HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Ungkapin Perasaan 63


__ADS_3

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya aku putuskan untuk mengaktifkan handphone dengan kartu baru, lalu menyambungkan koneksinya ke internet.


Aku meletakkan handphone, aku yakin akan banyak notifikasi yang masuk. Dan benar, handphone-ku terus bergetar menandakan banyak sekali pemberitahuan yang harus ku buka.


Setelah reda, aku meraih ponsel dan melihat begitu banyak panggilan dan chat dari teman-teman, juga Arsya.


Ibu jariku bersiap menekan nama Arsya untuk melihat apa saja yang ia kirimkan padaku. Tapi urung ku lakukan dan lebih memilih membuka chat Karin.


[Va, udah sampe?]


[Va, gimana kabar lo? Kok ga aktif🥲]


[Ariva, gue kangen. Kai dan Hajoon juga. Kita jadi sedih banget ga ada lo. Apalagi Kai. Mendadak banyak diam karena bangkunya kosong.]


[Va, lo sibuk, ya? Udah masuk sekolah belum, ya? Enak ngga disana?]


[Va, kabar buat lo. Lo tau nggak apa yang buat Hani dikeluarkan di sekolah? Ternyata Arsya yang buat dia dikeluarin. Arsya ngirim rekaman cctv saat Hani ngunci lo di kamar mandi dan nyiram lo pake air kotor itu. Bukan cuma itu, Hani juga yang nempel foto lo di Mading pas lo diceburin di kolam, juga waktu lo pelukan sama bokap lo. Semua udah beres, Va. Tapi lo nya pergi...]


[Va, berita baru lagi. Foto Vita dan Arsya itu emang Hani yang sebarin. Trus Vita ngaku kalo dia cuma bercanda, tapi malah ketahuan nyokap Arsya dan kasus ini dibawa ke ranah polisi sampai terungkap semuanya. Arsya sendiri lagi retak tulang punggung, makanya ga sekolah-sekolah. Lo tau? Kayaknya engga, soalnya dia nutupin itu. Ngga lama, Vita ngundurin diri dari sekolah dan pindah ikut mamanya. Btw mama papanya cerai, gue sedih, sih. Tapi semua karena Vita sendiri. Bokapnya nyalahin Vita soal kerjasama itu.]


Aku terduduk di ranjang setelah membaca semua pesan Karin. Ku genggam kuat ponselku. Banyak yang aku ga tau soal Arsya. Aku ga tau dia retak tulang, aku ga tau dia ngurusin soal aku yang disiram air yang aku sendiri udah lupa tentang kejadian itu.


Arsya... Perlakuanmu ini buat aku jadi ngerasa bersalah. Aku pikir kamu cuek ke aku. Aku pikir kamu ga peduli.


Aku melirik kertas-kertas yang tadi diberikan papa. Nampaknya aku memang harus ucapin sesuatu ke kamu, Sya.


Aku melirik jam. Pukul 9 malam. Berarti disana sekitar jam 5 sore.


Aku berjalan kesana kemari. Haruskah ku telepon? Lalu aku harus bilang apa? Makasih?


Aku menyentuh dadaku yang bergemuruh. Selama disini aku ga tenang karena perasaanku pada Arsya.


Ku tatap ponsel yang memperlihatkan nomor Arsya di layar. Aku udah jauh, kepisah negara, dan ga tau kapan kembali. Sama seperti Kai yang mengungkapkan perasaannya padaku karena ga mau menyesal telah menutupi perasaan, aku juga akan melakukan hal yang sama.


Ku buka chat Arsya dan ku baca pelan-pelan.


[Ri, lo kemana?]


[Ri angkat telepon gue. Kata mama lo pergi? Lo ga kasih tau gue?]


[Ri, lo dimana? Gue di bandara. Pengen liat lo buat trakhir kali]


[Oke. Ga apapa kalo lo mau pergi. Gue coba ngerti posisi lo yang mau deket sama bokap lo. Tapi setidaknya kabarin gue ri. Gue tau gue udah banyak salah ke lo. Gue harap lo mau maafin gue.]


[Ri kenapa lo nutup akses ke gue? Please bales ri.]


[Ri. Gue harus gimana supaya lo maafin gue.]


Air mataku jatuh. Arsya.. ke bandara kemarin?


Aku menghapus air mata dan cepat-cepat meneleponnya.


Selama ini aku ngelakuin apa? Ceroboh banget. Mentingin perasaan sendiri tapi ga mikirin Arsya.

__ADS_1


Ah, sial. Air mataku ga berhenti netes dan Arsya ga mau angkat teleponku.


Lagi, aku meneleponnya. Dan kali ini dia mengangkatnya.


Hening beberapa saat. Aku belum berani bicara, dan disana Arsya juga diam.


'Kalo ga penting gue tutup-'


"Sya.."


Dia diam. Aku merapatkan bibir saat ternyata suaraku bergetar.


'Ari..'


Aku senang mendengar suaranya. Aku rindu, Sya.


'I-ini beneran lo, Ri?'


Aku mengangguk seolah Arsya bisa melihatku.


Terdengar helaan napas dari sana. Aku tahu dia lega karena akhirnya aku menghubunginya. Aku pikir Arsya akan lupa karena ada Vita. Aku ga nyangka kalo dia justru mengubungi kantor papa demi bisa mendapatkan nomor baruku.


'Kenapa lo ga bilang kalo mau pergi, hm? Lo marah sama gue sampe pergi. Gue sama Vita ngga ada hubungan apa-apa. Udah gue bilang berapa kali ke elo. Dia juga ngejebak gue, gue tau dia ngirim itu ke elo. Gue bukan ga peduli tapi banyak yang perlu gue lurusin ke mama. Gue tau gue salah, Ri. Gue-'


"Sya." Aku menghentikan kata yang ingin keluar dari mulutnya. Aku udah tau. Aku udah tau, Sya.


