HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Kejutan! 55


__ADS_3

Aku memeluk papa yang terus mengusap punggungku, menenangkan aku dari semua kekacauan yang terjadi malam ini. Aku ga pernah bayangin kalau hal semacam ini akan terjadi. Bisa-bisanya dalam satu malam perasaanku seperti di cabik-cabik. Bukankah sejak awal aku cuma ingin menegur seseorang dengan caraku? Tapi kenapa ucapanku malah seperti menjadi boomerang sendiri untukku?


Tadi, setelah aku meninggalkan ruangan dimana Arsya berada, tak sengaja aku melihat mama dan keluarga barunya.


Aku diam mematung karena shock saat melihatnya dengan jarak yang begitu dekat bersama suami dan anak perempuannya berusia sekitar 7 tahun.


Sama sepertiku, mama juga kaget melihat aku berdiri mematung menatapnya.


"Ada apa, ma?" Tanya anak kecil itu.


"Ngga apa-apa, sayang." Katanya, mencoba mengalihkan wajah dariku.


Hh. Sayang, katanya. Iris mataku sampai bergetar, ingin sekali menumpahkan air mata tepat di depannya. Jika dia tahu kalau aku ini masih anaknya.


"Ma, Pa, ayo pulang."


"Iya. Ayo kita pulang."


Seperti menghindar, mama segera menggandeng tangan suaminya dan melangkah.


"T-tunggu!"


Ah, aku kelepasan. Aku menggigit bibir saat ketiga orang itu menoleh kebelakang dan menatapku.


Memangnya aku mau bilang apa? Aku sampai kaku karena itu hanya ucapan reflek saja.


"Iya? Ada yang bisa dibantu?" Tanya pria itu padaku.


Aku menatap mama yang tampak gelisah. Beberapa kali dia melirik suaminya, seolah meminta untuk segera pergi saja. Dan dari sana aku tahu, kalau mama memang sengaja meninggalkanku.


Aku segera menghapus air mata sialan yang lagi-lagi tumpah.


"Maaf. S-saya salah orang."


Pria itu tersenyum ramah, lalu kembali melangkahkan kakinya.


Aku menunduk lesu. Sadarlah, Ariva. Kenapa lo malah mengharapkan sesuatu dari wanita yang udah buang lo dari kecil? Dia udah punya keluarga baru, dan lo gak dianggap.


Entahlah. Aku ga paham kenapa aku malah nangis. Hah. Sialan. Harus kuakui, kalau ternyata rasa rinduku padanya mendadak muncul setelah aku melihat langsung wajahnya yang semakin cantik.


Buru-buru aku menghapus air mata dan kembali melangkah. Namun aku terkejut saat sebuah tangan menahan dan menarikku menuju ke tempat yang sepi.


M-mama...


"Kamu kenapa ada disini?"

__ADS_1


Aku menatap dua bola mata yang terlihat panik.


"Dia sama aku."


Kami berdua refleks menoleh dan mendapati papa berjalan mendekat.


"Aku dan Ari udah sepakat buat hubungan yang lebih baik. Kesalahan kita berdua dulu, sebaiknya jangan lagi membuat anak kita tersakiti. Ingat, dia juga butuh kasih sayang orang tuanya."


Penjelasan papa membuat mama bungkam. Lalu dia menoleh ke kiri dan kanan seolah tak ingin ada yang mendengar.


"Aku gak bisa balik kaya dulu. Udah pernah aku bilang ke kamu kan, mas. Aku udah punya keluarga baru. Aku udah bahagia, udah ada suami yang sayang dan mengerti aku, juga anakku yang masih kecil."


"Tapi Ariva juga anakmu. Ariva anak perempuanmu, lahir dari rahimmu." Jawab Papa cepat.


Perdebatan dua orang ini membuatku tak kuasa menahan air mata. Aku menangis mendengar ucapan mama yang memang tak menginginkan aku.


"Dia udah besar. Dia udah bisa ngurus dirinya sendiri. Lagi pula uang dariku juga pasti cukup, kan?"


"Ini bukan soal uang, Nia. Kalau itu, aku pun bisa kasih bahkan lebih." Seru papa, mulai mengeraskan suara.


"Ya udah. Kalau gitu, kamu aja yang kasih dia. Kalian hiduplah dengan baik." Lalu mama menghadap ke arahku. "Tolong, jangan lagi datang tiba-tiba seperti tadi. Aku gak mau suamiku tau soal kamu." Katanya padaku, membuat dadaku sesak dan wajahku memerah karena berusaha menepis air mata yang tak mau berhenti. Tega sekali dia..


"Nia! Kamu keterlaluan!"


"Aku udah melangkah jauh, dan kalian adalah masa laluku. Sekarang, mari hidup sendiri-sendiri, lupakan masa lalu. Dan kedepannya kuharap kita bisa saling tidak mengenal jika bertemu di lain tempat. Atau kalau perlu, pergilah jauh ikut papamu ke Rusia. Ku rasa itu jalan terbaik."


