HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Hari-Hari Berat 88


__ADS_3

Ari tertidur setelah aku mengusap-usap kepalanya. Dia juga tampak kelelahan menangis. Aku merasa kasihan dengan Ari yang sekarang. Aku tahu gimana sukanya dia pada Juna, sampai saat sakit pun menyempatkan diri menemui lelaki brengsek itu. Dan besok, aku benar-benar akan menghajar si brengsek Juna.


Dan malam itu, aku memilih tidur di kamar Ari, lantaran ia tak mengizinkanku pergi. Ari menahan tanganku, saat aku menariknya, dia memeluk lenganku lebih kuat sampai membuatku mengalah dan tidur disana untuk menemaninya.


~


Aku sebenarnya ga suka kekerasan. Terus terang aja, melihat mama selalu ngalah dengan alasan agar cepat kelar buat aku suka dengan cara itu. Lalu ngeliat papa yang cuek dengan persoalan orang lain membuatku menjaga batas dengan banyak orang sampai aku jarang sekali punya masalah dengan orang lain.


Sebenarnya, aku bisa aja ngalah ke Juna supaya cepat kelar. Tapi masalahnya, ini Ari. Cewek yang belakangan membuatku serakah soal apapun yang berkaitan dengannya.


Terlebih, lelaki brengsek ini berani membuat Ari menangis sampai seperti itu. Hal yang belum pernah kulihat sebelumnya.


Sepulang sekolah, aku mendapati lagi pesan dari Juna untuk menemuinya di belakang sekolah.


Juna dan beberapa temannya berdiri saat aku datang sambil menenteng helm mahal yang pecah dan tak lagi terpakai akibat perbuatannya. Helm ini sudah rusak, tapi aku ga mau terbuang dengan percuma.


"Gue pikir lo ga bakal dateng, karena lo pengecut." Juna dan yang lain tertawa mengejekku.


"Bukannya lo yang pengecut karena beraninya rame-rame?"


Juna langsung bungkam sebab kalimat yang membuatnya tertohok.


"Sini, maju lawan gue." Aku menantangnya.


Juna yang terlihat berang  langsung melempar tasnya dengan sembarang, "Jangan ada yang maju selain gue!" Juna termakan ucapanku.


Lalu ia berlari dengan persiapan tangan yang mengepal hendak menghantamku.


Aku menunggunya, sampai saat ia mendekat, dengan kuat aku langsung menghantamkan helm ke wajahnya.


Juna, terkapar di tempat. Hah. Kupikir dia hebat sampai menantangku begitu. Ternyata, ga butuh waktu lama untuk membuatnya tak berkutik seperti sekarang.


"Anjing!"


"Diem lo semua!" Seruanku membuat teman-teman Juna yang hendak menghajarku pun berhenti.


Hidung dan bibir Juna mengeluarkan banyak darah sampai dia berguling kesana kemari menahan perihnya.


Itu akibat karena lo udah berani mencium Ari dengan mulut kotor lo itu!


Sebenarnya aku belum begitu puas. Tapi kalau kulakukan lebih dari ini, bisa bahaya.


"Jangan ganggu Ari. Cowok brengsek kek lo ga cocok ada di dekat dia. Ngerti lo?"


Setelah mengatakan itu, aku langsung pergi meninggalkan Juna yang langsung dikerumunin teman-temannya.


"Arivaa. Telpon Ariva cepat!" Titah Juna dengan suara merintih.


Telpon Ariva? Setelah apa yang lo lakukan tadi malam, telepon Ariva?


Biarkan saja. Aku yakin Ari ga akan mau lagi bertemu dengannya.


...🍭...


Aku pulang dengan taksi, karena motorku harus masuk bengkel cukup lama melihat bagaimana corat-coret itu membuatnya jadi sangat buruk.


"Sya.."


Aku menyalami mama, lalu duduk di meja makan.


"Tadi Vita kesini."


Apa?


"Trus dia ke kamar kamu.."


"Loh, ngapain ma?"


"Mama juga ga tau, sayang. Tapi mama juga ikut masuk setelah dia naik. Kayaknya dia sempat ngobrol sama Ari dari jendela. Trus gak lama, dia pulang." Jelas mama, lalu meletakkan segelas air di depanku.


