
Aku berjalan di lorong sekolah. Hari ini semua pada sibuk. Kai dan Hajoon punya kegiatan sendiri dan aku laper. Terpaksa menuju kantin untuk beli makanan dan aku akan makan di kelas aja.
Baru berjalan masuk kantin, bahuku disenggol seseorang sampai orang itu menumpahkan makanannya ke lantai.
"Sialan! Lo jalan liat-liat, dong!"
Eh. Bukannya ini orang yang selalu bersama Vita?
"Ah, sorry. Gue ga sengaja."
Wait, sebenarnya aku ga salah. Aku jalan lurus, kok. Malah dia yang terus nunduk sejak tadi.
Cewek yang kalau kutebak namanya Ella, malah tertawa sinis. "Elo rupanya. Si gundik."
Mataku membulat. "Apa lo bilang?"
"Gundik. Emang kurang keras?" Dia lalu mendongak dan berteriak. "Gundiiikkk, lo gundiik dan satu sekolah juga tau lo sugar baby-nya om-om kaya!!"
Tanganku mengepal, dia tertawa sementara yang lain memperhatikan kami. Sialan, ada masalah apa sih dia ke aku?
"Gara-gara lo, citra sekolah kita jadi rusakk!!" Pekiknya padaku.
Tunggu, kenapa jadi kaya gini? Permasalahannya kan, cuma ga sengaja kesenggol.
Aku menebarkan pandangan, ingin cari bantuan entah siapa pun yang kukenal. Tapi kerumunan orang-orang membuatku tak bisa melihat dengan jelas.
Ah, Hani. Dia berdiri menyudut dan melihatku. Tapi saat aku ingin membuka mulut, dia malah menunduk. Hani, apa bener dia udah berubah?
Nggak bisa. Aku harus cepat pergi.
Aku mengeluarkan uang selembar merah dan menyerahkan pada Ella. "Nih, gue ganti makanan lo yang tumpah."
Aku ingin menyudahi semuanya biar cepat kelar. Tapi Ella malah menatap lembaran uang yang ku ulurkan padanya dengan tawa dan tepukan tangan.
Prokk..prok..prok..
"Hebaat. Hebat banget lo, ya! Berani ngeluarin duit om lo itu disini? Udah banyak banget duit lo, iya??"
Apa?
"Anak panti kayak lo?? Punya duit banyak, dari mana, hah?"
__ADS_1
Rasa takutku jadi lebur mendengar perkataan ini. Tanganku mengepal. Lo pikir semua anak panti miskin-miskin, hah?
"Jawabannya cuma satu!" Ella merapatkan wajahnya, "Jual diri."
Tanganku terangkat ingin menampar, tapi Vita datang dan menahan lenganku.
"Eii. Ada apa ini?"
Aku menarik paksa tanganku dari genggaman kuat Vita.
"Lo liat deh, si gundik. Ngejatuhin makanan gue trus langsung mau ganti. Udah kaya banget, ya. Berapa sih, om itu ngegaji lo perbulan untuk jadi gundiknya dia??"
Geram, aku menarik kerah leher Ella sampai ia terkaget, namun sialnya Vita langsung melerai dan menyingkirkan tanganku.
"Heeii. Santai, dong. Jangan langsung ngamuk, gitu."
Vita melipat tangan di dada, menatapku dari atas sampai bawah. "Kalo gosip ini ga bener, seharusnya lo ga perlu emosi, kan?"
"Trus gue harus diam saat diolok-olok, gitu?!" Mataku menajam pada Vita yang tampak tersenyum kecil. Ni orang emang ngeselin banget, sumpah!
"Minimal lo buktiin lah, kalo omongan Ella ga bener. Bukannya malah marah-marah begini."
Alisku tertaut. Siapa yang ngga ngamuk kalo dihina terus menerus?
"Kenapa jadi g-" aku terdiam saat seseorang menyiram air ke arahku. Rambut dan seluruh badanku basah, aku mematung di tempat dengan napas memburu. Kurasakan tetesan air jatuh dari rokku.
"Berisik banget lo, gundik. Gara-gara lo jam istirahat kita kelewat gitu aja!" Sahut seseorang dan diangguki yang lain, membuatku ingin menangis seketika. Terlebih mendapatkan senyuman tersembunyi dari Vita.
"Tuh, liat. Satu sekolah udah ga suka sama lo, Ariva. Sorry banget gue ga bisa nolong, soalnya kasus lo parah!" Ucap Vita padaku yang hampir menjatuhkan air mata.
