HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Arsya Alexander 70


__ADS_3

"Syaaa.. Syaaa.."


Duk..duk.. duk..


Mataku terbuka perlahan setelah mendengar berisik dari jendela.


"Syaaa. Lo belom bangun, ya? Astaga kebo banget. Bangun, udah jam 7 heeii."


Hah. Ari. Ini masih pagi banget. Mataku masih sangat berat, tapi kalo aku ga bangun, Ari pasti terus ngeganggu.


"Syaaaa!!"


"Apaa!" Jawabku seketika setelah menggeser jendela. "Lo bisa gak, jangan ganggu gue tidur kalo hari minggu!"


Dia menyengir. "Syaa. Ntar anterin gue, yaa. Gue mau nge-date sama kak Juna tapi gue ga minta dia jemput kesini."


Apaan, sih. Nge-date, nge-date. Emang dah jadian, apa!


"Kenapa gak sampe sini?"


"Gue belom cerita ke dia kalo gue anak panti."


"Emang ada yang salah?"


"Enggak, sih. Cuma.. gue malu. Eh Maksudnya, gue belum mau jujur soal itu. Pelan-pelan, lah. Sekarang lo bantuin gue, ya. Please anterin guee.." tangan Ari mengatup di depan wajah, memohon padaku.


"Males. Gue mau ke toko buku siang nanti."


"Yaelah, Sya. Anterin gue sekalian, dong. Lo tega banget sama gue."


"Bukannya lo yang bilang, gak butuh bantuan karena udah ada Juna?"


Lagi-lagi dia menyengir. "Gue traktir, deh. Lo mau apa, gue beliin."


Aku menggaruk leher dengan mata separuh kebuka. Ck! Males banget gue nganter lo ketemu Juna. Tapi yah, dari pada lo sendiri kesananya. Kalo ada apa-apa kayak kemarin, malah jadi lebih ribet urusannya ke Mama.


"Yaudah. Jam berapa?"


"Hehe. Jam 12."


"Hmm." Jawabku lalu kembali ke ranjang untuk melanjutkan tidur.


...🍭...


Aku menatap Ari dari atas sampai bawah. Biasanya dia paling malas ribet dengan outfit kemana pun dia pergi. Tapi liat hari ini. Dandan, begaya, bibirnya pake di kilap-kilapin segala. Aelah!


Biasanya juga cuma pake kaos dan celana jeans. Sepatu kets. Tapi hari ini dia beneran beda.


Segitunya ya, si Juna, sampe buat lo dandan all out gini??


Tapi.. jadi cantik, sih.

__ADS_1


Ah, cantik apanya. Bego gitu. Bisa-bisanya sari sekian juta cowok di dunia ini naksirnya malah Juna.


Merasa terlalu dipandangi, Ari ikut menatap dirinya dari bawah. Meraba wajah, apakah ada yang salah dari caraku menatapnya. Lalu matanya bertanya, ada yang salah, kah?


Aku membuka pintu mobil tanpa mengatakan apapun setelah berhasil membuatnya bingung. Biar dia sadar, kalau kelakuan dan tampilannya beda dari biasanya.


Tapi bukannya bertanya, dia malah bersenandung. Senyum terus sepanjang jalan. Emang kalo jatuh cinta bisa gila beneran, ya.


"Sya, gue turun disitu." Dia menunjuk salah satu tempat pemberhentian.


"Nggak masuk?" Tanyaku.


"Ga usah. Ntar lo ribet, lagi. Gue disini aja biar lebih deket masuknya."


Aku menghentikan mobil tepat di tempat yang ia tunjuk. Sebelum turun, Ari melihat wajah di spion.


"Sya, gimana? Aku cakep, kan."


Cakep apaan. Menor, gitu. Lo nggak cocok dandan!


"Sejak kapan sih, lo cakep. Udah buru. Gue mau ke toko buku."


"Ck! Iyeee." Ari membuka pintu dan langsung berlari kecil kearah pintu masuk mall. Buru-buru dia berjalan, lalu berbalik untuk melambaikan tangan padaku.


Entah kenapa, aku ngerasa ga suka setiap kali Ari senang karena orang lain. Padahal aku sadar banget, kalo Ari berhak bahagia. Dia sangat boleh senang atas keputusannya sendiri. Karena selama ini, aku terlalu mengaturnya dalam segala hal. Dan entah kenapa pula dia terlalu menurut.


