
Baru akan masuk ke dalam kelas, kak Juna menarik tanganku, dan menyingkir dari pintu supaya gak menghambat orang keluar masuk kelas.
"Ariva, kamu nggak apapa?" Sebelah tangan kak Juna menggenggam bahuku, sebelah lagi menyentuh lembut pipiku.
"Nggak apa-apa, kak." Ah, akhirnya dia datang dengan penuh perhatian.
"Yakin? Tadi aku denger kamu dikunci di toilet."
Aku mengangguk. "Iya. Iseng banget. Emang dia kira aku nggak akan lawan, apa." Gumanku pelan. Namun nampaknya kak Juna masih bisa mendengar itu.
"Dia? Emang kamu tau siapa?"
"Siapa lagi. Kai, lah."
"Ha?" Kak Juna malah mengerutkan dahi. "Sayang, Kai gak mungkin kaya gitu. I know him so well. Mungkin dia agak jail, tapi kalo sampai ngunciin dan buat tulisan toilet rusak di depan pintu, aku rasa itu bukan dia."
Aku diam sesaat. Ada sesuatu yang membuatku berpikir keras soal ucapan kak Juna. Aku menepis prasangka yang muncul. Ini kak Juna, pacarku. Dia pasti tahu semua soal aku. Bukannya nomor Hp-ku yang gak banyak orang tau pun dia bisa dapatkan?
"Kalo bukan dia siapa lagi? Aku tau dia benci banget sama aku makanya dia jadi kayak gitu."
"No, aku tau gimana Kai. Yah, emang aku baru kenal dia setahun, tapi kita sering banget nongkrong bareng. Dan Kai, gak akan kaya gitu ke cewek. Jadi, coba kamu pikir lagi siapa yang musuhan sama kamu sampe ngunci kamu di toilet."
Apa katanya? Dia gak salah ngomong, kan? Aku gak salah denger, kan. Emang aku seburuk apa sampe banyak yang musuhin? Selama ini hidupku aman tentram. Justru karena Kai aku jadi kayak gini. Akhh. Kak Juna bener-bener ngeselin.
Aku berdecak lalu masuk kelas, mengabaikan panggilan kak Juna yang tampak bingung dengan sikapku. Tak lama, bel tanda istirahat usai pun berbunyi. Beberapa detik dia berdiri di depan pintu melihatku dari sana. Aku memasang earphone dan menyetel musik. Tak mau menatap kearahnya. Aku marah, kesal, bete. Bisa-bisanya dia lebih membela Kai dari pada aku, pacarnya!
Kak Juna akhirnya pergi. Dan tak lama pula aku mendapat pesan darinya. Aku mengabaikan itu.
"Va, are you okay?"
Akhirnya ada yang menanyakan keadaanku. Hufff...
Kulepas sebelah earphone di telinga, lalu mengangguk, dan menggeleng kemudian. Aku nggak baik-baik aja.
"Tadi.. lo beneran dikerjain?"
Aku menarik napas kuat-kuat, lalu menangguk. "Iya. Tapi gue akan buat perhitungan sama tu anak."
"Lo tau siapa yang ngerjain lo?"
"Taulah. Siapa lagi kalo bukan Kai!" Jawabku dengan sedikit menekan. Tapi Karin malah mengarahkan wajahnya kearah lain sembari menggigit bibir.
"Lo.. yakin, kalo Kai yang ngerjain lo?"
Hah. Kenapa sih, banyak yang nggak percaya kalo Kai yang ngelakuin?
__ADS_1
"Tadi pas istirahat, tu anak nempelin kertas hina di punggung gue sampe gue diketawain banyak orang di lorong. Trus gue juga dikunci di kamar mandi. Dia juga ngaku, kok!" Balasku penuh semangat dengan tangan terkepal. Mengingat itu aku kembali menggeram.
Karin hanya diam, lalu perlahan memutar tubuhnya ke depan saat Hajoon dan Kai pula berjalan masuk.
