HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Terkuaknya Rahasia 77


__ADS_3

Dress hitam. Aku punya nilai tersendiri untuk perempuan yang mengenakan pakaian itu. Mama pernah memakai gaun hitam dengan beberapa model, dan aku selalu suka. Seperti punya nilai tersendiri di mataku. Elegan, classy, and I like to see woman with black dress. Dan hari ini, Vita memakainya.


"Sorry, aku lama, ya?" Vita meminta maaf karena aku menunggunya selama lima belas menit di dalam mobil.


Aku menatapnya cukup lama, sampai ia heran dan mengeluarkan cermin dari tas kecilnya.


"Ngga ada apa-apa, kok." Ucapnya mengusap pipi. "Kenapa liatin aku kaya gitu, sih?"


Aku tersenyum kecil, lalu menurunkan rem tangan dan melajukan mobil.


"Ihh. Bilang, dong. Kenapa? Apa ada yang aneh?" Vita mengecek tubuhnya.


"Enggak. Ga ada apapa."


Dia ga percaya, sampai menatapku dengan senyum tersembunyi. "Kayanya kamu terpikat karena aku cantik. Ya, kan?"


Dugaannya tepat. Aku harus jujur soal ini.


"Benar."


Senyumnya mengembang sempurna. "Kenapa ga puji langsung sih, padahal tinggal bilang; kamu cantik bangettt. Jadian yukkk."


Dia meledek, karena memang sampai sekarang aku belum menembaknya.


Kadang aku berpikir. Haruskah aku menembaknya? Aku rasa ga ada salahnya menjalin hubungan dengan perempuan lain, demi memastikan perasaan yang sebenarnya.


Selain itu, bukankah aku harus menghapus perasaan aneh yang datang untuk Ari? Maksudku, dia.. ga akan senang kalau tau aku punya perasaan yang berbeda.


Aku ga mau kalau sampai hubungan kami retak cuma karena perasaan begini. Aku yakin, aku masih bisa mengatasinya.


Kami sampai di sebuah toko lukisan. Katanya, Vita mau cari lukisan lucu buat papanya yang akan ulang tahun dan akan diadakan dinner besok malam. Vita memaksa, memintaku datang. Aku kepikiran untuk menembaknya malam itu. Gimana, kira-kira?


Aku memperhatikan Vita yang tengah sibuk memilih. Gadis itu sebenarnya lucu. Sejauh ini dia baik, posesif, keras kepala, dan.. manja.


TRING


Aku melihat ponsel yang berdering. Ari, akhirnya dia mengirimkan pesan.


[Sya, lo dimana? Gue ke kamar lo, ya?]


Alisku berkerut. Eh? Dia.. udah baik-baik aja rupanya.


"Hei, kenapa senyum-senyum?" Vita melirik ponselku.


Aku menutupnya. "Bukan apa-apa. Udah ketemu?"


Dia menggeleng. "Belum. Bantuinn." 


"Iya."


Vita kembali melihat-lihat lukisan, sementara aku membalas pesan Ari. Ku potret Vita yang tengah sibuk, lalu mengirimkannya pada Ari. Aku pengen tau, gimana responnya.



Have.. fun? Dia keliatan biasa aja dengan pesan itu.


Hah. Iya, sih. Dia kan, cinta mati sama Juna. Baru kenal tapi udah rela ngabisin tabungan buat beliin Juna jam mahal. Dibanding aku, yang lebih sering buat dia kesal setiap hari.


Kayaknya memang aku yang harus sadar diri, kalau Ari cuma nganggep hubungan kita sebatas sahabat saja.


~


"Kamu kenapa, sih. Mendadak diam, gitu."


Aku menatap sekilas pada Vita, lalu kembali fokus ke jalan di depan.


"Hm.. aku lupa. Mama nyuruh aku pulang."


"Emang ada apa?"


"Ga ada, cuma makan malam keluarga."


"Hah. Ikut dooong." Vita mengguncang lenganku yang memegang setir.


"Lho, bukannya kamu mau makan malam sama keluarga juga?"


"Itu sih, udah sering. Aku pengen kenal mama kamu, Syaa. Please..."


Makan malam bareng keluarga? Mungkin emang udah waktunya aku jalin hubungan serius sama Vita.


"Oke."

__ADS_1


"Yeaaayy. Makasih, syaaa."


...🍭...


