
"Sya, jangan melamun."
Teguran satpam gerbang sekolah membuatku menoleh perlahan.
"Ngantuk, pak. Bukan melamun."
Aku sampe nguap berkali-kali. Ini gara-gara tadi malam. Capeknya belum ilang, papa pake bangunin pagi-pagi buta buat work out pula.
"Begadang, ya? Mikirin apa sih, anak kecil."
Aku berdecak pada pak satpam yang udah kukenal setahunan. Namanya pak Toni. Dia asyik diajak ngobrol.
"Paling mikirin pacar. Ya, kan?" Sambung pak Toni lagi.
"Pacar apa sih, pak."
"Tuhh." Pak Toni menunjuk dengan dagu. "Hadiah lagi buat kamu. Dari anak kelas dua. Namanya..." pak Toni mengetuk-ngetuk dagu, sambil matanya menengok ke atas, dia berpikir. "Dinda kali, ya. Lupa."
Aku menoleh pada hadiah yang dimaksud pak Toni. "Ambil aja buat bapak."
"Wehehehe." Pak Toni kesenangan. Kayak biasa, hadiah yang sering ku dapat dari entah siapa, aku kasih ke pak Toni. Hadiahnya kadang makanan, baju, sepatu. Kebetulan dia punya anak perempuan dan laki-laki. Mereka pasti senang, kan.
"Makasih loh, Sya. Bapak jadi enak. Udah banyak banget yang bapak bawa sejak kamu nongkrong disini. Anak cewek jadi suka nitip ke bapak. Mereka juga nanyain soal kamu."
Aku meregangkan tubuh, lalu ku lihat Ari baru turun dari taksi. "Bilang aja aku anak bapak." Kataku menanggapi.
"Ada-ada aja. Mereka mana percaya."
Ngapain Ari berdiri-berdiri di situ. Bukannya masuk malah bengong.
"Masuk, gih. Bentar lagi bel."
Aku mengangguk, lalu melangkah perlahan mendekati Ari.
Jailin dikitlah.
"Hoii!"
Dia tersentak kaget saat dari belakang aku mengagetkan tepat di dekat telinganya.
Dia menoleh dengan mata membulat. "Ngapain lo!" Sungutnya tajam.
Apa, sih. Responnya gitu amat.
"Lo yang ngapain berdiri-berdiri disini."
Dia langsung mendorong kuat tubuhku. "Sanaa! Jangan deket-deket gue."
Aku berdecak. Hadeeh. Kayak gak sudi banget ketemu gue di sekolah. Emang efek kenal gue sampe begitu banget, ya!
Emang iya, sih. Dulu Ari sampe nangis karena sering dibully. Padahal udah aku bilang berkali-kali kalau aku dan Ari berteman. Tapi mereka malah ngetawain Ari. Nggak dikit juga yang nitipin hadiah untukku ke Ari. Efek itu yang buat dia ga mau lagi dekat-dekat aku di sekolah.
Pada awalnya, Ari ga mau satu sekolah bareng aku. Tapi aku bujuk dan dengan sedikit berat setuju dengan permintaannya ini.
"Eh lo denger kabar ga soal kejadian kemarin pertandingan futsa, nggak?"
Aku mendengar pembicaraan anak-anak yang lewat di dekatku. Beritanya kesebar cepat banget. Nasibmu, Ri, jadi bahan gosip. Siapa suruh datang sendirian, demi Juna lagi. Ergh...
~
Dan akhirnya aku lupa ngerjain tugas. Seharian kena marah mulu sama pak Hendra, guru fisika yang biasanya baek ke aku. Karena ga selesai sekali aja, langsung diceramahi kayak udah setahun ga ngerjain PR.
Istirahat ini, aku ngumpet di bawah tangga. Tadi Vita sempat chat dan telepon ngajak makan siang bareng. Tapi aku lagi pengen main game.
Sejak sama Vita, aku jadi jarang banget main. Sama dia seru, sih. Tapi kayak banyak yang ilang dari aktifitasku biasanya.
"Bukannya bersyukur, malah ngumpet." Celetuk Danu.