Mungkin karena itu, aku jadi ga rela kalau ada yang membuatnya senang selain aku. Walau kali ini, senyumnya terasa berbeda. Dia.. kelihatan lebih bahagia sejak dia menemukan Juna dalam hidupnya.


~


Aku harus sigap saat Ari memintaku menjemputnya. Tapi udah malam, Ari ga pulang juga. Dia.. aman, kan? Juna brengsek itu ga ngajak dia ke tempat yang bahaya, kan?


"Hei."


Aku menoleh ke belakang dan mendapati papa berdiri memperhatikanku.


"Kenapa?"


"Kenapa apanya."


Papa berjalan dan duduk di kursi balkon. Sementara aku masih berdiri di besi pembatas.


"Gelisah banget papa liat."


"Siapa yang gelisah."


"Nunggu Ari, ya?"


"Hah, enggak."


Papa memperhatikanku lagi dengan mata menyipit. "Bukannya dia lagi kencan? Ngapain kamu tungguin."

__ADS_1


"Siapa yang nungguin Ariii." Jawabku mengelak.


"Ya udah, sih. Kenapa harus marah-marah."


Ck. Papa malah disini, bukannya pergi.


"Kamu ga boleh kaya gini."


Eh?


Papa duduk bersandar, melipat tangan di dada dengan tatapan lurus padaku. "Ari juga butuh privasi. Dia udah besar. Kamu dan Ari beda gender, jadi tetap punya batasan."


Alisku menyatu, kalo soal itu aku juga tau. Tapi kenapa mendadak bahas ini?


"Nasehat mama itu bukan cuma soal perempuan lain. Tapi juga Ari." Sambungnya.


"Maksud papa apa, sih?"


"Kamu pikir papa ga tau kamu suka diam-diam masuk ke kamar Ari waktu dia lagi tidur?"


Aku terdiam. I-iya, sih. Tapi kan, aku ngga ngapa-ngapain!


Papa berdiri. "Ingat ya, Sya. Tugas kamu cuma jaga Ari dari belakang. Bukan sampe masuk ke kamarnya tengah malam. Jangan sampe mama tau soal ini. Dan satu lagi, jangan batasi pergaulannya. Dia bukan anak kecil lagi."


Papa pergi gitu aja setelah mengatakan itu.


Menjaga Ari dari belakang? Aku malah sempat mikir untuk menghentikannya.


Ck. Mana papa benar, lagi. Ari perlu bersosialisasi. Selama ini temannya cuma aku. Dan sekarang dia ketemu Juna, orang yang membuat senyum Ari semakin lebar.


Aku membalikkan badan saat mendengar deru mobil di depan rumah. Kulihat Ari turun.


Ia melambaikan tangan, masih berdiri disana sampai mobil Juna menghilang dari pandangan.


Dia berbalik dan langsung mendapati aku yang berdiri memperhatikannya.


Binar di mata Ari, bisa kulihat dengan sangat jelas. Belum lagi pancaran kebahagiaan itu.. sesuatu yang memang belum pernah kulihat.


"Syaaaaa!" Ari teriak. "Guee.. udaah.. jadiaaan."


Aku.. membeku.


Ari tertawa sambil melambai-lambaikan tangannya kesenangan.


"Gueee.. jadiaan.. samaa.. kak Junaaa yeaayyy!!"


Ah, gitu, ya. Akhirnya.. berita ini ku dengar juga. Ari bahagia, tapi aku harus jujur kalau aku membenci itu. Walau aku tahu aku ga boleh begini, tapi aku ga bisa menahan diri untuk mengakui kalau aku ga sukak Ari senang karena orang lain.


Tapi seperti kata papa, aku ga bisa ngehalanginya.


Aku tersenyum sembari mengangkat gelasnya yang kupegang, tanda bahwa aku turut senang dengan apa yang tengah ia rasakan. Berpura-pura senang dengan semua itu.

__ADS_1


Ari. Maaf. Aku ga suka dengan senyummu yang berbeda. Aku.. benci liat tawa bahagia yang keluar karena Juna. Dan kedepannya, bisa ngga, jangan muncul di hadapanku dengan senyum itu. Karena itu, buat aku jadi benci padamu.


TBC


__ADS_2