Jahat sekali. Apa seperti ini yang namanya ibu? Dia ingin aku jauh-jauh dari hidupnya? Apa dia memang ibu yang melahirkan aku?


Sesak. Hatiku benar-benar terasa sakit.


"Nia."


Mama panik saat suaminya datang menghampiri.


"Ada apa ini?" Tanyanya, melihat aku dan papa bergantian. Terlebih padaku yang wajahnya sudah banjir air mata.


"Ah, enggak." Mama menggandeng tangan suaminya. "Bukan apa-apa, ayo kita pulang."


Nampaknya suami mama ga percaya gitu aja. Dia menahan untuk tidak melangkah bersama mama. Dia menatapku, papa, dan mama secara bergantian.


Apa dia mencurigai sesuatu? Misalnya bentuk mataku yang mirip dengan mama? Juga rambut kami bertekstur sama? Aku ngerasa, wajah mama yang sekarang sedikitnya mirip denganku. Tapi ucapan mama tadi sangat serius soal aku yang harus pura-pura tidak mengenalnya.


"Bukan apa-apa, om. Saya cuma ngerasa.. tante ini mirip dengan mama saya. Jadi.." aku diam beberapa saat, terasa begitu menyakitkan rupanya.


"..jadi tadi saya coba sapa karena kangen sama mama saya yang udah mati."

__ADS_1


Mama terdiam, dan aku menutup wajahku dengan kedua tangan karena tak sanggup lagi menatap wajah mama, sampai papa menarikku dalam pelukannya.


Ini.. lebih sakit dari semua penderitaan yang ku alami. Lebih sakit dari sekedar ditaruh di panti. Disana aku mendapatkan pendidikan dan kasih sayang melalui bunda. Tapi ini... Ini seperti ditikam berkali-kali di tempat yang sama.


"Begitu, ya." Pria itu menatap kasihan padaku.


"Maaf sudah mengganggu waktunya. Kami permisi." Papa merangkulku berjalan menuju mobil, meninggalkan mama dan suaminya.


Kejadian itu terus terbayang di pikiranku. Dan sekarang, mobil berjalan meninggalkan tempat itu dengan pelukan papa yang nggak lepas dari aku. Dia terus mengecup puncak kepalaku yang masih tergugu.


Papa nggak ucapin apapun setelah itu, karena dia tau gimana sakitnya aku, tak dianggap oleh ibuku sendiri.


...🍭...


Ternyata begini rasanya. Sakit hati teramat dalam. Bayangan wajah mama masih menari di pelupuk mata. Kalimat yang keluar dari mulutnya untuk memintaku menjauh seperti sambaran kilat yang menghancurkan hidupku. Suaranya terdengar lembut namun ucapannya merobek perasaanku.


Aku hanya terduduk memeluk lutut di atas ranjang. Rasanya kepalaku pusing setelah nangis berjam-jam lamanya. Entah pukul berapa sekarang. Aku ga ngerasa apa-apa lagi selain kesedihan yang amat dalam.


"Ari."


Aku menaikkan wajah saat mendengar suara orang yang kurindukan kehadirannya.


"Ari.."


Arsya. Dia berdiri di tepi ranjang. Melihatnya ada disini justru tangisku semakin pecah. Aku langsung memeluk pinggangnya dan menangis tersedu-sedu, menenggelamkan wajahku di perutnya yang rata.


"Sya..."


Dia membungkuk dan terus mengusap rambutku sembari berbisik. "Gue ada disini, Ri. Gue di dekat lo."


"Jangan pergi, Sya. Jangan tinggalin gue.."


Baru aku tahu, ternyata ditinggal ibu sakitnya melebihi apapun. Padahal selama tidak melihatnya, aku yakin aku baik-baik saja.


Lalu setelahnya aku merasa orang-orang akan pergi menjauhiku. Papa, dia juga akan pergi. Lalu Arsya. Perlahan dia sudah menjauh dariku.


"Sst. Gue disini. Gue ga akan kemana-mana." Ucap Arsya dengan lembut. "Tenang, ya. Gue akan jagain lo malam ini. Gue akan terus ada di sisi lo, Ri."


Aku tau, aku ga boleh berharap apa-apa. Tapi Sya, please, ku mohon tetap disini sampai aku memejamkan mata. Aku butuh kamu disini, membantu dan meyakinkan aku, bahwa semua masalah yang ku hadapi bisa ku lewati asal itu bersamamu...


......*......


Guys!! Aku dpt urutan 60 ranking VOTE! Bantu aku naik dong😁 Caranya, kalian kasih vote ke cerita ini ya, setiap Minggu selalu ada vote. Soalnya pembaca banyak tapi yg nge-vote cuma dikit😗. Makasih banyak ya.. Tanpa pembaca dan dukungannya, Author hanyalah.....


__ADS_1


__ADS_2