
Ponselku terus bergetar. Vita tak henti menelepon. Aku ga bisa jawab sekarang karena terlalu fokus pada jalan.
Dengan sebelah tangan aku membuka dasi dan jas yang kupakai. Aku ga mau Ari malah salah paham liat penampilanku.
Ngga jauh. Syukurnya Ari berada ga jauh dariku, sampai hanya beberapa menit saja aku udah sampai disana.
Sebelum keluar, aku melihat Juna. Dia berjalan cepat dan langsung masuk ke dalam mobil.
"Jun!" Seorang cewek berteriak memanggil.
Cewek itu.. dia kan, yang kemarin sama Juna di Redsky. Dia mengacak-acak rambutnya dan pergi setelah mobil Juna menghilang.
Setelahnya, aku keluar dari mobil dan berlari mencari Ari.
Kalau ada cewe itu, apa artinya ada sesuatu yang ga beres diantara mereka? Apa Ari ngeliat cowoknya selingkuh?
Ah, semua kemungkinan melayang di pikiranku. Namun mataku terus mencari keberadaan Ari. Dimana dia. Kenapa ga ada.
Aku mencari kesemua tempat, sampai aku melihat Ari duduk di batu pembatas jalan sambil meringis memegangi lutut.
Astaga.
Aku mempercepat lariku dan langsung berjongkok di depannya, yang kaget melihat kedatanganku.
"Hei, are you okay?"
Luka. Lututnya mengeluarkan titik-titik darah. Napasku memang sesak, tapi liat Ari begini jadi ga kerasa apa-apa kecuali kekhawatiran.
"Ayo ke rumah sakit."
"Eh, it's okay, Sya. Ini ga sakit kok- aaauww!" Dia menjerit saat aku memencet pinggiran lukanya.
"Ya nggak dipencet juga!"
"Berarti sakit." Jawabku santai. Berusaha menyembunyikan sesuatu yang menggelenyar hati.
Tapi sebenarnya, ada apa, Ri?
Aku lihat ada bekas air mata di wajahnya. Apa Juna benar ketahuan selingkuh, atau apa? Kalaupun benar, kenapa dia meninggalkan pacarnya di parkiran tadi?
"Jangan biasakan berbohong. Kalo lo ga suka, lo bisa bilang ga suka. Kalo sakit, lo bisa bilang sakit. Ga perlu nyembunyiin itu." Kalau ga kuat, bilang ga kuat, Ri. Gue akan bantu. Gue tau ada sesuatu yang baru terjadi sampe lo nangis kaya gini. Lo bisa bilang ke gue, cerita ke gue. Jangan pendam gitu aja. Apa fungsi gue selama ini, hm?
Aku hanya menghela napas melihat ketidak pahaman Ari.
Aku membalikkan badan, memintanya untuk naik supaya bisa kugendong. Dia malah bengong.
Aku menoleh kebelakang. "Cepetan."
"Gue bisa jalan."
"Iya. Gue tau lo ga lumpuh. Cepat naik." Aku memaksa.
Akhirnya Ari melingkarkan lengannya di leherku, lalu akupun mengangkatnya. Dan jalan perlahan.
__ADS_1
Berat badan lo berapa, Ri? Kenapa ga naik-naik? Rasanya sama aja kayak dulu waktu gue gendong lo pas pingsan. Asli, gue panik banget takut lo kenapa-napa.
"Lo.. tadi dari mana?" Ari akhirnya bersuara setelah saling berdiam cukup lama.
"Rumah." Aku ga bohong. Emang tadi dari rumah. Tapi rumah Vita, bukan rumahku.
"Gue ngerepotin lo, nggak?"
"Hm. Banget."
Aku mendengar decakan dari mulutnya. Membuatku tersenyum. Bukannya kalau aku bilang 'enggak' justru terdengar aneh di telingamu?
"Sorry, ya. Pasti lo tadi lagi sibuk banget."
Ga ada kata sibuk di kamus gue selama itu buat lo, Ri. Gue justru selama ini nunggu lo minta bantuan gue. Karena gue pengen kita kayak dulu lagi.
"Sya.."
"Hm."
Dia diam cukup lama. Kenapa? Mau cerita soal tadi, kah. Aku akan dengerin.
"Menurut lo.. Cowok brengsek itu yang kaya gimana?"
Kaya cowok lo, Ri. Tapi kalo gue bilang gitu, kira-kira lo marah atau ngamuk? Emang suara gue lo denger? Gue.. kalah sama cowok yang baru lo kenal.
"Gue tadi.. Baru aja liat. Ada cowo yang dilabrak sama cewenya gara-gara selingkuh. Cowo itu ketahuan selingkuh. Tapi disitu juga dia langsung putusin cewenya dan lebih milih selingkuhannya."
