HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Long Distance Relation-shit 94


__ADS_3

Hening. Baik papa, mama, om Ibra yang kebetulan hadir, dan juga aku yang menunggu jawaban.


Yah, aku memang udah duga ini, sih. Kalau ke London, papa selalu izinin karena ada grandmom disana. Tapi kalau Rusia, Visa aja ga punya.


"Emang mau ngapain ke Rusia, Sya? Mending ke Korea noh, lagi viral."


Aku diam saja mendengar ucapan om Ibra. Ngga bisa jelasin apa-apa. Terlebih diamnya papa membuatku tahu, kalau ini adalah sebuah penolakan.


Aku melirik mama, memasang ekspresi memohon supaya mama membantu bicara pada papa.


Mama menghela napas, aku tersenyum saat dia memiringkan tubuh ke arah papa.


"Biarin ajalah, Ga. Kamu tinggal hubungin mas Tama, supaya dia jemput Arsya di bandara. Dia kan, bisa tinggal disana beberapa hari. Aku rasa mas Tama ga akan masalah."


Mata papa tak lepas dariku, bukan tatapan yang menyenangkan.


"Masih kecil, Du. Lagian disana bukan pake bahasa inggris juga." Sahut om Ibra.


"Arsya udah 17 tahun ya, om." Masih kecil apanya. SIM dan KTP udah punya, kok.


"Loh, kok cepat banget. Perasaan baru ngerayain ultah ke 9 taun."


"9 tahun berapa tahun yang lalu, ip. Ada-ada aja." Sahut Mama pula.


"Ini sih, gue yang udah tua namanya."


Papa melirik om Iip. "Ngga nyadar, lo?"


"Engga. Soalnya muke gue awet. Hehehe."


Hadeh. Malah pada becanda. Padahal aku butuh jawaban pasti. "Gimana pa, ma?"


"Janganlah, Sya. Jauh."


Ah, om Iip. Biasanya juga bantuin, kok kali ni malah ngeralang.


"Arsya punya tabungan. Papa mama jangan khawatir." Ucapku, saat sudah ku cek berapa ongkos pesawat ke Rusia pulang dan pergi.


"Siapa yang khawatirin duit. Tulangmu masih retak. Juga belum tanggal liburan. Mau bolos berapa hari?"


Aku mendesah saat papa mengatakan itu. Walau sakit pun, aku bisa bertahan kalau cuma ke Rusia doang. Nggak lama, kok.


"Hm. Bener, tuh. Lagian Visa kesana juga ga main-main. 2 minggu baru selesai." Jelas om Ibra.

__ADS_1


Astaga. Selama itu? Kesal banget dengernya. Kenapa sih, susah banget lancarnya kalo soal Ari. Kayak kesabaranku diuji bener-bener!


"Rusia bukan negara dekat. Harus banyak persiapan untuk kesana. Kamu pikir kaya ke Singapura bisa pulang balik seenaknya. Kamu lagi sakit, sekolah juga. Kalau pergi pun gak bisa sendiri." Tukas papa dengan tegas. Kalau begini, mama udah pasti ga akan bisa nolongin.


Aku udah ga semangat dengan pembicaraan ini. Padahal tadinya aku senang banget. Sesuatu dalam diriku kayak ga tenang, apalagi ada perasaan yang harus disampaikan.


"Lagian Rusia kan, lagi perang. Cari tempat lain aja, gimana."


Aku tak lagi menyahuti om Ibra. Wajar, dia ga tau apapa. Tapi papa, argh...


"Sya, gimana liburan semester ini nanti, kita ke Rusia. Bareng-bareng. Ya?" Bujuk mama.


Aku mengangguk, lalu beranjak dari sofa dan naik ke kamar.


Yah, mau gimana lagi. Aku tetap harus nurut keputusan papa. Lagian yang dibilangnya semua bener.


Mana bisa aku berontak dan kabur gitu aja saat semua kebutuhan dan keinginanku selama ini sering dituruin. Tabungan ada juga karena mama sering ngelebihin uang jajan yang jarang kupake.


Aku bersandar di kepala ranjang sambil memperhatikan selembar foto Ari yang tersenyum memeluk boneka kesayangannya.


