
Orang-orang bilang, kasih sayang ibu sepanjang masa. Takkan pudar sampai kapanpun.
Katanya, seorang ibu berhati hangat dan akan terus menyayangi anaknya apapun kondisinya. Dan sebaliknya, justru banyak dari anak yang memiliki kasih sayang terbatas pada ibunya.
Apa semua ucapan itu benar? Dimana riset itu dibuat? Apa yang membuat itu telah mencatat nilai kasih sayang seluruh ibu di dunia?
Atau mungkin, peneliti itu dialiri kasih sayang yang luar biasa dari ibunya, sebab yang membuatnya mengatakan hal demikian, dan lupa kalau ada ibu yang membuang anaknya demi sebuah karir dan harta. Lalu dia melupakannya, dan memiliki keluarga baru setelah dirasa dirinya siap.
Pembual.
Aku mengepal kuat tanganku untuk menahan air mata yang hendak keluar. Sungguh, hatiku panas melihat kemesraan ibu kandungku bersama pria disana.
"Sayang."
Aku buru-buru menunduk saat ternyata air mataku jatuh. Papa menyentuh bahuku. Nampaknya dia tahu apa yang tengah ku perhatikan.
"A-ari ke t-toilet dulu, pa." Aku menghindari papa dan mencari tempat untuk menyendiri dari keramaian yang ternyata membuatku sesak.
Baru aja aku mengatakan hal yang tak seharusnya ku ucapkan pada Vita. Sekarang aku merasakan bagaimana perihnya kehidupan tanpa ibu. Atau lebih tepatnya, ibu yang melupakan anaknya.
Aku disini, Ma. Panti nggak jauh dari sini. Aku pikir selama ini mama sangat jauh dariku sampai nggak bisa ngeliat aku. Ternyata enggak. Mama ada disekitar disini.
Aku duduk setelah berhasil melarikan diri dari pemandangan buruk itu. Di sebuah ruang kosong ujung balkon, tempat luas dan tinggi hingga suara tangisku bergema. Aku sendirian, menangisi hidup yang ternyata memang menyedihkan.
Apa salahku? Kenapa aku dibuang dan di tempatkan di panti, hanya dikirimi bulanan seolah yang kubutuhkan hanya uang?
Kalau aja dia tau, aku juga ga ingin terlahir dari rahimnya. Kalau bisa memilih, aku ga ingin terlahir seperti ini.
Ah, sial. Dadaku sesak sampai aku ga bisa nahan air mata yang terus mengalir. Apa aku pulang aja?
Ponselku berdering dan aku mengangkatnya.
'Ari, kamu dimana, sayang?' Tanya papa dengan suara panik. Yah, setidaknya masih ada satu orang tua yang ingin hubungan ini diperbaiki.
Aku berdiri dan memperhatikan sekitar. Kuhapus air mata dengan sebelah tangan. Aku ga tau ini dimana.
'Kita pulang, ya?'
Aku mengangguk seolah papa bisa melihatnya. "Iya. Ari mau pulang." Ucapku dengan suara serak.
'Papa tunggu, sayang. Kita pulang sekarang.'
Huuff. Memang ga mudah. Tapi mari lupakan perempuan itu dan mulailah hidup dengan baik bersama papa.
Setelah menghembuskan napas beberapa kali dan menghilangkan air mata, aku pun berjalan keluar.
Apa aku masih ingat jalan? Gedung ini terlalu banyak ruang dan persimpangan. Tadi aku berlari saja tanpa melihat kemana arahnya aku pergi.
Kalau ga bisa keluar, aku tinggal minta papa telepon petugas buat jemput aku.
Eh. Langkahku terhenti saat mendengar suara berisik dari satu ruang. Semacam perkelahian.
"Brengsek!"
BRAK!
Astaga. Apa ada yang celaka?
__ADS_1
Aku melangkah cepat menuju sumber suara. Sepertinya perkelahian itu dari ruang tanpa pintu itu.
"Semuanya gara-gara lo! Karena lo Ariva berubah!"
Eh. A-aku? Namaku disebut? Itu mirip suara..
