HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Patah Hati Pertama 31


__ADS_3

Arsya benar-benar ga bicara bahkan sampai kami tiba di panti. Dia ga ngejawab semua pertanyaanku. Mungkin aja ga penting.


Dan sekarang dia duduk di bawah, membersihkan luka ku yang duduk di tepi ranjang.


Kuperhatikan dia dari atas. Bulu mata panjang dan hidung bak perosotan itu mengangumkan. Sayang banget dia sahabatku. Hehee. Maksudnya, dari kecil sama-sama buat aku liat Arsya jadi biasa aja. Kalau mungkin baru ketemu, aku ga yakin ga naksir sama dia.


Aku tersenyum kecil saat Arsya meniup-niup luka di lututku. Sebenarnya agak perih saat dia membersihkan luka dengan alkohol. Tapi aku menahannya, dari pada harus mendapat tatapan tajam dan omelan dari lelaki ini.


Arsya berdiri setelah menutup luka dengan perban. Dilihatnya aku cukup lama dengan ekspresi dingin itu. Entah apa yang membuatnya begitu, sampai aku harus melirik ke samping mengabaikan tatapannya.


"Udah. Lo istirahat." Ucapnya kemudian.


"Thanks ya, Sya. Gue pasti banyak banget ngerepotin lo."


Arsya membereskan kotak P3K sambil berujar. "Bentar lagi gue ada janji sama Zaki Danu, jadi gue ga bisa nemenin." Ucapnya, tanpa menanggapi apa yang aku katakan tadi.


Aku mengangguk, dengan pelan-pelan ku angkat kakiku dan bersandar di tepi ranjang. Setelah itu, Arsya pun keluar dari kamarku.


Kenapa dia dingin ke aku, ya. Kayak ada pemisah diantara kita. Apa selama ini aku keterlaluan, atau ada kata-kata aku yang nyakitin? Ah, yang ada kebalik. Malah dia tuh, yang selalu punya kata-kata yang nyakitin. Tapi dari cara dia memperlakukan aku tadi, rasanya ga ada masalah apapun. Arsya kan, emang cuek-cuek perhatian.


TRING!


Aku merogoh ponsel di dalam saku. Lalu membaca pesan yang berisi makian dari Aneska.


Ck! Padahal dia tau disini aku juga korban. Kok bisa-bisanya nyalahin aku?


Hah. Untungnya ini bukan kali pertama aku diancam dan dimaki begini. Dulu sih, sering banget. Abisnya Arsya yang buat aku harus tahan dimaki dan diancam begini sama fansnya. Itu sebabnya sekarang aku ogah banget akrab sama dia di sekolah.


Eh, Arsya udah pergi belom, ya. Tiba-tiba aku mau cerita soal aku udah putus sama kak Juna. Dia harus tau, kan. Biar dia tau kalo aku ngabulin permintaannya buat putus waktu itu.


Aku beranjak dari tempat tidur menuju rumah bunda. Kulihat mobil papa Arga sudah terparkir disebelah mobil Arsya. Itu artinya papa udah pulang.


Aku membuka pintu, tidak ada orang di ruang tengah itu. Lalu ku dengar suara dari dapur, nampaknya mereka tengah berkumpul. Dengan riang kulangkahkan kaki menuju keluarga bahagia itu, ingin bergabung dan merasakan manisnya keluarga mereka.


Tapi sesaat aku berhenti saat aku mendengar bunda mulai memberi nasihat.


"Sya, mama masih tetep ingatin kamu buat hati-hati kalau pacaran. Mama gak mau kamu sampe kelewatan batas sama perempuan. Ingat, perempuan bukan untuk dimainin. Apalagi disentuh di tempat yang gak semestinya."


Aku tersenyum mendengarnya. Kulihat Arsya menggaruk kepala. Aku tahu kenapa, karena nasihat itu selalu bunda keluarkan sampai kuyakin Arsya hapal isinya.