Aku mengambil buku pelajaran selanjutnya dan membentangkan buku di atas meja, berpura belajar dengan earphone yang kembali terpasang.
Kai, masih berdiri menatap ke arahku. I know, aku bisa liat dari ekor mataku. Mau apa? Mau ngejailin lagi atau minta maaf? Hah, ga mungkin juga minta maaf.
Dia duduk perlahan, lalu Karin ikut menoleh ke belakang. Entah apa yang terjadi saat itu pada mereka, sampai Kai angkat bahu ke arah Karin dengan wajah bersalah.
Nah, loh. Takut juga kan, lo. Karena gue ngelawan? Cih. Dasar cowok ga jelas.
...🍭...
Nggak jelas. Arsya juga ga jelas. Padahal dia yang ngajak duduk di genteng tapi malah diem aja dari tadi. Biasanya juga nih anak bakalan main game dan cuekin aku. Kali ini malah banyak diam kayak lagi bermasalah.
"Lo kenapa? Ada masalah sama Vita?" Tanyaku akhirnya. Merasa terlalu lama duduk di atas dengan suhu dingin malam hari.
Arsya menggelengkan kepala. Lalu menoleh ke arahku.
Aku tahu ada sesuatu yang ingin dia katakan. Tapi udah dari tadi aku nunggu, bibirnya tidak terbuka juga sampai aku lah yang bertanya duluan.
"Terus apa? Kuota abis? Atau wifi ga nyala makanya lo ngga bisa main game?"
Aku terus menebak apa yang ingin diungkapkan Arsya padaku, tapi semuanya mendapat respon gelengan kepala.
"Ini soal lo."
Hah? Aku? Emang aku kenapa.
"Gue bakalan pindah ke IPA2 kalo lo mau. Gue bisa atur supaya duduk sama lo."
Loh, masih bahas soal tadi? Aku menggaruk kepala yang tak gatal. Cuma bahas ini, kenapa Arsya sampe ngajak duduk di atas genteng? Padahal dia bisa bilang lewat jendela juga, kan.
"Engga usah, gue ga apapa. Kai juga tadi gak berani lagi ngerjain gue. Mungkin dia ngira selama ini gue ga bisa ngelawan. Jadi, lo ga usah khawatirin gue. Selama ini gue cukup bisa kok, nyelesein masalah gue sendiri." Terangku pada Arsya yang hanya berkedip, tak merespon walau hanya dengan anggukan mengerti. Dia malah membicarakan sesuatu yang nggak masuk akal setelahnya.
"Ri, lo.. bisa nggak, putus sama Juna?"
"HAH?" Badanku tegak seketika. Kaget, ada masalah apa Arsya dengan kak Juna?
Detik itu juga, ponselku bergetar. Kak Juna, dia menelepon.
Akh, aku masih marah. Sejak tadi pesan dan teleponnya memang ngga aku balas. Masih kesel karena dia membela Kai yang udah jail ke aku.
Aku menutup ponsel dan membiarkannya bergetar, lalu menghadapkan kepala ke arah Arsya.
__ADS_1
"Sya, gue emang lagi marahan sama kak Juna. Gue juga ga tau lo ada masalah apa sama dia, tapi bukan berarti gue mau putus. Lo tau kan, gimana perasaan sayang gue ke kak Juna? Lo tau kan, gimana selama ini gue adore kak Juna?"
Arsya membuang wajah, terdengar pula helaan napas dari mulutnya.
"Lagian lo kenapa, nyuruh gue putus sama kak Juna? Lo punya alasan?"
"Dia gak baik buat lo."
Aku tertawa lirih. Nggak baik, katanya?
"Lo gak inget, dulu gue pernah bilang kalo Vita gak baik trus lo marah sama gue? Ya, kan? Trus sekarang lo bilang kalo kak Juna gak baik, emang alesannya apa?" Tanyaku dengan sisa tawa di wajah, lucu melihat Arsya. Apalagi wajah seriusnya saat ini.
