HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Hari-Hari Berat 82


__ADS_3

Mata kami bertemu beberapa detik, lalu dengan cepat Ari mengalihkan pandangan ke arah lain. Dia.. masih marah. Padahal aku berharap Ari memberiku 'sinyal' agar kabur dari sini.


Perbincangan kecil terjadi disana. Tapi aku tak bisa memfokuskan telinga saat mataku telah terkunci pada Ari yang tiba-tiba bisa sememikat ini.


"Eem.. Va, kayanya lo perlu ngelepas mantel lo dulu, deh. Pasti ngga nyaman kan, dipakai terus. Kasih aja sama pelayan, biar disimpankan."


Ari diam sebentar, seperti menyidik sesuatu. Beberapa detik setelahnya, ia melepas mantel panjang itu dan memberikannya pada si pelayan. Tak lupa mengibas rambut yang sejak tadi terperangkap di dalam mantel.


Aku mengulum senyum. Ari berbeda. Balutan gaun putih halus itu sangat cantik di tubuhnya. Belum pernah aku melihat Ari seperti ini. Percaya dirinya membuat dia bersinar. Cantik sekali.


"Benar juga. Gerah." Ucapnya kemudian.


"B-bukannya gaun itu keliatan lebih mewah dari pemilik pesta? Itu ga sopan, tau. Lo mau keliatan lebih cantik dari tuan rumah??" Tukas seseorang di belakangku.


Aku meraih segelas minuman saat pelayan membawakan di dalam nampan. Memperhatikan Ari dari atas sampai bawah. Wah, perfect.


"Oh, ya?" Ari memandang tubuhnya dari bawah. "Aku pikir malah dressku ini ga ada apa-apanya dibanding milik Vita. Ternyata..." wajah Ari berubah sendu. "Sorry ya, Vit."


Vita, tanpa sadar meremas kuat lenganku. Ku lihat wajahnya sudah merah padam.


Hah. Lagian kenapa sih, sampe kaya gitu cuma karena cemburu. Berapa kali aku bilang, aku dan Ari ga ada hubungan apa-apa selain teman. Malah ga percaya.


"Kita cari tempat dulu, yuk." Kai, laki-laki itu menggandeng tangan Ari dan melangkah menjauh dari kami.


Hah. Ari. Rasanya nyesal kenapa dulu aku turutin keinginanmu untuk pura-pura ga kenal di sekolah. Aku jadi ga bisa berbuat apa-apa saat keinginanku untuk menculikmu begitu besar.


"Vit, kayaknya udah bisa dimulai, deh." Ujar seseorang pada Vita. Dia mengangguk dan mengambil gelas untuk ia dentingkan bersama sendok.


TING TING TING


Acara dimulai. Vita mendentingkan gelas hingga semua pandangan kini tertuju padanya.


"Hai, everyone. Thank you so much udah dateng ke acara kecil yang gue adain. Emm, gue ga akan banyak-banyak kasih kata sambutan. Yang jelas, gue seneng banget kalian mau ngeluangin waktu buat gue. Dan for the first time acara ini bakalan diisi seorang yang spesial bagi gue, buat nyanyi di hadapan kita semua."


Orang spesial? Siapa?


"Dan, dia adalah Arsya Alexander!"


Suara tepuk tangan membuatku menghela napas, tak suka dengan cara Vita. Dia ga bilang apa-apa soal ini. Kenapa bisa sesuka hati begitu?


"Pada tau nggak, Arsya ini anak dari mantan penyanyi senior Arga Alexander yang lagunya masih didengarkan anak muda zaman sekarang, lho."


Vita. Tahukah kalau aku ga suka nyanyi di depan orang banyak?


Tapi sial, dalam situasi ini aku benar-benar ga bisa mengelak. Terlebih orang-orang menyorakiku.


"Arsya-Arsya-Arsya-Arsya." Sorak mereka ramai-ramai.

__ADS_1


Aku mengalah. Mengambil gitar dan duduk di tempat yang telah disediakan. Kenapa aku ga tarik Ari dan kabur dari sini sejak tadi? Lagi-lagi aku mengumpat kebodohanku sendiri.


Aku menarik napas perlahan, lalu memejamkan mata. Lagu yang akan kubawa adalah ciptaan papa yang ia tuliskan untuk mama. Dan malam ini, aku menyanyikannya untuk perempuan bergaun putih yang sangat cantik.. berdiri di ujung sana.


🎶Selama ini aku tenggelam seperti batu


Kucoba menutup mata dan telinga di singgasanaku


Aku kehilangan jalan pulang, tapi justru kau datang🎶


Aku ga bisa melepaskan pandangan ke arah lain saat gadis disana juga menatapku tanpa kedip.


🎶Bisakah mata ini terus bertatap untuk waktu yang lama.


Bisakah setiap hari kita berpegangan tangan.