Sebelumnya, aku sempat mengirim pesan pada mama, kalau aku akan ikut makan malam bersama seorang gadis yang kubawa. Ternyata itu membuat mama excited sampai menunggu kedatangan kami di depan pintu.


Mama tersenyum saat Vita turun dari mobil. Aku tau, aku ga pernah cerita apapun soal perempuan pada mama. Dengan kedatangan yang tiba-tiba membawa Vita, membuat mama senang karena akhirnya aku punya gadis dambaan. Aku mengerti arti tatapan senang mama padaku.


"Tante.." Vita menyerahkan paperbag pada mama. Tadi Vita minta singgah ke sebuah toko setelah bertanya apa kesukaan mama. Melihat Vita begitu pada mama membuatku agak terkesan.


"Aduh, kenapa repot-repot." Mama dan Vita, cepat sekali akrabnya. Mereka mengobrol kecil sesaat sebelum mengajak kami masuk. "Ayo, masuk sayang."


Aku merasa seseorang tengah memperhatikanku. Aku menoleh ke atas balkon panti, dan mendapati Ari tengah berdiri disana, menatapku. Dia tersenyum padaku, lalu melambaikan tangan.


Tanpa sadar aku pun memandangnya cukup lama. Sejak aku menyadari perasaanku sendiri, aku jadi merasa perlu menjauh setiap kali Ari menunjukkan muka. Bukan apa, aku hanya takut salah sikap.


"Sya, masuk nak."


Mendengar panggilan mama, aku masuk ke dalam rumah.


"Aku ke kamar dulu." Aku menaiki tangga menuju ke kamar. Tanpa aku sadari, ternyata Vita mengikutiku.


"Rapi banget ya, Sya."


Aku terkesiap, Vita masuk sambil terus menatap setiap sudut kamarku.


"Aku makin kagum, deh. Kamu tuh, ganteng, pintar, rapi juga. Salut banget.."


"Hm. Semua karena mama."


Vita mengangguk-angguk dengan jawabanku.


"Ini jendela, Sya?" Vita mendekati jendela yang ku tutup.


Ah, gawat. Jangan sampe dia liat Ari.


"Jangan dibuka!"


Srekk! Terlambat, jendela digeser separuh, lalu Vita menoleh ke belakang.


"Eh, kenapa?" tanya Vita dengan nada yang merasa bersalah.


"Eng.. ga papa." Rasanya lucu kalau aku mendadak melarang. Aku khawatir Vita malah semakin curiga.


"Sya, Vita-nya ajak makan, nak." Mama berdiri di depan pintu kamarku.


"Iya, Ma. Ayo, Vit."


"Bentar, Sya. Ini.. kamar siapa?"


Duh, gawat.


"Oh, ini.." mama masuk. "..ini kamar Ari. Kan, dia satu sekolah sama kalian. Emang Vita ga kenal?"


"Ari? Ari siapa, Sya?" Tanya Vita.


Aduh, mati aku. Mama mana bisa dikasih kode.


"Nanti aku ceritain, sekarang kita makan malam dulu, ya." Aku menggeser jendela dan menutup tirai. Khawatir Ari mendadak muncul.


"Tante pikir Vita kenal.."


"Ariari sahabat kamu itu, bukan? Yang sering main sama kamu."


"Iya. Ari dan Arsya sahabat sejak kecil. Makanya dekat banget kemana-mana terus bersama." Jawab Mama sembari kami menuruni anak tangga.


"Emm, mama masak apa?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan. Dan mama langsung menjawab dengan semangat.


"Oh, tante ga tau kesukaan Vita apa. Jadi masak seadanya. Soalnya Arsya ga bilang dari awal kalau mau bawa pacarnya ke rumah."


Vita terkekeh kecil, lalu menarik kursi untuk duduk di meja makan. Aku pun ga menyangkal 'pacar' secara terang-terangan.


"Om Arga ga ikutan, tante?"


"Oh, Vita kenal?"


"Siapa sih, yang ga tau penyanyi terkenal kaya om Arga Alexander."


Mama tertawa renyah. "Papa Arsya Bentar lagi keluar, kok.


Tak lama setelah itu, papa keluar dari kamar dan ikut duduk di meja, tepat disebelah mama.

__ADS_1


"Oh, ada tamu."


"Hai, om. Vita." Vita menyalami papa.


"Pinter kamu pilih pacar." Kata papa tanpa melihatku, hanya fokus pada makanan yang dituang mama ke piringnya.


