HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Kejutan! 56


__ADS_3

Aku berharap semua yang terjadi kemarin malam adalah mimpi. Sakit hati yang kurasakan hanya terjadi di alam delusi yang bisa ku atasi dengan baik. Nyatanya saat mataku terbuka, rasa sakit itu langsung kembali terasa.


Air mataku mengalir melewati tulang hidung, keluar begitu saja, mungkin menghabiskan sisa air mata tadi malam. Pusing, dan aku bisa merasakan beratnya kelopak mataku yang ternyata sudah membengkak.


Ah, tadi malam ada Arsya disini. Dia memelukku dan bilang kalau dia ga akan kemana-mana. Tapi, mana dia sekarang? Apa itu mimpi?


Aku melirik jendelaku. Tertutup rapat. Ah.. memang mimpi.


Aku pikir begitu, sampai aku membalikkan badan dan mendapati Arsya memejamkan mata di sampingku.


Bukan mimpi...


Arsya terlelap dengan tangan bersedekap di dada. Apa dia nyenyak?


Tiba-tiba aku teringat dengan percakapan singkat tadi malam. Arsya berbaring di sebelahku, menghadapku dengan sebelah tangannya yang ia jadikan bantal.


"Jangan sedih lagi." Katanya sembari mengusap sisa air di pipiku. "Ariva yang gue kenal itu kuat dan ga suka memikirkan masalah."


Aku menatap matanya, kali pertama aku dan Arsya mengobrol serius dan dalam seperti ini. Sambil berbaring pula.


"Dulu.. ada cewek yang pernah bilang gini ke gue. 'saat terjatuh, berdirilah dengan kaki sendiri. Menangis ga akan nyelesaikan masalah. Karena lo tau, ga ada orang yang akan nolongin lo ketika bersedih. Dan saat menyadari itu lo akan berhenti bersedih."


Arsya mengelus pipiku dengan lembut, lalu dia melanjutkan. "Ketika ada orang yang tanya, 'apa kamu kesakitan?' luka yang seharusnya ga sakit, jadi terasa sakit. Ketika ada yang meminta lo supaya ga nangis, lo malah jadi pengen nangis. Jadi, untuk kuat lo cuma perlu ngehindari semua (pertanyaan) itu."


Air mataku kembali menetes. Itu adalah apa yang aku ucapkan, saat aku rindu dengan kedua orang tua yang tak kunjung menjengukku padahal aku opname di rumah sakit beberapa tahun yang lalu.


Tujuanku mengatakan itu hanya untuk menguatkan diriku sendiri. Karena aku ngerasa, aku ga boleh terus bersedih. Tapi apa jawaban Arsya waktu itu?


"Pertanyaan begitu tuh juga bentuk perhatian dan kasih sayang, dan semua manusia butuh itu. Lo juga butuh, jangan sok bijak. Kayak lo yang beneran kuat aja. Kemana-mana juga masih minta anterin gue." Jawabnya santai sembari memainkan game di ponselnya. Dan aku terdiam karena ucapan menohoknya itu.


Sekarang semua ucapan Arsya kurasa benar. Selama ini aku ngerasa kuat walau tanpa kasih sayang kedua orang tuaku. Tapi belakangan aku sadar, aku ga sekuat perkiraanku.


Arsya bersama orang lain aja aku cemburu. Melihat mama punya keluarga baru dan anak perempuan lain, aku cemburu.


Aku memang ga sekuat itu...


Aku kembali menatap Arsya saat dia menghapus lagi air mataku.


"Sejauh ini lo udah jadi cewek kuat. Lo bisa buktiin ke gue kalo lo bisa berdiri sendiri." Ucapnya dengan lembut.


"Gue mau lo tetap dengan karakter lo yang dulu. Melupakan kesedihan yang bersarang di benak lo. Kembali menjadi Ariva yang ceria seperti kemarin-kemarin. Kesedihan ngga akan buat lo tumbang gitu aja. Benar, kan?"


Tapi kali ini beda, Sya. Perasaanku lelah dihantam banyak masalah. Dan puncaknya adalah ucapan mama yang membuatku ga sanggup lagi melakukan apa-apa.


"Udah, ya. Malam ini cukup, lo harus tidur. Ini udah jam 1 malam."


