
Ari mendorong tubuh Arsya. "Gue tau lo permainin gue karena lo udah tau gimana perasaan gue ke lo. Jadi stop permainin gue dan keluar!"
BRAK! Pintu tertutup.
Ari menahan napasnya, tubuhnya tak bisa bergerak saat Arsya mengungkungnya diantara kedua tangan yang semakin membuat Ari terhimpit ke tembok. Gadis itu memiringkan wajah saat deru napas hangat Arsya begitu terasa di wajahnya.
"Bukannya lo yang permainin gue, hm?"
Mata Ari membulat mendengar itu. Mempermainkan apa? Kenapa Arsya membalikkan kata-katanya?
Bola mata bening milik Ari membuat Arsya sejenak kehilangan kata-kata yang akan keluar dari bibirnya. Jika dilihat sedekat ini, Ari sangat menawan hatinya.
"Gue ga pernah mainin lo!"
"Trus apa maksud lo pergi diam-diam tanpa sepengetahuan gue?"
Ari mendengkus. Pertanyaan itu seperti menjebak. Padahal dia sudah menjelaskan waktu di telepon kemarin, apa penyebabnya lari ke Rusia. Apa Arsya sengaja? Memancing supaya Ari mengungkapkan perasaannya secara langsung?
"Jawab, Ri!" Desak Arsya, saat Ari hanya diam dengan pikirannya sendiri.
Bibir gadis itu bergerak. Ingin mengatakan sesuatu, namun suara ketukan membuat keduanya menoleh pada daun pintu.
Tok..tok..
"Ari, ajak Arsya jalan-jalan. Supir udah nunggu diluar."
"A-" Arsya membekap mulut Ari yang hendak menjawab. Lelaki itu memberi kode telunjuk yang ia tempelkan di bibirnya, sebagai kode untuk diam.
"Apa udah tidur, ya." Terdengar suara Tama dari luar.
Ari terpaku melihat wajah Arsya. Bulu halus mulai tumbuh di rahangnya. Halus sekali, warna rambut yang mirip dengan warna kulitnya. Lalu ada jerawat kecil yang tumbuh di atas alisnya. Hidung bangir, bola mata cokelat mirip bunda. Juga bibir merah yang belum pernah tersentuh rokok, juga...
Ari langsung mengalihkan pandangan saat Arsya menatapnya, lalu melepaskan tangannya dari mulut Ari. Mereka saling diam beberapa saat, sampai akhirnya memutuskan saling cerita.
Keduanya duduk dengan kaki menekuk bersandar daun pintu. Pandangan keduanya lurus ke depan, dan setelah lama berdiam, Arsya mulai bicara.
"Seharusnya lo kasih tau gue, kalau lo mau ikut bokap lo kesini. Supaya gue ga ngerasa lo ninggalin gue gitu aja. Padahal gue berusaha banget buat lo supaya tetap tinggal disana."
Ari menunduk, memeluk lutut lebih kencang. Ada rasa bersalah di hatinya. Terlebih mendengar bahwa bahu Arsya cedera.
"Maaf.." desisnya. Lalu Ari menoleh. "Katanya, bahu lo sakit. Yang mana?"
"Aakkk"
Ari refleks mengangkat tangan saat Arsya menjerit. Padahal dia baru menyentuh ujung bahunya.
"So-sorry, Sya. Beneran sakit? Sakit banget?" Tanya Ari panik.
"Becanda."
"Serius dong, Sya." Wajah Ari memelas, membuat Arsya gemas.
Arsya lalu membuka kancing kemejanya. Membuat mata Ari berkedip beberapa kali dengan aksi yang dianggap aneh itu. Kemudian lelaki itu memperlihatkan gips di bahunya pada Ari.
__ADS_1
"I'm okay." Ucap lelaki itu ketika melihat genangan air di mata Ari. Gadis itu semakin merasa bersalah.
"Maafin gue, Sya. Semua karena gue. Kalau bukan karena gue, lo ga bakalan kaya gini."
