HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Kejutan! 60


__ADS_3

"Hei, Bo."


Kai menyikutku pelan, berbisik dengan mata yang mengawas ke depan. Guru tengah menulis di papan tulis dan suasana di kelas pun hening karena kami tengah menyalin apa yang ditulis guru kesenian itu.


"Nih." Kai berbisik sambil menyerahkan sebelah earphone padaku dari bawah meja.


"Nggak ah, ntar ketahuan lagi." Balasku dengan berbisik juga.


"Enggak. Gue jamin."


Aku melirik ke depan. Guru masih fokus menuliskan apa saja alat dan bahan yang akan kami bawa minggu depan untuk ujian praktek.


Aku mengambil earphone dan meletakkannya ke telinga kanan. Tidak ada apa-apa. Lagu belum terputar.


"Aku menoleh ke kiri, tempat dimana angin datang menyibak rambutku perlahan. Aku menutup mata, mencoba tenang dengan menghirup perlahan aroma jagung bakar.


Eh? Jagung bakar..


JRENGGG!


"Aakk!!" Aku berjingkat kaget dan spontan melepas earphone saat si kurang ajar Kai ternyata memutar lagu dengan volume super tinggi. Aku mengabaikan tatapan mata anak-anak yang teralihkan karena jeritanku, sementara mataku menatap tajam pada Kai yang mengorek-ngorek telinganya. Nampaknya dia pun kaget sama sepertiku.


"Ada apa?" Tanya pak Guru paruh baya dengan kacamata bertengger di tulang hidungnya.


"Eh. E-enggak, pak." Aku kembali menyambar pulpen untuk menulis, tapi sorot mataku tajam pada Kai.


"Sorry. Gue ga inget kalo lagi volume tinggi." Bisiknya padaku, lalu terkekeh-kekeh. "Nih, pake lagi."


Kai menyodorkan kembali earphone dan aku meraihnya.


Mataku menatap sesuatu di laci meja. "Itu apa?"


Kai tersenyum lalu mengeluarkan Snack jagung bakar yang sudah terbuka.


"Ooohh." Jadi dari sini bau jagung bakar tadi. Aku mengambil satu, lalu mengunyah perlahan. Hm.. enak.


Kai mulai meyetel musik pertama.


Nah, begini kan enak. Lagu dari band kesukaan, Sheila on 7 - Anugrah terindah.


Intro awalnya saja sudah syahdu. Liriknya juga sangat indah. Aku kembali menoleh keluar jendela sembari menghayati lirik demi lirik yang singgah di telinga.


🎶Melihat tawamu


Mendengar senandungmu


Terlihat jelas di mataku


Warna-warna indahmu🎶


Ku tutup mataku. Hm.. Kai.. suka juga lagu ini, ya...


🎶Menatap langkahmu


Meratapi kisah hidupmu


Terlihat jelas bahwa hatimu


Anugerah terindah yang pernah kumiliki🎶


"Pak..."


Seseorang mengangkat tangan pada guru. Aku membuka mata dan melihat ternyata Hajoon orangnya.


"Ya?"


"Ada yang ngunyah di belakang sambil dengerin musik pake earphone."


"FVCKKK!" Maki Kai dengan nada tertekan pada Hajoon yang terkikik. Lalu dia menarik earphone di telingaku, memasukkannya cepat-cepat ke dalam laci bersamaan Snack yang baru kucicip sedikit.

__ADS_1


Hajoon, selain ganteng dan punya wajah always smile, ternyata dia juga gila. Nggak jauh beda dengan Kai.


~


Aku dan Kai menunduk saat beberapa lembar naskah ceramah sudah kami dengarkan dari guru kesenian ini. Kai sampai terkantuk-kantuk mendengarnya.


"Mengerti?"


"Mengerti, pak." Jawab kamu serentak.


"Sekarang, keluar."


Aku dan Kai berjalan lesu keluar dari ruang guru. Terlihat pula ada yang mengintip dari pintu kaca sambil terkikik-kikik.


Siapa lagi kalo bukan Hajoon.


"Si brengsek ini.." gumam Kai geram. Tangannya mengepal dan cepat sekali berlari membuka pintu. Sementara Hajoon yang sadar akan keinginan balas dendam Kai langsung melarikan diri menerobos orang-orang di sepanjang lorong kelas sambil terus tertawa.


