
Hubunganku dan Karin semakin akrab. Sesekali aku menyambangi rumahnya yang besar. Dia anak satu-satunya dan selalu sendirian di rumah. Jangan tanya kemana orang tuanya, karena sibuk mengumpulkan harta, mirip dengan orang tuaku. Bedanya, dia ga dibuang aja.
Tapi tetap, Karin ga mau ke kantin atau kemana pun saat di sekolah. Dia lebih memilih menghabiskan waktu di perpustakaan atau di ruang musik. Sementara Hajoon dan Kai, mereka ada rapat tim basket. Jadi, aku sendirianlah yang ke kantin karena laper tak terhingga.
Semenjak bertengkar dengan Arsya, aku memang jarang sarapan karena meminimalisir pertemuan kami.
Dan ternyata, aku bertemu dia di kantin. Ya, dia bersama Vita duduk berdampingan. Ada Danu dan Zaki juga disana yang memanggilku.
"Ri, sini." Danu melambaikan tangan, menyuruhku datang. Tapi aku hanya tersenyum dan berlalu untuk membeli makanan ringan.
Setelah selesai, aku melangkah kembali ke kelas, sampai Vita tiba-tiba berdiri di depan hingga membuat langkahku tertahan.
Ck. Apa lagi, sih.
"Hai, Va." Sapanya dengan ceria.
"Hai." Aku tersenyum seadanya.
"Emm. Sorry ya, soal kemaren. Gue tau, omongan gue keterlaluan. Gue ga bermaksud nyakitin lo, Va. Gue cuma.. cemburu." Desisnya pelan di akhir kalimat.
"Gue ngerti, kok." Jawabku santai.
"Gue tau lo keberatan waktu gue disana. Makanya lo ga datang pas acara makan malam, karena gue, kan?"
Astaga, mulai lagi. "Enggak, kok. Gue ada acara di luar. Bukan karena lo. Serius." Jawabku bohong.
"Gitu, ya. Syukur deh. Eumm, gue mau ngundang lo ke acara party kecil-kecilan yang gue adain. Lo boleh bawa siapa aja, karena acara ini bebas."
Ngga minat. Tapi aku mengangguk setuju supaya lekas kelar. "Oke. Kalo gitu gue duluan, ya."
Vita menarik lenganku dengan wajah memohon. "Harus datang ya, Va. Gue ga mau hubungan kita jelek karena salah paham."
Duh, kenapa bisa berubah-rubah gini sih, sikapnya. Gue kan, bingung.
"I-iya, deh."
"Janji?" Vita menaikkan kelingking ke depanku.
Aduh. Gimana, nih.
"Ayo dong, Va. Gue pengen lo dateng."
Hah. Ribet. Yaudalah. Akhirnya aku menyambut kelingkingnya hingga membuat gadis itu girang.
"Yeay. Oke gue tunggu nanti malam, yah." Vita berjalan ke mejanya bersama Arsya yang masih melihatiku. Huff. Semakin lebar sosialisasi, semakin repot hidupku.
"Ariva!"
Ah, syukurlah ada Salma. Aku pun akhirnya bersama Salma sampai lonceng berakhirnya istirahat bunyi.
Pulang sekolah, aku mampir ke rumah Karin. Masih dengan seragam sekolah, kami mengobrol santai di kamarnya yang serba merah jambu.
__ADS_1
"Sering-sering kesini ya, Va. Gue seneng banget kalo lo mau singgah." Ujar Karin yang sedang berbaring membaca majalah dengan kaki naik di atas dinding.
"Bukannya lo banyak les?" Tanyaku yang juga membaca buku Karin sambil telungkup di atas ranjang empuknya.
"Gue bolos. Tiap hari les, bosen gue."
Aku duduk saat teringat sesuatu. "Ikut gue, yuk."
"Kemana?"
"Vita ngundang gue ke acara party-nya. Gue ga mau pergi sendiri. Lo ikut gue ya, please.."
Karin sampai berbalik dan duduk menatapku tanpa kedip. Lah, kenapa dia.
"Vita ngundang lo?"
Aku mengangguk ragu. Kenapa nada Karin ga meyakinkan gitu?
"Kapan?"
"Malam ini."
"Maksud gue, kapan dia ngundang lo?"
"Tadi, di kantin."
Karin diam lagi. Matanya menatap ke samping dengan alis mengerut, menandakan bahwa ia tengah menebak sesuatu dalam pikirannya.
"Ini aneh, sih." Bisiknya pelan.
"Lo ada masalah ya, sama Vita?"
Loh. Kok nebaknya gitu?
"Sebenarnya bukan masalah, sih." Akhirnya, aku menceritakan tentang orang yang dicurigai Vita dengan nama Ari di ponsel Arsya. Juga Ari si pemilik kamar yang tepat bersebelahan dengan kamar pacarnya, dan pesan-pesan akrab sampai aku menyusul ke Australia waktu itu pun, Vita tahu. Dan dia pasti kesal saat tahu ternyata akulah Ari itu.