Aku mengintip, dan terbelalak mendapati kak Juna tengah mencengkram erat kerah baju Arsya dan menghimpitnya ke dinding.
"Habisin dia!" Seru kak Juna, dan dua orang dibelakangnya bersiap menghajar Arsya.
"STOP!"
Astaga. Ini gila. Tubuhku sampai bergetar melihat semua ini. Gimana bisa Arsya dan kak Juna berkelahi? Lihat wajah Arsya, dia terluka...
"A-ariva." Kak Juna mendekatiku yang masih berdiri mematung diambang pintu.
"Jangan dekat!" Bisa gila aku melihat semua ini. Aku panik. Ingin teriak supaya ada yang menolong. Kak Juna mau menghajar Arsya bersama teman-temannya?
"Va, ini ga kaya yang kamu liat.."
"Lo pikir gue buta?!"
Kak Juna mendunduk lalu menoleh pada Arsya. Tangannya terangkat menunjuk lelaki itu. "Dia! Dia duluan yang ngehajar aku."
A-apa..
"Tanya aja ke dia langsung! Aku ga salah, Va. Aku cuma mau balas dendam."
"Hobi banget lo balas dendam!" Pekikku padanya. Ah, bagaimana ini? Aku takut. Terlebih dua orang teman kak Juna membawa balok kayu.
Kok bisa kalian berantem, hah?
"Mau lo apa sih, Junaa!" Aku kesal. Aku ga bisa menahan air mata lagi. Melihat itu, Arsya mendekat.
"Ri, gue jelasin."
"Stop, Sya. Gue mau bicara berdua sama Juna."
Terlalu banyak informasi yang masuk akan membuat aku bingung. Biar dulu aku ngomong sama Juna.
Arsya diam cukup lama menatap Juna, lalu berujar. "Gue tunggu diluar." Katanya padaku. Arsya berjalan keluar, tak lama dua orang teman Juna pun keluar.
"Va."
Tanganku naik, menyuruhnya diam.
"Hubungan kita udah berakhir, Jun. Lo udah ngancurin gue dengan berselingkuh sama sahabat gue!"
"Aku ga serius sama dia, Va. Aku.. Aku dirayu. Dia yang deketin aku. Dan..." Juna gelagapan. Dia sendiri ga tau mau bilang apa. Karena percayalah, dia sadar kalau kelakuannya itu brengsek banget!
"Dan lo nikmatin ciuman lo ke dia. Di depan banyak orang, temen-temen lo, sementara semua orang tau kita pacaran waktu itu!" Tekanku padanya. Suara parau masih terdengar jelas, sisa tangisku pun bisa dia lihat.
"Va, please. Kasih aku kesempatan..." Tangannya meraih tanganku, lalu kutepis dengan kasar. Amarahku memuncak mendengar kata kesempatan yang ia ucapkan.
"Lo ga tau arti kesempatan, Jun. Waktu itu lo juga minta kesempatan dan gue kasih! Trus sekarang apa? Hah?" Tanyaku memekik.
Juna menunduk. Wajahnya kusut dan berbekas biru.
__ADS_1
"Maafin aku, Va. Maaf. Aku janji ga akan nyia-nyiain kamu lagi. Aku sadar, aku sayang banget sama kamu, Va. Aku ga bisa pura-pura ga ngubungin kamu. Aku beneran sayang, Va. Maaf aku egois dan ngerasa sok hebat di depanmu. Ngerasa kalau kamu pasti akan terus maafin aku. Aku nyesel, Va. Nyesel banget aku, Va. Please, maafin aku."
Baru ini kulihat bola mata hitam milik Juna berkaca-kaca. Entah ini benar-benar tulus dari hatinya atau tidak, aku ga bisa memastikan. Aku ga mau ketipu lagi.
Tapi ucapan Juna ini membuatku berpikir satu hal. "Apa selama ini aku terlihat bodoh, Jun?" Sampai Juna berpikir kalau aku bisa terus memaafkan kesalahannya.
"Enggak. Bukan gitu, Va." Dia buru-buru meralat perkataanku. Lalu matanya menatap kedalam mataku.
