
Aku bisa dengar helaan napas Arsya. Dia menatapku sebegitunya, sampai aku hanya bisa mengalihkan wajah.
"Oke. Mari selesaikan sekarang." Kata Arsya dengan berkacak pinggang.
Apa maksudnya. Aku ga mau ngomong sama dia. Aku berniat kabur tapi Arsya segera menarik tanganku.
"Hei, hei."
Aku melepaskan tangan dengan cepat sampai Arsya lagi-lagi mengerutkan dahi, tak mengerti dengan sikapku.
"Lo kenapa? Gue ada salah apa?"
Salah lo banyak. Tapi sialnya cuma gue yang ngerasain.
"Gak ada."
Tak mau berdebat, aku kembali melangkah namun Arsya lagi-lagi menahan lenganku.
"Ga ada, tapi sikap lo ke gue kayak gue ngelakuin kesalahan besar."
Ck. Nyebelin banget. Aku melepaskan lagi tangan Arsya yang memegang lenganku.
"Gue cuma NGGAK mau ngerepotin lo."
"Gue gak ngerasa lo repotin."
"Oh, ya??" Aku sampai tertawa mendengarnya. Beda banget ucapan depan dan belakang ya, Sya. Haha.
"Lo kenapa, sih?" Tanya Arsya mulai jengkel. "Kalo emang gue ada salah, bilang. Jangan diem aja. Mana gue tau gue punya salah. Aneh."
Hah. Aku menatap nyalang. Aneh, katanya?
Aku mendekat pada Arsya dan mendongak. "Intinya, mulai sekarang gue ga akan ganggu lo lagi. Gue yang dikit-dikit minta anter, minta bantuan ini itu, ga akan ngerepotin lo. Pegang ucapan gue, ya. GUE NGGAK AKAN LAGI MINTA BANTUAN LO!" Aku mengucapkan itu penuh dengan tekanan dan amarah.
Arsya sampai kaget mendengarnya. Mungkin dia sadar sama apa yang terjadi belakangan.
"Ri, lo salah paham."
"Salah paham? Oke." Jawabku santai. Bisa-bisanya bilang salah paham. Jelas aku denger semua pembicaraan waktu itu.
"Bukan gitu maksud gue. Waktu itu gue cuma..."
Aku menunggu kalimat selanjutnya. Tapi setelah beberapa detik, Arsya tidak melanjutkannya. Cuma apa?
"Cuma kelepasan karena ga tau kalo ada gue disana? Trus kalo gue ada, lo bakalan ngomong apa?" Aku menyambung kalimat yang ia tak bisa sambung. Cuma apa, Sya? Aku kecewa banget.
"Tapi maksud gue ga kaya gitu, Ri!"
Aku tanpa sadar meneteskan air mata. "13 taun, Sya. Selama itu gue dan lo sama-sama. Sampe kamar kita saling gak kekunci karena saking akrabnya kita dan selama itu juga lo ngerasa gue nyusahin lo?"
Arsya bergeming. Bola matanya melebar melihat aku yang berbicara sambil gemetar.
Aku menghapus air mata, berusaha bernapas dengan tenang supaya air mataku berhenti.
"Sorry kalo selama ini gue buang waktu lo. Gue ga tau, gue kira lo ke gue emang karena saling butuh. Ternyara cuma gue yang butuh. Selama ini pasti lo kerepotan banget."
"Lo gak pernah ngerepotin. Waktu itu gue cuma lagi capek. Jadi gue asal bicara. Lagian lo seharusnya ngerti. Masa lo ga paham kalo gue ngomong gitu supaya cepat kelar."
"Lo nyalahin gue?" Loh, kok kesannya kayak aku yang salah dan gak ngertiin dia.
"Enggak gitu." Arsya menggaruk kepalanya. "Ri, gue sebenarnya lagi capek banget. Belakangan aktifitas gue berubah 180°, dan itu buat gue pusing. Jadi, gue minta kita baikan aja supaya bunda dan yang lain juga ga curiga. Ya?"
Gitu, ya? Karena itu? Kok lo nyebelin banget sih, Sya.
