
Setelah berjalan setengah jam, mobil berhenti di deretan bangunan yang amat tinggi.
Serius kesini? Aku mengedarkan pandangan. Hajoon sudah keluar dari mobil.
"Kok kesini?" Tanyaku, mengikuti Hajoon melangkah menuju satu gedung yang paling tinggi diantara gedung lainnya.
"Nyampe juga lo." Kai ternyata udah berdiri menunggu kami di depan pintu masuk.
"Karin mana?" Tanyaku.
"Di atas."
Aku mendongak. Ini benar-benar tinggi. Aku memperhatikannya sampai tak sadar Hajoon dan Kai sudah meninggalkan aku.
"Va, come on!" Teriak Kai, dan aku berlari mengejar.
Ini udah jam pulang kantor, jadi lokasi ini cukup sepi. Hanya ada beberapa penjaga dan karyawan lembur.
Kami masuk ke dalam lift. Kai menekan angka 21 dan ruang kotak kecil ini pun naik menuju lantai yang paling atas.
Setelah sampai, ternyata harus memakai sidik jari dan scan iris mata. Wah, ini sih gila. Untuk masuk harus seketat itu. Mungkin ini kenapa Kai nunggu kami diluar tadi.
"Vaaa!"
Seperti biasa, Karin menyapa riang saat aku datang. Tangannya melambai menyuruhku mendekat.
Angin menerpa wajah dengan lembut. Di atas sini, terlihat seperti kafe outdoor dengan interior luar biasa.
"Liatin apa, sih."
Karin menunjuk benda-benda kecil di bawah kami. Ya, deretan mobil di lampu merah.
"Lucu, kaya mobil mainan." Katanya sambil tergelak.
"Kai, ini apa?" Tanyaku pada Kai yang lagi nyusun barang di atas meja bersama Hajoon.
"Taman rooftop. Rencana sih, bokap mau buat ini jadi rooftop bar. Tapi masih gue tahan karena gue suka tempat ini."
Aku menganga. "Ini punya lo?"
"Bokap gue." Katanya sambil tertawa melihat reaksiku. "Cepat bantu. Malah bengong."
Aku dan Karin mendekati mereka. "Buat apa, sih?"
"Malam ini kita manggang daging. Spesial resep dari Hajoon. Tau lah, orang Korea hobi manggang." Sahut Karin. Bersiap membantu menyusun barang di atas meja bundar yang akan menjadi tempat duduk kami malam ini.
"Serius? Wah..." aku benar-benar antusias. Selain lokasi, berkumpul bersama mereka begini, aku menyukainya.
"Tadi ada Vita disana."
Hajoon mulai pembicaraan. Dia memasang grill dan membersihkannya.
"...Dia di rumah Arsya, kebetulan tetangga Ariva."
Kai dan Karin menatapku. Membuatku agak gugup, tapi cukup paham dengan situasinya.
Hari mulai gelap, lampu-lampu indah sudah menyala. Suara desisan daging di atas grill terdengar menyelerakan. Tapi aku harus menceritakan banyak hal.
"Jadi, lo sama Arsya besar sama-sama?" Tanya Kai mendadak membulatkan mata setelah mendengarkan ceritaku.
__ADS_1
Aku hanya menceritakan soal aku yang besar di panti asuhan milik keluarga Arsya. Tapi aku ga cerita seberapa dekat aku dan Arsya supaya ga mengundang curiga dari mereka. Ya, wajar. Siapapun sulit menerima ada laki-laki yang sering main ke kamar perempuan. Seperti apapun aku menjelaskan, pasti mereka akan berpikir lain. Walau kenyataannya, aku dan Arsya memang tidak lebih dari sekedar sahabat yang saling membutuhkan. Ah, enggak. Cuma aku yang butuh.
"Tapi kok, kaya ga saling kenal gitu?" Tanya Hajoon sambil sibuk membolak-balik potongan daging.
"Karena emang aku maunya gitu. Cuma.. Vita udah tau karena tadi dia datang kesana dan liat aku."