"Hehe. Sebenarnya belum jadian, om." Sahut Vita malu-malu.


"Oh, ya?" Kini papa menatapku. "Mungkin menunggu waktu yang tepat?"


Hah. Papa.


"Silakan dimakan, Vita. Maaf ya, kalo ga sesuai selera Vita." Ucap mama.


Suasana di meja makan menjadi ramai dengan suara sendok dan piring.


"Hmmm. Enak banget, tan. Tante pinter banget masak." Puji Vita.


"Bukan tante yang masak."


"Oh? Bukan, ya." Vita sampai menutup mulutnya, merasa salah bicara.


"Tapi om Arga."


"Wuah." Mendadak mulutnya terbuka. "Serius, Tan?"


"Iya. Di rumah ini chef-nya ya papanya Arsya."


"Huaaa.. keren!" Respon Vita mendapat tawa dari papa dan mama. Syukurlah, Vita bisa masuk dengan mudah. Terlebih papa dan mama yang selalu welcome pada siapapun.


~


Jika ditanya, kapan aku akan berhenti menyelinap masuk ke kamar Ari? Aku ga tau. Aku sendiri ga paham kenapa aku suka sekali masuk ke kamarnya. Atau mungkin jika Ari pergi, aku akan berhenti. Karena tujuanku masuk ke kamarnya adalah dia sendiri. Ari, aku suka melihatnya tertidur nyenyak.


Aku ga tau sejak kapan. Mungkin karena dulu waktu SD, Ari pernah mengetuk jendelaku malam-malam, membangunkan aku hanya untuk bilang kalau dia ga bisa tidur.


'Apa?' Tanyaku dengan kesal, karena dia membangunkanku.


'Aku ga bisa tidur.' Keluhnya.


Aku melirik jam, ternyata pukul 12 malam.


'Dipejam aja matanya.'


'Udah. Tapi ga bisa. Kenapa, ya? Padahal aku ngantuk.'


Waktu itu aku kesal, karena Ari terlalu mengganggu. Aku memang menemaninya, masuk ke kamarnya dan duduk di tepi tempat tidur, membelakanginya yang berusaha menuju alam mimpi.


'Udah belum..' tanyaku dengan lemas. Aku juga ngantuk. Setelah kulihat kebelakang, ternyata dia udah tidur. Anehnya, ini terjadi hampir setiap hari. Dan gara-gara Ari, aku ngantuk di sekolah.


Tapi lucunya, aku juga mengalami hal serupa. Kalau ga bisa tidur, aku akan ke kamar Ari. Dan entah kenapa setiap liat Ari tidur, aku ikut mengantuk. Hahaha.


Setelah itu dia ga pernah lagi manggil aku. Tapi kejadian ini pernah juga terulang saat kami SMP.


Aku yang kebetulan belum tidur, liat lampu kamarnya masih menyala. Lalu ku ketuk jendelanya.


'Ri..'


'Ya?' Dia muncul dengan wajah segar.


'Belum tidur?'


'Ngga tau, ga ngantuk.' Jawabnya santai. 'Lo sendiri?'


'Ini mau tidur.' Jawabku. Lalu Ari mengangguk dan melambaikan tangan.


'Good night.' Ari kembali ke ranjangnya.


Aku ingin bertanya, kenapa dia ga minta aku buat temenin kaya dulu. Kurasa sekarang udah gede, jadi dia malu.


Akhirnya aku masuk dari jendela, membuatnya membulatkan mata.


'Ngapain??' Tanyanya heran.


'Nemenin lo, lah.'


Dan, malam itu dia tidur sementara aku menunggunya terlelap sambil bermain game di ponsel.


Lucu, ya. Walau dulu lo ga ngomong, gue tau lo butuh apa. Sekarang lo udah hampir ga pernah minta tolong ke gue lagi. Lo bahkan ga cerita soal lo yang dikunci di kamar mandi. Gue jadi sedih. Tapi gue paham, lo mau jadi cewek mandiri. Apalagi lo juga punya Juna. Ck, sial. Nyebut namanya bikin lidah gatel.


Setelah selesai memperhatikan Ari, aku memperbaiki posisi selimutnya. Lalu manjat jendela dan menutupnya. Kugeser jendelaku sambil menghembuskannya napas perlahan. Panas. Napasku panas. Dan ternyata malam itu, entah bagaimana suhu tubuhku tinggi, dan aku demam~

__ADS_1


__ADS_2