__ADS_1
"Gue liat lo happy-happy aja bareng Vita. Kok ngeluh sama gue capek." Aku tersenyum sinis. Bisa-bisanya ngomong gitu saat aku tahu gimana selama ini dia bareng Vita dan yang lain.
"..kalo Vita yang minta, lo ga ngerasa direpotin, ya. Tapi kalo gue, lo langsung ngeluh. Minta gue baikan supaya bunda ga marah karena lo bertengkar sama gue?"
"Ri, stop."
"Oke." Jawabku cepat. Aku menghirup oksigen dalam-dalam, lalu berujar pada Arsya. "Kedepannya, gue minta lo bisa lebih jujur ke gue kalo emang gue ngerusuhin lo. Satu lagi.." Lagi, aku menarik napas dang menghirupnya perlahan. "Ga usah terlalu sok peduli. Ga perlu, dan jangan perhatian dalam bentuk apapun ke gue. Ngerti?"
Setelah mengatakan itu, aku berjalan keluar dapur. Entah apa yang terjadi sampai aku mengucapkan kata-kata itu. I know, aku tahu aku lagi emosi. Kalimat itu keluar di saat pikiranku juga lagi kacau.
"Ri. Come on. I know you understand me well. Lo yang paling ngerti gue, Ri."
Ga tau, Sya. Gue ga paham sekarang sama sikap lo ini.
Arsya mengekoriku. Mencoba membujukku dan membuatku paham tentang sutuasinya yang aku lihat sebenarnya gak sesulit yang dia ucapkan. Mau ngelak dari ucapannya yang kemarin, kah?
"Itu dia, Ari."
Langkahku terhenti saat melihat siapa orang baru yang duduk di dekat oma.
"Dicariin sama Vita. Kalian lama banget ke belakangnya." Sambung Bunda lagi.
Aku mematung, sementara Vita diam melihat kami berdua. Bisa kurasakan keterkejutannya. Beberapa detik kemudian dia tersenyum.
"Emm. Vita datang kesini karena undangan Arsya. Ga apa-apa kan, oma, tante?" Tanya Vita tanpa mengalihkan pandangan padaku.
Undangan? Sial.
"Ofcourse not. Oma seneng kalau pacar Arsya datang." Jawab Oma dengan riang, sementara Vita menunjukkan senyum penuh kemenangan kearahku.
Aku melihat ke samping, mencoba mempertanyakan ini. Kenapa Arsya ga bilang kalau dia ngundang Vita datang kesini. Padahal dia tau aku paling ga suka situasi kaya gini. Kalau aku tahu, aku ga akan keluar dari kamar.
"Oh, ya. Yang disebelah ini panti asuhan milik siapa, oma?" Tanya Vita lagi.
"Milik kita bersama, sayang. Mama Arsya yang ngelola." Sahut oma Julia, membuat Vita manggut-manggut.
"Ari?" Senyum Vita terlihat aneh bagiku. Perasaanku mengatakan, dia ga suka sama aku.
"Gue pikir Ari siapa. Rupanya Ariari itu elo, Ariva." ucapnya dengan suara kecil saat yang lain tengah sibuk melanjutkan obrolan.
Bisa nggak, ga usah ngomong ke aku sekarang. Aku lagi ga mau berbasa-basi apalagi sama kamu!
"Wah. Ini sih, mengejutkan. Di sekolah kalian ga keliatan saling kenal. Ternyata.." Vita sampai memiringkan kepalanya sembari memainkan rambut.
"Kita cuma teman. Jadi ga perlu sampe kaget gitu." Ucapku mencoba tenang.
"Ya, yang nganggep kalian ada hubungan spesial tuh, siapa? Emang gue nganggepnya lo dan Arsya temenan. Lebih ke..." dia tampak berpikir. "Pemilik dan anak pantinya?"
"Vit." Tegur Arsya dengan suara yang cukup tenang.
"Uh, Sorry." Vita menutup mulutnya yang kurasa tengah menyembunyikan senyum.
Vita menggenggam kedua tanganku. "Sorry, Va. Gue ga bermaksud apa-apa. Sorry banget, please jangan marah ke gue."
