HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Kejutan! 52


__ADS_3

Tring


Aku meraba ponsel di dalam tas, lalu membuka isinya.


Cukup lama aku terdiam menatap sebuah foto yang dikirim entah siapa. Kak Juna, dia babak belur seperti baru berkelahi.


Huem.. siapa pula yang mengirim ini ke aku. Apa dia ga tau kalau aku sama kak Juna udah end!


"Siapa, nak?"


Aku menoleh pada papa yang tengah menyetir. "Temen." Jawabku singkat sambil menyimpan Hp kembali. Tapi suara dering lagi-lagi terdengar.


[Ariva, ini temen Juna. cowo lu abis kelahi. Juna minta lo dateng buat liat dia.]


Lah? Nggak salah?


Aku mengabaikannya dan kembali fokus ke jalan di depan.


Tring!


[Ariva, Juna butuh bantuan lo. Dia mau ketemu sama lo.]


Blokir. Selesai.


Nggak tau diri banget, minta bantuan segala. Sama cewe lo, noh!


Udah buat gue nangis dan sakit hati, eh masi ada muka buat nge-chat dan minta ketemu? Emang brengsek bangetttt!! Ughh.


Kalau dipikir-pikir, dulu aku sempat bingung kenapa kak Juna tau semua hal yang kulakukan di sekolah maupun luar. Ku kira itu karena dia pasti mencari tau, tapi lama-lama aku sadar kalau semuanya karena Hani. Bahkan aku ga cerita kalo dikunci di toilet dan dibuat tulisan toilet rusak disana. Eh tapi, Hani juga tau dari mana??


Ah. Nggak mungkin dia, kan...


Tring.


Kak Juna, dia mengirimiku pesan.


[I'm so sorry, Ariva. Aku pengen ketemu sama kamu sebentar buat jelasin semuanya. Aku sama Hani gak serius. Aku cuma mau buat kamu cemburu dan aku nyesal sekarang. Aku sayang banget sama kamu. Aku nyesal dan bener-bener nyesel. Kasih aku kesempatan. Aku akan perbaiki semuanya. I promise...]


Aku menutup layar Hp dan berusaha mengabaikan pesannya. Jahat banget. Ciuman gitu sama Hani masih bisa bilang nyesel?


Dulu waktu kamu jadikan aku selingkuhan, kamu juga minta maaf dan janji ga akan kaya gitu lagi. Nyatanya, malah lebih buruk!


Bodohnya aku bisa percaya dengan ucapanmu, Juna. Kamu bahkan ngehina aku terang-terangan.


Ah, aku jadi mau nangis.


"Sayang, are you okay?" Tanya papa saat mendapatiku tengah menggenggam kuat ujung rok yang kupakai.


Aku ga bisa balas bentuk penghinaan semua orang padaku kecuali satu hal. Meninggikan derajatku. Cuma ini cara untuk membungkam mereka. Dan aku pengen tau, sekuat apa bisnis papa ini. Apa bisa ku andalkan?


"Pa. Papa beneran udah ngelakuin syarat yang Ari ajuin ke papa, kan?"


"Udah dong, sayang. Soal itu urusan kecil." Jawab Papa sembari melirikku sekilas, lalu kembali menatap jalanan. "Kamu ragu sama papa?"


"Enggak. Ari cuma tanya." Beneran, kan? Bagus, deh. Aku jadi ga sabar.


Tring.


Juna lagi.


[Aku tau kamu masih ada perasaan ke aku. Tuduhan aku ke kamu semuanya salah soal Arsya. Iya, kan? I love you, Ariva. Please kasih aku kesempatan lagi. Aku mohon...]


Ngerusak mood banget. Aku udah ga mau punya hubungan apapun sama kamu, Juna. Blokir. Selesai.


"Oh ya, pa. Apa yang boleh dan ga boleh Ari lakuin saat di acara itu?"


Dan akhirnya aku bertanya banyak hal soal acara yang akan kami datangi ini. Aku ga boleh sampe salah langkah dan mempermalukan diriku sendiri.


Satu lagi soal yang aku ingin papa cari tahu soal siapa Adisuryo itu. Dan aku tersenyum puas mendengar jawaban papa.


"Kenapa, nak? Kamu ada masalah sama Adisuryo?"


"Masa iya aku bermasalah sama om-om."


Papa terkekeh pelan. "Lalu, kenapa minta papa cari tahu?"


Aku menoleh pada Papa yang tersenyum menatap jalanan di depannya. Mungkin ini waktunya aku berbagi cerita ke papa.


