
"Candle light dinner, as your wish, Ari."
Ari termangu. Ya, dia menginginkan ini, tapi kenapa Arsya mengabulkannya?
"Duduk." Pinta Arsya saat Ari hanya berdiam diri.
Gadis itu duduk, berusaha mengatur detak jantung yang malah bedebar hebat.
Ari sering mengkhayalkan ini. Makan berdua dengan orang yang dia sukai di suasana yang menghangatkan perasaan.
Cahaya lilin yang menari seiring hembusan angin malam, bunga, taburan bintang, juga menikmati hidangan bersama orang yang dia suka. Ini keinginannya. Hanya saja, bukan berarti Arsya bisa mengabulkannya begitu saja. Semua ini tidak ia harapkan jika tanpa perasaan.
"Kenapa? Masih ada yang kurang?" Tanya Arsya, saat dilihatnya Ari hanya diam terpaku menatap apa yang ada di atas meja.
"Ini.. maksudnya apa?" Tanya gadis itu dengan hati-hati. Kemarin masalah perasaan telah selesai. Tapi hari ini Arsya memulai lagi. Bukankah seharusnya dia tahu keinginan ini tidak bisa dilakukan kalau bukan karena rasa cinta?
"Dinner dengan lilin. Iya, kan? Tapi, gue ga bisa temuin gedung bagus untuk kita. Jadi gue pikir, disini juga bagus."
Ari menghembuskan napas perlahan sambil mengalihkan wajah. Ternyata Arsya memang ga paham, pikirnya.
"Gue emang bilang, kalo gue pengen ini. Tapi bukan berarti lo yang harus ngewujudin." Ari berusaha tersenyum kala hatinya merasa sendu. "Makasi, ya. Tapi bukan ini yang gue harapin."
Ari berdiri dan ingin segera pergi, namun Arsya lebih cepat meraih tangannya.
"Gue pikir ini bakalan sesuai dengan keinginan lo, Ri."
Arsya menyerahkan sebucket bunga pada Ari, yang seketika menatap kaget pada bunga itu.
"A-apa.."
"Sorry, gue keterlaluan."
Ari memandang bunga dan Arsya bergantian.
"Gue ga paham sama perasaan lo ke gue. Gue juga udah jadi cowo pengecut yang ga berani ambil langkah karena takut lo ga mau liat gue lagi."
Alis Ari mengernyit. Sebenarnya ia merasa Arsya sedang menyatakan perasaan, tapi gadis itu menepis, tak ingin kecewa karena salah mengambil kesimpulan.
"Sya, gue... ga ngerti." Ucap Ari lirih. Dalam hatinya terus berdoa agar ini bukanlah sesuatu yang akan menyiksa hatinya. Karena jika Arsya hanya ingin membuat Ari tak melupakan dirinya dengan momen itu, maka Ari-lah yang akan tersakiti.
"Gue sayang sama lo, Ri."
"I know." Sahut gadis itu, tak ingin salah paham. "Gue tau, lo udah ngeliatin semuanya. Kepedulian lo, perhatian lo, gue bisa ngerasainnya-"
Ari terdiam saat Arsya merapatkan tubuhnya.
"Lo bisa ngerasainnya?"
Ari tak ingin salah memahami ini. Tapi bagaimana bisa dia berpikir jernih sementara Arsya menggenggam tangannya, menatapnya begitu dalam, dan tak memberikan jarak pada tubuh mereka.
__ADS_1
"Lo bisa ngerasain sayang gue ke lo?"
Tatapan itu membuat Ari menggulirkan bola matanya ke arah lain.
"Gue sayang sama lo bukan sebagai sahabat."
Napas Ari tertahan. Dia kembali menatap Arsya saat dia yakin, tak mungkin dia salah mendengar, kala jarak mereka saling berdekatan.
"Gue sayang, gue jatuh cinta sama lo."
Bagaimana dia bisa mengatakan itu dengan lancar, saat Ari sendiri tak bisa menggambarkan debaran hatinya saat ini. Bukan bahagia, gadis itu malah merasa bingung. Ini.. bukan seperti yang ia pikirkan.
"Jangan ngaco!"
Arsya kembali menahan tangan Ari saat gadis itu ingin melangkah pergi. Ari ingin kabur karena tak ingin terlibat perasaan palsu yang Arsya ciptakan untuknya.
Tapi ini tidak palsu, dan Arsya ingin Ari mengetahuinya.
Mereka kembali berhadapan, dan kali ini Arsya menggenggam erat tangan Ari. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya memperjelas tatapannya, menunjukkan bahwa wajah itu sangat serius. Sampai Ari yang merasa bahwa ucapan itu serius adanya.
Gadis itu menunduk, berkali-kali ia menggigit bibir yang bergetar. Pernyataan ini malah membuat Ari merasa terkejut dan takut.
"Gue baru sadar, kalau gue punya perasaan lain ke lo sejak lo mulai kenal Juna."
Kenal Juna? Bukankah itu artinya...
"Gue ga suka. Gue cemburu lo dekat sama cowo lain selain gue. Gue pikir itu karena kita terlalu akrab, sampe akhirnya gue bisa dengan jelas ngerasain gimana hati gue sebenarnya ke lo."
"Gue datang kesini setelah lo nyatain perasaan lo ke gue. Dan di saat itu gue ngerasa, gue emang pengecut. Jadi, gue memberanikan diri untuk nyatain juga apa yang gue rasain. Gue mau punya hubungan yang berbeda dengan lo, Ri. Hubungan yang punya masa depan."
"Tapi, Sya. Gue ga ngarepin lo buat balas perasaan gue."
Kini Arsya yang tak paham dengan kalimat Ari.