"Tapi gue serius soal Juna. Lo harus tau kalo dia bukan cowo baik-baik."
Seketika wajahku berubah dan kini menatap tak suka pada Arsya.
"Lo tau dari mana kalo dia baik atau gak buat gue? Selama ini dia yang buat gue nyaman, dan gue juga seneng diperlakukan penuh cinta." Haduh, Arsya ada-ada aja. Bikin aku geleng kepala.
"Denger ya, Sya. Hp kak Juna sering banget gue pegang. Kata sandi dan semua isinya gue hapal. Dia juga banyak ngabisin waktu buat gue. Dan kayak yang lo bilang dulu, kalo gue ga bisa percaya sama omongan yang ga ada buktinya. Termasuk omongan lo. Toh, gue juga gak pernah liat lo ngobrol bareng kak Juna, kan?"
Setelah mengatakan itu, aku beranjak pergi. Arsya pula hanya diam disana tanpa menghalangiku.
Hah. Aku bener-bener gak paham sama Arsya. Maunya apa? Sedikitpun aku ga percaya kalo kak Juna itu gak baik. Ofcourse not, dia baik banget malah. Sifat dan sikapnya yang lembut buat aku nyaman dan yakin kalo dia yang terbaik buat aku.
Setelah itu, aku duduk di meja belajar dalam kamar. Membuka buku untuk mulai membaca. Beberapa menit terasa mengantuk, sampai akhirnya aku tertidur.
Tidak cukup nyenyak sampai aku mendengar suara jendela yang terbuka, juga suara kaki yang mendarat dari lompatan kecil. Aku ingin membuka mata, tapi entah kenapa malah lebih memilih diam saja saat aroma parfum Arsya tercium di hidungku.
Dia diam tanpa pergerakan yang bisa kurasakan. Tiba-tiba bayangan hitam yang nampak dari balik kelopak mataku meraih sebuah kotak hitam berisikan jam tangan yang ku taruh di atas meja belajar. Dia membukanya, ah.. sial.
Setelah lama memperhatikan jam itu, dia meletakkannya kembali dan yakk, Arsya mengangkatku.
Terus terang, aku berdebar. Aku hampir membuka mata dan memberontak turun. Tapi aku tahu itu justru akan jadi hal memalukan buat aku dan dia.
Arsya menggendong dan merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Setelahnya aku berbalik badan membelakangi dengan masih berpura menutup mata. Aku takut ketahuan kalau ternyata aku gak tidur.
Perlahan Arsya menarik selimut dan menutupkannya sampai ke bahu. Dia duduk di tepi ranjang dan mulai merapikan rambut yang menutupi wajahku. What? Arsya, kenapa aku jadi merasa aneh banget sama perlakuannya...
Terdengar helaan napasnya, lalu berdiri. Arsya menghidupkan lampu tidur, lalu memadamkan lampu kamarku. Dia keluar dari jendela, melangkah lebar ke kamarnya. Sampai aku mendengar suara jendela tertutup dan geseran tirai, aku memberanikan diri membuka mata.
Termenung. Aku merasa kaku dan aneh dengan apa yang Arsya lakukan barusan. Bukankah seharusnya ini hal yang biasa? Mengingat kami berteman sangat lama bahkan kami pernah berbaring sambil bercerita seru, berdua.
Ini seharusnya ku anggap biasa, tapi tidak bisa karena terasa berbeda. Setelah dia memintaku putus dengan Juna tanpa alasan jelas, kini dia menggendongku ke atas tempat tidur. Bukankah seharusnya dia membangunkanku saja?
Dia malah menyelimuti dan membelai rambutku.
__ADS_1
Aku meremas selimut setelah berhasil menganalisa sesuatu. Apakah Arsya.. Menyukaiku?
TBC...