"Bukan salah lo." Arsya mengancingkan lagi kemejanya. "Ini emang pertengkaran gue dan Juna. Gue yang datangin dia dan ngehajar dia waktu dia ngelukai lo malam itu." Arsya teringat isak tangis Ari saat malam dimana ia berulang tahun. Isakan yang belum pernah Arsya dengar dari gadis seceria Ari.
"Waktu itu, gue ikutan patah karena tangisan lo. Jadi gue mukulin Juna. Dan dia balas dendam di pesta bisnis malam itu."
Penjelasan Arsya membuat Ari tertegun. Kata 'patah' yang diucapkan Arsya terus terngiang di telinganya. Walau demikian, Ari tak ingin salah paham dan membuatnya dalam kebingungan lagi. Untuk sekarang, biarlah berjalan seperti biasa.
"Tapi ini ga begitu sakit, sih." Ucapnya sambil menunjuk bahu. "Justru yang lebih sakit bagi gue adalah kepergian lo."
Ari menunduk, memainkan jari-jarinya karena merasa bersalah.
"Sebenarnya, sejak malam itu, gue malu ketemu sama lo, Sya." Ungkap Ari pula. "Lo udah bilang berkali-kali kalau Juna bukan cowok yang baik. Tapi gue ga percaya dan malah marah sama lo. Padahal seharusnya gue percaya sama lo."
Melihat itu Arsya tersenyum. "Yang penting lo udah lepas dari cowok itu. Dan.. dia juga udah dikeluarkan dari sekolah."
"Apa? Kak Juna dikeluarkan? Kenapa?"
Arsya menghela napas mendengar deretan pertanyaan itu. "Kenapa? Masih sukak?"
"Enggak. Aku cuma penasaran, apa yang buat kak Juna dikeluarkan?"
"Papa ngelapor ke polisi soal pemukulan malam itu. Juna dan dua temannya ditangkap. Berita ini sampai ke sekolah dan pihak sekolah mengeluarkan Juna. Yah, karena orang tuanya memohon, akhirnya Juna ga jadi dipenjara, deh."
Melihat mata yang tak berkedip itu membuat Arsya melanjutkan kalimat yang mungkin akan menambah keterkejutan Ari.
"Hani, Vita, mereka juga keluar. Sekolah jadi hampa."
Arsya menoleh, lalu mendekatkan wajahnya, "Karena lo pergi."
Ari yang jantungnya tengah berdebar itu pun menjauhkan tubuh Arsya dengan mendorong dadanya. Lelaki itu malah tertawa kecil.
"Seharusnya lo bilang ke gue, kalau sejak awal Hani yang ngerjain gue. Gue ga tau kalau lo kasih Hani peringatan karena udah buat gue malu." Kata Ari, teringat dengan cerita Salma.
"Hm. Lo bener. Seharusnya gue bilang ke lo, supaya lo tau kalau orang yang selalu ada buat lo itu gue. Bukan Juna. Supaya lo sadar, kalau orang yang ngelindungi lo itu gue. Bukan Juna."
Ari tahu dan sadar dengan semua yang Arsya ucapkan. Dia bahkan merasa sangat bersalah setelah semua yang terjadi. Pengorbanan Arsya, dia sangat berterima kasih soal itu.
Tapi ada satu yang menyangkut di pikirannya.
"Thanks ya, Sya. Gue ngerasa banyak ngerepotin lo." Ucap gadis itu. "Tapi..." Ari memberanikan diri menoleh ke samping, dimana Arsya tengah duduk dan menatapnya.
"Boleh gue tau, kenapa lo sampe ngelakuin ini ke gue?" Tanya bola mata jernih yang penuh keingintahuan itu.
'Karena gue jatuh cinta sama lo.'
Ingin dia mengatakan itu, tapi Arsya belum mau Ari tahu.
"Kira-kira kalo gue kaya lo, lo bakalan nolongin gue, ngga?" Tanya Arsya balik, ingin Ari juga bisa merasakan gambaran perasaannya.
Ari mengangguk. "Kalo ada yang mau celakain lo, gue bakalan bantu lo."
