HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Love-ship 105


__ADS_3

Syahdu meletakkan garpu dan sendok, lalu melipat tangan di atas meja, sambil tersenyum dia berkata. "Mau mama ceritakan darimana soal Wicak?"


Ditanggapi baik, Arsya langsung merespon. "Soal gimana karakternya, ma. Arsya pengen tau. Trus, gimana dia ke mama? Secinta apa? Emang om Wicak itu baik banget ya, ma. Keren, ya?"


Deretan pertanyaan itu membuat Syahdu mematung. Tahu sebanyak apa Arsya soal Wicak? Lalu kenapa binar mata anaknya terlihat begitu jelas saat menanyakan soal Wicak.


"Arsya tanya, karena papa pernah bilang, satu-satunya laki-laki yang membuatnya kalah adalah om Wicak ini. Makanya, Arsya mau tau banget om Wicak kayak apa. Kenapa papa yang sangat percaya diri itu bisa minder dan insecure?"


Syahdu akhirnya tertawa. "Gitu, ya." Jadi anaknya mau belajar menjadi sosok yang dianggap menang oleh ayahnya? Lucunya...


"Oke.." Syahdu mulai cerita dari bagaimana dia dan Wicak bertemu, lalu ceritanya mengalir begitu saja, sampai Syahdu menceritakan cara Wicak melindunginya, memberinya banyak kebahagiaan dan cinta di saat orang-orang di lingkungan tak berpihak kepadanya. Tak lupa, Syahdu menceritakan siapa orang tuanya pada Arsya. Mungkin memang tidak perlu ditutupi, saat yang Arsya hanya tahu nenek yang sering mereka pernah ziarahi bersama.


Arsya yang awalnya antusias, entah kenapa menjadi begitu longgar mendengar semua cerita sang mama. Begitu mengerikannya kah masa lalu mama, sampai memang hampir tak pernah mama ceritakan padanya.


"Ma.." Arsya menggenggam tangan Syahdu. Dia jadi menyesal bertanya. Ternyata mamanya dulu dihina dan dicemooh karena lahir dari rahim seorang pelacur.


"Justru sekarang mama udah jauh lebih bahagia. Mama bukan mau bersembunyi. Tapi mama takut kamu ga bisa terima dengan asal usul mamamu ini.."


"Mama kok ngomong gitu. Ga ada yang bisa milih, dari siapa kita lahir. Dan kebahagiaan pertama yang Arsya harus syukuri adalah terlahir dari rahim mama."


Syahdu terharu mendengar penuturan anaknya. Tak sangka, waktu sangat cepat berlalu dan anaknya tumbuh menjadi pribadi yang dewasa.


"Makasih, sayang. Semua yang mama jalani sudah menjadi pelajaran bagi mama. Intinya, Wicak adalah laki-laki yang sangat hebat."


"Pantas aja papa nyerah kalau bahas om Wicak."


Syahdu bergeming, sampai ia menghela napas, lalu mengambil tas, mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya.


Syahdu menggeser sebuah foto di depan Arsya, membiarkan anaknya melihat gambar wajah yang ada disana.


"Itu Wicak, kalau kamu pengen tahu."


Mata Arsya tak lepas dari selembar foto kecil yang ia genggam.


"Bukan mama sengaja simpan. Itu ulah papamu. Katanya biar saja. Lagi pula foto itu ga pernah keluar dari dompet bertahun-tahun."


"Papa gak cemburu?" Tanya Arsya.


"Kami sama-sama udah berdamai dengan masa lalu, Sya. Lagian, kata papa, untuk apa dia cemburu pada orang yang telah meninggal?"

__ADS_1


Arsya membenarkan itu. Dia kembali memperhatikan foto di tangannya.


Sejujurnya dia melihat ada sesuatu yang berbeda dari sosok Wicak. Ketimbang papanya, Wicak jauh lebih berwibawa.


"Kalau kamu tanya, apa Wicak itu laki-laki keren? Jawabannya, iya." Syahdu mengangguk-angguk. Ingatannya kembali pada saat Wicak di UGD. "Dia bahkan mau nerima mama kembali setelah tahu mama punya hubungan dengan papamu. Setelah dia meninggal, mama merasa telah menjadi perempuan yang sangat jahat. Sampai mama sadar, kalau lelaki sesempurna dia memang bukan untuk dimiliki."


Arsya meletakkan foto itu ke atas meja. "Mama pasti menjalani hari berat waktu itu, kan. Makanya mama lari."


Syahdu tersenyum. Memang masa lalu tidak mudah dilupakan. Dia hanya bisa berdamai, agar semua perasaan dalam hatinya menjadi damai seperti sekarang.


"Jadi, apa lagi yang ingin anak mama tanya soal Wicak?"


