
Sebenarnya aku ga perlu repot ngurusin apa sebab Vita deketin aku. Sebab hubungan kita sudah berakhir dan aku juga belakangan baru tahu Vita ternyata seperti itu. Di depanku, dia bertingkah imut dan manja, sampai aku yakin siapapun yang melihat ga akan nyangka kalau Vita punya kepribadian ganda.
Tapi cerita Hani siang tadi terus membuatku kepikiran sampai sekarang.
"Please, kasih gue waktu buat jelasin ke lo. Gue juga diambang kebingungan."
Aku membuang wajah, dengan malas mendengarkan kata demi kata yang keluar dari mulut Hani, sampai beberapa detik membuatku bergeming.
"Dia mau balas dendam sama lo, keluarga lo." Ungkap Hani mulai bercerita. "Lo tau ngga, mamanya Vita, Shaqueena Verche, mantan model yang pernah hampir bunuh diri karena bokap lo."
A-apa..
"Dulu banget. Nyokap Vita sempat stres lantaran dia merayu bokap lo dan buat cerita seolah dia tengah berpacaran sama bokap lo. Trus bokap lo nentang keras di media, sampe nyokap Vita dibully habis-habisan di media sosial dan akhirnya dia bunuh diri, tapi gagal."
Ada cerita seperti itu? Aku.. ga pernah dengar dari siapapun. Bahkan di internet juga ga ada.
"Lo mungkin mikir gue boong. Tapi ini nyata. Beritanya diturunkan karena pihak agensi nyokap Vita yang turun tangan buat menghapus jejak digital. Tapi kalo lo teliti, masih ada kok, di internet."
Kemudian dia melanjutkan. ".. asal lo tau. Vita itu anak yang hamil diluar nikah. Dulu nyokapnya diperkosa dan lahirlah Vita. Nyokapnya depresi dan sempat masuk rumah sakit jiwa. Sementara Vita diasuh neneknya. Untungnya nyokapnya sembuh dan menikah dengan pengusaha besar. Makanya, waktu pertama kali tau lo anak Arga Alexander, Vita ngerasa kesal setiap ngeliat lo sampe dia mutusin buat deketin lo dan akan bikin lo jatuh cinta ke dia. Setelah itu dia akan ninggalin lo dan buat lo persis seperti apa yang nyokapnya rasain dulu."
Ah. Cerita Hani membuatku tak bisa bicara lagi. Aku juga belum tahu pasti, jika ini benar, seharusnya papa tau, kan.
"Tapi kayanya Vita terperangkap dalam jebakannya sendiri. Lo tau, Vita abis nangis di toilet dan kita baru tau kalo lo dan dia udah selesai. Itu artinya, dialah yang jatuh cinta sama lo, makanya dia ngerjain Ariva, karena cemburu."
Apa benar begitu? Tapi kalau emang Vita punya rencana, kenapa dia sedekat itu ke mama dan papa?
"Maafin aku, sayang. Aku ga tau kamu dipermalukan begitu di kantin. Aku tadi ngurus anak futsal. Aku ngerasa bersalah banget.."
Suara Juna membuyarkan lamunanku. Aku mengintip ke jendela kelas Ari. Kulihat Juna berjongkok dibawah, meminta maaf pada Ari. Udah berapa menit aku berdiri disini, menunggu cowok itu pergi supaya aku bisa membawa Ari.
"Aku akan kasih Vita dan yang lain pelajaran."
"Nggak perlu, kak." Jawab Ari.
Mau berapa lama aku menunggu? Ah. Nggak sabar. Aku memutuskan masuk ke kelas Ari dan akan membawanya pergi.
"Oke. Kalo gitu kita pulang, ya."
Tepat saat mereka akan bergerak, aku datang.
"Ayo, pulang."
Mata Ari membulat lebar. Aku tau dia kaget dan mengatakan dalam hatinya, 'apa-apaan!'
"Ayo." Tanganku mengulur, memintanya ikut denganku saja. Ini perintah, bukan tawaran. Lo tau kan, Ri, gue gimana.
"Hei. Lo ga liat ada gue disini?"
Aku menarik napas, lalu kembali menatap Ari tanpa memperdulikan Juna. "Pulang bareng gue."
"Ariva pulang bareng gue!" Tukas Juna geram.
Aku menurunkan tangan yang tak kunjung disambut Ari. Gadis itu menunduk dan terlihat bingung.