"Tapi, Sya. Mama-"


"Sst..." Arsya menggeser lebih dekat denganku. "Satu orang pergi, bukan akhir dari segalanya. Masih banyak yang sayang sama lo."


Arsya menyelipkan anak rambutku ke belakang telinga. "Ada gue, yang sayang sama lo."


Sebuah pernyataan tersembunyi yang aku mungkin akan salah artikan. Arsya.. Bilang, apa..?


"Gue sayang banget sama lo, Ri. Gue ga suka liat lo nangis kaya gini."

__ADS_1


Perasaanku tengah tidak baik-baik saja. Hatiku bergetar mendengar pernyataan Arsya.


"Jadi, berhenti bersedih karena gue akan terus ada di sisi lo. I promise.." bisiknya lagi. Lalu ia mengecup keningku cukup lama.


Arsya menaikkan selimut hingga ke bahuku


"Good night.." bisiknya sambil menepuk-nepuk lembut bahuku. Sesaat aku merasa tenang dengan semua ucapannya. Seperti terhipnotis, aku langsung tertidur sampai tak lagi ingat, kalau Arsya masih ada di sampingku. Dia bener-bener nemenin aku sampai pagi.


Kuperhatikan wajahnya yang terlelap. Baru ini aku bisa menikmati wajahmu, Sya. Aku selalu rindu, sebenarnya. Lalu bekas luka ini. Bekas hantaman yang dilakukan oleh Juna karena aku. Apa ini sakit, Sya?


Kusentuh lebam di tulang rahangnya. tadi malam ini yang membuat Vita menangis, kan. Ah. Arsya, sebenarnya status lo apa, sih.


Males mikirin itu, akupun melirik jam. baru pukul 4, aku beringsut turun dari tempat tidur menuju dapur untuk mengambil es batu dalam kulkas, mengompres mataku yang bengkak ini. Aku ga mau orang-orang di sekolah tau kalau aku abis nangis. Malu lah, baru juga jadi orang penting tadi malam.


...🍭...


Berangkat jam 5.30 pagi, dan aku menjadi murid satu-satunya di sekolah. Sengaja ku tinggal Arsya di kamar karena akan aneh rasanya bangun berdua begitu.


Aku menutup kepalaku dengan hoodie. Rencananya, aku mau melanjutkan tidur di bangkuku. Tapi nyatanya kejadian tadi malam terus mengusik ingatanku. Perkataan mama yang menyuruhku pergi ke Rusia terus berdengung di telinga.


Sialan. Benar-benar menggangguku.


'Kesedihan ngga akan buat lo tumbang gitu aja. Benar, kan?'


Bener, Sya. Aku mau memulai lagi menjadi Ariva, putri Nugra Tama yang menjadi sorotan di acara bisnis tadi malam.


Kusentuh dahi yang tadi malam kecup Arsya. Darahku berdesir memikirkannya. Ahhh. Kecupan ini artinya apa, Syaa?


Entahlah. Aku ga mau terlalu memikirkannya. Mana tau Arsya hanya memberikan ini karena aku terlalu terlihat terpuruk. Bukan sesuatu yang berarti, barangkali.


Tak lama, teman-temanku datang. Mereka selalu berangkat bertiga, duduk menghadapku yang tak biasa memakai hoodie candy purple.


"Hm. Gara-gara pelukan sama lo kemarin, Va, bokap nyuruh gue buat ngajak lo makan malam. Gue tolak aja langsung. Ada maunya sih, gitu." Sahut Karin pula.


"Ga nyangka. Lo masih mau berteman dengan kita kan, Va." Sambung Hajoon.


"Ngga usah lebay. Gue begitu cuma mau nunjukin ke Vita doang."


"Ide lo bagus banget, Bo. Gue aja sampe tercengang banget liat lo."


"Sekarang mereka ga akan lagi berani nge-bully lo, Va."


Aku menghela napas lega. Kayaknya belum tentu. Bukannya Vita itu punya gengsi yang cukup tinggi? Jadi bawahanku, mana dia mau.


Dan aku membuktikannya saat jam istirahat. Dengan langkah gontai aku menuju kantin diiringi tatapan mata yang berubah menjadi suatu keterkejutan. Bisik-bisik juga terdengar, membicarakan siapa aku sebenarnya.


