HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Long Distance Relation-shit 98


__ADS_3

Hampir tengah malam, pada suhu di bawah 20 derajat celcius, Tama berjalan keluar untuk menikmati segelas teh hangat sekaligus menenteng tab kecilnya untuk mengerjakan pekerjaannya di teras depan.


Namun tujuannya itu terpaksa tertunda lantaran ia melihat sang tamu duduk diam menatap malam. Awalnya, Tama tak ingin mengganggu. Tapi dia memiliki pertanyaan untuk sahabat anaknya itu.


Tama berdehem, membuat Arsya langsung menoleh ke arahnya dan memberikan senyuman.


"Om.." Sapa anak itu.


Tama duduk berseberangan dengan Arsya. Meletakkan teh dan juga tab yang ia bawa tadi.


"Nggak tidur?" Tanya Tama.


"Belum ngantuk, om." Jawabnya sambil mengusap kedua telapak tangannya perlahan.


"Udah ditentukan mau kemana besok?"


"Kita nurut om aja. Soalnya kan, Arsya ga tau soal Moskow."


Tama mengangguk-angguk. "Ada beberapa tempat yang bagus untuk jalan-jalan sama pasangan."


Eh. Pasangan? Arsya sempat merasa ada yang salah dengan pendengarannya.


"Pasangan, om?" Beo lelaki itu.


"Iyalah. Kamu pikir om ga tau, kenapa kamu sampe kirim banyak pesan ke perusahaan om dan nyusul Ari kesini?"


Arsya menunduk dengan senyuman malu tak bisa ia tutupi.


Ketahuan calon papa mertua, jelas dia grogi.


"Gimana, udah ada perkembangan?" Pertanyaan Tama langsung dimengerti oleh Arsya arahnya.


"Be-belum, om."


"Lusa kamu sudah balik ke Indonesia. Jadi, cepat ungkapkan semuanya. Kamu harus berani, ya."


"I-iya, om." Jawabnya gugup saat mendapat lampu hijau terang dari calon papa mertua.


"Om percaya sama kamu, Arsya. Kamu itu laki-laki yang baik dan peduli pada Ari. Sifat itu yang harus ada pada laki-laki."


Arsya yang rasanya tengah diberi motivasi langsung oleh papa Ari pun mengagguk-angguk.


Tama lalu menghela napas, menatap ke depan seolah ada memori yang terlintas di pikirannya.


"Kalian harus saling menyayangi, ya. Om tau, Ari juga suka sama kamu. Nanti, kalau kalian menjalani hubungan jarak jauh, kalian harus saling percaya."


Setelah mengatakan itu, Tama malah merasa malu dengan dirinya sendiri.


"Lucu om mengatakan ini padamu sementara om malah ga bisa menjaga keutuhan rumah tangga om sendiri."


Arsya hanya diam, saat ia merasa tak perlu menanggapi ucapan Tama.


"Ari beruntung kalau bisa sama kamu, Sya. Kamu dibesarkan dalam keluarga yang sempurna. Arga, juga Syahdu adalah bukti bagaimana cinta itu bisa tumbuh seiring bertambahnya usia. Om iri pada orang tuamu."


Arsya terenyuh saat mendengar itu dari Tama. Dia juga merasa demikian tentang kedua orang tuanya.


"Yah, intinya om yakin denganmu, Sya. Hubungan kamu dengan Ari, justru lebih erat ketimbang Om, ayahnya sendiri." Ucap Tama dengan senyum kecil, mengingat lagi betapa ia melewatkan banyak waktu untuk anak semata wayangnya.


"Yang penting sekarang om dan Ari udah bersama-sama lagi. Inilah yang diimpikan Ari sejak dulu." Arsya sengaja mengatakan itu supaya hati Tama lebih tenang.


Mata Tama tanpa sadar menggenang. Dia langsung berdehem dan berkedip untuk menghilangkan genangan itu.


"Benar. Walau om yakin dia kesini bukan karena om."


Arsya mengerutkan dahi, tak paham. Namun Tama hanya tertawa kecil, lalu ia berdiri.