"Bisa dengerin gue? Jangan potong apapun ucapan gue. Biarin gue ngomong sampe selesai."


Aku menarik napas perlahan, lalu memejamkan mata. Aku memohon pada jantungku untuk bekerja sama dengan baik, dan jangan berdetak seolah ingin lepas dari dadaku.


Hening. Aku bisa merasakan Arsya terkejut disana.


"Gue ga tau kenapa bisa kaya gini. Gue ga suka liat lo sama perempuan lain. Gue ga suka ada cewek yang masuk ke kamar lo selain gue. Apa lagi sampe tidur disana.." suaraku parau, terisak, dan berulang kali meneteskan air mata.


'Ri-'


"Stop, Sya. Dengerin gue sampai selesai." Kataku lagi. Lalu aku melanjutkan. "Sejujurnya.. gue pergi bukan karena bokap gue. Bukan juga karena kesalahan lo. Bukan karena lo, tapi karena gue." Aku terisak dan menghapus air mata yang lagi-lagi jatuh. "Gue ga kuat liat lo, Sya. Terus terang gue kalah sama perasaan gue ke lo. Gue... Gue udah buat kesalahan dengan punya perasaan ke sahabat gue sendiri. Gue ga bisa ilangin ini, Sya. Gue ga tenang karena perasaan gue sendiri."


"Ri.."


"Sya. Please, hiks." Aku ga berani mendengar ucapan Arsya. Aku tau dia akan lebih logis menanggapi aku. Tapi aku cuma ga mau kecewa. Aku ga mau sedih dengan ucapan Arsya.


"Gue disini baik-baik aja, lo ga perlu khawatir. Maaf karena gue ga nepatin janji ke lo karena gue ga bisa lama-lama berhadapan dengan lo. Lo baik-baik ya, Sya. Nanti gue akan hubungin lo kalo gue udah siap. Maafin gue, Sya."


'ARI!'


Aku memutuskan panggilan dan menonaktifkan handphone.


Lemah. Bodoh. Pengecut. Itulah aku. Aku tau Arsya kesal karena aku sesuka hati begini. Tapi ini setidaknya lebih baik. Aku.. merasa lebih lega karena Arsya tahu bagaimana perasaanku. Walau ada setitik kecil harapan bahwa Arsya juga punya perasaan padaku...


...**...


...PoV Arsya Alexander Loui...

__ADS_1


[Toko Buku, 17.03WIB]


"Sialan. Dimatikan!" Aku menatap ponsel dengan kesal. Lalu mengabaikannya dan kembali menatap jajaran novel best seller yang ada di rak. Ku ambil dua sebagai pertimbangan.


"Siapa?" Tanya Danu. Datang mendekat dengan membawa beberapa komik.


"Ngga tau. Ditanyain diem aja." Jawabku.


"Fans lo banyak, sih." Tukasnya.


"Udah? Lama banget." Celoteh Zaki pula yang baru datang mendekat. Dia menggaruk-garuk kepala karena tak suka toko buku. Baginya, 5 menit sudah seperti berjam-jam lamanya.


Zaki memperhatikan aku yang memilih dan menimbang dua buah novel di tangan.


"Beli aja dua-dua. Pasti suka dia, tuh." Kata Zaki tanpa dimintai saran.


"Iya. Beli dua juga bukannya mahal buat lo." Sambung Danu. "Lagian lo rajin banget beliin Ari novel. Gue curiga lo ada apa-apa bedua."


Aku mengabaikannya. Ini bukan kali pertama Zaki maupun Danu curiga. Yah, emang persahabatan gue dan Ariva kaya gini. Orang-orang pasti salah artiin.


"Oke gue beli dua-dua." Jawabku sambil berjalan menuju kasir.


Setelah sampai di kamar, aku meletakkan tas di atas tempat tidur dan langsung mendekati jendela.


"Ri."


"Iya?" Dia yang tadinya berselonjor di ranjang pun mendekat ke jendela.


"Nih." Aku menyerahkan dua buah novel yang tadi ku belikan untuknya.


"Wess. Makasiihhh." Dia tersenyum sampai matanya tertutup sempurna. "Ntar duitnya gue ganti."


"Ga perlu. Gue ga butuh duit lo." Kataku sambil merogoh ponsel di saku. Pesan baru dari nomor yang tadi meneleponku di toko buku. Siapa ini?


"Lo tuh, sombong keturunan siapa, sih? Perasaan bunda dan papa nggak kaya lo!" Sungut Ari kesal.


Drrt.


[Hai. Arsya, ya? Ini Vita anggota cheers. Sorry tadi telfon tapi ga berani ngomong. Hehe. Salam kenal😉]


Ooh. Vita yang jadi incaran banyak orang itu, ya.


"Syaaaa! Lo dengerin gue nggak, sihhhh?"


"Ya, ya. Denger. Udah lo sana mandi!"


"Heyy Gue udah mandi, ya! Emangnya eloo..!"


Aku terlalu fokus pada layar Hp sampai Ari pun kuabaikan. Terdengar pula dengusan kesalnya dari seberang jendela. Ngambek dia, tuh. Biarin aja, paling nanti baek sendiri trus minjem bukuku lagi.


Vita. Kok bisa ngubungin?


Hehe biasalah. Pesona Arsya.

__ADS_1


Aku melemparkan ponsel ke atas ranjang. Biarin aja dulu. Balasnya nanti. Aku mau mandi, yuhuu~



__ADS_2