"Iya. Gue akui gue emang sayang dan sukak sama lo, Sya. Tapi gue pikir, gue bukan cewek yang bisa dampingi lo. Gue udah nempatin perasaan gue ke elo di tempat terbaik, dan gue ga mengharapkan apa-apa lagi." Karena gue menyadari sesuatu. Lanjutnya dalam hati.
"Tapi kenapa, Ri? Lo punya perasaan yang sama dengan gue."
"Karena..." Ari, sejak malam tadi merasa bahwa rasa suka yang ia miliki bukanlah sesuatu yang harus ia pikirkan setiap hari. Ucapan Arsya tentang bagaimana ia memandang Ari membuatnya tahu kalau seharusnya memang mereka bersahabat saja. Terlebih Arsya membutuhkan orang yang lebih baik darinya. Yang punya keluarga lengkap, dan masa depan yang sama bagusnya. Bukan dengan perempuan sepertinya.
"Karena gue.. ga pantes buat lo."
"Siapa yang bilang? Lo pantes buat gue. Sangat pantas! Lo yang selama ini dampingi gue, kan? Bahkan lo tau apa yang gue pikirkan tanpa gue ucapin."
"Yang seperti itu bukan berarti cocok, Sya."
"Trus, menurut lo cuma karena lo merasa ga pantes, kita ga bisa sama-sama?" Tanya Arsya sedikit kecewa. Padahal dia sangat percaya diri soal ini. Tapi Ari memiliki masalah lain dalam dirinya.
"Lo bisa cari yang lain, Sya. Yang lebih bagus dari gue. Kenalan dengan orang baru yang bisa buat lo lupa dengan diri lo yang sebenarnya, karena dia mampu nguasai pikiran lo. Perempuan yang seperti itu."
__ADS_1
Arsya menghembuskan napas, "Iya
Oke. Anggap gue bisa cari yang lain. Yang lebih baik dari lo. Anggap aja begitu." Ucap lelaki itu serius. "Tapi gue maunya elo, Ri. Gue ga mau yang lain. Gue maunya elo."
Mendengar itu, Ari terdiam. Angin yang mengusik rambutnya pun tak ia tahan.
Kini Arsya melempar bunga yang sejak tadi ia pegang. Kesal, Arsya melepaskan tangan Ari dan mundur beberapa langkah. Lalu tangannya berkacak di pinggang, melemparkan pertanyaan yang ingin dia dengar jawabannya.
"Sekarang, lo kasih gue alasan. Kenapa gue harus cari yang lain, kalo elo udah memenuhi semua keinginan gue." Tanya lelaki itu, menatap lurus pada Ari yang tertunduk.
"Kenapa gue harus kenalan sama orang baru kalo elo.. selalu nguasai pikiran gue. Kasi tau gue kenapa."
Ari semakin menunduk. Air matanya menggenang, pikirannya mencari alasan apa yang cocok. Sementara dia sudah tak mampu memikirkan hal lain lagi.
"Alasannya cuma satu. Itu karena lo gak cinta sama gue."
Gadis itu mengangkat kepala. Dengan genangan air mata itu dia menatap Arsya seolah mengatakan bahwa itu tidak benar.
Arsya mengerti tatapan itu. Lalu ia kembali mendekat, dan menyentuh dagu Ari. "Tapi lo cinta sama gue. Lo punya perasaan yang sama dengan gue. Lo ga punya alasan lain selain nerima gue, Ri. Karena gue juga cinta sama lo."
Ari yang mendengarkan kalimat yang membuatnya tak mampu bergerak. Yang ia bisa rasakan adalah haru. Ia pun menutup matanya dan menangis sesegukan.
Detik itu pula Arsya memeluknya. Mendekapnya dengan sangat erat. "Kenapa kita harus membuang waktu kalau kita punya perasaan yang sama, hm?"
Benar. Tapi Ari tak menyangka semua ini akan terjadi. Sebelumnya dia pernah berpikir bagaimana jadinya jika Arsya juga menyukainya. Tapi buru-buru gadis itu menepis sesuatu hal yang tak mungkin. Ia tak berani mengharapkan apa-apa kala ia menyadari bahwa ia dan Arsya adalah level yang berbeda. Hingga sekarang kalimat Arsya membuat hatinya goyang, dan dia tak ingin membuang waktu lagi.
Arsya pula tersenyum saat ia mampu meyakinkan Ari."Jangan nangis. Kan, lo gak gue tolak."
Malu, Ari memukul perut Arsya.
Hantaman kecil itu membuat Arsya mengerang, sampai pelukan pun terlepas.
"Sya, sorry ga sengaja. Sakit, ya? Sakit banget?" Tanya Ari panik, saat Arsya terus memegang perutnya.
Arsya lantas tertawa. Mengerjai Ari mungkin ga akan ia lewatkan. Apalagi gadis itu terlihat malu dan juga kesal.
"Apaan, sih!"
Arsya yang diselimuti kebahagiaan tak bisa ia sembunyikan dan ingin mendengar kejelasan dari Ari yang sudah ia yakini jawabannya.
"Gimana, lo nerima gue, kan? Gue bosen jadi sahabat lo. Jadi pacar gue aja, ya?"
Mendengar itu, Ari kembali bersemu merah. Namun gadis itu menggeleng cepat.
"Nggak, deh."
"Loh, kok gitu??"
"Laper!" Ucapnya sambil kembali ke meja dan duduk untuk memulai dinner malam itu. Membuat Arsya menggelengkan kepala.
__ADS_1
**
Guys jangan lupa Subscribe novel baru gue🥹 Kalian harus liat gimana manusia Serigala menyatakan perasaannya, ya. wkwkwkwk