"Mama liat dia kayak sedih gitu. Trus dia peluk mama, katanya sayang sama kamu."


Apa-apaan si Vita. Creepy banget.


"Sya, kalian.. ada masalah, ya?"


"Vita nge-bully Ari di sekolah, ma. Banyak kelakuannya yang buat Arsya ga suka dan buat Ari dipermalukan."


Mama syok mendengarnya, sampai memegang dada. "Yang bener, Sya? trus Ari gimana..."


"Ya.. gitu. Makanya, Arsya ga suka. Dia posesif dan pengatur. Arsya pusing kalo dekat dia."


Mama sampai menghela napas. Yah, pada akhirnya semua jadi kacau, kan.


"Kamu ikut papa, kan, malam nanti?"

__ADS_1


Aku menyandar di kursi. "Engga, ma."


"Ari ikut, lho."


Aku menaikkan alis. "Ari?"


"Iya. Dia pergi sama papanya. Katanya, papa Ari ingin mengenalkan anaknya kepada teman-temannya. Ari mau karena hubungan mereka membaik. Lagian besok papanya Ari udah balik ke Rusia."


"Ari ga ikut, kan?" Tanyaku penasaran.


"Enggak."


Ah, syukurlah. "Oke. Kalau gitu Arsya ikut papa, deh."


...🍭...


Kali pertama aku ikut papa ke acara bisnis begini. Bukan cuma papa, aku juga kaget dengan diriku sendiri kenapa sampe bisa memijakkan kaki di tempat seperti ini.


Tapi yah, kalo bukan karena Ari, aku ga akan pergi. Aku tau disini ada Juna dan juga Vita. Jangan sampe mereka melakukan apa-apa pada gadis itu.


Aku berdiri memojok di sudut ruang, memperhatikan Ari yang tengah berbincang dengan Vita dan papanya. Dia tampak begitu berbeda, terlebih pandangan yang terus menusuk Vita, sampai perempuan itu menunduk malu.


Aku tersenyum. Ternyata Ari menyusun rencana tanpa aku ketahui. Aku juga baru dengar dari papa, kalau papanya Ari punya level tinggi di bagian bisnis ini makanya banyak yang mendekati. Dengan begitu, maka posisi Vita pun bisa ia kendalikan.


Beberapa orang teman silih berganti datang dan pergi setelah mengajakku mengobrol, mempertanyakan aku yang baru muncul setelah sekian banyak acara yang diadakan. Tentu, aku hadir karena ada orang yang ingin kulindungi.


'Para hadirin, sebelum kita mulakan acara inti, kita akan memasuki acara pembukaan terlebih dahulu.'


Suara moderator membuat beberapa orang tampak girang. Lalu membawa pasangan mereka ke lantai dansa, seperti yang papa udah bilang ke aku soal acara ini.


Ari.. dia menatapku dari sana. Wajahnya tampak bingung. Aku yakin dia kaget karena aku mau datang ke acara seperti ini.


Dansa, ya. Apa aku ajak aja dia berdansa?


Saat ingin melangkah, seseorang memanggilku.


"Hei, Arsya. Lama ga ketemu."


Ah.. siapa ini. Aku ga kenal. Tapi dia tampak familiar.


"Lupa, ya? Dulu kita pernah main sama, tau. Gue Isham."


Oh. Iya, ingat. Tapi waktunya ga tepat karena aku ingin mengajak Ari ke lantai dansa.


Lelaki ini terus berbicara bagaimana ia dan aku dulu pernah bertemu. Sementara mataku terus menatap Ari yang juga melihatiku. Aku merasa dari tatapan itu ada harapan untuk semakin mendekatkan diri pada Ari. Memperbaiki semuanya.


Tak lama berselang, kembali kulihat Ari pergi menjauh dari kerumunan disana. Dia masuk ke lorong ujung, entah kemana.


"Sorry ya, Isham. Gue duluan dulu."


Tanpa menunggu waktu, aku memutuskan pembicaraan dengan Isham dan berlari kecil mengikuti Ari.


Kemana dia? Tadi kuyakin masuk kesini. Tapi terlalu banyak persimpangan ruang, sampai aku ga tau Ari kemana.


"Wah. Rejeki nomplok."