Aku mengangguk lalu menarik tanganku dari genggaman tangannya yang terasa panas.
"Jangan berdiri disini. Ayo duduk disana." Ajak Arsya pada kami.
"Kalian aja. Masih ada yang perlu gue kerjakan." Tolakku dengan halus.
"Di dapur?" Tanya Vita dengan mata membulat. Tapi kenapa aku menganggapnya seperti hinaan.
Arsya berdiri di depanku, lalu memegang kedua bahu Vita. "Kita kesana aja, ya." Arsya merangkul Vita untuk menjauh dan mereka duduk bergabung dengan yang lain.
__ADS_1
Aku mengepal tangan dan menekannya kuat sampai rasanya seluruh urat nadiku keluar. Aku berusaha menahan tangis saat ada rasa sesak yang mengumpul di dada. Terlebih saat ini, Vita, dia sungguh bisa bergabung di keluarga besar Arsya. Lihatlah, sekarang pembicaraan mengarah padanya. Tawa dan canda mereka terdengar dari tempatku berdiri. Ini.. kenapa terasa menyakitkan.
"Arsya baik banget, oma. Laki-laki kan, jarang banget mau nemenin belanja. Tapi Arsya sabar banget nemenin Vita waktu itu." Kata Vita memuji Arsya diselingi tawa.
"Oh, ya? Sama Oma ga mau, loh."
"Dia juga kemarin bisa benerin mobil Vita yang mogok. Malahan katanya sebenarnya ada acara penting di rumah temennya tapi mau Vita repotin, malam-malam lagi."
Pembicaraan itu membuatku kesal. Padaku, Arsya mengeluh. Tapi ke Vita, ah sudahlah. Memangnya aku siapa? Wajar dia begitu. Kan, Vita pacarnya.
Aku kembali ke dapur dan keluar dari pintu belakang menuju kamarku. Rasanya terlalu aneh kalau aku gabung disana. Aku cuma akan jadi patung yang mendengarkan semua celotehan Vita.
Baru masuk kamar, ponselku bergetar. Aku merogoh saku dan melihat nama yang tertera di layar.
Hajoon? Mau apa dia.
"Halo?"
'Va, lo dimana?'
"Rumah- maksud gue panti. Kenapa?"
'Gue di depan, nih.'
"Hah?" Aku buru-buru ke balkon dan mendapati sebuah mobil merah ada di seberang jalan.
Hajoon menurunkan kaca jendela dan melambaikan sebelah tangan, sementara sebelah lagi masih dengan ponsel yang menempel di telinga. 'Buruan siap-siap. Gue tunggu.'
"Siap-siap kemana? Emang kita ada janjian?" Seingatku ga ada obrolan mau pergi-pergi, deh.
'Udah, ikut kita aja. Ada Kai sama Karin nungguin.'
Aku berpikir sebentar sambil menimbang. Kulirik beberapa mobil terparkir di halaman rumah Arsya. Satu mobil yang tak kukenali, pasti milik Vita.
"Oke."
Aku menutup ponsel dan kembali ke kamar untuk bersiap.
Tak butuh waktu lama. Sepuluh menit, aku langsung turun dan masuk ke dalam mobil Hajoon.
"Yukk!"
Aku memasang seatbelt, namun pandangan Hajoon masih keluar, menatap jejeran mobil yang terparkir di halaman.
"Kenapa?" Tanyaku padanya.
Hajoon menggeleng, lalu menutup kaca mobil. "Nothing. Just like someone's car out there."
"Vita?"
Hajoon menoleh. "Emang iya?"
Aku mengangguk. Ya udahlah, jujur aja. Toh hubunganku dan Arsya udah diketahui Vita. Pasti akan nyebar juga.
"Iya. Di rumah Arsya."
Mata Hajoon membulat. "Really? Is that Arsya's house?"
Aku mengangguk, semakin membuat Hajoon menganga tak percaya saat ternyata tempatku tinggal dan rumah Arsya saling berdempetan.
TBC
Kasih Visual Hajoon dulu..
__ADS_1
~ Temen2 yg mau share cerita, nanya2 atau apapun bisa gabung di grup supporter yah❤️ makasih banyak..