"Iya, Ma.. iyaa. Arsya ingat, kok. Lagian kan, udah Arsya bilang, Arsya gak pacaran."


Loh. Ga pacaran apanya. Jelas-jelas kalian hampir ciuman di UKS. Kalo aku ga masuk, ga tau deh apa yang terjadi.


"Satu lagi. Jaga Ari, ya."


Kini namaku pula disebut.


"...Soalnya kan, dia ga pernah keluar tanpa kamu. Apalagi sekarang dia punya pacar. Mama.. agak khawatir."


Bunda khawatir, kalau aku macem-macem sama kak Juna, gitu? Isk, Bunda. Aku tahu batasan, kok...


"Iya, Ma. Aman soal itu."


"Masa disuruh ngawasin cewek yang ditaksirnya lagi pacaran, sih. Bisa serangan jantung, dia." Celetuk papa Arga, memulai pertengkaran dan berhasil membuatku merapatkan bibir, ingin tertawa. Papa Arga emang suka banget bercandain anaknya.


Eh tapi kenapa aku malah nguping disini, sih. Gabung, ah. Seru nih, kalo papa mulai jailin Arsya.


"Arsya ga suka sama Ari."

__ADS_1


Deg! Aku membatalkan langkah yang hampir memasuki dapur. Mendadak aku mematung setelah mendengar ucapan Arsya.


"Ah, masa, sih?"


"Ari itu ngerepotin. Dikit-dikit minta anterin, minta bantuan ini itu. Sekarang dia punya pacar, Arsya agak lega."


Kutelan ludahku dengan susah payah. Ini.. Arsya gak serius kan, bicara kaya gini? Aku tahu papa kadang suka ngeledek kita berdua. Tapi biasanya kan, kamu ga ngelanggetin apapun ke papa, Sya. Sekarang kenapa bilang kaya gitu?


"Yang benerr? Bukannya kemaren waktu Ari mau dijemput Papanya, kamu sedih?" Kini terdengar pula suara bunda.


"Nggaak." Jawabnya cepat. "Dah, ah. Arsya mau naik dulu."


Reflek aku menyembunyikan diri dibalik hiasan pohon milik bunda. Aku merapatkan tubuh ke dinding saat Arsya melewatiku.


"Kenapa?" Samar-samar kudengar suara papa Arga.


"Aku takut, Ga."


"Soal itu? Kan, aku udah bilang. Arsya itu beda." Kata papa, entah apa topik pembicaraan kali ini.


"Kamu udah ngedidik dia jadi laki-laki yang sangat menghargai perempuan. Aku bisa liat gimana dia memperlakukan Ariva." Lanjut papa lagi.


"Bener, gitu?"


"Iya, sayang."


Tak mau lama-lama, aku memilih melangkah cepat keluar dari rumah Arsya.


Sampai di teras aku kembali berhenti, memikirkan ucapan Arsya. Benarkah selama ini aku merepotkannya? Sepanjang bersama selama bertahun-tahun, aku membuatnya kesusahan?


Apa selama dia terbebani dengan permintaan bunda yang ingin dia menjagaku? Apa selama ini jika aku bertanya, dia memang menjawab jujur kalo aku menyusahkannya? Aku pikir itu cuma...


Tiba-tiba aja ucapan Aneska buat aku mengalirkan air mata.


'Lo cuma anak panti asuhan yang butuh kasih sayang. Tapi lo salah cari tempat.'


Benarkah? Selama ini aku ga pernah ngerasa kekurangan kasih sayang orang tua karena bunda dan papa memperlakukan aku sama dengan Arsya. Tapi anak panti itu dikenal sebagai anak yang kurang kasih sayang, kan. Apa selama ini aku terlalu keliatan pengen disayang sama semua orang?


Aku menghapus air mataku dan berjalan pulang.


