HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Hari-Hari Berat 87


__ADS_3

Saat akan melangkah menjumpai Juna, ponselku berdering dan Mama menelponku.


Mama memintaku pulang cepat lantaran di rumah akan mengadakan acara ulang tahunku bersama anak-anak panti.


Ah, ulang tahun, ya. Ari.. belum ucapin apapun. Apa dia lupa?


Walau sebenarnya aku ingin sekali menemui Juna, tapi aku memilih pulang saja lantaran khawatir mama sedih kalau di hari ulang tahunku, aku malah membuat masalah.


Tapi tenang aja. Besok pasti aku yang akan datangin.


Sampai di rumah, aku melihat mama sibuk dengan sajian nanti malam.


"Happy birthday, sayang." Mama mengecup dahiku.


"Tadi pagi kan, udah ma."


Mama hanya tersenyum. Lalu mengusap-usap wajahku. "Kamu semakin besar, semakin dewasa, makin tampan. Tapi juga buat mama makin khawatir."


"Ma.." Kutegur begitu, mama tertawa kecil.


"Ingat ya, Sya, pesan mama-"


"Ingat, ma. Ingat. Arsya sampai hapal lo." Aku lalu menggenggam kedua tangan mama. "Arsya berusaha untuk ga kecewain mama. Arsya ga akan ngelakuin apa yang menjadi kekhawatiran dalam hati mama. Arsya sayang sama mama."


Mama menarikku, sampai aku harus membungkuk supaya mama lebih leluasa memelukku.


"Apa lagi zaman coret-coret motor di hari ulang tahun?"


Kami menoleh pada papa yang baru masuk menenteng tas kerja. Ia melonggarkan dasi, lalu mengecup kening mama.


"Coret motor apa?" Tanya Mama, mengambil alih jas dan tas papa.


Papa malah menatapku, meminta jawaban saat ia yakin itu bukan bagian dari perayaan ulang tahun. Melihat helm dan kaca spion pecah, juga beberapa bagian lainnya membuat papa yakin motor itu lebih terlihat sebagai korban bully.


"Ah, nanti Arsya ceritain. Mau naik dulu, hehehe" Aku kabur naik ke lantai dua menuju kamar. Sesampainya di atas, aku langsung masuk ke kamar Ari saat kulihat jendelanya terbuka lebar.


Kesempatanku bisa menatap Ari yang tertidur. Badannya masih panas, dan aku berinisiatif mengompres dahinya dengan handuk basah.


Tak lama setelah itu, aku buru-buru keluar lantaran mendengar suara kak Tari yang hendak masuk ke kamar Ari.


"Sya.."


Tepat saat aku baru menutup jendela, mama membuka pintu kamarku. "Temenin mama belanja, yuk. Ada yang belum kebeli."


Dari seberang, aku mendengar suara Ari yang menyahut panggilan kak Tari.


"Iya, Ma." Jawabku pada sang mama.


...🍭...


Malam itu, aku cukup bahagia. Anak-anak panti dan keluargaku berkumpul bersama untuk merayakan hari kelahiranku. Tapi dari semua itu, masih terasa kurang saat satu-satunya orang yang kutunggu tidak menunjukkan wajah. Bahkan Ari, yang biasa selalu menjadi orang pertama, belum mengucapkan ulang tahun padaku. Padahal aku menunggu.


Tapi karena dia sakit, aku jadi tidak terlalu banyak berharap.


"Kak Sya.. kak Sya.."

__ADS_1


Ujung bajuku ditarik-tarik oleh seorang anak laki-laki, berusia 6 tahun.


"Iya?" Aku berjongkok, menyamakan tinggi dengannya.


"Selamat ulang tahuuunnn..." Serunya dengan bahagia. Dan beberapa anak lain menghampiri dan membentuk lingkaran, menyanyikan ulang tahun sambil berputar dan bertepuk tangan.


Ah, manisnya. Mereka tampak begitu senang dan bersemangat setiap ada yang ulang tahun di panti ini.


Saat anak-anak ini bernyanyi, kulihat Ari sudah berdiri di tengah anak tangga, memperhatikanku.


Aku ingin tersenyum, tapi dia langsung mengalihkan wajah.


"Ari."


Mama yang lagi menyusun makanan di atas meja melambaikan tangan pada Ari, mengajaknya untuk turun dan berkumpul bersama yang lain.


"Sini turun, nak."


Dia mengangguk, lalu berjalan sambil sesekali melihat ke arahku.


Aku lihat Ari sudah berpakaian cantik dan rapi. Dia juga tengah mengobrol dengan mama, aku ingin tahu.


Setelah anak-anak selesai, aku meminta mereka bermain bersama, sementara aku mendekati Ari.


"Mau kemana, nak?" Tanya mama samar-samar kudengar. Apa Ari mau pergi?


"Pacar Ari juga ulang tahun malam ini. Boleh Ari pergi?"


Mama menatapku saat Ari mengucapkan keinginannya dan terus terang, aku kecewa.


"Lho, sayang. Kamu masih sakit." Mama menggenggam kedua tangan Ari yang masih terlihat pucat.