Arsya menggeleng pelan. "Engga ada, ma. Tapi, Arsya jadi pengen kayak om Wicak. Tulus dan melindungi orang yang dia sayang sampai akhir. Setia sampai mati..."


Syahdu menggenggam tangan anaknya. "Cinta yang buat kita tulus, Sya. Tapi semua perlu usaha. Karena cinta juga perlu dipelihara supaya dia tidak lari. Kamu tahu maksud mama, kan.."


Arsya mengangguk-angguk. "Ngerti, ma." Lalu dia teringat pada kekasihnya di benua sana. Peran apa yang akan dia jalani supaya hubungan mereka terjaga.


"Ma.."


"Iya?"


...🍭...


Pagi-pagi Arsya sudah ada di bandara. Berulang kali ia melirik jam, padahal baru setengah jam yang lalu.


Tadi, saat Ari transit di Doha, dia sempat mengatakan pada Arsya kalau dia tengah memakai baju hitam. Arsya hanya menjawab sekenanya walau Arsya tahu apa maksud gadis itu mengatakan demikian. Karena sekarang pun, dia memakai baju hitam dengan sebucket bunga untuk menyambut kedatangan sang kekasih.


"Lama banget.." lirihnya, tak jenuh menatap sinar pagi yang sudah naik di atas kepala. Tapi Ari belum juga muncul. Dia tak sabar ingin melihat lagi wajah cantik gadis itu.


Matanya mencari kesana kemari pada segerombolan orang yang baru keluar dan ia dapati Ari berjalan cepat menyeret koper dengan wajah sumringah ke arahnya. Ternyata, Ari sudah melihatnya lebih dulu sejak tadi.


Arsya sampai menghela napas lega saat melihat Ari di depan matanya. Dia merentangkan tangan, menyambut Ari yang segera berhambur ke pelukannya.


Arsya memejamkan mata, melepaskan rasa rindu yang telah mengumpul sesak di dadanya. Bersamaan dengan Ari yang memeluk hangat pinggangnya, mereka bergoyang kiri dan kanan saking senangnya bertemu.


"Kengennya.."


Ari memendamkan wajahnya di dada Arsya. Bau segar dari tubuh Arsya menyeruak masuk ke dalam hidungnya. Membuat Ari betah berlama-lama dipelukan Arsya.

__ADS_1


"Capek?"


Ari mendongak tanpa mau melepaskan pelukan. "Engga, kok. Di pesawat tidur mulu soalnya." Jawabnya santai. Pasalnya, si papa memberikan kelas bisnis yang sangat nyaman dibawa tidur selama berjam-jam di pesawat. "Oh, ya. Gue bawa oleh-oleh buat bunda dan anak-anak panti."


"Oh, ya? Kalau buat gue?"


Ari tersenyum manja. "Kan, oleh-oleh lu itu gua."


"Oooo.." Arsya mengangguk-angguk dengan senyum jail. "Elu, ya?"


Ari mengangguk pasti.


"Kalau gitu, kita pulang dulu. Nanti pelukannya sambung di kamar-ughh.."


Ari meninju pelan perut Arsya sampai lelaki itu mengaduh sambil tertawa.


Dia lalu menyerahkan bunga itu pada Ari, lalu menyeret koper Ari menuju parkiran mobil sambil terus mendengar ocehan gadis itu soal bagaimana ia bisa diberi izin oleh Tama untuk liburan di Indonesia.


"Trus kenapa pake baju item? Lo sengaja ya, biar kita couple.." Tanya Ari dengan hati mencak-mencak bahagia ketika Arsya menangkap kodenya.


"Sengaja, dong. Soalnya udah kasih sinyal, kalo ga dipake ntar ga mau dipeluk. Kan, bahaya gue ga bisa kangen-kangenan. Ga bisa.. itu."


"Itu apa?!" Protes Ari saat Arsya mengatakan sesuatu yang tak jelas.


"itu..."


"Idiiihh. Mesuuum!"


"Loh, emang gue bilang apa??"


Mereka berjalan sambil saling bergenggaman tangan dan tak mau lepas. Bahkan di dalam mobil, Arsya menyetir dengan sebelah tangan menggenggam Ari.


"Ga mau lepas dulu, nih?" Tanya Ari.


"Nggak, jangan coba-coba lepasin!" Ancam Arsya dengan wajah ketusnya itu, membuat Ari tersipu diperlakukan spesial oleh Arsya.


Ada tiga minggu libur, dan Ari ga mau ngelewatin satu hari pun tanpa Arsya di sisinya. Karena harus melewati waktu berbulan-bulan lamanya, sampai mereka bisa bertemu kembali...


__ADS_1


🩶🩶🩶


__ADS_2