"Baiklah. Selesaikan semua dan pastikan punya status baru sebelum pulang, ya. Om dukung kalau itu untuk kebahagiaan Ari." Setelah memberi dukungan, Tama meraih tab dan tehnya yang sudah dingin. Ia berdiri dengan maksud kembali ke kamar.


"Om."

__ADS_1


"Ya?"


Arsya menghembuskan napas perlahan. Dia gugup, tapi demi kelancaran, dia ingin Tama membantunya sedikit saja.


...🍭...


Berantakan.


Apa yang Arsya rencanakan tak terlaksana lantaran Ari mendadak pergi ujian bahkan sebelum Arsya bangun tidur.


Pagi-pagi Arsya udah bengong mendapati berita bahwa Ari akan ada ujian sampai jam 3 siang. Dan itu membuatnya tak bisa melakukan apa-apa.


"Yah, mau gimana lagi, om." Ucap lelaki itu pada Tama yang menanyakan perihal rencana mereka.


"Ah, om tahu. Kalian pergi saja besok. Tunda satu hari kepulanganmu. Nanti biar om yang akan bilang pada Arga."


Arsya yang semangatnya luruh pun mencoba tersenyum. "Ngga apapa, om. Masih ada nanti malam."


Melihat respon Arsya membuat Tama sedikit kasihan. Anak itu jauh-jauh datang hanya untuk bertemu dan mengungkapkan cinta, pasti bukan hal kecil.


"Ah, atau kamu tau hal apa yang diinginkan Ari? Kita bisa kabulkan disini." Usul Tama.


Keinginan? Arsya mencoba mengingat lagi apa yang diinginkan Ari sejak dulu. Lalu matanya melebar saat dia mendapati itu.


"Ada om!"


"Bagus. Om akan bantu atur." Respon Tama cepat.


~


Ari bingung saat ada sebuah dress indah menggantung di lemari dan sang papa yang tiba-tiba memintanya ditemani ke sebuah acara pesta teman dekatnya.


Berkali-kali Ari menolak karena ingin menemani Arsya, tapi Tama memohon supaya Ari mengabulkan permintaannya, hingga Ari tak tega menolaknya.


Ari yang sudah punya janji dengan Arsya, tak bisa melakukan apa-apa. Padahal besok Arsya pulang, tapi semua jadi berantakan sekali.


Arsya mengangguk-angguk. "Ga apa. Lo pergi aja, gue juga mau istirahat." Ucapnya dari balik pintu.


Ari melongok, ingin melihat apa yang Arsya lakukan di dalam, kenapa dia menyembunyikan dirinya dibalik pintu dan hanya menyembulkan kepala.


"Udah sana, ntar bokap lo nungguin lagi."


"Lo ga apapa, Sya? Besok gue bakalan bolos, deh, biar nganter lo ke bandara."


"Iya. Ya udah, sana."


Ari mengernyitkan dahi. Heran, kenapa Arsya yang biasanya tak suka jika janji dipaksa batal, malah santai begitu?


Ari mencoba bernegosiasi saat merasa mungkin ini kemarahan Arsya versi terbaru. Pura-pura senyum, lalu akan marah setelahnya. "Gue bentaran, kok. Gue nunda makan juga biar setelah acara papa kita makan diluar. Gimana?"


Arsya melipat bibir, menahan tawa namun senyuman tak bisa ia sembunyikan.


"Syaaa." Pekik gadis itu dengan kesal.


"Hahaha. Iyaa. Gue tungguin. Udah, sana!" Arsya langsung menutup pintu.


"Tuh, kan. Dia marah.."


Ari langsung menuju kamarnya untuk berganti baju. Berat rasanya. Padahal besok Arsya pulang, dan entah kapan lagi ia dan sahabatnya itu akan bertemu, mengingat mereka sekarang terpisahkan oleh benua. Apalagi ada perasaan yang berbeda hingga rindu pun lebih sering terasa.


Tapi heran juga, kapan papanya membelikan dress ini?


"Papa bisa tahu ukuran bajuku?" Desis gadis itu setelah memakai dan berdiri di depan cermin.