"Sini loooo!" Teriak Kai mengejar Hajoon.


Yah, begitulah laki-laki. Heran, bercandanya setara dengan melemparkan nyawa.


Di depan pintu, Karin menatapku dengan sisa tawa di wajahnya.


Aku menatapnya dengan wajah lesu. "Seneng banget, ya."


"Hehehe. Sebenarnya gue tadi udah ngelarang, tapi Hajoon malah udah angkat tangan duluan. Dia kesal karena kalian di belakang bisa enak-enak makan dan dengerin musik tanpa ketahuan gitu."


Aku mengerucutkan bibir. Ya gimana, abisnya bosen.


Hadeeh, lagian hari ini kan, terakhir sekolah. Bisa-bisanya ada kejadian kayak gini.


"Ya udah yuk, jam istirahat udah masuk, nih. Kita jajan ke kantin?"


Karin, yang dulunya selalu nolak setiap ku ajak keluar, sekarang udah mau terus nemenin aku.


"Ada yang mau gue bilang ke lo."


"Bilang aja. Kenapa? Ada masalah lagi, ya?"


Aku ga tau apa ini jadi masalah atau enggak. Tapi aku rasa akan berdosa kalau aku ga kabarin kalian. Tapi lidahku ga bergerak. Rasanya ga kuat. Atau aku tulis di kertas aja?


"Eh, liat cepat. Ayo!"


Aku memperhatikan sekitar yang mendadak riuh. Anak-anak berlari ke salah satu lorong dengan tergesa-gesa.


"Ada apa?" Tanyaku pada seseorang yang melewati kami.


"Vita berantem!" Jawabnya, kemudian berlari lagi.


Vita..?


"Ayo." Karin menarik tanganku dan berlari mengikuti arah mana Vita berada. Penasaran, siapapun mau tahu sama siapa dan penyebab apa sampai Vita berantem dengan orang lain.


"Sialan! Lo pikir lo bisa berkuasa, hah?"


Aku menerobos orang-orang dan berdiri menatap siapa yang membelakangiku.


"Semenjak gue kenal sama lo, hidup gue berantakan!" Lanjutnya lagi.


Hani? Dia tidak memakai seragam. Rambutnya berantakan seperti habis cambak-cambakan. Celana jeans dan kaos putih yang ia kenakan juga sudah bercak coklat. Di bawahnya ada botol minuman yang nampaknya baru Vita lemparkan ke Hani.


"Gue nggak pernah minta lo deketin gue! Lo pikir gue gak tau lo yang pengen deket-deket gue, jadi temen satu sirkel gue??" Ucap Vita yang sudah menangis. Rambutnya lepek dan lengket karena air yang banjir di wajahnya.


"Iya. Awalnya emang gitu. Tapi setelah gue tau selicik apa lo, gue nyesel!" Balas Hani lagi.


Perdebatan dua orang itu disaksikan hampir semua murid.


"Gara-gara lo, Vit. Gara-gara lo.." Suara Hani melemah. "Gue dikeluarin gara-gara lo!!"

__ADS_1


Hani dikeluarin? Atas kasus apa dia dikeluarkan dari sekolah? Astaga, banyak banget yang aku ga tau...


"Trus karena itu lo dendam ke gue? Nyebarin semua foto-foto gue? Maksud lo apa, hah? Gue gak pernah maksa lo ngelakuin ini itu. Emang dasar lo aja yang sinting!"


Ah, begitu. Jadi Hani yang nyebarin foto Vita dan Arsya karena dia ga mau dirinya dikeluarkan sendirian?


"Lo emang berbisa banget, Vit. Omongan lo beracun sampe buat gue terpengaruh." Hani terisak. Lalu dia melanjutkan. "Gara-gara lo hubungan gue dan Sahabat-sahabat gue.. Ariva, Salma.. hiks. Jadi berantakan."


Namaku tersebut, dan terdengar suara penyesalan dari Hani.


"TAPI BUKAN BERARTI LO BISA NGANCURIN MASA DEPAN GUEE!!" Teriak Vita pada Hani.


"Itu salah lo sendiri!"


Mendengar jawaban Hani, Vita berjalan cepat mendekat lalu kembali menarik rambut Hani. Terjadi perkelahian lagi, dan tak ada yang mau memisahkan.