Aku berbalik dan mendapati seseorang berdiri di belakangku.


"Padahal kita lagi cari cara supaya lo bisa masuk perangkap. Ternyata, datang sendiri." Suara Juna. Aku berbalik lagi dan dia berdiri disana.


Detik berikutnya, punggungku dipukul oleh orang yang kubelakangi dengan balok kayu. Aku sempat menahan saat tubuhku hampir tumbang. Tapi entah siapa yang menendang keras tubuhku sampai aku masuk ke dalam salah satu ruangan yang ada disana.


Dua orang itu mengapit tanganku kiri dan kanan, sampai Juna berhasil menghajarku dan menghantam wajahku sampai aku tergeletak di lantai. Sial.


"Gara-gara lo, gue jadi beneran pisah sama Ariva."


Juna terlihat lebih mengerikan sekarang. Wajah yang selama ini ia tunjukkan bak malaikat nyatanya sekarang menjelma iblis. Bisa-bisanya Ari kejebak dengan laki-laki seperti ini.


Aku berusaha bangkit dan berdiri walau tidak bisa setegak tadi. Perut yang dihantam Juna terasa nyeri, juga denyut terasa di beberapa tempat di wajahku. Bahkan aku bisa merasakan darah masuk ke mulutku.


Aku mengawasi pergerakan ketiganya. Satu orang memutar dan berhasil berdiri di belakangku. Kalau begini, aku ga bisa menang.


"Bukan karena gue. Tapi emang Ariva matanya udah kebuka. Lagian lo gatau diri. Ngarepin apa lo ke Ariva yang udah liat lo ciuman sama temennya? Gila kali dia kalo masih mau sama lo."


"BRENGSEK!"


BRAK!!


Argh.... sakit. Kayu itu sampai patah menghantam punggungku dan aku menahan sakit yang luar biasa.


"Semua ini gara-gara lo! Karena lo Ariva jadi berubah. Karena lo Ariva benci sama gue!"


Sial. Aku ga bisa menahan ini. Rasanya sakit luar biasa di tulang belakangku.


"Habisin dia!" Seru Juna pada teman-temannya.

__ADS_1


"STOP!!"


Ari. Mendadak perempuan itu berdiri diambang pintu menatap ke arahku dengan wajah yang amat sangat panik.


"A-ariva!" Dan yang lebih panik adalah Juna. Si brengsek itu pasti kebingungan mencari alasan yang tepat supaya Ari tidak curiga padanya, di saat Ari melihat langsung bagaimana bejatnya dia.


"Jangan dekat!" Pekik Ari saat Juna ingin mendekatinya.


"Va, ini ga kaya yang kamu liat.."


"Lo pikir gue buta?!"


Juna terdiam seketika. Lalu tak mau disalahkan sendirian, dia menunjukku. "Dia! Dia duluan yang ngehajar aku." Ucapnya mengadu pada Ari.


A-apa..


"Tanya aja ke dia langsung! Aku ga salah, Va. Aku cuma mau balas dendam."


"Hobi banget lo balas dendam!" Balas Ari. Suara gadis itu serak, seperti habis menangis. "Mau lo apa sih, Junaa!"


Ari menangis, dan aku berjalan dengan agak pincang, mendekati Ari.


"Ri, gue jelasin."


"Stop, Sya. Gue mau bicara berdua sama Juna."


Dia.. ga mau ngomong ke aku. Aku menoleh pada Juna yang tersenyum miring ke arahku. Harus kuakui, aku cemburu. Apakah Ari masih mau menerima Juna kembali? Kenapa dia tidak mau mendengar penjelasanku dan memilih penjelasan Juna?


"Gue tunggu diluar."


Aku berjalan keluar, menunggunya tak jauh dari sana. Karena aku khawatir Ari diapa-apain oleh Juna.


"Syaa!!"


Aki tersentak saat tiba-tiba Vita datang dan langsung menarik tanganku masuk ke salah satu ruang kosong.


Dengan cepat aku melepaskan tanganku darinya. Dia pun kaget lantaran kali pertama baginya aku berlaku kasar.


"Sya, astaga wajah kamu."


"Jangan pegang." Aku menahan tangannya yang ingin menyentuh lebam yang denyut di wajah.


