahu sebelum kami berangkat ke sekolah.
Selama di mobil pun aku hanya diam. Sedih, kesal, kecewa, marah, entahlah.. aku tidak bisa menggambarkannya.
Aku masuk ke rumah dan langsung naik ke kamar di saat mama menyambutku di depan. Sama saja. Semua menutupinya dariku. Padahal mereka tahu akulah orang yang paling dekat dengan Ari. Tapi aku pula yang tidak tahu apa-apa.
Aku mengunci pintu kamar. Lalu membuka jendela dan masuk ke kamar Ari. Aku diam menatap banyak tempat yang kosong.
Meja belajar, tidak ada lagi buku-buku yang berserak di atasnya. Meja itu kosong, begitu juga lemari Ari yang biasanya penuh foto. Tidak ada lagi disana. Bantal kesayangannya, dan beberapa boneka hilang.
Ah. Aku duduk di tepi tempat tidur. Tempat dimana aku dan Ari masih tidur dan saling cerita. Sekarang ruangan ini hampa tak berpenghuni. Kenapa bisa secepat itu Ari pergi tanpa permisi. Apa dia pikir, dia bisa hidup tenang dengan mengabaikanku seperti ini?
Nggak. Aku akan cari cara supaya bisa menghubunginya kembali.
...🍭...
Aku gagal.
Aku ga bisa ngubungin Ari dengan apapun. Sosial medianya tidak ada yang aktif. Nomor Hp apalagi. Gara-gara Ari, aku meninggalkan hobiku. Aku ga mood main game. Kerjaku malah banyak merenung. Banyak pengandaian yang terlintas, kemungkinan-kemungkinan Ari tidak pergi jika aku melakukan ini dan itu. Yang kutahu, semua itu tidak ada gunanya.
Ari cukup berpengaruh dalam hari-hariku. Karena biasanya, aku akan menyelinap masuk hanya untuk melihatnya tidur. Mengganggunya, membelikannya ini itu saat aku berada diluar. Direcoki soal aku yang menunda makan karena main game. Atau sibuk mengetuk jendela cuma untuk meminjam buku catatan.
Semua itu hilang. Hari-hari yang seperti itu tidak ada lagi. Dan aku merindukannya.
"Hoi." Zaki dan Danu duduk di kiri dan kananku.
"Gue denger Ari pindah."
"Kok dia ga bilang kita."
__ADS_1
Jangankan lo berdua. Gue yang temen kamar lima jengkal aja ga tau.
Zaki memperhatikanku yang diam memutar ponsel dengan tangan kiri. Nampaknya dia tahu bagaimana perasaanku.
"Gue udah duga, sih. Tapi mau gimana, anaknya udah pergi."
"Emang lo ga bisa nyusul kesana, Sya. Gue rasa kalo ke Rusia, bokap lo sanggup lah ngebiayainnya." Ujar Danu pula.
Aku menghela napas. Mana mungkin diizinin. Apalagi belum pernah kesana sebelumnya.
"Gimana soal kasus Vita, Sya? Udah kelar?" Tanya Zaki.
"Hm." Aku mengangguk.
"Juna?" Tanya Danu.
"On proses. Bokap gue yang ngebet banget Juna harus masuk penjara."
"Wah. Hancur masa depannya."
"Serem juga papa lo, Sya. Tapi gue denger juga gitu. Katanya Arga Alexander emang serem kalo marah."
"Ga tau. Gue ga pernah liat bokap marah." Jawabku dan serentak mereka terkaget.
"Masaa??" Tanya mereka berdua.
"Iya. Bokap gue paling ngambek doang."
"Hah. Yang bener lo?"
"Aaakh!" Zaki menyikut lengan kananku yang masih dilapisi arm sling, sampai aku mengerang sakit.
"Tapi, Sya. Tante gue katanya pernah jadi panitia acara bokap lo nyanyi. Trus ada yang buat bokap lo kesel dan dia marah-marah gitu. Serem banget, kata tante gue!" Timpal Danu.
"Mana gue tau. Ke gue juga kalo marah paling wajahnya doang bertekuk. Tapi gue kan, anak baik budi, ga pernah buat masalah sama bokap nyokap."
"Dihh. Baik budi." Zaki sampai mau muntah mendengarnya.
"Gimana Ariva?"
Detik berikutnya kami saling diam saat mendengar suara dari belakang kami. Menyebut nama Ari.
"Yah, gitu deh."
Zaki menoleh ke belakang, lalu kembali menghadap depan. "Kai dan Hajoon." Bisiknya.
"Ngga ngubungin?"
"Engga." Suara Kai.
"Emang lo ga minta jawaban langsung?"
Hening beberapa detik, lalu Kai menjawab. "Yang penting gue udah ngutarain isi hati gue. Gue emang bilang, kalo gue cuma mau dia tau gimana perasaan gue ke dia selama ini. Yah, walaupun dia akan ngubungin gue kalau dia menerima gue. Tapi udah beberapa hari, gue coba hubungi, nomornya ga aktif."