"Dia taunya lo anak panti biasa, kan?" Tanya Karin memastikan. "Arsya nggak cerita kan, soal siapa orang tua lo?"
"Enggak. Gue yakin Arsya ga cerita soal itu." Ya, ga mungkin. Apalagi keluarga Arsya. Karena ini rahasia yang gue ga suka kalo diketahui banyak orang. "Rin, ada apa sih? Lo tau sesuatu, ya?" Tanyaku penasaran.
Karin menghela napas, lalu meceritakan bagaimana sifat Vita sebenarnya. Jadi intinya, Vita memang sering buat acara party di rumahnya. Tapi biasanya Vita mengundang orang yang memang sangat dekat atau selevel dengannya. Ditambah, undangan itu disebar satu minggu sebelum acara. Kalau aku diundang di waktu dekat begini, artinya ada sesuatu yang mungkin akan terjadi.
"Mungkin... dia mau mempermalukan elo, Va."
"Hah?"
Bisa jadi, sih. Kalo emang kaya yang Karin bilang, bisa aja tujuan Vita mempermalukan aku. Pertama, aku kan, ga deket sama Vita. Trus kedua, dia taunya aku anak panti, pasti ga selevel sama dia. Jadi.. Aduh. Kenapa jadi buruk sangka gini.
Karin langsung bangkit. "Ayo kita shopping!"
Hah?? Kini aku benar-benar menganga terlebih Karin menarik tanganku untuk bersiap menuju mall terbesar kota ini.
__ADS_1
Dan ya, disinilah kami. Dengan pakaian yang dipinjamkan Karin, akhirnya kami ada di dalam pusat perbelanjaan terbesar.
"Lo yakin, Rin?"
"Udah, tenang aja."
Sebenarnya Karin kok bisa tahu banyak soal Vita? Bukannya dia ga kenal banyak orang ya, di sekolah. Trus, dia juga ga diundang Vita, artinya Vita ga kenal dia juga, kan? Jadi bingung.
"Eh, Va. Tunggu disini bentar, ya. Gue ke toilet dulu."
Aku mengangguk dan menunggu Karin sambil memperhatikan seluruh isi mall. Aku berjalan perlahan sambil melihat-lihat, sampai tak sengaja mataku menangkap empat orang bermain di zona permainan masih dengan seragam sekolah lengkap.
Pertama yang kurasakan adalah kesedihan, melihat Vita dan Arsya, juga ada Danu dan Zaki asyik bermain lempar bola basket di dalam sana. Seru, ceria, dan tawa.
Senangnya mereka, sementara aku iri disini. Dulu aku yang ada disana. Menjadi perempuan sendiri diantara tiga laki-laki yang melindungiku. Arsya juga tampak sangat bahagia.
Aku menunduk saat lagi-lagi teringat ucapan Arsya. Apa selama ini aku beneran merepotkannya?
"Va." Tanganku disentuh Karin yang baru datang.
"Udah? Ayo."
Karin malah diam menatap ke belakangku. Segera aku menoleh, saat ternyata Vita sudah berdiri di dekatku.
"Wah, ketemu disini."
Karin buang muka, seolah memperlihatkan betapa dia tak suka dengan Vita. Kutebak, ada sesuatu diantara mereka.
"Lagi belanja ya, Va?"
Benar, kan. Vita cuma negur aku, padahal ada Karin tepat di sampingku.
"Enggak." Jawabku dengan mata yang terus melihat kedatangan Arsya di belakang Vita.
"Kita juga mau belanja." Vita melingkarkan tangan di lengan Arsya yang baru datang. "Gue ditemenin tiga cowo-cowo nih, hehe."
Aku menoleh pada Karin yang menatap ke arah lain. Dia ga nyaman, aku tau.
"Kalo gitu, kita duluan, ya."
Kulirik Arsya sebentar. Tatapan itu selalu aja terlihat. Padahal tadi senang, tapi pas liat aku jadi dingin begitu. Maaf ya, Sya. Aku pergi, deh.
Aku menggandeng lengan Karin dan menjauh dari sana. Suasana hatiku mendadak berubah karena kejadian ini.
"Are you okay, Va?" Tanya Karin dan aku mengangguk.
"Kita pindah aja, deh. Gue tau butik bagus di sekitar sini. Yuk." Karin dan aku pun memilih keluar dari sana, mencari tempat yang lebih menenangkan dari ini.
TBC
HAAII SELAMAT HARI SENIN. Udah masuk waktunya untuk VOTE!
__ADS_1
Jangan Lupa Vote. Kalau udah sampai 60 aku akan Crazy Up 3 bab dalam satu hari!!! Salam dari Ariva & Karin.