Sorry kalau selama ini ngerepotin lo, Sya. Gue tau lo emang selalu kesusahan karena kelakuan gue. Keputusan gue buat ngga ngenalin lo di sekolah rasanya emang bagus banget. Kedepannya gue akan berusaha sendiri dan semaksimal mungkin ngga ngerusuhin lo lagi.


...🍭...


Begini banget sih, hidup ini...


Aku menelungkup di atas tempat tidur. Meletakkan pipi di atas guling dengan mata yang mengarah pada laptop. Aku berusaha mengalihkan pikiran dengan menonton film-film lucu yang menggelitik perut. Tapi ga geli. Ga lucu. Karena pikiranku justru tak teralihkan sedikitpun.


Kak Juna, Arsya, pada kenapa, sih.


Kak Juna dari tadi masih berisik banget ngehubungin aku. Mohon-mohon untuk diberi kesempatan.


Arsya juga. Ucapannya jadi ngiang di telinga.


Tuh kan. Aku jadi nangis padahal filmnya lagi nujukin aksi lucu.


Tapi ini sesak banget. Kenapa jadi gini. Masa SMA yang katanya indah, ternyata ga mampir di hidupku. Kak Juna memang nyakitin, tapi ucapan Arsya tadi.. Kalo emang aku ngerepotin, kenapa ga mau aku pindah dari panti?


"Temenin lo sampe wisuda? Omong kosong banget."

__ADS_1


Aku menutup laptop lalu menghapus air mata. Di saat bersamaan, pintu diketuk dan kak Tari masuk.


"Lo, Ari. Kenapa??" Kak Tari masuk dan duduk di tepi tempat tidur.


Melihat kak Tari, justru tangisku semakin pecah.


Aku memeluknya dan menangis sesegukan, menuangkan kesialan yang kuhadapi hari ini.


Sapuan lembut kak Tari di rambutku menenangkan. Orang tua kedua setelah bunda.


"Ada masalah, ya?" Katanya sembari mengurai pelukan. Dia menghapus air mataku.


"Ada pacar kamu di bawah. Apa perlu kakak kasih pelajaran?"


Aku menggeleng pelan. Padahal aku ga bilang apa-apa, tapi wanita dewasa ini sungguh mengerti.


"Ga apapa. Ga usah turun kalau kamu ga mau ketemu."


Aku mengangguk, lalu kak Tari keluar kamar. Sebelum menutup pintu, dia melihatku sebentar dengan raut yang tak bisa ku tebak.


"Ari."


"Hm?"


"Sebenarnya.. papa kamu mau ketemu."


~


Aku tau, masih terlalu awal untuk tidur. Tapi hari ini sungguh melelahkan. Sejak jam 8 tadi aku udah berusaha menutup mata. Tapi kumpulan memori hari ini terus merayap di pikiranku.


Kejutan dari kak Juna, juga ucapan Arsya. Sungguh, aku ga suka kepikiran kaya gini. Aku lebih suka nanya langsung ke orangnya. Tapi bukannya ucapan Arsya udah amat sangat jelas, ya?


Tok..tok..


Aku menoleh ke belakang. Jendelaku diketuk..


"Ari."


Tok..tok..


Suara Arsya. Dia memanggilku.


"Udah tidur apa, ya."


Terdengar pula gumamannya.


Aku tidak peduli dan kembali membelakangi jendela, semakin menarikkan selimut sampai menutup dagu. Lampu sudah padam sejak tadi. Jendela dan pintu juga udah ku kunci. Aku ga mau Arsya masuk. Aku lagi bete banget sama dia.


Drrt..


Aku meraih ponsel di atas nakas. Ternyata pesan dari Arsya. Dibawahnya pula pesan dari kak Juna.


Huufft. Aku menutup ponsel dan juga menutup mata. Semoga semua yang terjadi hari ini adalah mimpi yang terasa seperti nyata.




**Makasih ya dukungannya. Jangan lupa Vote♡♡♡**

__ADS_1


__ADS_2