HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Hari-Hari Berat 84


__ADS_3

Hani ga datang ke sekolah. Di rumah pun selalu ga ada, alasan orang tuanya, Hani pergi. Tapi saat ditanya, mereka tidak tahu kemana. Benar-benar bersembunyi.


Dan pagi ini aku dikagetkan dengan foto-foto Ari di mading. Foto dia bersama papanya saling berpelukan, juga saat ia jatuh ke kolam.


Ternyata Ari dibuat malu, sampai dicap sebagai simpanan pria tua oleh beberapa orang yang saling bergosip di sekitarku.


Aku menurunkan semua gambar dan mengoyaknya secara kasar. Orang-orang disana hanya menatap aneh padaku. Ada yang protes karena belum melihat apapun.


Aku membuang semua sampah itu ke tong sampah, lalu melangkah cepat menuju ruang kelas Hani. Ini pasti kerjaannya.


Tapi sesampainya disana, Hani belum juga datang.


Sial. Kalau bukan Hani, siap yang nempel gambar itu di mading?


TRING!


Aku berhenti dan mengecek ponsel. Kudapati pesan entah dari siapa. Aku menghubungi nomornya. Tidak aktif.



Siapa peduli? Aku juga menyesal telah membuang waktuku bersama Vita.


Tiba-tiba hujan turun. Aku merasa Ari pasti tengah tertekan dengan gosip yang beredar karena foto dirinya dan bokapnya.


Aku menelepon papa, meminta sesuatu darinya.


'Ya?'


"Pa, Arsya minta tolong, boleh?"


'Apa itu?'


"Bisa suruh orang buat tukar motor Arsya dengan mobil papa?"


'Untuk ap- Ah, ya udah, papa segera kirim.'


"Makasih, pa."


Aku tersenyum dan melangkah lebar. Hari ini aku akan bawa Ari pulang bersama.


~


Bel pulang sekolah, aku langsung menuju kelas Ari. Aku melihat dia tertidur, bahkan tak terbangun saat para siswa sibuk keluar dari kelas.


Aku masuk saat kulihat Kai mencoba membangunkan Ari.


"Pabo, bang-"


"Jangan."


Tangan Kai yang hendak menepuk Ari pun tertahan.


"Jangan banguni." Ucapku lagi.

__ADS_1


Kai dan yang lain bersiap keluar kelas dan hanya tersisa aku bersama Ari yang tertidur.


Gerimis cukup lebat, sedangkan jendelanya terbuka lebar. Aku menyelimuti Ari dengan jeket yang sengaja kubawa. Sejak kulihat Ari meminjam jaket Juna, aku juga akan membawanya supaya Ari hanya memakai jaketku.


Dua jam berlalu, aku yang fokus pada game melihat Ari mengangkat kepala.


"Udah bangun?"


Dia terkaget dan langsung duduk tegak. Menatap sekeliling.


Aku menahan senyum melihat wajah bangun tidurnya itu.


"Lo.. ngapain disini?"


Nemenin lo. Ga mungkin gue tinggal sendiri. Bisa-bisanya di kelas tidur!


Aku berdiri, memasukkan ponsel ke dalam saku celana.


"Ayo, pulang."


Ari diam sejenak, mencoba mencerna apa yang terjadi. Setelahnya, ia melepaskan jeket yang ada di pundaknya.


"Pake aja. Diluar baru ujan."


Dialihkannya pandangan keluar jendela. Melihat daun yang basah karena hujan. Ari menurut, dia memakai jeket yang kubawa untuknya.


Kami berjalan bersisian di lorong yang sepi. Sore begini, biasanya masih ada anak-anak yang bermain basket. Namun karena tadi hujan, semua memilih pulang.


Suasana di mobil pun tak kalah sepi. Baik aku maupun Ari, tak ada yang bersuara. Padahal biasanya dia cerewet. Hah ternyata aku lebih suka Ari yang berisik.


Tapi aku udah bertekat untuk membuat hubungan yang lebih baik bersama Ari. Kedepannya aku ga akan segan buat nunjukin perhatian, supaya Ari tahu kalau aku sayang sama dia. Seperti yang papa bilang. Buat Ari sadar kalau ada aku di sisinya.


Tapi teringat si Juna brengsek. Jadi panas...