Aku duduk di atas meja sambil melihat keluar pintu, mana tau Ari sudah keluar dari sana.


"Sya.. hiks." Vita menangis. "Sya maaf kalau aku ada salah."


"Banyak salah lo." Jawabku cepat.


"Sya.." Vita mendekati aku yang duduk di atas meja. Wajahnya basah. "Aku tau aku udah salah ngebully Ariva. Tapi aku ga bermaksud gitu..."


"Udahlah. Gue males denger ocehan lo." Aku membuang wajah ke samping. Enggan menatapnya.


"Tapi.. hiks.. seengganya izinin aku obatin wajah kamu, Sya.."


Aku diam tanpa mau menatapnya. Lalu ia mengambil sesuatu dari tasnya, dan memohon lagi.


"Sya, please, biar gue obatin."


Dia mengelap luka yang mengeluarkan darah dengan tisu, sambil tersedu-sedu seperti itu.


"Stop." Aku mencengkram lengannya. "Gue muak sama acting buruk lo."


"Sya.."


Aku turun dan berdiri di depannya. "Gue udah tau tujuan lo apa deketin gue dan keluarga gue. Lo dendam, kan, sama bokap gue."


"Syaaa. Enggak. Ga gitu-"


"Denger, ya. Bokap gue ga sukak sama nyokap lo dan kejadian apapun yang menimpa nyokap lo itu bukan salah bokap gue."


Vita berhenti saat aku mengatakan itu. Matanya terbelalak dan ia mundur selangkah dengan kaki berat. Ya, Vita, gue udah tau.


"Itu masa lalu. Gue ga tahu menahu dan itu juga bukan salah lo. Jadi stop acting dan deketin gue, Vit. Gue udah tau rencana lo!"


Aku hendak pergi, tapi Vita berteriak di depanku.


"IYAA! GUE EMANG BERNIAT NGEJAHATIN LO. IYAA ITU NIAT AWAL GUE KE ELO. GUE EMANG MAU KENAL SAMA KELUARGA LO YANG UDAH HANCURIN NYOKAP GUE! TAPI..." Vita menahan isakan dalam dadanya. Lalu nada bicaranya pun melemah. "Tapi gue beneran cinta sama lo, Sya..." Vita menangis tersedu-sedu, memegang dadanya yang terasa sesak. Wajahnya basah dengan air mata yang belum berhenti.


"Gue tau gue salah, Sya. Gue berusaha deketin lo karena gue mau lo tau gimana rasanya sakit diabaikan oleh orang yang lo sayang. Tapi Sya.." dia meraih tanganku dan menggenggamnya. "Perhatian dan kasih sayang lo ke gue, semua yang lo lakuin buat gue luluh. Lo minta maaf waktu lo tau lo ga salah ke gue. Lo tetep mau ngelakuin yang gue minta padahal gue tau lo lagi ga mood. Lo iyain semua permintaan gue, lo beneran laki-laki yang baik, Sya. Gue bisa liat gimana indahnya keluarga lo, nyokap lo. Gue sadar kenapa bokap lo milih tante Syahdu. Gue sadar sejak gue kenal keluarga lo, Sya. Gue minta maaf, gue minta maaf..hiks... Jadi please.. kasih gue kesempatan. Gue mau memperbaiki diri dan kembali disayang sama lo lagi."


Semua penjelasan Vita membuatku bergeming. Dia menangis dan semua ucapannya membuatku tak bisa marah lagi.


Aku tahu dia salah. Dia melakukan hal bodoh karena ikut terhasut dengan keluarganya. Seperti yang kudengar, keluarga Vita tak seperti keluarga pada umumnya. Karena papanya hanya kasihan pada mamanya dan bersedi menikah karena janji saham dari neneknya Vita. Bertemu keluargaku membuat matanya terbuka lebar dan kalah dengan egonya sendiri.


"Gue maafin. Tapi gue ga bisa balik kaya dulu."

__ADS_1


"Syaa-"


"Lo bener. Gue emang punya perasaan beda ke Ariva. Gue sadar kalo gue sayang dan cinta ke dia. Jadi, lo ga perlu deketin gue lagi karena gue ga punya perasaan apa-apa ke lo. Ngerti?"


__ADS_2