
Dalam keadaan basah, aku masuk kedalam rumah. Kenapa jarak panti ke kamarku terasa sangat jauh. Mendadak langkahku berat, terus teringat akan tatapan mata dan wajah Ari di bawah hujan, juga ucapan bencinya padaku membuat semuanya terasa nyata. Kayanya dia emang benci aku. Padahal, aku ingin berusaha membuatnya membuka mata, menunjukkan kehadiranku di dekatnya. Tapi bukan suka, Ari malah membenciku.
"Arsya. Astaga." Mama berlari kecil ke arahku yang akan menaiki tangga. "Kenapa hujan-hujanan?"
Mama hendak mengambil handuk untukku, tapi aku menahan tangan mama.
"Mama ambil handuk dulu, ya."
Aku menggeleng pelan, lalu duduk di anak tangga saat kakiku terasa lemas seketika.
"Sayaang, ambilin handuk.. " Teriak mama yang yakin suaranya akan didengar papa.
Mama ikut duduk di sebelahku. Khawatir melihat aku yang mendadak begini. Aku juga ga tau, rasanya kayak perasaanku langsung kacau balau mendengar ucapan Ari tadi.
Aku mengusap wajahku dengan kedua tangan, dingin. Dan aku terus memikirkan Ari.
"Syaa.." mama menggeggam tanganku. Aku hanya tersenyum kecil.
"Arsya ga papa, ma. Cuma..." Hah. Sesak. "Cuma capek." Aku tersenyum pada mama, tak ingin ia khawatir.
Lalu wanita kesayanganku ini menarikku ke pelukannya. Padahal aku basah, tapi mama ga peduli. Dia mengelusku yang bersembunyi dalam ceruk lehernya. Harum, aku merasa nyaman.
"Lagi ada masalah, ya?"
Aku mengangguk lambat.
"Sama Vita?"
Bukan, ma. Sama Ari. Tapi kalau aku bilang, mama pasti akan langsung tau gimana perasaanku ke Ari jika dilihat dari situasi ini.
"Ga apapa, sayang. Semua bisa dibicarain baik-baik, ya." Ujar mama menenangkan.
"Kayanya ga bisa, ma. Dia.. Udah terlanjur benci."
Tubuhku yang dingin diselimuti oleh handuk.
"Mana mungkin benci."
Aku mengangkat kepala saat mendengar suara papa.
Papa melihatiku dalam diam. Tangan yang berada di saku celana itu kemudian keluar dan membentuk angka satu. "Diluar batas."
"Bicara apa sih, Ga." Sahut Mama.
"Perasaannya, udah diluar batas. Wah, gawat ini kalau dibawa pindah ke Rusia."
"Kok ke Rusia? Kita ga lagi bicarain Ar-" Mama mendadak diam, lalu menatapku.
"Ah." Mama menutup mulut dengan kaget saat menyadari sesuatu. "Syaa, jangan bilang kalau...."
Aku yang ditatap dua pasang mata hanya menunduk lemas. Ga salah kan, kalau aku suka pada salah satu anak asuhnya.
"Cewek tuh, emang gitu. Pasti bilangnya benci padahal sebenarnya enggak." Ucap papa.
Apa bener gitu. Soalnya wajah Ari yang seperti itupun belum pernah kuliat. Rasanya Ari ga pernah bercanda soal perasaannya selama ini. Dia ekspresif. Dan aku selalu tahu apa yang dia mau walau dengan sorot mata.
"Mama pikir selama ini papa becanda." Ucap mama pelan. Dia lalu mengusap-usap bahuku. "Mama buatin sup, ya. Sekarang kamu mandi dan ganti baju."
Ah. Teringat sesuatu...
"Pa, kenal sama Shaqueena Verche?"
Papa diam menatapku cukup lama, sampai ia menggulirkan bola matanya ke kiri.
"Shaqueena?" Mama pula tampak berpikir. "Mama ga kenal. Memangnya kenapa?"
__ADS_1
"Ada kejadian lucu dibalik kisah mantan model Shaqueena." Kalau papa menyembunyikannya dari mama, artinya mama memang ga boleh tau. Tapi aku mau tau. Karena ini udah ngelibatin aku.
"Istirahatlah." Kata Papa, bersiap pergi. Tapi ucapan mama membuat papa berhenti.
"Oh, mama ingat."
Kini papi terdiam menatap mama, ingin tahu soal apa yang mama ingat mengenai perempuan itu.
"Vita. Kayaknya dia pernah nyebut nama itu. Katanya itu mantan model yang pernah ketemu sama kamu, Ga."
Papa berdehem, lalu menatapku curiga. "Vita?"
"Ya. Vita anak Shaqueena Verche." Kataku.
"Oh, serius? Kenapa dia ga bilang kalau itu mamanya, ya?" Mama tampak bingung.
"Kapan Vita.. cerita soal.. itu?" Tanya papa dengan sedikit tercekat.
"Hmm.. kemarin?"
"Dia bilang apa?"
"Katanya, Shaqueena itu ngidolain kamu banget."
Papa mendekat, lalu meraih tangan mama. "Sayang, boleh buatkan aku kopi?"
Mama mengangguk, lalu beranjak menuju dapur.
Sekarang papa lah yang berpindah posisi duduk disampingku.
"Kamu.. tau?" Tanya papa dengan suara pelan. Khawatir mama dengar.