"Gitu deh, kalo orang ganteng. Mentang-mentang dikejar cewek cantik." Sahut Zaki pula.
"Kiri, Jek. Lo ngapain kesana!" Lagi main, bukannya fokus malah ngobrol.
Tuh kan, jadi kalah!
__ADS_1
"Aduuhhh. Lo bisa maen nggak, sih?" Aku jadi emosi liat Zaki. "Lo juga ngapain pake yang culun gitu. Kalah, kan!"
"Marah-marah mulu, lo!" Aku spontan mengangkat kepala. Ari berdiri di depanku dengan berkacak pinggang.
"Eh, Ari. Tumben nyapa. Hehe." Danu, salah satu anak yang pernah nembak Ari. Dulunya dia ngebet banget pengen aku jodohin dengan Ari. Udah aku bilang, Ari tuh ga suka. Malah maksa. Ditolak, kan.
"Tau, nih. Katanya kita harus pura-pura ga kenal." Sambung Zaki pula.
"Kan lagi ga ada orang." Matanya beralih padaku. "Lo nggak sama cewe lo. Di kantin, tuh."
Aku melirik sekilas, lalu fokus lagi pada ponsel untuk bermain game. Gue lagi gak mood. Jangan ganggu.
"Kenapa dia?" Tanya Ari pada yang lain.
"Ohh. Tadi dimarahin pak Hendra. Nggak ngerjain PR." Jawab Danu.
"Hah? Serius lo gak ngerjain PR, Sya? Bukannya lo rajanya fisika?"
"Katanya banyak pikiran, Ri." Sahut Zaki lagi.
"Pikiran? Hahaha." Ari malah tertawa lebar. "Sejak kapan lo mikir, Sya?"
"Diem lo!" Jawabku kesal. Ini tuh gara-gara mikirin lo yang deket sama Juna si brengsek itu!
"Eh, Ri. Siang nanti kita mau nongkrong di kafe kopi tempat biasa. Mau ikutan, gak?"
"Ngapain lo ajakin dia." Ucapku pada Danu.
"Oke. Siang nanti gue langsung kesana."
"Sssipp!!" Danu mengangkat jempolnya tinggi-tinggi.
Ari langsung pergi sambil cekikikan ke arahku. Dia tau banget kalo aku lagi badmood jadi gampang marah, anehnya dia malah suka ngeganggu kalo aku lagi mode ini. Ck! Anak itu.
...🍭...
"Ayo jek, cepetan!" Aku menyuruh Zaki cepat naik ke motor. Mau kabur. Soalnya Vita ngajak nongkrong dan aku lagi males banget.
"Ya elah, bentaran dong!"
Ah, shitt. Mataku melotot pada Zaki yang malah senyam-senyum pada Vita yang menghampiri. Sialan!
"Mau kemana?" Tanyanya.
"Mau nong-"
"Mau belajar." Potongku cepat. Aku melirik Zaki, menyuruhnya tenang saat alisnya tertaut heran.
"Ohh. Hp kamu mana? Aku telepon dan chat kok ga dibalas?"
"Ah, di tas. Ngga aku buka dari tadi. Maaf, ya."
Vita manggut-manggut, tak lama Danu datang dengan motornya.
"Ayoo, kenapa malah berenti disitu?"
"Kalo gitu, kita duluan, ya." Aku menyuruh Zaki cepat-cepat naik.
"Eh, Vita. Ikut, yuk. Kita mau nongkrong di kafe ujung. Biar rame." Danu menaik turunkan alisnya pada Vita yang pelan-pelan mengalihkan wajah ke arahku.
"Nongkrong?"
"Eng.. kita emang belajarnya di kafe, gitu." Haisss, sialan si Danu. Mataku kurang lebar apa lagi ini, hah? Ngga ngeliat pula. "Kalo gitu kita gerak, ya. Kamu pulangnya hati-hati."
Aku cepat-cepat menyalakan motor dan melaju cepat.
"Lo kenapa sih, lumayan kan kalo Vita ikut." Tanya Zaki dibelakang.
"Ada Ari." Jawabku asal.
~
"Ari, udah lama?" Tanya Zaki.