Ah, dia tak mau berlama-lama terbengong karena ia hanya akan memperlihatkan wajah di depan Tama saja, selebihnya dia akan kabur untuk menemui Arsya.


Ari berangkat bersama Jay yang membawanya menuju lokasi acara yang membuat Ari mendesah sepanjang jalan. Baru kali ini papanya terlalu memaksa, sampai Ari jadi ngga enak dengan Arsya.


"Masih lama, ya?" Tanya Ari pada Jay. Dia merasa jalannya terlalu berputar-putar dan membuatnya kehilangan banyak waktu.

__ADS_1


"Ntar lagi." Jawab Jay santai. Sampai hampir dua puluh menit, akhirnya Ari turun.


Dia merapikan dress sejenak sebelum sadar, kalau lokasi acara pesta sahabat papanya terlalu sepi.


Ari mengetuk pintu kaca mobil, sampai kacanya turun.


"Ini bener tempatnya?" Tanya Ari sambil membungkuk.


"Iya."


"Kok kayak sepi gitu."


Jay ikut melongok ke depan. "Nggak tau. Sana masuk." Jawabnya cuek.


Ari mau tak mau melangkahkan kakinya. Dalam pikirannya hanya bagaimana ia bisa cepat kabur dari acara sang papa.


"Ini.. taman?" Tanya Ari bermonolog. Sepertinya dia belum pernah ke tempat ini.


Ada beberapa orang berlalu lalang dengan seragam. Ari ingin bertanya, tapi dia belum begitu bisa bahasa Rusia.


"Beneran disini? Mana acaranya?" Gadis itu melihat kesana kemari, lalu matanya menangkap sesuatu yang menyala.


"Excuse me, miss Ariva."


Fokus gadis itu teralihkan saat seseorang menegurnya.


"Yes, I am."


Orang itu tersenyum. "Follow me."


Ari tidak ragu melangkah mengikuti sebab orang itu telah menyebut namanya. Jadi, sudah pasti itu suruhan papanya, pikirnya.


Kaki Ari melangkah lambat ketika orang itu membawanya ke tempat yang ia perhatikan sejak tadi. Ternyata ada sebuah meja dengan lilin yang membuat meja ini tampak menyala dari jauh.


Orang itu tersenyum pada Ari, lalu pamit pergi saat Ari ingin menanyakan perihal pesta dan segala macam yang membuatnya harus kerepotan seperti sekarang. Lalu, mana papanya? Pesta apa ini?


Di tengah kebingungannya, Ari terkaget melihat seseorang yang tiba-tiba berdiri di belakangnya.


"Sya??"


Gadis itu malah bengong. Seingatnya tadi Arsya masih di rumah, tapi kenapa sekarang ada disini?


Mata gadis itu menyisir dari atas sampai bawah. Kenapa pula Arsya memakai slimfit jas segala. Rambutnya disisir rapi, dia juga memakai sepatu pantofel hitam kilat yang tampak mirip dengan punya..Papa?


Ari lagi-lagi mengedarkan pandangan ke sekitar.


"Papa mana? Kamu kenapa kesini? Bosen di rumah? Kenapa ga bilang kalau mau ikut?"


Arsya menggeleng lalu memegang kedua bahu Ari dan memutarnya hingga tubuh gadis itu menghadap sepasang kursi yang sedang berhadapan dengan meja bercahayakan beberapa lilin putih.


"Itu. Udah mirip belum?"


Ari menoleh kebelakang. "Mirip siapa?"


Arsya membawanya dekat dengan meja, menarik kursinya dan menyuruh Ari duduk.


"Sya.." Ari masih berdiri. Menolak duduk lantaran masih bingung dengan keadaan sekitar.


"Candle light dinner, as your wish, Ari."


Hah?


**


GUYS AKU KAGET Kok ada notifff. Ternyata novel yang aku masukkan 3 bulan lalu baru up sekarang!! Judulnya SAVIOR UNDER THE RAIN!!


Kalian ramein dong😂😂 kisah cewek yang punya KEKUATAN PENYEMBUH🧚‍♀️ Makasih 😆😆


Up satu lagi tengah malem tapi novel baru diramein dulu ya🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2