"Baru tau setelah Vita terang-terangan ngebully Ari. Papa tau, Vita sengaja deketin aku untuk balas dendam. Bahkan dia mau merusak keluarga kita. I don't know how, tapi itu yang aku dengar dari temannya."
Apa yang aku katakan membuat papa diam. Jika begitu, nampaknya memang benar papa dan Shaqueena Verche punya masa lalu.
Ah.. ternyata benar. Hani bukan menyampaikan omong kosong.
"Waktu itu mama juga lagi hamil kamu. Makanya masalah ini papa urus sendiri. Tapi sampe dua tahun setelahnya, keluarga mereka masih meneror papa dan minta papa bertanggung jawab."
Kini papa mencondongkan tubuhnya padaku. "Kamu ngerti kan, Sya. Papa ngga ngelakuin apapun. Papa sengaja tutupi ini demi kebaikan mama."
Aku mengangguk lambat, mengerti dengan kekhawatiran papa. Kalau memang begitu ceritanya, papa ga salah apa-apa.
Hufft. syukurlah. Aku merasa agak berdosa karena mengira papa ada apa-apa sampai buat mama Vita seperti itu.
"Lagi bicarain apa, sih. Kok bisik-bisik." Mama datang membawa secangkir kopi dan air hangat untukku.
"Makasih, sayang." Papa meneguk kopinya, lalu mama duduk di anak tangga dibawah papa.
"Ma, mama... ga marah karena Arsya suka sama Ari, kan." Tanyaku dengan hati-hati. Air hangat di gelas kugenggam erat.
"Kalau Ari yang buat anak mama senang, kenapa mama marah? Ari anak baik, mama tau gimana anak itu."
Ah, syukurlah. Sekarang tinggal gimana aku memulihkan hati Ari yang sudah terlanjur kecewa padaku.
...🍭...
Malam itu, aku mendengar Ari batuk dan terus bersin-bersin. Dia pasti sakit karena hujan-hujanan tadi malam. Aku jadi khawatir. Tapi jendela Ari terkunci rapat, sampai aku ga bisa menyelinap masuk. Dia pun ga datang ke sekolah karena sakit. Semangatku menipis...
"Syaa.., Syaa.."
Aku menoleh saat pak Toni memanggil. Dia melambaikan tangan, menyuruhku datang.
Pak Toni menarik tanganku saat aku mendekat.
__ADS_1
"Pak, kan udah aku bilang. Kalau dapat hadiah atau apapun ambil aja buat bapak."
"Iya, tau. Tapi ini soal lain."
Hng?
Pak Toni melirik kesana kemari, lalu berbisik, "tadi bapak denger, katanya kamu mau dikerjain."
"Hah. Apa, pak? Aku ga ulang tahun."
"Isk! Kamu ini." Pak Toni membisikkan lagi, membuatku menunduk mempermudah pak Toni yang lebih pendek dariku. "Tadi, bapak denger.. katanya kamu bakalan dikerjain, digebukin sama anak-anak kelas tiga. Siapa ya, namanya." Pak Toni berpikir keras.
"Juna?"
"Ha, Juna. Eh, loo. Kok kamu tau?" Tanyanya kaget.
Aku menggelengkan kepala. Dasar, beraninya main keroyokan.
Aku menepuk-nepuk pundak pak Toni. "Makasih pak, infonya. Aku masuk dulu."
"Loh, loh. Kamu ini santai banget. Hee, kamu mau dikerjain loo."
Aku melambaikan tangan tak peduli dan terus berjalan masuk ke gedung sekolah.
Yah, biarkan saja.
~
"Belakangan lo jarang sama Vita, Sya."
"Iya. Perasaan di kelas mulu. Ada masalah, ya?" Sambung Danu.
"Ngga ada." Aku menjawab sembari terus memainkan game di ponsel.
"Kelas gue kan sebelahan tuh, sama kelas Vita. Trus gue denger dia sering banget ngamuk-ngamuk ga jelas. Tadi juga sampe banting meja." Terang Danu.
"Ah, serius lo, Dan. Masa cewe mirip dewi khayangan kaya gitu."
"Iya. Gue liat sendiri, kok. Katanya cuma karena hal sepele. Gue aja kaget liatnya. Apa putus sama lo, Sya?"
"Ga pacaran gue sama cewe kaya gitu."
Danu dan Zaki saling pandang. "Serius, jadi bener dong kata temennya kalo Vita jadi suka marah-marah semenjak lo putusin." Kata Danu lagi.
Aku menyimpan ponsel saat bel tanda istirahat berakhir. "Gue ga pernah pacaran. Jadi apa yang mau diputusin. Tapi semenjak dia ngusik Ari, gue ngejauhin dia."
Zaki menggaruk kepalanya. "Jadi, lo sama Ari-"
"Udah bel. Sana pegi!"
Danu dan Zaki yang masih bingung pun harus menahan rasa penasaran mereka karena harus keluar saat guru berjalan masuk ke kelasku.
Sepulang sekolah, aku mendapat motorku yang terparkir tercoret dengan banyak pilox. Helm pun pecah dan penuh coretan merah dan biru.
Sejenak aku teringat ucapan pak Toni pagi tadi. Aku pikir ini juga bagian dari kerjaan Juna.
Dan benar saja, ada memo kecil di kaca spion motor.
'Temui gue di belakang.'
Hmm.. Jadi gini cara Juna dalam bersaing? Oke, gue ikutin.
TBC
__ADS_1
Jangan lupa Vote🙈