__ADS_1
Ari menutup novel yang kubelikan minggu lalu.
"Baru. Pesenan kalian bentar lagi datang." Jawabnya.
Zaki dan Danu duduk didepan Ari, lalu aku duduk disebelahnya.
"Masih bete aja mukenyee.." Ari menarik telingaku sampai kepalaku pun mengikuti. Nggak bisa protes kalo Ari yang begini. Liat, Zaki sama Danu sampe cekikikan.
"Kalah war, dia." Sahut Zaki.
"Gara-gara lo!" Sungutku padanya yang malah ketawa lebar.
"Yauda sih, game doang. Ntar main sama gue di rumah." Sahut Ari.
"Yang ada makin kalah gue."
Ari tertawa sambil mengacak-acak rambutku.
"Jek, lo kok betah temenan sama Arsya." Tanya Ari.
"Lah, gue yang mau nanya itu sama lo. Kan, elo yang lebih lama temenan sama Arsya." Jawab Zaki dan berhasil membuat Ari terkekeh.
Siku Ari menggantung di bahuku. Lalu dia berujar. "Gue tuh, nganggep Arsya kayak adek gue. Jadi, gue pasti sabar."
"Gue lebih tua enam bulan dari lo." Kataku sambil menepuk lengannya yang nangkring di bahuku. Lalu membuka game di ponsel.
"Cuma enam bulan doang. Kalo dari sikap dan sifat, gue lebih cocok jadi kakak lo."
"Ga ada kakak yang penakut dan dikit-dikit minta temenin gue." Jawabku tanpa beralih dari ponsel.
"Wajar kali, namanya juga nggak terbiasa sendiri. Ya nggak, Jek, Dan?"
"Ini nih, yang buat gue khawatir lo bedua jatuh cinta." Kata Zaki, membuat aku dan Ari saling tatap.
"Bener, haha. Nggak ada sahabat cewe cowo, bro." Sambung Danu.
"Hah? Gue.. cinta sama lo?" Ari menyentuh dahiku dengan telunjuk. "Ppfftttt.." Ari mulai ketawa. Dan aku merasa diremehin.
"Awas kemakan omongan sendiri, ya." Aku memberi ultimatum pada Ari yang kutahu takkan pula jatuh hati padaku.
"Uluuhh huluhhh.. adek guee." Ari mencubit kedua pipiku. "Lo mah, udah gue anggep adek sendiri. Lo pipis aja gue pernah liat."
Mendengar itu, Zaki dan Danu tergelak lepas.
"Lepasin." Kataku masih dengan nada pelan. Kalo aja gak lepasin, gue bakal nampol palanya.
"Mau gue lepasin? Bilang dulu, 'kak, lepasin pipi gue dong, please'."
Seneng banget dia. Liat, tuh. Wajahnya dekat banget ke aku. Hampir setiap hari begini, tapi syukurnya ga ada yang berubah dari kita.
"Uluuuhhhh.." Ari terus meledekku. Tangannya pula tak lepas dari pipiku.
"Oh, Vita, tuh."
Aku menoleh kearah pintu dibelakangku. Kulihat Vita dan dua orang temannya baru keluar dari mobil.
Tangan Ari terlepas, dia langsung meraih tasnya.
Sialan, ini gara-gara Danu.
"Loh, Ri, mau kemana?" Tanya Danu, tapi dia tak menjawab dan langsung beranjak dari kursi.
"Manis, ini pesanannya baru datang." Bartender itu membawa pesanan kami.
"Numpang keluar dari belakang, kak." Ari buru-buru masuk kedalam dapur kafe, menghilang begitu saja.
"Loh, kok malah pergi." Danu menggaruk kepalanya.
"Lo gimana, sih. Ari kan, ga mau ketauan kalo dia kenal Arsya di sekolah." Gerutu Zaki.
"Ah, gue lupa."
Ck. Sial. Padahal mood gue udah mulai bagus.
__ADS_1
"Syaa. Disini rupanya." Vita duduk di sampingku. "Eh, buku siapa ini?"
Ah, novel Ari... ketinggalan.