"Eum.. bentar aja kok, Bun. Itu juga kalo bunda izinin."


Mama melihat ke arahku. Pandangan itu seperti meminta jawaban apakah aku mengizinkan atau tidak.


Melihat bagaimana keinginan Ari yang tengah sakit untuk pergi, aku.. mengangguk.


"Ya udah, kamu hati-hati ya. Cepat pulang, soalnya disini butuh kamu." Ucap mama padanya.


Ari mengangguk pada mama, lalu berbalik ke arahku.


"Eng.. Happy birthday ya, Sya."


Aku menatap dalam diam. Sejujurnya aku ingin dia disini. Aku ingin menahannya, tapi ga bisa kulakukan karena jika lagi sakit pun dia ingin pergi, artinya keinginannya itu sangat kuat.


Setelah Ari pergi, mama mengusap rambutku. "Ngga apapa, kan?"


Aku menggelengkan kepala. "Engga, ma. Bisa kita mulai sekarang?"


Aku ingin mengawasi Ari. Entah kenapa sejak siang tadi, perasaanku soal Juna semakin ga enak aja.


...🍭...


Dugaanku ga salah soal Juna. Aku yakin ada sesuatu yang akan dilakukannya pada Ari.

__ADS_1


Saat aku datang, aku melihat Kai, teman sebangku Ari berdiri dengan gelisah. Aku langsung menghampirinya.


"Hei. Mana Ariva?" Di titik ini, aku ga peduli respon mereka soal siapa aku menanyakan Ari. Tapi kurasa, Kai mungkin sudah tahu.


Aku mendongak melihat ke dalam ruang. Ada Vita, aku merapatkan tubuh ke tembok.


"Dia di ruang sana. Tapi, lagi ada masalah, sih."


Kai menujuk satu ruang, kudengar berisik dari sana.


"Thanks, ya. Sekarang gue yang jagain Ariva." Ucapku saat kuyakin Kai berdiri tak tenang sejak tadi karena Ari.


Lama dia menyahut, sebelum akhirnya mengangguk dan berlalu pergi.


Sebelum aku mendekat, aku melihat salah satu teman Ari juga masuk ke dalam. Lalu aku mengintip dari celah pintu dan mendapati Ari menangis.


"Lo tau kan, gue naksir Kai dari kelas satu? Dan lo.. segampang itu dekat sama dia?" Teriak Hani.


"Va.., Badan lo panas. Gue anter pulang, ya." Ucap perempuan yang baru masuk itu, merangkul Ariva.


"Lo jangan pura-pura, Ma!"


"Han, udahlah. Lo kan, udah dapet apa yang lo mau!"


"Asal lo tau ya, Va. Juna ini sepupunya Salma!"


Dan, beberapa menit berdiri disana berhasil membuatku naik pitam. Apalagi mendengar alasan apa yang membuat Juna mendekati Ari, lalu ternyata selingkuh dengan Hani.


Aku memilih pergi, menunggu Ari diluar yang aku yakin pasti sedang dalam kekalutan.


Tak butuh waktu lama bagiku, sampai Ariva keluar sambil berlari kecil, menangis sesegukan menutupi sebagian wajahnya.


Dalam keadaan itu, apa yang paling dibutuhkannya?


Tentu saja pelukan. Aku menarik lengannya saat ia lewat di dekatku. Membawanya masuk ke salah satu ruang yang sepi dan memeluknya erat.


Ari menatapku dengan wajah basah. Lalu segera ia memelukku dan menangis di dadaku. Terisak, terguncang, sampai hatiku ikut teriris melihatnya.


Bagaimana pun yang kulakukan hanyalah mengecup lembut puncak kepalanya, memberikan kehangatan dan ketenangan sesaat sebelum aku membawanya kembali pulang.


~


Ari masih tergugu di atas ranjang sambil meringkuk dibawah selimut. Aku tak bisa meninggalkannya begitu saja saat tangisnya belum juga reda. Kudengar, Juna berciuman dengan Hani dan Ari melihatnya secara langsung. Belum lagi pengakuan brengsek Juna yang hanya memanfaatkan Ari demi sebuah game kolosal yang dijanjikan sepupunya hadiah dari mendekati Ari.


This is the relationshit. Hubungan pertemanan yang Ari anggap sahabatnya selain aku. Bahkan aku masih sangat Ingat bagaimana Ari tertawa senang saat memiliki dua sahabat tambahan yang sayang padanya. Tapi ternyata tak sebaik yang Ari kira.


Aku mengelus kepalanya, sambil berbisik pelan. "Ri, udah, ya. Gue disini, gue akan jagain lo."


Mendengar itu, Ari membalikkan badan ke arahku yang duduk di tepi ranjang.


"Mereka.. hiks.. jahat..." Ucapnya tercekat, bahunya masih terguncang saat mengatakan itu. Lalu memeluk lenganku erat.


Entah kenapa hatiku merasa sakit. Rasanya aku juga ingin menghajar Juna. Dan besok waktunya. Aku ga akan ngehindar. Kupastikan dia akan menyesali perbuatannya.


TBC

__ADS_1


Guys harini crazy up yukk.


__ADS_2