HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Birthday Party 49


__ADS_3

"Lho, sayang. Kamu masih sakit." Bunda menggenggam kedua tanganku yang terasa lebih hangat.


"Eum.. bentar aja kok, Bun. Itu juga kalo bunda izinin."


Kalo ga diizinin, mungkin aku akan cabut sekitar jam 9 saat acara ini selesai dan anak-anak tidur.


Bunda melihat ke arah Arsya. Mungkin komunikasi antar batin soalnya aku ga liat wajah Arsya yang nampaknya tengah dimintain jawaban oleh bunda.


"Ya udah, kamu hati-hati ya. Cepat pulang, soalnya disini butuh kamu."


Eh, diizinin?


Lagi pula disini ga ada rangkaian acara khusus. Cuma makan malam aja rame-rame, kan.


Aku berbalik menghadap Arsya. Nampaknya bunda tahu hubungan kami berjarak.


"Eng.. Happy birthday ya, Sya."


Aku memang belum ucapin apapun. Padahal tahun lalu, aku menyelinap masuk ke kamarnya dan bangunin dia di jam 02 untuk merayakan kelahirannya. Ya, soalnya kata bunda Arsya lahir di jam segitu. Jadi, aku mau ngerayainnya pas di jam itu.


Arsya hanya diam menatap tanpa menjawab apapun setelah aku mengucapkan itu padanya. Terlihat kaku, aku pun berusaha melarikan diri saja dari pada disidang bunda karena kami tidak lagi sedekat dulu.


Aku berjalan keluar dan memesan taksi online.


'Lo yakin datang, Bo?' tanya Kai diseberang. Aku meneleponnya untuk menanyakan apakah acara udah dimulai. Tapi Kai malah ceramah.


"Yakin. Gue udah dijalan."


'Lo gimana, sih? Bukannya lagi sakit, ya. Juna pasti ngerti kalo lo ga bisa dateng.'


"Iya, tapi acara ini kan, belum tentu setahun sekali juga. Trus tempatnya juga ga jauh. Gue bentaran doang, kok." Jawabku sambil melihat lampu jalanan kota.


'Hh..' terdengar pula helaan napas Kai. 'Ya udah, gue juga lagi di jalan mau kesana. Lo tunggu di depan, jangan langsung masuk. Ntar masuknya bareng gue.'


"Eh? Lo bukannya ada disana sekarang? Kok malah baru dateng?"


'Tadinya ga niat dateng. Ingat ya Bo, tunggu gue di depan.'


Aku memutuskan sambungan telepon. Acaranya udah berjalan sampai mana, ya.


Kalo aku mendadak dateng, bukannya aneh, ya. Mana ga bawa hadiah, lagi.


Ah. Kayanya aku harus beli kue dulu.


Ya, supaya ga keliatan ga bawa apa-apa, aku berhenti sebentar di sebuah toko kue. Membeli bolu ulang tahun dan membuat tulisan cinta disana. Mudah-mudahan aja, kak Juna ga marah karena aku udah telat dateng kesana.


Setelah sampai, aku berhenti di lobi gedung. Katanya Kai juga mau dateng dan nyuruh aku tunggu dia disini. Tapi lama banget, aku takut kak Juna malah semakin kesel.


Dan akhirnya aku putuskan buat masuk sendiri.


Dari luar pintu, aku mendengar suara berisik. Musik, gelak tawa, dan kehebohan yang ada didalamnya.


Aku membuka kotak kue, lalu menyalakan lilin untuk memberinya kejutan.


Kalau dari yang aku tau, kak Juna cuma mengundang sekitar 20-30 orang. Artinya ngga banyak orang di dalam dan mereka pasti orang-orang yang aku kenal juga.


Hufff..


Ambil napas dulu sebelum membuka pintu. Semoga aja kak Juna seneng sama kedatangan aku.


Dengan sebelah tangan memegang kue, aku pun memutar handel pintu dan membukanya lebar.

__ADS_1


"Happy birthday to-"


Nyanyianku terhenti. Apa yang kulihat di depan ini, apakah nyata?


Tuk!


Kue yang ada di tanganku terjatuh ke lantai. Beberapa orang tampak tak acuh dan melanjutkan joget mereka. Beberapa pula memperhatikan.


Dan mataku, tidak lepas dari pemandangan luar biasa di sudut ruang sana.


Kak Juna.. dan Hani..


Aku yang membeku tetap diam saat tangan seseorang menutup mataku dari belakang.


"Jangan dilihat." Bisiknya.


Kai. Dia sudah berada di belakangku sekarang.


Tapi terlambat. Aku udah ngeliat dua orang itu ciuman bibir disana, hingga tanpa kuminta, air mataku keluar membasahi telapak tangan Kai.


"Ariva.."


Aku terisak. Kai membalikkan tubuhku dan memelukku. Aku sesegukan, memikirkan bagaimana mereka mencurangi aku selama ini. Kenapa tiba-tiba ada adegan seperti itu tepat di depan mataku. Bagaimana bisa mereka melakukan ini?


"Va.."


Suara Hani. Ingin rasanya aku menjambak rambutnya, kalau saja tempat ini tidak ramai dengan tamu.


"Gue.. pengen bicara sama lo."


Apa masih bisa bicara sekarang, Han? Apa udah ga punya malu?


Kini terdengar pula suara Juna, dan aku membalikkan tubuh.