__ADS_1
"Kenapa?" Kini giliran Arsya yang bertanya. Padahal, pertanyaan ini sama dengan apa yang Ari tanyakan.
Ari menahan lidahnya yang ingin mengatakan apa yang ia rasakan. Dia melihat anggukan kecil dari Arsya, yang kemudian menjawabnya.
"Ya. Karena gue sayang sama lo. Dan begitu juga sebaliknya."
Ari bungkam. Ada ledakan di dalam dada begitu mendengar kalimat Arsya. Walau dia tahu, sayang yang diucapkan Arsya dan apa yang ada di dalam hatinya adalah dua perasaan yang berbeda.
"Gue akan ngelakuin apapun selama itu ngelindungin lo. Kita besar sama-sama, Ri. Bagi gue, lo lebih dari sekedar sahabat."
'Lo ibarat nadi yang udah menyatu dalam tubuh gue. Selama lo pergi, lo ga tau segila apa gue.'
Ari memalingkan wajah. Dia menangkap sesuatu dari kalimat itu, bahwa Arsya hanya ingin meluruskan status mereka berdua. Selamanya Arsya akan menganggapnya saudara. Tidak lebih.
Kini Ari tahu jawabannya. Dia pun takkan mempermasalahkan itu. Ini lebih baik dan jelas dari sebelumnya, dimana ia lelah dengan tebak-tebakannya sendiri.
"Sakit yang gue alami belakangan ga ada apa-apanya dibanding kepergian lo." Sambung Arsya lagi. "Lo ngerti perasaan gue, kan?"
Ari menghela napas perlahan. Dia ingin katakan bahwa dia mengerti betul apa yang terjadi saat ini.
"I'm so sorry." Ucap Ari pelan. "Gue akan balas budi."
"Balas budi?" Ulang Arsya, dan gadis itu mengangguk.
"Gue ngerasa bersalah atas semua yang terjadi. Makanya, sekarang lo bilang aja, lo mau apa. Nanti gue kabulin sebisa gue." Janji Ari dengan yakin. Masalah perasaan udah beres, pikirnya. Tinggal bagaimana dia bisa sedikit lebih lapang ketika bersama Arsya.
Mendengar itu, sudut bibir Arsya naik sebelah. "Lo yakin sama ucapan lo itu?"
"Yakinlah."
Memang tak ada keraguan. Ari mulai memperlihatkan wajah cerianya.
"Oke. Lo yang nawarin, ya. Jangan salahin gue."
"Kata papa lo cuma 3 hari disini, kan? Berarti, lusa lo udah balik? Oke, selama lo disini, gue akan bawa lo keliling tempat yang gue udah pernah datengin. Gimana?"
Arsya menyandarkan kepalanya ke belakang, lalu menoleh pada Ari. "Ternyata lo beneran bakal tinggal disini, ya. Gue pikir lo bakalan ikut gue balik."
Ari tersenyum. 'Kalo gue balik, gue ga akan bisa move On!'
"Yaaah. Oke, deh." Dengan helaan napas, Arsya berdiri. "Besok pagi, kita pergi ke tempat yang bokap lo udah jadwalin buat kita."
Ari ikut berdiri. "Oke.."
Arsya keluar dari kamar. Dia berdiri diluar pintu dan tersenyum menatap Ari cukup lama, membuat gadis yang hanya menyembulkan kepala dari balik pintu menatap heran.
"Apa, sih?"
Arsya menggelengkan kepala. "Nggak. Ngga ada apapa. Oke deh, good night!" Ucapnya sambil mengacak rambut Ari yang menangkis tangannya sambil tertawa.
Ari menatap kepergian Arsya dengan senyum memudar, mengingat ucapan Arsya yang secara tidak langsung menolak dirinya.
Berbeda dengan Ari, Arsya berjalan dengan penuh semangat. 'Besok lo milik gue, Ri.' Tukasnya dengan yakinnya.
__ADS_1
**
Hayyukk jam berapa lagi kita up? Komen dan Vote ajaa