"Kalau kamu ga mau kasih tau papa, enggak apapa, sayang."

__ADS_1


Dan ternyata, aku nyaman menceritakan semua yang ku alami pada papa. Responnya luar biasa. Papa adalah pendengar yang baik. Ekspresinya bisa ia jaga, dan tentu menasehatiku dengan bijak.


Ternyata benar, papa udah berubah menjadi pria yang lebih baik.


Tentu aku ga ceritain semuanya, termasuk gimana perasaanku ke Arsya. Setelah mendengar seluruhnya dan memberi saran, lalu papa berujar.


"Papa bantu balas dendam, ya."


"Apa? Hahaha." Aku terkekeh dengernya. Lucu banget. Padahal tadi nyantai banget pas aku cerita gimana aku dibully. Ternyata, dia ga terima juga anaknya diperlakukan buruk begitu. Ah, ternyata gini ya rasanya punya papa yang akan menjadi orang nomor satu yang membela kita. Sayang banget aku ga bisa ngerasain ini dari dulu.


...🍭...


"Pa, bukannya acara dimulai sebentar lagi, ya? Kok kita masih di salon." Aku melirik jam dari pantulan cermin di depanku. Seharusnya tamu datang satu jam sebelum acara dimulai. Tapi lihatlah, bukan cuma aku, bahkan papa ikut perawatan wajah. Ckckck...


"Satu lagi yang harus kamu tau, sayang. Orang penting itu ditunggu, bukan menunggu." Jawabnya santai sambil membalikkan halaman majalah.


Hm.. gitu, ya. Jadi posisinya papa ini orang penting yang ditunggu mereka? Jadi pengen tau gimana nanti disana.


"Saya di-make up tipis aja ya, mbak." Pintaku pada beautician, dan dia pun mengangguk.


~


Yakin nih, aku kenapa deg-degan gini.


"Tenang, ada papa."


Papa menggenggam tanganku yang gemetar. Kakiku mendadak lemas saat Limosin yang kami naiki berhenti di ujung mula karpet berwarna merah. Beberapa wartawan terlihat menunggu dengan kamera yang diturunkan saat tak ada lagi yang lewat.


"Kita turun."


Pintu dibuka, lalu papa keluar duluan. Dan tangan papa merentang untuk membantuku keluar dari mobil.


"Pa, gimana aku?"


Aku takut ada yang ga beres dan malah mempermalukan diriku sendiri.


"Perfect, sayang."


Baiklah. Ini saatnya.


Huwwff. Aku menarik dan menghela napas perlahan, lalu menyambut uluran papa yang tersenyum hangat melihat kegugupanku.


"Tuan Tama, Tuan Nugra Tama." Teriak seorang photography dan papa hanya tersenyum.


Oh. Papa dikenal rupanya.


"Pak Tama, ini kali pertama anda menghadiri acara bisnis di Indonesia. Benarkah?"


Papa tersenyum dengan mengangkat tangan, menjawab dengan anggukan kecil sambil terus berjalan.


Papa.. kenapa semua orang tahu dia?


Uh, selama ini aku ga pernah cek atau peduli siapa papaku baik di media sosial atau apapun.


"Ingat pesan papa." Bisik papa sambil menepuk lenganku yang melingkar di lengannya.


Kami memasuki ruang utama, dimana sudah ramai sekali tamu yang hadir dan berkumpul disana.


"Ayo."


Aku menghembuskan napas, lalu ikut melangkah bersama papa. Enggak tau kemana, yang jelas langkahku beriringan dengan bola mata yang bergulir ke seluruh ruang memperhatikan satu persatu wajah yang mungkin ku kenali.


"Wah, lihat. Tamu yang kita tunggu sudah datang." Seru seseorang dan berhasil membuat semua orang menatap ke arah kami.


Tamu yang ditunggu? jadi, papa beneran orang penting, ya.


Oh, wauw. Banyak banget mata dan bibir menganga menatap ke arahku. Ngga nyangka, papa bisa memenuhi syarat dariku, mengundang pengusaha yang anaknya bersekolah di Garuda. Dan lihatlah, tamu disini benar-benar hampir semua diisi oleh anak Garuda.


Kai. Orang pertama yang kulihat, tengah berdiri dengan beberapa orang dan kini matanya tak lepas dariku. Tentu wajah terkejutnya bisa kulihat.


Oh, dia. Aku tahu wajahnya tapi ga tau namanya. Dia pernah berkumpul bersama Juna dan Vita. Matanya membulat melihat ke arahku. Kaget?