"Lo sempat putus sama Juna?" Tanyaku tanpa menoleh padanya.


Ari membulatkan mata.


"Kok lo ngga cerita ke gue kalo lo sempat putus sama si Juna? Tiba-tiba udah balikan. Pake ditembak di acara kaya gitu, lagi. Norak!"


"Iya deh, yang candle light dinner di gedung tertinggi. Berkelas. Beda sama gue yang norak." Tukasnya dengan wajah menghadap luar jendela.


"Ga ada candle light dinner."


"Hah?"


"Vita cemburu sama lo. Makanya dia ngomong asal."


Aku melihat sekilas wajah Ari. Sudut bibirnya terangkat. Kenapa? Lo senang, Ri?


Aku menepikan mobil di sebuah resto. Lalu membuka seatbelt. "Lo belom makan, kan?"


Ari tersenyum lebar padaku. Ah, senangnya bisa lihat senyum itu lagi.

__ADS_1


Entah kenapa, sesaat aku merasa tatapan Ari seperti menaruh rasa padaku. Apa benar begitu?


Tapi, dia memang seperti itu, kan. Rasanya, aku yang salah paham.


...🍭...


Soal pesan itu, aku ga tau dari nomor siapa. Setelah ku cek, nomornya tidak terdaftar. Kayanya dia langsung membatalkan pendaftaran nomor setelah mengirim pesan itu padaku.


Tapi terserahlah, mau Vita itu jahat atau gimana, aku ga peduli. Karena aku udah ga punya hubungan apa-apa lagi sama Vita.


"Syaaa. Syaaa.." Zaki datang berlari ke arahku yang tengah asyik bermain game di kelas.


"Aduh. Apa sih, Jek!"


Zaki yang panik dengan napas terengah-engah memberiku informasi.


"Itu, Sya. Di kantin. Hah.. Hah.. " Zaki terbungkuk mengeluarkan sesaknya.


"Kenapa, sih?" Tanyaku curiga, melihat Zaki yang seperti ini.


"Di kantin, Ari.. Ari lagi dikerjain sama anak-anak. Ada Vita jugaa!!"


Mendengar informasi Zaki membuatku langsung berlari cepat menuju kantin. Kudengar berisik dari sana, lalu Kai merangkul Ari berjalan melewati kerumunan.


"Ingat ya, Vita. Sekali lagi lo gini ke Ariva, gue bakal nunjukin ke semua, siapa lo ini sebenarnya!" Tukas cewek bernama Karin pada Vita.


Mereka membawa Ari dalam pelukan. Aku mengepalkan tangan saat kulihat tubuh Ari basah.


Siapa yang bertanggung jawab soal ini? Vita langsung pergi, orang-orang mulai bubar. Kecuali....


"Sya, sakit!" Pekik Hani mencoba melepaskan cengkraman tanganku yang membawanya menuju tempat lebih sepi.


Aku melepaskannya dan langsung menatap tajam, meminta penjelasan. Sementara dia meringis dengan memegangi tangan yang kucengkram kuat tadi.


Hani malah menangis. Padahal aku belum mengatakan apa-apa.


"Sumpah. Gue ga tau harus berbuat apa, Syaa.. hu..hu.." Hani menutup wajah dengan isak tangisnya yang terdengar cukup kuat.


"Gue.. gue.. disuruh Vita."


"Apa?"


"Hiks.. Vita, dia nyuruh gue ceburin Ari ke kolam malam itu." Hani terisak-isak lagi. "Gue, gue gatau harus ngelakuin apa, kalo engga, Vita bakalan ngusik gue... karena dia juga tau gue bukan orang berada."


Hah. Pantas aja dia nyuruh aku ke lantai atas. Maksudnya supaya aku ga liat Ari di jeburin ke kolam, gitu?


"Gue bingung. Gue ga tau harus gimana. Hiks.. Hiks..." Hani menghapus air matanya, lalu mengangkat kepala melihat ke arahku. "Gue tau gue salah. Tapi ancaman Vita lebih berasa ke gue, Sya. Jadi, gue mau kasih tau lo sesuatu soal Vita."


"Jangan lo pikir, dengan lo ngomong gini gue jadi iba sama lo."


"No, Sya, please dengerin gue. Gue yakin lo ga tau soal kenapa Vita deketin lo."


TBC

__ADS_1


__ADS_2