
Kejadian malam tadi terus membuatku terpikirkan. Senyum dan kebahagiaan Ari karena Juna membuatku merasakan keanehan dalam diriku.
Terus saja kuakui, aku ga suka dengan keputusan Ari buat pacaran dengan orang kayak Juna. Masih banyak cowok yang lebih baik. Kenapa harus Juna?
"Pagi, Syaaa.."
Aku menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada dasi yang tengah ku pakai.
"Tumben pagi-pagi udah pake dasi. Takut dimarahin Bunda, yaaa."
Ceria. Dari suaranya kedengaran banget dia bahagia. Hah. Emang akhirnya aku ga bisa ngapa-ngapain, ya. Lemah sama kebahagiaan Ari yang ga mungkin aku rusak.
"Gue sarapan disitu, yaa." Teriaknya lagi.
Aku mendekati jendela setelah dasiku rapi melilit kerah leher. "Ceria banget."
Senyumnya semakin mengembang. "Jelas, dong. For the first time in forever, gue punya pacarrrr."
Aku mengangguk-angguk. Benar. Dia pacar pertamamu. "Seneng?"
"Bangeeetttt!!"
Aku tertawa. Ngga bisa. Aku ga bisa ngancurin kebahagiaan Ari. "Selamat, deh. Bisa juga lo jadian sama Juna."
"Heii. Panggil dia kakak. Dia kakak kelas lo."
"Lo aja adekan gue." Balasku.
"Gue kakak lo, ya!" Pekiknya.
Terserah, deh. Aku mengambil tas, keluar dari kamar.
Aku duduk di meja makan, Ari muncul dari pintu dan langsung duduk disampingku.
"Pagi, sayang. Ceria banget.." sapa mama pada Ari yang terus tersenyum.
"Hehhee. Emm.. Bun, ada yang mau Ari bilang sama Bunda."
"Iya, mau bilang apa, sayang?" Tanya Mama lembut. Ari melirikku sekilas. Mau bilang apa dia?
"Eemm.. gini, Bun. Ari sekarang.. udah punyaa.. temen deket."
"Temen dekat?" Ulang mama.
"Pacar maksud lo? Ngapain sih, pake disamarin." Sahutku cepat. Mau bilang pacar aja pakek temen dekat segala.
Dia melotot padaku yang ngomong langsung ke inti.
"Oh, serius? Wah.. udah punya pacar rupanya. Siapa? Kenalin dong, ke Bunda."
"Baru jadi, Bun. Gini, maksud Ari, Ari mungkin bakalan sering diantar jemput sama kak Juna. Jadi, biar Bunda ngga bingung kalo liat Ari sama orang lain."
Papa melirikku. Aku langsung mengalihkan pandangan saat mengerti arti tatapan itu.
"Juna, ya? Kayanya sih, anaknya keren kalau diliat dari namanya."
"Bener, Bun. Keren bangettt." Sambarnya, setuju dengan ucapan mamaku.
"Hmm. Pantes. Ari seleranya pasti keren, bunda tau itu."
Setelah sarapan dan perbincangan pagi itu usai, aku dan Ari berjalan menuju pintu depan.
"Pergi bareng gue?" Tanyaku.
"Ngga. Katanya kak Juna jemput."
"Hah." Aku kaget saat Ari tiba-tiba mendorong tubuhku masuk ke dalam dan menutup pintu.
Apa-apaan dia.
Aku mengintip dari jendela dan melihat Juna sudah ada di depan.
__ADS_1
Ari berlari kearahnya. Menerima helm yang disodorkan cowok itu padanya.
Ari memang beda. Dia terlihat lebih ceria dari biasanya. Memang ga pantes kalo aku langsung benci karena kebahagiaannya bertambah.
Hufft.
"Astaga!"
Aku kaget saat mendapati papa dan mama berdiri di belakangku.
"Liat apa, sih." Kata mama, ikut mengintip dari jendela, namun tidak menemukan siapapun disana.
"Ari udah pergi?" Tanya papa sambil membuka pintu.
"Udah."
"Mau papa anter?"
Aku menggeleng pelan, lalu mencium tangan dan pipi mama. "Arsya berangkat, ma."
"Hati-hati, nak."
...🍭...
"Weh. Ada yang baru jadian, nih!" Celetuk seseorang hingga membuatku menoleh pada Ari dan Juna yang baru datang.
"Yang bener? Pajak jalan, dong!" Teriak yang lain.
Ah.. aku ga suka liatnya.
"Apaan. Ga ada pajak-pajakan. Gue balik dulu." Tukas Juna dan kembali menggandeng Ari berjalan.
"Kok pulang? Ga seru lo, Jun."
"Iya. Main basket dulu dong, kak."
"Tau nih, si Juna. Punya cewe aja lu, langsung lupa."
"Bentarrr. Gue nganter cewe gue dulu." Katanya. Kulihat Ari tersipu malu.
Mereka pun melangkah menuju gerbang sekolah.
"Sya, kok melamun." Vita datang, menyodorkan sebotol minuman padaku yang baru berhenti bermain basket.
"Ngga apapa." Aku menenggak air. Mataku tak lepas dari dua orang yang berjalan sambil bergandengan tangan.
Aneh. Senggak suka itu aku liat mereka berdua.
Aku refleks mundurin kepala saat Vita hendak mengelapkan keringat di dahiku.
"Kenapa?" Tanyanya.
Aku tersenyum, lalu menggelengkan kepala. Dia pun melanjutkan mengelap keringatku.
Iya, juga. Aku dan Ari udah memasuki masa-masa dimana kita akan tumbuh dewasa. Dia juga akan segera menemukan pasangannya. Begitu juga aku. Jadi kuharap, aku bisa lebih menguasai hati supaya menerima saja keputusannya.