BRUK!


Hani terjatuh saat Vita mendorongnya sangat kuat. Jatuh tepat di bawah kakiku.


"Lo harusnya sadar diri! Denger ya, gue ga akan tinggal diam. Gue akan laporin lo ke polisi!" Vita kini menatapku. "Gue yakin, dia yang udah nyiram lo pake air comberan." Vita menghapus air matanya dengan kasar, lalu pergi menerobos orang-orang.


Hani.. pelakunya?


Tanganku bergetar, tadi rasanya aku ingin berjongkok membantunya berdiri. Tapi mendengar ucapan Vita membuat jantungku berdetak lebih kencang.


Aku yakin saat penguncian di kamar mandi, aku dan Hani masih berhubungan hangat. Aku yakin kami belum saling menjauh waktu itu. Tapi.. kenapa?


Hani yang terisak lantas mencoba berdiri. Dia melihatku dan terdiam dari isakannya. Hani meneteskan air mata tanpa suara melemah di hadapanku.


Satu pertanyaanku. Apa benar semua yang dikatakan Vita?


Nampaknya benar. Sebab Hani malah semakin menangis dan kembali terduduk di depanku.


"Va, gue.."


"Lo jahat banget, Han." Dadaku sesak lagi. Ga boleh. Air mataku ga boleh jatuh. "Lo tega banget. Emang salah gue apa, sih.."


Tak ada suara yang terdengar selain isakannya.


"Gue udah ngapain sampe lo jahatin gue. Gue salah apa, Han.." suaraku bergetar. Aku tahu.


"Lo ga salah, Va. Gue, gue yang cemburu karena Salma lebih suka sama lo ketimbang gue. Juna, cowok yang lo suka juga naksir sama lo. Kai, cowok yang gue suka juga deket banget sama lo. Arsya, cowok itu juga sahabat lo. Kenyataan itu buat gue iri, hiks." Hani menghapus air matanya. "Gue coba rebut kebahagiaan lo. Juna, lama-lama gue beneran sukak sama dia. Tapi ternyata dia juga mempermainkan gue! Dia jadiin gue alat supaya lo cemburu." Mengingat itu membuatnya kembali menangis. "Brengsek.." lirihnya lagi.


"Gue.. gue ga suka jadi orang yang paling bawah. Makanya gue seneng pas tau lo anak panti." Sambungnya lagi.


Ya ampun, Hani. Aku ga tau dia punya sifat begitu. Selama ini terlihat biasa saja. Ternyata berteman setahun pun ga menjamin kita mengenal karakternya.


"Han, gue ga pernah mandang lo dari status."


"Iya, lo enggak. Karena lo juga anak panti! Lo ga pernah peduli kalo anak-anak selalu cerita bisnis bokap mereka. Lo ga tau gimana mereka sering main ke tempat berkelas! Makanya gue mau berteman sama Vita supaya derajat gue naik! Gue juga pengen ke tempat-tempat itu dan keberadaan gue diakui! Bukan berteman sama anak panti yang buat gue malah semakin rendah!" Pekiknya, lalu ia berdiri.


"Tapi lo tenang aja. Gue udah dikeluarkan dari sekolah. Anggap aja ini balasan dari semua yang gue lakukan ke lo." Hani menghapus air matanya, menatapku dengan sendu. "Maafin gue, Va."


Dia menerobos bahuku dan berlari menuju gerbang sekolah. Aku ga tau harus apa, rasanya semua anggota tubuhku membeku di tempat. Ini cukup membuatku syok. Nggak Salma, nggak Hani, mereka sama saja.


"Va.." Karin menyentuh bahuku, menyadarkan aku dari lamunan. "Bokap lo.." bola mata Karin mengarahkan aku ke pintu masuk sekolah. Kulihat pria yang usianya tua namun wajahnya masih segar itu masuk dengan style anak muda. Celana jeans biru, kemeja flanel navy dengan dalaman putih berjalan dengan senyum kecil.


"Bokap Ariva, tuh!"


"Serius? Gilaa, cakep banget."


"Hush, ada orangnya." Bisik yang lain.


Haah. Udah kubilang kan, jangan jemput karena aku akan urus sendiri untuk keluar dari sini~


TBC


Guys Vote-nya 200 kalo mau aku up lagi ya😋

__ADS_1


__ADS_2