"Pantes aja kalian pernah boncengan bareng." Karin manggut-manggut paham.
"Soal Vita, dia pengen banget kesini." Ungkap Hajoon. Dia tersenyum setelah menyebut nama perempuan itu. Wah, ada apa ini?
"Dia belum pernah kesini?" Tanyaku.
Kai menggeleng. "Baru kalian orang pertama yang aku undang datang. Emang sih, dari dulu dia ngajak aku buat bawa dia kesini. Tapi yah, belum sempat."
Gitu, ya. Jadi aku udah dianggap dekat sampai di bawa kesini?
"Geseran deh, Va, deket gue." Karin mulai mengangkat ponsel dan merekam aktifitas kami.
Malam itu, seru banget. Kami bercanda gurau sambil makan makanan khas Korea yang Hajoon buat sendiri. Sampai tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Dan ponselku berdering.
"Arsya?"
Karin sampai bisa membaca nama di layar karena aku tak kunjung mengangkat teleponnya. Setelah kejadian tadi, apa masih bisa aku bersikap biasa ke Arsya?
"Kenapa ga diangkat?" Tanya Karin lagi. Aku menatap layar sampai deringnya hilang.
"Ga penting soalnya." Jawabku dengan masih menatap layar. Pesan Arsya masuk, menanyakan keberadaanku. Mengajak makan malam? Gila, ya. Dikira aku ga tau ada Vita juga disana.
"Eumm.. masih mau makanan penutup, nggak. Gue yang traktir." Males pulang cepat, aku mengajak mereka singgah sebentar di tempat lain.
"Lo yakin?" Tanya Karin.
"Kenapa?"
"Oke, ga apapa kita cari makanan penutup. Tapi gue aja yang traktir." Sambung Kai.
"Loh, kan aku yang ajak. Aku dong, yang traktir." Ucapku dan lagi-lagi mereka saling lihat.
Astaga, aku sampai lupa siapa diriku di hadapan mereka yang kaya-kaya ini.
"Jangan khawatir. Gue punya duit. Cuss!" Aku bergerak duluan. Aku tahu mereka bingung walau akhirnya menurut.
Kami keluar gedung menaiki mobil Hajoon. Aku dan Karin duduk di belakang, dan Kai di depan bersama Hajoon yang menyetir.
"Lo yakin nih, Bo? Pilihan kita bukan yang murah, lo." Ucap Kai mewanti-wanti supaya aku sadar diri. Tapi aku bukannya sadar, malah menantang.
"Tempat yang paling mahal juga ga apapa."
Hening. Sampai akhirnya Hajoon berhenti di sebuah tempat yang cukup classy.
Kami duduk dalam satu meja. Tanpa beban Kai melihat menu dan langsung memesan. Sementara Hajoon dan Karin tampak sungkan.
"Asyik, ditraktir Pabo. Kalo gitu gue pesen.. Aww!" Kai meringis melotot ke arah Karin yang duduk di sampingku. Sepertinya Karin menendang kaki Kai tadi.
"Kenapa, sih? Pesan aja, gue yang bayar." Kataku lagi, meyakinkan.
"B-bukan gitu, Va. Gue ga mau lo sampe ngabisin tabungan lo buat ini. Nggak apapa kok, kita yang bayar." Ucap Karin dengan hati-hati. Membuatku terkekeh pelan.
__ADS_1
Yah baiklah. Akhirnya aku mengeluarkan sesuatu dari dompet, meletakkan kartu hitam berbahan titanium di atas meja.
Mata ketiganya terbelalak. Kan, padahal aku ga bermaksud pamer. Habisnya mereka ga percaya, sih, kalo aku punya duit.
"Pabo, lo jangan macem-macem sama benda itu." Tukas Kai cepat.
Hajoon juga ikut-ikutan. "Iya. Gue ga mau sampe katangkep polisi gara-gara lo nyolong punya orang."
"Yaa!! Jugeullae??" (HEI, MAU MATI, YA!)