Ari bukan kaya dulu yang apa-apa minta aku buat mengatasi masalahnya. Aku yakin dia bisa melakukannya sendiri.
Apalagi sekarang, aku juga ada cewek yang selalu manjain diri ke aku.
"Cuitttt.. Vita baek banget sampe mau lap keringat." Celoteh seseorang.
"Keringat gue dong, Vit!"
"Yang ini kapan jadiannya, sihhh."
Mendengar itu, aku hanya tersenyum kecil menatap Vita yang malu-malu.
Sabar, ya. Ada sesuatu yang harus aku bereskan dulu. Kalau Ari beneran bahagia, aku akan cari juga kebahagiaanku. Kalau kamu beneran bisa buat aku tenang, aku akan menyerahkan perasaanku padamu, Vit. tunggu aja, ya.
...🍭...
__ADS_1
Hari-hari berlalu begitu saja. Aku sibuk belajar bersama Vita, karena ujian kenaikan kelas. Ari juga begitu, aku tahu dia sibuk juga. Walau kadang kita masih sempat ngobrol dikit melalui jendela. Ngga banyak, karena selalu kepotong dengan Juna yang meneleponnya.
Dan kini memasuki semester baru di kelas 2. Aku berharap bisa sekelas bareng Ari, tapi rupanya enggak.
Tapi ngga apapa. Setidaknya kelas kita ga berjauhan.
Hari ini sepulang sekolah. Dia datang bersama temannya, yang ia kenalkan dengan Vita.
Aku ga tau mereka bicarain apa. Tapi tepat saat aku datang, Ari membuat masalah baru pada Kai.
Dia menyemburkan minuman di mulutnya sampai baju Kai berubah warna. Ari tengah sibuk di toilet, tapi teman dan pacarnya ini malah saling tukar pandang.
Apa-apaan ini...
"Tadi, katanya kakak mau beli hadiah buat mama kakak, ya?" Tanya teman Ari.
"Iya. Tapi Arinya ngga bisa nemenin."
"Emm. Aku tau loh kak, tempat yang bagus buat beli hadiah orang tua."
"Oh, ya? Dimana?"
Baru mau menjawab, Ari datang.
"Kak."
Juna menoleh kebelakang.
".. aku pulang duluan, ya."
Juna mengangguk. "Iya. Hati-hati, ya. Maaf aku ga bisa antar. Abis ini aku mau langsung beli hadiah."
"Iya, gak apapa." Jawab Ari. "Han, mau pulang bareng?"
Temannya itu menggelengkan kepala. "Duluan aja, Va. Ntar lagi aku balik." jawabnya dengan senyum cerah.
Ari mengangguk lambat, lalu dia melangkah dengan lesu.
"Oh, ya. Tadi gimana?" Kata Juna, memulai percakapan lagi dengan Hani.
"Oh, itu.. tempatnya di..."
Vita yang sejak tadi melingkarkan tangannya di lenganku, menoleh. "Sya, kita makan malam bareng, yuk. Mama sama Papa aku pengen kenalan. Soalnya kan, kamu udah bantu nilai aku naik. Jadi, papa minta kamu datang buat makan malam di rumah." terang Vita.
Mataku terus menatap ke arah Ari menghilang tadi. "Kayanya ga bisa."
"Hah." Vita melepaskan tangannya. "Kamu mau pergi sama temen kamu si ariari itu, ya? Kok kamu sama dia mulu, sih. Apa dia ga punya pacar?"
Di detik itu juga, ku dengar Juna dan teman Ariva janjian untuk pergi bersama.
Pengen banget gue nonjok si Juna brengsek ini.
"Ada acara sama papa. Nanti aku telfon, ya. Aku pulang dulu." Aku berdiri, Vita cemberut karena aku pulang tanpa mengantarnya.
Dengan langkah cepat aku menuju parkiran motor. Lalu mencari Ari. Semoga aja dia belum pergi.
Pandanganku langsung menangkap punggungnya yang menjauh. Dia berdiri sambil menunduk di pinggir jalan. Kelihatan tidak bersemangat.
Aku mendekat, lalu menatapnya yang perlahan mengangkat kepala saat aku mendadak muncul di dekatnya. Bisa kulihat wajahnya cerah kembali.
Gue tau lo masih butuh gue, Ri.
"Naik."
Ari naik dan langsung melingkarkan tangan di pinggangku.
Dia juga merebahkan pipi di punggungku saat motor kembali ku jalankan.
Aku senang saat dia memelukku dari belakang. Karena itu tanda bahwa aku adalah tempat ternyaman buat Ari.
Ngga apapa. Gue tau lo capek. Lo sekarang punya lingkungan baru. Lo juga harus beradaptasi dengan suasana dan kegiatan baru yang lo ga pernah lakuin sebelumnya. Berat, ya? Itu sebabnya gue ga suka lo gabung sama mereka, Ri. Karena gue kenal lo...
__ADS_1
Karena gue.. lebih tau banyak soal lo dari pada siapapun.
Karena gue.. lebih suka lo hanya menghabiskan waktu lo dengan gue. Bukan dengan orang lain. Jadi gue harap, lo juga bisa membatasi diri untuk nggak terus ngabisin waktu lo buat Juna, yang sekarang lagi senang-senang bareng teman lo itu. Apa lo harus tau? Kayaknya harus. Karena gue akan senang liat lo putus sama cowo brengsek itu. Dia..cowok yang nggak pantes buat dapetin cinta lo. Semoga suatu hari lo sadari itu, Ri...