
"Gue kasih tau, ya. Gue dan Juna udah pacaran tiga tahun. Dan kerikil kayak lo ga akan bisa ngerusak hubungan kita. Ngerti, lo?!"
Dan untuk kali pertama, air mataku jatuh karena sebuah pengkhianatan. Dan yang lebih menyakitkannya adalah, perempuan di depanku ini bukan selingkuhan Juna. Melainkan aku. Akulah perempuan yang menjadi kerikil dalam hubungan yang sudah bertahan selama tiga tahun itu.
"Aneska! Stop it!"
Kak Juna mendekat lalu, mengusap air yang mengalir di pipiku.
"Ariva, maaf. Maafin aku. Aku akan jelasin ini ke kamu-"
Aku menepis tangan kak Juna. Kini aku menangis dengan mata yang tajam menatap padanya. Baru saja dia memintaku untuk percaya, namun dalam hitungan detik pula dia berhasil menghancurkannya.
Aku berlari keluar dari sana. Suara panggilan kak Juna terdengar kuat. Ga ada lagi yang perlu dibicarakan. Semuanya terlalu jelas. Pacaran tiga tahun, katanya. Berarti selama ini aku apa??
"Halo, Sya."
Aku menghubungi satu-satunya orang yang saat ini bisa kuandalkan.
"Please jemput gue, Sya. Gue di Time Square, please jemput gue." Suaraku serak, dan aku bisa mendengar kepanikan Arsya dari sana. Aku tahu dia pasti buru-buru datang menjemputku.
"Ariva."
Tanganku tertahan. Aku berbalik dan mendapati kak Juna yang menahan lenganku.
"Ariva, please kasih aku waktu untuk jelasin. Semua gak kaya yang kamu pikirin."
Kulepaskan tangannya. Bisa-bisanya dia mengatakan ini padahal jelas bisa kulihat kesungguhan perempuan bernama Aneska itu.
"Semuanya udah jelas. Disini akulah yang jadi selingkuhanmu, kak. Kamu tega banget bohongin aku selama ini." Kataku dengan suara parau.
"Ngga gitu, Va. Bukan kaya gitu kejadiannya. Aku sama Aneska memang dulunya pacaran. Dan sekarang aku udah putusin dia. Jadi aku mohon kamu jangan ngira aku mempermainkan kamu. Enggak, sama sekali enggak."
Aku menatapnya dengan dada yang naik turun. Ingin rasanya mengamuk, namun aku harus tahu situasi.
Jadi selama ini dia punya dua cewek? Dan karena ketahuan kah, makanya dia memutuskan salah satu diantara kami?
Aku ingin mengatakan sesuatu, sampai melihat sendiri Aneska datang dari belakang kak Juna.
"Jun, apaan sih. Lo malah ngejar cewek ini dan ninggalin gue!"
"Nes, please. Hubungan kita berakhir sampe disini. Jadi jangan ganggu gue lagi."
Mata Aneska membelalak. "Seriously? Lo putusin gue karena cewek ini??" Aneska menyugar rambutnya ke belakang. "Tiga taun, Jun. Tiga taun kita sama-sama dan lo mutusin gue karena cewek kayak gini?"
"Stop it, Nes. Lo ga tau apa-apa soal Ariva."
Gak bener. Aku memilih pergi dari pada harus menjadi bahan perdebatan mereka dan dilihati banyak orang pula.
"Ariva, tunggu!" Teriak kak Juna.
Aku menoleh ke belakang, dan saat itu Aneska menarik tangannya.
__ADS_1
"Pembicaraan kita belum berakhir, Jun!"
Ah, persetan. Aku ingin sekali meledak sekarang. Aku berlari supaya kak Juna tidak lagi mengejarku. Tapi ternyata kakiku tersandung dan akupun jatuh.
Rok jeans pendek yang kupakai tidak bisa melapisi lutut yang langsung terbentur aspal.
"Aaaww." Ini sakit. Aku sampai harus duduk di batu pembatas jalan sambil meringis karena lututku yang mulai berdarah. Sial. Belakangan kok hidupku siaal!!
Kulihat ke arah kak Juna tapi mereka udah ga ada. Aahh kesel bangettt!
"Hei, are you okay?"
Arsya jongkok dengan napas yang naik turun seperti habis berlari. Dia sampai mengabaikan napas sesaknya karena begitu perhatian pada lututku yang luka saat ini.
"Ayo ke rumah sakit."
"Eh, it's okay, Sya. Ini ga sakit kok- aaauww!" Mataku melotot saat dia menekan pinggiran lukaku. "Ya nggak dipencet juga!"
"Berarti sakit."
Aku melengos. Teori macam apa itu. Yang ngga sakit juga kalo dipencet bisa sakit!
Arsya menatapku. Sampai aku sadar ternyata masih ada sisa air di mataku. Buru-buru aku menghapusnya.