Lalu, tentu saja Karin. Melongo. Saat mata kami bertemu, dia tersenyum lebar dan melompat girang ke arahku yang masih menjaga ekspresi santai.


Dan.. kak Juna. Oh, dia hadir juga.


Matanya terbelalak, dan aku bisa melihat bekas luka di sudut bibirnya. Ternyata memang bener dia babak belur.


Ck, orang yang kutunggu malah tidak ketemu.

__ADS_1


"Welcome, Tama. Saya ngga nyangka, kamu mau meluangkan waktu untuk datang."


Seseorang memberikan uluran tangan, dan papa menyambutnya.


"Tentu, acara ini yang aku tunggu." Jawab Papa.


Lalu, pria itu menatapku. "Dan ini?"


Syarat kedua. Memperkenalkan aku dengan Adisuryo. Kata papa, syaratku terlalu mudah. Apalagi untuk berkenalan dengan Adisuryo, tanpa diminta pun, papa yakin dia yang akan mengenalkan diri dan berusaha akrab dengan papa. Ternyata benar.


"Ah, dia putri tunggalku. Ariva Tania."


Saran papa, jangan ulurkan tangan duluan. Biarkan mereka yang duluan melakukannya. Dan aku akan ikuti aturan itu.


"Cantik sekali." Pria itu mengulurkan tangan. "Persis papanya. Saya Adisuryo, pemilik perusahaan Surya Jingga."


Hng? Perusahaan apa itu. Baru denger.


Aku menyambut uluran tangannya. "Ariva, tuan-"


"Panggil saja om." Selanya. "Sebentar, ya. Anak saya sedang ke toilet. Tadi dia bilang, pengen banget ketemu sama anak salah satu pebisnis sukses Rusia." Ujarnya diselingi tawa kecil.


Pengen banget ketemu? Yang bener? Hehe.


"Oh ya, Ariva. Kamu sekolah dimana?" Tanya om Adisuryo.


"SMA Garuda, om."


"Loh, sama dong, dengan anak saya."


"Oh, ya?"


Om Adi mengedarkan pandangan, mencari sosok yang ia ingin kenalkan. "Ah, itu dia. Vita, sini." Tangan om Adi melambai pada seseorang di belakangku.


"Iya, pa."


Aku bisa mendengar suara kakinya berjalan cepat di belakangku.


"Papa kenalin sama anak temen papa."


Ah, benar lagi. Kata papa, dia ga berteman dengan pebisnis manapun di Indonesia. Tapi mereka semua akan menganggap papa sebagai teman. Tentu saja demi sesuatu hal.


Gadis itu tersenyum lebar saat meraih uluran tangan papanya, lalu bola matanya bergulir duluan ke arah papaku, menyalaminya.


"Vita, om."


Wah, manis sekali. Mari kita lihat lanjutannya.


Tangan Vita bergerak bersamaan tatapan mata yang mengarah padaku. "Halo. Aku Vit-"


Gotcha. Senyum lebarnya langsung meluruh dan benar-benar pudar saat melihat siapa anak teman papanya yang ingin sekali ia kenal.


Alisku naik sebelah. Bertanya, kenapa kalimatnya terhenti begitu saja.


"Vita." Bisik om Adi pada anaknya yang mematung dengan mata yang tak berkedip sekalipun.


Bagaimana? Udah kaget? Atau mau kubuat lebih terkejut lagi?


"V-vita."


Aku menatap tangannya beberapa detik, lalu menyambut ulurannya.


"Ariva."


"Apa Ariva kenal dengan Vita? Dia terkenal di sekolah, lho."


Kutatap wajahnya yang sudah pucat pasi.


"Ngga kenal."


Tangan Vita bergetar. Aku bisa melihat itu. Beberapa kali dia melirik papaku untuk memastikan, apa benar pria di sebelahku ini papaku? Familiar ya? Harusnya lo kenal, Vit. Pria ini kan, yang lo gosipin jadi sugar Daddy gue?


Gimana, Vit? Masih perlu lanjutan? Lo udah gelagapan, lho.


Tapi ini belum seberapa. Masih ada yang lain lagi. Mari kita gulingkan acara ini.


TBC


Gue lagi Baek, nih gue up. Like, komen, dan vote. Mana tau gue kumat dan up lagi malam ini kwokwowkwowk Btw terbatas banget, nih. screenshoot chat, foto visual gue ga bisa kasih soalnya hp gue masih matek. ntar gue edit kalo udah sembuh hpnya. Thanks ya hadiahnya 🍭

__ADS_1


__ADS_2