"Belum ganti nomor, kali. Sabar aja, mungkin nanti dia ngubungin lo."
__ADS_1
"Gue ga berharap. Tujuan gue Confess emang supaya lega aja."
Jangan tanya gimana perasaanku mendengar itu. Tahu ada yang menyukai dan menunggu jawaban darinya, membuat perasaanku gusar. Kini malah aku yang deg-degan. Gimana kalau Ari terima? Gimana kalau mereka pacaran?
Ah. Sialan. Kenapa serumit ini, sihh!!
...🍭...
Hari itu, aku masuk ke ruangan papa. Kali pertama setelah sekian lama aku ga pernah nginjakkan kaki ke ruangan pribadi papa di rumah. Aku masuk saat papa sedang tidak ada. Tujuanku adalah Ari.
Aku mencari data om Tama. Siapa tahu aku menemukan nomor yang bisa dihubungi dan aku bisa menanyakan kabar Ari.
Aku tak berani menyentuh berkas-berkas itu. Kalau susunannya berantakan, papa akan curiga. Aku membuka laptop papa dan mendapati gambar dekstop yang membuatku tersenyum.
Foto muda mama yang duduk di pantai. Aku rasa foto ini diambil diam-diam, dan aku yakin aku belum lahir saat itu.
Setelah mencari cukup lama, aku akhirnya menemukan satu file tentang kerja sama perusahaan om Tama dan rumah sakit yang papa kelola.
Aku mencatat alamat email perusahaan, nomor sekretaris, keuangan, dan semua yang tertera disana. Lalu aku keluar setelah menyusun semua seperti semula.
Hah. Dapat juga. Aku duduk di meja belajarku, lalu mulai mengambil catatan kecil dan pulpen untuk melengketkan email perusahaan bokap Ari.
Aku tidak menemukan pulpen, lalu menarik laci kecil untuk mengambil yang baru. Namun aku menemukan benda kecil berwarna hitam yang aku yakin, bukan milikku.
Aku pernah lihat ini. Kotak jam tangan yang ada di kamar Ari, yang waktu itu ingin dia berikan pada Juna.
Hatiku berdegup saat menemukan satu barang milik Ari ada laci. Tapi kenapa bisa disini.
Aku membuka kotak itu, ada jam tangan hitam dan selembar surat.
Aku menelan ludah, perlahan membuka kertas yang mungkin sengaja Ari letakkan disini.
Tulisan tangan Ari...
Dear Arsya,
Teman terbaik, pendengar terbaik, pemberi nasehat terbaik, pengayom, pelindung, dan orang yang paling mengerti gue. Apa kabar? Gue harap selalu baik.
Lucu gue tanya kabar, padahal gue yakin lo bakalan langsung nemu surat ini setelah gue pergi.
Hah. Ga terasa ya, Sya. Dulu kita tuh, masih sering banget saling minta bantuan. Lebih ke gue sih yang selalu butuhin lo. Sekarang kita udah bisa melakukan semua sendiri, masing-masing.
Oh ya, gue mau ucapin makasih banget untuk selama ini lo udah jagain gue, walau awalnya demi bunda, tapi gue sempet ngerasa lo beneran ngelindungi dan berusaha ada buat gue dengan tulus. I felt that. Thanks a lot, Sya. Gue ga akan pernah lupain itu.
Daaaan, gue juga mau minta maaf soal sikap gue belakangan ini. Gue selalu ngehindar. Tapi bukan berarti gue benci. Gue cuma lagi bingung aja. Tapi sekarang udah engga kok, hehe.
Satu lagi, Sya. Jam tangan ini, gue beli khusus buat lo. Pertama kali gue liat dia di kaca steling dan gue langsung teringat lo. Gue pikir lo pasti bakalan keren banget kalo pake jam itu. That's your birthday gift. Sekali lagi, I'm so sorry for all the mistake I made. Gue sayang sama lo, gue harap lo ga marah sama gue karena gue pergi diam-diam.
Sincerely, Ariva.
Aku diam membisu meresapi seluruh kata yang Ari tulis disini. Tulisannya menunjukkan bahwa memang tidak ada apa-apa diantara kami. Dia juga tidak membahas soal malam dimana aku mengungkapkan rasa sayang. Atau mungkin dia menganggap itu hanya sebatas ucapan karena kami tumbuh dan besar bersama layaknya kakak adik.
Aku pu tidak menemukan kata yang merujuk Ari benci atau suka ke aku. Ngga ada.
Ngga apapa. Setidaknya dia ga marah seperti apa yang kupikirkan kemarin-kemarin.
__ADS_1
Jam tangan, ya. Jam yang aku pikir buat Juna. Ternyata dia membelinya khusus untukku.
Tapi di surat ini, Ari ga bilang kapan dia akan pulang, seolah dia akan terus menetap disana. Ah, Ari... aku harus mengirimkan email supaya om Tama tahu kalau aku tengah mencari anaknya yang dia curi dariku.