"Jangan biasakan berbohong. Kalo lo ga suka, lo bisa bilang ga suka. Kalo sakit, lo bisa bilang sakit. Ga perlu nyembunyiin itu."
Hah? Apa maksud Arsya?
Eh, maksudnya.. mau gendong aku, gitu?
"Cepetan." Katanya sembari menoleh ke belakang.
"Gue bisa jalan."
"Iya. Gue tau lo ga lumpuh. Cepat naik." Tukas Arsya memaksa.
Hadeh. Memang ni anak keras kepala, ya. Mirip papa Arga, persis.
Aku melingkarkan kedua lengan di leher Arsya, lalu mendekat pada pundaknya. Dengan sigap dia menopang bokongku dengan kedua lengannya, lalu berdiri dan berjalan perlahan.
Kalau dipikir-pikir lucu juga, ya. Kapan sih, terakhir lo gendong gue, Sya? Ada kali, dua taun yang lalu, saat SMP. Waktu gue pingsan di jam pelajaran olahraga. Lo gendong gue kayak gini dengan panik menuju UKS. Tapi lo ga ngaku waktu gue bilang lo panik. Kata lo, lo cuma takut gue mati dan lo ga tau harus bilang apa ke bunda. Hahaha. Ga ngakuin ya, Sya. Padahal temen-temen bilangnya lo panik banget sampe teriak-teriak manggil penjaga UKS.
"Lo.. tadi dari mana?" Tanyaku memecahkan kesunyian diantara kami.
"Rumah."
Oh... Aku mengangguk-angguk seolah Arsya bisa melihatku. "Gue ngerepotin lo, nggak?"
"Hm. Banget."
Isk! Selalu aja nih anak kalo ngomong nyebelin banget. Bisa nggak, lo itu bohong sekali aja supaya gue seneng.
__ADS_1
"Sorry, ya. Pasti lo tadi lagi sibuk banget."
Arsya diam. Yah, mungkin emang karena belakangan kita jarang ngobrol, jadi kayak lebih aneh aja sekarang.
Aku menghirup aroma rambut Arsya. Hitam pekat dengan harum maskulin khas Arsya. Udah berapa tahun dia ga pernah ganti merk shampoo? Dia ini tipe yang setia. Kalau udah suka sama satu benda, dia bakalan terus pakai itu sampai produknya ga diproduksi lagi.
"Sya.."
"Hm."
Gue.. baru putus sama kak Juna.
Aku ingin mengatakan itu. Tapi lidahku tertahan. Apa perlu Arsya dengerin curhatku sekarang?
Aku mendekatkan kepala ke telinga Arsya. "Menurut lo.. Cowok brengsek itu yang kaya gimana?"
Bener kata lo, Sya. Kalo kak Juna ga sebaik yang gue kira. Tapi gue ga berani curhatin ini ke elo. Gue takut lo malah semakin marahin gue karena bandel dan malah marah waktu lo minta gue putus sama Juna. Payah banget gue.
"Gue tadi.. Baru aja liat. Ada cowo yang dilabrak sama cewenya gara-gara selingkuh."
Arsya tidak juga merespon. Dia terus berjalan melewati banyak tatapan orang-orang yang melihatiku karena tengah digendong oleh Arsya.
"Cowo itu ketahuan selingkuh. Tapi disitu juga dia langsung putusin cewenya dan lebih milih selingkuhannya."
Tadi kak Juna putusin Aneska di depanku. Dan dia belain aku waktu Aneska jelekin aku. Ini buruk banget tapi kenapa ada rasa senang di hatiku?
"Kalo misalnya selingkuhannya itu mutusin buat tetap jalani hubungan mereka, apa dia jadi orang yang jahat?"
"... tapi kan, dia dan pacarnya udah putus. Berarti boleh dong dia dan selingkuhannya jalani hubungan lagi?"
Arsya berjalan saja tanpa merespon celotehanku.
"Trus menurut lo, Sya. Gue boleh nggak sih, marah dan benci sama orang yang dapat kehangatan dari orang yang gue sayang?"
Kini aku menanyakan soal Vita yang udah kenalan dengan Bunda. Terus terang, aku.. ga suka itu.
Arsya berhenti di mobil hitam miliknya, lalu menurunkanku.
"Menurut lo, gue punya penyakit hati, atau..." aku menggantungkan kalimatku saat menyadari sesuatu.
Arsya membuka pintu mobil untukku.
"Cemburu?" Desisku dengan suara pelan. Keningku berkerut tiba-tiba saat menyadari itu. Tapi aku segera menggelengkan kepala. Enggaklah. Bukan itu.
Arsya memerintahkanku masuk dengan dagunya. Aku pun duduk dan masih menatap Arsya yang juga memperhatikanku.
"Menurut lo gimana, Sya?"
Arsya diam beberapa detik. "Kaki."
Aku menaikkan kaki, lalu dia menutup pintu. Sial, dia ga nanggepin curhat panjang lebarku.
__ADS_1
TBC