"Seharusnya lo bilang kalo sukak sama Juna, Han. Bukannya nusuk gue dari belakang gini." Kataku dengan parau. Dan Hani menunduk.


"Gue anter lo pulang, ya."


"Tunggu, gue masih mau bicara sama Ariva!" Sela Hani pada Kai yang sudah merangkul bahuku.


"Please, gue pengen ngomong sama lo, Va."


Aku menyadari tatapan banyak orang dari dalam ruangan itu. Salma, dia ada disana. Sejak kapan dia dekat dengan kak Juna sampai diundang segala? Dia menunduk saat aku menatapnya dengan seribu pertanyaan melalui sorot mataku.


Lalu, Vita, dia tersenyum miring. Nampaknya dia senang dengan apa yang terjadi padaku saat ini.


Dan disinilah aku sekarang. Duduk di ruangan yang entah apa namanya. Hawanya terasa panas padahal AC hidup. Di depanku ada Hani, dan kak Juna yang berdiri di belakangnya.


Aku tak ingin menatap keduanya. Bagaimana mereka berciuman saja terus melayang di pikiran dan membuatku mual.


"Gue tau ini sakit buat lo. Gue juga tau, gue ga guna walau minta maaf sekarang. Tapi.. gue mau jelasin kalo gue ga pernah berusaha ngerebut Juna dari lo."


Kulihat Juna, dia mengalihkan pandangan dariku.


"Semua terjadi begitu aja, Va. Gue.. gue juga ga paham sama situasi sekarang. Dan Juna selalu ada saat gue butuh."


Tai! Dia ga ada waktu gue perlu, jadi dia ada waktu Hani yang butuh?


"Sorry, Va. Maafin gue.."


"Ga perlu minta maaf."

__ADS_1


Pandanganku kembali ke Juna yang menyentuh bahu Hani dengan lembut. "Dia juga selingkuh diam-diam dibelakang gue."


Mataku menyipit. Apa maksudnya? Siapa yang selingkuh?


"Gue tau lo punya feeling ke Arsya. Ya, kan? Gue baru tau dari Vita kalo jendela kamar kalian bersebelahan. Emang selama ini gue tau lo ngapain aja sama Arsya dengan kamar yang berdempetan gitu?"


"Jadi.. Lo beneran ada main sama Arya, Va?" Tanya Hani pula. Kini kedua pasang mata mereka menatap kepadaku seakan akulah pelaku yang sebenarnya.


"Lo juga milih dia dari pada gue. Padahal gue sayang banget sama lo. Bisa-bisanya lo pergi dan ninggalin gue. Lo pikir, lo doang yang bisa selingkuh?"


Kali ini aku mengerti, kenapa Arsya ga suka sama Juna dan menganggap cowok ini ga sebaik yang terlihat.


"Trus gue juga lama-lama jadi ga percaya kalo om-om itu keluarga lo. Atau jangan-jangan tuduhan mereka bener kalo lo itu sebenarnya.."


Juna menahan kalimatnya. Dan aku tersenyum. Gilaa, laki-laki inikah yang selama ini aku taksir?


"E-emang bener ya, Va? Jadi.. kenapa lo bisa beli barang mahal itu..." Kini Hani pula ikut-ikutan menimpali.


"Hhh. Gue ga mau lo hadiahi barang haram kaya gitu!"


Beneran laki-laki brengsek lo, Juna!


Aku ga mau membalas tuduhan Juna. Aku cuma ingin kabur dari tempat ini.


"Kalo gitu.. selamat, ya." Kedua orang itu tampak kaget dengan jawabanku. Bukannya membalas pernyataan mereka, aku justru tersenyum walau entah kenapa air mata sialan ini malah jatuh. Aku menghapusnya dengan cepat.


"Selamat karena udah nunjukin sifat asli kalian ke gue. Lo juga, Han. Gue nganggep lo sahabat gue selama di sekolah. Nyatanya lo sanggup kaya gini ke gue. Pengkhianat." Kataku sambil tersenyum dengan sisa air mata di pipi.


"Tapi tenang aja. Gue ga sesedih yang kalian liat. Gue seneng, justru Tuhan tunjukin ini ke gue sekarang." Aku berdiri, ingin cepat-cepat pergi.


"Lo juga bukan teman yang baik!" Kini Hani benar-benar menunjukkan wajah aslinya. Mungkin sejak tadi dia berusaha untuk tetap baik padaku.


"Lo tau kan, gue naksir Kai dari kelas satu? Dan lo.. segampang itu dekat sama dia?"


Apa lagi ini? Bukannya udah dapet Juna? Dan di saat itu pula Salma masuk dengan wajah cemasnya.


"Va.."


Ah, ini dia. Sahabatku yang lebih mengerti.


Dia datang mendekat, lalu merangkulku. "Badan lo panas. Gue anter pulang, ya." Ucap Salma, bersiap membawaku pergi.


Aku mengangguk. Syukurlah masih ada teman yang perhatian sekarang ini.


"Lo jangan pura-pura, Ma!"


Badanku berbalik kembali saat mendengar suara Hani.


"Han, udahlah. Lo kan, udah dapet apa yang lo mau!"


Apa maksudnya? Apa selama ini Salma tau yang terjadi antara Hani dan Juna?


"Asal lo tau ya, Va. Juna ini sepupunya Salma!"


A-apa?


"Dan lo pasti udah bisa nebak kenapa Juna bisa tiba-tiba dekat sama lo-"


"Cukup, Han!"


TBC

__ADS_1


__ADS_2