Bisakah aku tetap memilikimu walau dunia ini menentang kita.🎶


Maaf telah nyakitin perasaanmu, Ri. Aku memang jahat, pengecut, nggak berani menghadapi apa yang ada di depanku.


Tahu kenapa? Karena aku ga mau kehilanganmu...


🎶Karena aku ingin tetap disampingmu, walau dunia ini bergetar sekalipun, aku akan baik-baik saja asal bersamamu.


Kenapa kau tidak tinggal disini (hatiku) saja? Kenapa kau tidak tinggal disini (hatiku) saja?🎶


Tepuk tangan terdengar sangat meriah saat aku menghentikan petikan gitar. Rasanya aku ingin menarik Ari dalam pelukan, saat dia terus menatapku seperti itu. Apa maknanya, Ri? Tatapanmu yang ini, aku ga tau artinya.


"Thank you, Syaa. Lagunya keren bangett."


Memang. Lagu terkeren yang pernah kudengarkan. Dan sekarang, lagu itu milik Ari...


Senyumku memudar saat melihat siapa yang berdiri di belakang Ari. Gadis itu membalikkan badan dan tampak kaget melihat lelaki itu.


"Ariva."


Juna berlutut.


"Vaa." Juna mengeluarkan sebucket bunga yang ia sembunyikan di belakang tubuhnya.


"I'm so sorry."


Apa ini? Kenapa Juna melakukan ini?


"Aku tau, aku salah. Aku jahat udah boongin kamu. Dan aku bener-bener nyesel, Va. Aku bodoh kenapa ga dari awal nyelesain yang pertama, dan malah buat kamu mikir kalo aku ga sesayang itu sama kamu. Kamu salah. Sampe detik ini aku berharap kamu mau nerima aku lagi."


Suasana disana mendadak hening, dan mendengarkan kalimat yang keluar dari mulut si Juna brengsek.

__ADS_1


"Maafin aku, Va. Please, give me a second chance. Sekali lagi, kasih aku kesempatan, Va. Aku janji ga bakal kecewain kamu lagi."


Vita bertepuk tangan riang. "Uuh. So sweet.." bisiknya padaku yang entah kenapa menjadi sangat panas.


Brengsek. Kampungan banget cara lo, norak!


"Kamu pernah bilang kan, kalo kamu sayang sama aku. Dan kamu percaya kalo aku beneran sayang sama kamu."


Norak lo! Ari ga mungkin terima lo kayak gitu. Stupid!


Aku berteriak memaki dalam hati dengan tangan terkepal. Rasanya pengen kesana buat tarik Ari pergi.


Arghh siaall! Kok gue bisa gak tau Ari putus sama Juna brengsekkk?? Kalo gue tau gue bakalan ngejar Arii!! Gue pikir selama ini Ari masih sama Juna. Ck!


"Terima, terima, terima."


Dukungan orang-orang terdengar pula. Membuatku semakin geram. Pada norak semua!


Aku mulai mengembangkan senyum saat Ari hanya diam. Udah gue bilang, dia ga bakalan terima.


"Yeaayyy.." sorak sorai bergemuruh saat Ari mengangguk mengiyakan. Membuatku spontan tertombak dan mematung dengan perasaan kacau luar biasa.


Ari, aku pikir dia bakal menolak setelah apa yang terjadi belakangan.


Secinta itu lo ke Juna, sampai kesalahannya pun lo bisa menutupinya.


Begitu, ya. Jadi, harapanku memang sama sekali ga ada.


Vita melihat kearahku saat aku menghela napas.


"Lucu ya, mereka."


Lucu dari hongkong!


~


Melihat Ari dan Juna di pinggir kolam membuatku panas. Baru jadian lagi, dan mesraan di depan banyak orang. Semenjak sama Juna, selera Ari jadi turun drastis, ya!


"Emm.. Sya. Aku boleh minta tolong, yaa.." Vita menggenggam tanganku. Suasana hatiku sangat buruk. Aku mau cabut dari sini.


"Please. Aku tadi ada ngeletakin Hp di lantai dua, dekat balkon. Aku khawatir papa mama telepon. Bisa nggak, kamu ambilin Hp aku. Please .."


Aku mengangguk. Bukan karena mau disuruh Vita. Tapi karena mataku lelah melihat dua orang aneh yang berdiri tak jauh dariku.


Aku menaiki tangga. Pikiranku melayang kemana-mana. Haduh, hancur gini perasaanku. Kayak belum memulai tapi roboh dan gak dikasih harapan buat memulai. Gimana, ya. Ah, entahlah.


Aku menuju balkon ketika sesaat merasa dibawah terlalu berisik. Ada apa?

__ADS_1


Aku berdiri di balkon dan spontan berlari turun saat kulihat Ari terjebur ke dalam kolam.


DAMN! HANI, LO EMANG CARI MATI!


__ADS_2