"Lu, sih. Ngapain pake kabur segala ke Rusia. Kalau ke Australi atau Singapur kan masih bisa gue kejar. Ketemu seminggu sekali juga ayo. Ini, ke Rusia." Ucapku kesal pada Ari.


Sedetik kemudian aku tersenyum saat mengingat suara Ari yang menangis-malu mengungkapkan perasaannya.


Kalo aja dia ngode, nunjukin ke gue, udah pasti gue gas. Pinter banget nyembunyiin perasaan.


Hufff. Sekarang ga tau lagi harus apa selain menunggu sampai dua bulan lagi biar bisa pergi bareng papa dan mama. Sabar, Sya, sabar.


~


Kayaknya perasaanku bukan lebih baik setelah tahu gimana perasaan Ari. Semakin ga bisa tenang, karena situasi yang setengah-setengah ini.


Ingin menyusul, ngga bisa. Ingin ungkapin perasaan via telepon juga ga bisa. Nyiksa banget. Akhirnya aku memutuskan untuk bermain game saja di balkon sambil merasakan udara malam.


Setelah dinner, aku melangkah menuju balkon atas dengan membawa segelas jus jeruk buatan mama.


Namun saat aku di atas, aku melihat papa ada disana. Berdiri, sendirian.


"Pa, ngapain."


Papa menoleh ke belakang, lalu menghadap depan lagi tanpa memperdulikanku yang duduk berselonjor, mulai mengeluarkan ponsel.


"Ari tadi telpon. Nanya kabar mama sama papa. Katanya juga udah telepon kamu."

__ADS_1


Loh, nomor Ari sempat aktif lagi? Aku mencoba meneleponnya, tapi tidak bisa.


Papa membalikkan badan, menyandarkan bokongnya pada besi pembatas. "Pengen banget kamu kesana?"


"Jangan ditanya." Aku memperhatikan jus jeruk yang tadi kubawa. Ada tetesan air di gelas yang dingin. Tetesan yang mirip air mata. Aku teringat Ari. Dia juga pasti ngerasakan hal yang sama. Atau mungkin lebih parah, karena dia ngerasa perasaannya bertepuk sebelah tangan. Dia ga tau kalau aku lebih dulu punya feeling beda ke dia.


"Tapi ga apapa, Arsya sabar kok, sampe liburan nanti. Ga nyampe dua bulan lagi, kan."


Papa melempar paspor ke atas meja. Pasporku, dan dua carik kertas di dalamnya. Apa maksudnya?


"Pergilah."


Hah? Aku langsung meraih paspor dan membuka kertas yang ada di dalamnya. Dua buah tiket pulang pergi ke Rusia??


"Pa, ini..."


"Besok pagi jam 9, jangan telat."


"Paa." Aku berdiri, terus menatap tiket di tanganku. "Vi-visanya?"


"Lucky you, Indonesia dan Rusia jalin kerjasama hingga Indo masuk dalam negara yang bebas Visa ke Rusia."


Aku menganga, tak percaya. I-ini.. serius?


"Paaa.."


"Apa sih, pa pa pa. Mau pergi, nggak? Kalo gak, papa ambil nih-"


"MAULAHHH!" Jawabku cepat, kuat, dan semangat sambil menjauhkan tiket dari jangkauan papa. Enak aja mau diambil lagi tiket menuju kebahagiaan ini.


Papa tersenyum melihatku yang antusias.


"Makasih, pa." Aku langsung memeluk papa kuat-kuat, sampai dia sesak dan memukuli punggungku.


"Syaa-syaa-syaaa.." pekiknya.


"Hehehe. Maaf pa, terlalu semangat." Aku melepaskan pelukan. Menatap terus pada tiket berharga.


"Istirahat sana. Perjalananmu memakan waktu hampir 19 jam besok. Nanti papa kirim alamat hotel yang udah papa booking buat kamu tidur. Papa juga udah hubungin Tama buat jemput kamu di bandara."


Aah. Papa. I love you so much.


"Ada lagi?" Tanya papa padaku yang langsung menggeleng cepat.

__ADS_1


"Perfect, dad. Love you so much." Aku yang terlampau gembira langsung berlari untuk packing keperluan besok. Aaah. Aku yakin, aku ga akan bisa tidur dengan dada semembuncah ini!


__ADS_2