"Kalo misalnya selingkuhannya itu mutusin buat tetap jalani hubungan mereka, apa dia jadi orang yang jahat?"
"... tapi kan, dia dan pacarnya udah putus. Berarti boleh dong dia dan selingkuhannya jalani hubungan lagi?"
Berat ya, Ri, terima kenyataan kalau Juna udah punya pacar dan lo diselingkuhi? Gue tau tanpa lo beritau. Karena gue udah liat langsung cowo lu dinner sama cewenya.
Lo tinggal putus, Ri. Putusin cowo brengsek itu. Kenapa lo malah ga masalah karena dia lebih milih lo, sih!
"Trus menurut lo, Sya. Gue boleh nggak sih, marah dan benci sama orang yang dapat kehangatan dari orang yang gue sayang?"
Pertanyaan Ari.. kenapa kayak lagi nyindir aku?
Itu gue, Ri. Gue marah dan benci sama Juna karena perasaan lo ke dia besar banget sampe gue ga keliatan buat lo. Padahal gue yakin, kalo gue juga bisa ngasih perhatian dan apapun yang lo mau. Karena gue.. sayang sama lo.
"Menurut lo, gue punya penyakit hati, atau..." Aku berhenti dan menurunkan Ari tepat saat dia seperti menyadari sesuatu.
"Cemburu?" Desisnya dengan pandangan menerawang ke depan.
Dia diam saja, wajahnya berubah sedih. Kenapa lo ga langsung cerita ke gue aja, sih.
Hah. Sebenarnya aku ingin menanyakan banyak hal, tapi kayaknya Ari ga mau cerita ke aku. Mungkin dia ga suka kalau aku marah lagi soal Juna.
Aku membuka pintu mobil, menyuruhnya masuk.
Dia masuk dan duduk dengan wajah bingung atas penuturannya sendiri.
__ADS_1
"Menurut lo gimana, Sya?"
Ari menatapku, menunggu jawaban.
Pertanyaan lo ga perlu dijawab, Ri. Lo udah tau jawabannya. Gue yakin.
"Kaki."
Ari menaikkan kaki, lalu ku tutup pintu dengan hati-hati.
Hufft. Jantung, lo aman, kan?
~
Dari tadi ponselku bergetar. Tapi aku mengabaikannya, dan lebih mementingkan Ari yang saat ini kubersihkan lukanya.
Aku meniup-niup luka Ari supaya alkohol yang baru kusapukan ke pinggiran lukanya ga terasa begitu perih. Tapi kenapa dia diam aja, Ngga protes sama sekali.
Aku berdiri setelah menyelesaikan semuanya. Dia yang duduk itu hanya diam pandangan ke arah lain, entah memikirkan apa.
"Udah. Lo istirahat."
"Thanks ya, Sya. Gue pasti banyak banget ngerepotin lo."
Aku membereskan kotak P3K. "Bentar lagi gue ada janji sama Zaki Danu, jadi gue ga bisa nemenin."
Ari mengangguk, dengan pelan-pelan ia mengangkat kaki dan bersandar di tepi ranjang. Setelah kurasa beres, aku pun keluar supaya Ari bisa beristirahat.
Aku menuju ruang dapur saat mendengar suara masakan dari arah sana. Kulihat ada papa yang berdiri di belakang mama.
"Mau aku bantu?" Papa menggulung lengan kemejanya. Baru pulang meeting kayanya.
"Ngga usah, Ga. Kamu istirahat aja, ya. Arsya maunya aku yang masak." Kata mama sembari terus mengaduk masakannya.
Papa menarik napas panjang. lalu memeluk mama dari belakang. "Kalau dia yang minta, kamu langsung nurut."
"Eh.." mama sampai membalikkan tubuh. "Kapan aku ga nurut sama kamu?"
Hihi. Lucu banget kalau liat papa sama mama mulai berantem kecil.
"Waktu itu. Aku ajak kamu nonton, tapi kamu nolak." Sahut papa dengan lesu.
"Bukan nolak, sayang. Waktu itu kan, Arsya lagi demam. Mana mungkin ditinggal."
"Tuh, kan." Papa sampai menempelkan kepalanya di ceruk leher mama. "Aku kangen kita punya waktu khusus berdua. Sesekali jalan tanpa mikirin yang lain selain aku.."
Mama tersenyum. Dibelainya rambut papa dengan lembut. Padahal usia mereka menginjak kepala empat. Tapi kelihatan masih seperti pengantin baru.
"Sama anak sendiri aja cemburu." Sahutku. Dan papa mengangkat kepala, menatap tajam ke arahku.
**
(Hari ini up 3 bab biar cepat kelar wes tamat)
__ADS_1