"Terserah, lo mau pulang bareng gue atau dia." Tukasku lagi.
Aku masih menunggu, sampai Ari mengangkat kepala dan menatap Juna dengan takut-takut.
"Kak. Aku..."
"Kamu mau pulang sama dia? Pilih dia?" Tunjuk Juna ke arahku.
Hey, bung! Udah gue bilang, Ari butuhnya ke gue.
__ADS_1
Aku langsung menarik tangan Ari keluar dari kelas. Ngga usah dijelasin, biar Juna brengsek itu sadar siapa yang lo prioritasin sekarang.
Aku keluar kelas sambil tersenyum puas. Puas karena Ari pilih aku ketimbang Juna.
Setibanya di rumah, aku melihat sebuah mobil hitam terparkir di halaman.
Aku keluar dari mobil sambil terus memperhatikan seseorang yang wajahnya sangat familiar. Pria paruh baya yang sejak dulu dirindukan Ari.
Pria itu memeluk Ari, rautnya bahagia. Mungkin karena akhirnya Ari mau memaafkannya. Begitu yang kudengar dari mama. Tapi apa maksud kedatangannya ini? Jangan bilang dia mau bawa Ari. Nggak. Nggak bisa!
"Arsya, ini om Tama." Mama memperkenalkan papa Ari padaku. Aku masih ingat tanpa dikenalkan pun.
Aku menatap Ari, meminta penjelasan. Tapi dia hanya diam.
"Kami tinggal dulu, ya." Mama mendorongku dan papa masuk ke dalam rumah, meninggalkan Ari dan papanya untuk mengobrol di teras depan.
"Sya, ngapain disitu? Ayo, masuk."
Tadinya mau menguping, tapi mama menarikku dan duduk di dapur.
"Makan, ya? Mama siapin."
"Udah, ma." Jawabku dengan mata yang terus menatap jendela. Melihat om Tama dan Ari yang saling mengobrol.
"Ma."
"Ya?"
"Ari... nggak bakalan pergi, kan.."
Mama yang tadinya menuang air pun berhenti, menatap bingung ke arahku.
Shitt! Ari...
...🍭...
Kata kak Tari, Ari ada di balkon depan. Ga ada juga. Kalau gitu, Ari pasti ada di balkon belakang, di atas genteng. Akupun menuju kesana dan memang melihat Ari duduk melamun menatap langit.
"Lo disini ternyata."
Ari menoleh, wajahnya berubah datar. "Kenapa?"
"Bokap lo balik kapan?" Aku bertanya dengan nada yang sedikit naik. Bukan aku marah, tapi aku sangat ingin tahu semuanya.
"Minggu depan mungkin."
"Trus, lo ikut?"
"Belom tau." Jawabnya dengan malas.
Ah, sial. Kenapa denger jawaban Ari buat aku kesal. Bukannya jawab kalo dia bakal tinggal disini. Tapi malah begitu, seperti mempertimbangkan keadaan.
"Lo janji, kan, mau sekolah disini terus."
Ari menekuk lutut dan memeluknya. Tatapan sendu itu kini terarah padaku. "Emang penting, ya. Bukannya sekarang lo udah sibuk banget, sampe gue aja lupa kapan terakhir kita ngobrol santai kayak dulu."
"Lo harus pegang janji lo, Ri!" Tukasku tegas. Ga peduli apapun pokoknya dia harus tepati janjinya.
Dia diam lama menatapku, mencari sesuatu yang mungkin dia belum dapatkan jawabannya, hingga akhirnya dia pun bertanya sesuatu yang aku tidak bisa menjawabnya.
"Kenapa?" Tanya Ari kemudian. "Kenapa gue harus tepatin janji gue ke elo? Emang apa untungnya di gue?"
Aku.. seperti tertusuk. Apa permintaan itu membuatnya tertekan, dan membuat semua terlalu jelas kalau akulah yang membutuhkannya, sementara dia tidak.
__ADS_1
Iya. Aku ga pernah mikir soal itu. Aku cuma mikirin gimana supaya Ari tetap ada di sisiku sementara dia sendiri ga tau apa fungsinya dia ada di dekatku. Apa harus kuperjelas, Ri?
Ari turun dari atas melompat kecil dan berdiri tepat di hadapanku.
"Kenapa gue harus terus di sisi lo sementara lo nggak ada pas gue butuh. Lo enak, asyik-asyik pacaran sama Vita. Lo tau nggak, kalo ga ada Kai, Karin, dan Hajoon, gue bakalan kayak apa di sekolah?" Nadanya meninggi, Ari mulai marah.