"Kalo gue jadi lo sih, mending pindah sekolah!" Sahut Ella.
"Atau bunuh diri, deh. Bikin malu nggak, sih? Kok masih ada muka buat idup?"
Suara siapa itu? Kenapa setega itu ngomong gitu ke aku? Kalian tau nggak, efek apa yang timbul waktu kalian nyuruh orang buat mati?
BUKKK!!
"MINGGIR!!"
Sebuah ember di lempar dengan keras hingga membuat bising dan pandangan semua orang teralihkan dari aku yang masih mematung dengan tubuh basah.
__ADS_1
"Seneng banget ya, bisa ngehina dan mempermalukan orang lagi, hah? Emang ini hobi lo banget, ya? Nggak puas dari dulu kayak gini ke banyak orang??"
Suara Karin. Dia berteriak pada Vita yang mendadak merengut sebal.
Bisik-bisik pun terdengar, menanyakan siapa perempuan yang tengah berdiri tegak di depanku ini. Sebab mereka belum pernah melihatnya.
"Hei, Ariva. Are you okay?" Kai datang merapatkan tubuhnya padaku, lalu menyelimutiku dengan jeketnya.
"Va, lo gak apapa?" Tanya Hajoon dan aku menggeleng pelan.
"Ngomong apa, sih?" Elak Vita pada Karin.
"PADA GILA, YA!" Teriak Kai dengan wajah berang pada semua orang yang ada disana. Kai memelukku. Aku yang ada di bawah dagunya hanya menangis. Rasanya lega saat teman-temanku ini datang menjadi pelindung.
"Cukup ya, Vit. Jangan sampe semua kebusukan lo gue bongkar disini! Lo pikir gue ga tau siapa lo sebenarnya, hah?"
Dibilang begitu, Vita menatap tajam pada Karin. Detik berikutnya, dia tertawa kecil.
"Bongkar kebusukan? Emang gue punya? Nggak, tuh! Gue juga ga kenal lo siapa!"
Karin menarik kerah seragam Vita, sampai ia terkaget. "Selama ini gue diam, bukan karena gue takut sama lo, nyet!"
Ella dan yang lain berusaha melepaskan cengkraman Karin, hingga perempuan itu melepaskannya sampai membuat Vita terdorong ke belakang.
"Kenapa sih, lo belain si gundik? Lo siapa? Apa jangan-jangan kalian sama-sama gundik??"
PLAK!!
Tamparan keras diterima Ella dari Karin yang sudah berang. Hajoon menahan Karin yang hampir saja menerkam Ella yang memegangi pipinya dengan wajah kesal.
"Jaga mulut lo. Orang miskin kayak lo dekat-dekat Vita cuma numpang tenar sampe mau ngelakuin apa aja yang disuruh cewek gila ini!" Tegas Karin, membuat Ella mendadak menurunkan ketajaman matanya pada Karin saat ucapan perempuan itu nyatanya benar. Mungkin saat ini dia bertanya-tanya, siapa gadis yang berani menantang Vita saat ini.
Karin beralih lagi pada Vita. "Sekali lagi lo gini ke Ariva, gue bakal nunjukin ke semua, siapa lo ini sebenarnya!" Desis Karin tegas pada Vita yang tak berkutik. Terlihat pula kebingungan di wajah yang lain, termasuk teman-teman Vita sendiri.
Aku melihat Hajoon menggelengkan kepala pada Vita, tanda ia tak menyangka dengan semua yang dilakukan perempuan itu padaku.
"Ayo!" Karin menggiring kami keluar dari kerumunan. Aku yang ada di rangkulan Kai pun berjalan mengikuti. Thanks, God. You save me through these new mates and i love them so much. Aku bersyukur banget punya mereka yang melindungiku. Rasanya, semua bebanku seolah luruh bersamaan dengan rengkuhan Kai yang mencoba menghangatkan aku. Walau begitu, dalam hatiku menginginkan seseorang hadir membantu menenangkanku.
Orang yang belakangan sudah jarang sekali hadir dan membantuku. Orang yang dulu selalu ada, selalu membela, selalu merangkulku. Tapi untuk apa aku menginginkan itu. Toh, dari semua ini aku paham kalau selama ini aku memang sangat merepotkan dirinya.
Arsya...
__ADS_1
**
Vote guys dibawah. Makasih banget dukungannya🫰