"Selama ini, perhatian dan kasih sayang yang kamu berikan terasa tulus banget bagi aku. Fakta kalau kamu naksir aku dari kelas satu buat aku ngerasa, kamu pasti akan mau memberiku kesempatan karena rasa sayangmu ke aku. Tapi aku sadar, aku bodoh dan membuang kesempatan berharga itu."
Aku mengalihkan wajah ke arah lain, menghela napas setelah mendengar ucapan Juna.
"Memang kuakui, awalnya aku ngejalani hubungan denganmu karena terpaksa. Tapi seiring berjalannya waktu, aku benar-benar jatuh cinta."
Jatuh cinta. Terlambat banget...
"Apa.. udah ga ada rasa sayang kamu ke aku, Va?"
Kembali kutatap dirinya yang berdiri lesu. Wajah penuh lebam dan penampilan kusut, serta permintaan maaf membuatnya terlihat menyedihkan. Tapi sekarang kenapa aku bisa ngerasain kalau dia serius soal ucapannya.
"Cuma orang bodoh yang mau balik setelah disakiti berkali-kali."
Juna menunduk lagi. Kali ini tangannya bergetar menahan air mata.
"Aku ngerti. Tapi, Va. Soal perhatian dan kasih sayang yang belakangan aku berikan ke kamu itu nggak palsu, Va. Aku tulus. Aku.. aku cuma bodoh karena termakan egoku sendiri. Aku begitu karena cemburu pada Arsya."
Jadi, karena itu Juna mau ngehajar Arsya? Gila, ya. Emang salah Arsya apa? Aku dan Arsya nggak punya hubungan apa-apa! Aku ingin bilang begitu, tapi buat apa? Aku akan mengakhirinya disini.
"Kedepannya ku harap kakak bisa lebih bijak lagi." Kataku mulai kembali sopan. "Aku ga bisa balik ke kakak bukan karena Arsya. Tapi karena aku muak sama kelakuan kakak. Jadi, aku sendiri yang memutuskan untuk gak punya hubungan apapun sama kakak. Mulai saat ini, kuharap kakak nggak lagi ganggu aku, maupun Arsya."
Lama kak Juna menatapku, lalu tertunduk sembari mengangguk lambat.
Ah, sial. Gara-gara ngurusin hal kaya gini, aku jadi lupa kalo papa nunggu di depan.
Oh ya, Arsya juga lagi nungguin aku, kan.
Aku keluar dari ruangan itu dan mencari Arsya. Tapi dia ga ada.
"Sya, please. Biar gue obatin."
Aku mendengar suara Vita, lalu mencoba melihat ke ruang lain.
Dia menangis sesenggukan di depan Arsya yang duduk di atas meja. Pelan-pelan tangannya membersihkan luka yang ada di wajah Arsya dengan kapas.
Sampai segitunya, Vita menangis cuma gara-gara luka kecil di wajah Arsya? Apa dia sesayang itu sama Arsya.
Ah, perasaanku ke Arsya ternyata udah berubah menjadi perasaan yang sulit kuartikan. Aku ga suka melihat kedekatan mereka, karena aku memang menyukai Arsya selayaknya seorang wanita. Bukan karena dia sahabatku.
Tapi sebenarnya, hubungan mereka apa?Kenapa melihat interaksi keduanya membuat perasaanku serasa di aduk-aduk. Terlebih aku ingat betul ucapan Arsya soal gimana hubungannya dengan Vita.
Lalu, dia kan tahu, aku dan Vita punya hubungan yang gak baik. Dia juga pasti tau, kalau Vita selama ini udah ngerjain aku. Sedih banget kalo tau Arsya ga peduli soal apa yang udah Vita lakuin ke aku dan lebih milih bersamanya kaya gini.
Hah. Berat banget. Seperti ada benda berat yang menghantam dadaku.
Jadi, kaya gini rasanya cemburu dan sakit hati dalam satu waktu?
...**...
__ADS_1
Aku up bab baru Krn ternyata udah 160vote, ya. Kalau mau aku up lagi dan lagi kalian harus terus vote sampe 200 ya. Sebentar lagi kita bakalan masuk PoV Arsya.🙌