"Jadi gue pikir-pikir, buat apa gue disini? Sekolah penuh dengan gosip tentang gue. Gue dipermaluin, gue difitnah, dibully. Dan lo...!" Ucapan Ari terdengar kecewa, sedih, dan marah padaku. Aku langsung merasa kecil detik itu juga.
"...lo dimana? Lo tau nggak, cewe lo itu udah ngelakuin apa aja selama ini ke gue?"
Gue di belakang lo, Ri. Gue ada dibelakang lo buat ngelindungi lo. Gue emang ga keliatan di depan, tapi gue berusaha musnahin orang-orang yang jahatin lo!
Air hujan menetes, dan air mata Ari menggenang.
"Gue pikir, kalo gue pura-pura ga ngenalin lo di sekolah, gue bakalan aman. Tapi ternyata enggak. Justru gue semakin dibully cuma gara-gara cewe sialan lo itu gak sukak sama guee!!?"
Aku merasa Ari tengah mengeluarkan semua yang selama ini ada di hatinya. Apa yang ia katakan, membuat aku tak bisa membalasnya. Karena aku memang terlambat tahu...
Hujan turun, deras, walau tetap bisa kulihat air mata Ari keluar.
"Lo tau, selama ini gue tahanin, dipermalukan, dihina. Gue anggap semua salah paham. Tapi liat diri lo! Lo enak-enakan pacaran sementara gue..." Ari terisak. Sorot matanya tajam menusukku.
". .Sementara gue tersiksa cuma karena cewe lo cemburu?"
Maafin gue, Ri. Gue emang keliatan ga berguna. Tapi satu hal yang harus gue tekankan ke elo...
"Ri, dia bukan cewe gue."
Aku mohon, percaya. Aku akan berusaha memperbaiki semuanya.
Mari bicara dan jelasin semuanya, Ri.
"Gue capek, Sya." Aku menahan lengan Ari. Please, jangan pergi.
Mungkin terdengar aneh saat semua kekecewaan yang dijelaskannya tak membuatku bergeming kecuali satu hal itu. Sesuatu yang Ari harus tahu.
"Gue ga punya hubungan khusus sama Vita, Ri." Aku jelasin, aku ga mau Ari salah paham dan ngira kalau aku menyukai Vita.
"Nggak ada lo bilang?? Trus selama ini apa, Sya? Date, pelukan, ciuman-"
"Gue nggak pernah ciuman!!" Aku memotong ucapannya dengan cepat. Nggak, aku ga pernah melakukan apa yang menjadi bayanganmu selama ini.
"Terserah. Gue ga peduli lo mau ngapain sama Vita, yang perlu lo tau gue bencii. Bencii banget sama cewek lo itu!"
Aku menarik bahu Ari sampai tubuh kami saling mendekat, kutatap mata yang bersedih atas segala perbuatanku selama ini.
"Gue mau lo tau, gue sama sekali nggak pacaran sama Vita. Bukan dia cewek yang gue suka, Ri. Lo harus tau itu!"
Bukan dia, Ri. Tapi elo. Gue sukak dan bahkan gue ga tau lagi gimana susahnya kalau gue ga liat elo walau sehari. Gue rasa ini udah ga sekedar suka biasa. Gue... cinta sama lo!
Aku menatap wajah pucat yang kedinginan itu. Ari, sorot matanya juga berbeda.
Apa harus aku bilang sekarang kalau aku sangat-sangat menyayanginya. Ada sesuatu di hatiku yang aku ingin Ari tahu. Tapi kalau aku jujur, apa Ari bisa menerimaku? Aku cuma ga bisa jauh dari Ari. Pengakuan ini mungkin membuat Ari ga nyaman nantinya.
Tapi aku ingin perasaanku tersampaikan. Aku ingin Ari tahu ada gejolak indah yang hebat saat aku dekat dengannya.
"Ri-"
"Gue benci sama lo, Sya."
Baru ini aku merasakan dingin menusuk hingga ke tulang. Tubuhku membeku setelah mendengar kalimat itu.
"Gue.. benci sama lo." Tekan Ari lagi.
__ADS_1
Tanganku tak lagi mampu menggenggam Ari yang pergi meninggalkanku begitu saja.
Sorot mata yang berbeda, belum pernah kulihat, ternyata menyimpan rasa benci di dalamnya.