Aku berhenti saat akan berbelok ke persimpangan lorong. Kulihat kak Juna juga berhenti ketika melihatku berjalan ke arahnya. Wajahnya masih terlihat lebam dengan pandangan sendu.


"Va.."


Erghh..


Aku berbalik, mencari jalan lain menuju kantin. Enggan mendengarkan lagi semua ocehan Juna. Dia pun ga ngejar aku, pasti karena ingat dengan apa yang aku katakan padanya kemarin malam.


Kukira jalanku akan lebih aman, nyatanya aku bertemu Salma dengan wajah bersalahnya.

__ADS_1


"Va."


Argh. Udah kubilang, aku ga mau bicara lagi sama dia. Aku pun berbalik, namun Salma dengan cepat mengejarku.


"Va, please dengeri gue, Va." Pintanya padaku sambil menarik tangan yang sudah ku sembunyikan di dalam kantong Hoodie.


"Gue minta maaf, Va. Gue udah nyakitin lo."


Yah, sejujurnya ga buruk-buruk banget kok, Salma minta Juna deketin aku supaya aku senang. Itu pun kalo Juna-nya bagus dan beneran cinta sama aku. Masalahnya, kelakuan Salma ini menjadi olokan Hani yang buat aku terlihat menyedihkan, dan perlakuan Juna juga luar biasa, menyelingkuhiku 2 kali.


"Lo ga bales chat gue, ga angkat telepon gue, bikin gue terus nyesel dan sedih, Va. Gue tau gue jahat banget padahal lo baik banget ke gue."


"Ya udah, lah. Gue udah maafin lo." Sahutku cepat, ingin semua terselesaikan.


Salma belum tersenyum sepenuhnya. Wajahnya memang terlihat kusut.


"Gue akan lakuin apa aja asal lo beneran maafin gue, Va."


"Cukup jaga jarak sama gue. Itu aja."


"A-apa..."


Aku berjalan lagi, meninggalkan Salma yang terdiam karena ucapanku.


Aku langsung teringat pada mama yang memintaku menjauh dari hidupnya. Ukh..


Padahal aku cuma ikutin langkah Arsya. Memutuskan hubungan dengan orang yang menjadi beban dan ga punya pengaruh dalam hidup kita.


Hah. Astaga, bener-bener deh. Baru juga mau pesen makan, Vita udah ngehadang di depanku begini. Mau apa, sih. Bukannya menyingkir malah nantangin.


"Gue tau rahasia lo."


Bola mataku memutar, sudah ku duga.


Aku duduk di atas meja kantin, sementara Vita menatapku dengan sinis dan tangan bersedekap di dada.


"Sebelum lo lanjutin, gue cuma mau bilang, lo harus hati-hati dengan ucapan lo." Ancamku padanya.


"Gue ga takut sama ancaman apapun dari lo." Dia maju selangkah, dengan suara pelan dia berujar. "Anak yang dibuang dan ga dianggep kaya lo, emang punya nyali buat ngancem orang lain?" Senyum miringnya mengembang. "Gue juga liat gimana terpuruknya lo tadi malam."


Jaga ekspresi, Ariva. Seharusnya lo udah memikirkan hal ini, kan?


"Gue akan sebar berita ini ke wartawan. Dan lo tau kan, citra bokap lo bakalan hancur!"


Alisku menyatu, tak percaya melihat nenek lampir ini tak ada takutnya dengan ancamanku.


Aku turun dari meja, menantangnya dengan tatapan mata yang tak sedikitpun terlihat gentar. "Lo masih ada nyali buat nantangin gue ternyata." Aku merapatkan diri dan menatapnya tanpa kedip.


"Udah gue bilang kan, gue enggak TAKUT!" Tekan Vita dengan mata melebar.


Emosiku lagi ga stabil, perasaanku juga ga lagi baik. Tapi anak ini malah mengancamku.


"Siap-siap berlutut."


Setelah mengatakan itu, aku mengeluarkan ponsel dari saku hoodie dan menempelkannya di telinga.

__ADS_1


"Batalkan kerjasama dengan perusahaan Adisuryo sekarang." Aku melangkah pergi meninggalkan Vita yang menganga lebar.


Hh. Dia pikir aku bercanda soal ancaman itu? Udah kubilang kan, aku ga akan main-main lagi sekarang.


__ADS_2