"Y-ya??" Mata Hajoon terbelalak mendengar ucapanku. Kaget, karena biasa ucapan itu tak sopan diucapkan. Habisnya, aku kesal.
"Va, lo.. serius punya ini?" Tanya Karin pelan-pelan.
Aku menghela napas, sampai akhirnya memutuskan menceritakan aja apa yang terjadi padaku yang anak panti ini.
Terus terang sebenarnya aku juga ga tau sekaya apa Papa. Tapi beberapa hari lalu dia yang lagi di Indonesia ngirim benda ini padaku sebagai bujukan karena aku tak juga ingin bertemu.
"Jadi, sebenarnya lo masih punya orang tua lengkap ya, Va?" Tanya Karin dan aku mengangguk.
"Gue diantar ke panti yang dikelola keluarga Arsya pas usia gue 4 tahun. Bokap dan nyokap gue masih datang walau setahun sekali. Gue ga pernah denger langsung kenapa gue ditaruh di panti. Tapi kata Mama Arsya, orang tua gue bercerai karena ga semisi lagi. Trus ga ada yang mau ngasuh gue karena keduanya sibuk pergi kesana kemari war career. Nunjukin siapa yang paling mampu bertahan dan menjadi kaya dalam sekejap."
Ketiganya terfokus padaku. Mendengar cerita sedih anak yang terlantar karena ego orang tua yang mementingkan kekayaan.
"Usia gue 5 tahun, trakhir gue ketemu sama Mama walau dia masih rutin kirimin gue uang bulanan yang jumlahnya lumayan. Sementara Papa masih mau jumpai gue walau dua tahun sekali. Sampai 5 tahun lalu, gue udah ga pernah dikunjungi sama sekali. Dan kemarin, kak Tari yang jagain kita anak panti, kasi tau kalo Papa gue lagi disini dan ngasih ini ke gue." Kataku melirik black card yang terletak di atas meja.
"Gue tau orang tua gue kaya karena uang bulanan yang gede dari keduanya. Tapi gue ga paham kenapa gue ga dijemput sampe gue nyerah dan ga berharap apa-apa lagi. Bahkan gue ga niat ketemu mereka." Jelasku dengan mengangkat bahu.
Suasana hening, Karin menyentuh pundakku dan tersenyum getir mendengar cerita sedih ini.
Aku tersenyum padanya. "Ngga apapa. Gue udah biasa."
"Sorry ya, kita sempat ngeremehin lo."
"Wajar, sih. Emang siapa yang percaya kalo anak panti punya ini?" Aku memegang kartu. "Cepat pesan, aku yang bayar."
"Haha. Siaaap bos. Gue ga sungkan sekarang buat pilih yang mahal-mahal." Tukas Kai akhirnya.
Perbincangan malam itu semakin seru. Terlebih karena udah ada keterbukaan diantara kami.
~
"Besok main lagi ya, Vaa.." Karin melambaikan tangan padaku dari dalam mobil. Mereka mengantarkan aku sampai di depan panti.
"Guys, soal tadi.. please rahasiain, ya." Ucapku sebelum melangkah masuk.
"Iya. Janji ga bakal diceritain ke siapapun." Karin mengacungkan kelingking mungilnya.
Aku melambaikan tangan dan mobil mereka pun melaju meninggalkan komplek. Hah. Lega juga.
Aku berbalik masuk ke halaman, tapi langkahku terhenti saat melihat Arsya berdiri di atas balkon rumahnya dengan kedua tangan di kantong celana.
Pandangannya menatapku tanpa ekspresi. Aku tahu, tadi aku hanya membaca pesan darinya tanpa berniat membalas. Mungkin sekarang dia kesal. Terserahlah aku ga peduli dan memilih masuk ke dalam rumah sebab rasa kesalku padanya masih sangat terasa.
TBC
Guys Aku mau Crazy Up buat hari senin/selasa kalau dapat Vote sampai 60. Jadi siapkan vote kalian di hari senin kalau mau aku up 3 bab🙌💃 Salam, Ariva.
__ADS_1