
"Eng, Ri. Bisa ngobrol bentar?" Tanya Arsya setelah berhasil menghapus bekas merah di pipinya.
"Ngomong apa, sih. Disini ajalah." Sahut kak Adit.
"Ari, sini bentar." Kak Tari memanggilku dari depan pintu. Dia lalu masuk seperti ingin bicara serius di dalam rumah.
Tanpa memperdulikan permintaan Arsya, aku pun bergerak ke dalam, menemui kak Tari karena sepertinya tengah ada pembicaraan serius.
Kak Tari menyerahkan ponselnya padaku. "Bentar lagi papa kamu akan telepon. Ada hal penting yang mau dia bilang ke kamu, Ri."
Aku menggelengkan kepala. "Ngga mau, kak."
"Om Tama ngasih kamu pilihan, Ri. Mau ketemu diluar, atau disini. Terserah dan senyamannya kamu."
"Ari ngga mau. Ari ga mau ketemu sama dia."
"Ari.." kak Tari meraih tanganku dan menggenggamnya. "Kakak paham kalau kamu masih sakit hati. Tapi om Tama mau memperbaiki semuanya. Om Tama udah cerita semua ke kakak. Dan dia minta tolong supaya kamu mau ketemu. Om Tama ga akan paksa kamu buat ikut. Dia cuma mau ketemu kamu sebentar."
Aku menunduk. Jujur aku memang udah nyaman tinggal disini, walau ada pertanyaan dalam diriku, mau sampai kapan aku disini? Di saat silih berganti anak-anak panti datang dan pergi setelah mendapat orang tua adopsi, sementara aku...
"Ri, temuin sebelum kamu menyesal."
Alisku bertaut. Siapa yang akan menyesal? Bukan aku, seharusnya mereka, kan!
"Kamu beruntung masih diizinkan melihat ayah dan ibumu. Yah, walaupun kamu berakhir disini, setidaknya kamu tau seperti apa wajah orang yang telah melahirkanmu. Terlebih, mereka mau menjalin hubungan lagi." Ujar kak Tari, mendadak wajahnya sedih.
"...sementara kakak. Siapa, dimana, bagaimana orang tua kakak, kakak ga tau."
Aku diam. Entah apa yang harus kujawab, sebab masih ada yang merasa dirinya tidak seberuntung diriku, sementara dalam hatiku ingin mengatakan bahwa lebih baik aku tidak mengenal orang tua dari pada harus tersiksa seperti ini.
"Coba dulu ya, Ariva. Setelah itu, baru kamu putuskan sendiri hasil akhirnya."
...🍭...
Kak Tari menawarkan, apakah aku sendirian atau dia menemani. Kali ini aku meyakinkan diri untuk pergi sendiri ke sebuah restoran yang udah di reservasi.
Terpaksa aku memberikan nomor Hp supaya mudah dia memberi alamat resto itu padaku.
Setelah memastikan tempat, aku masuk ke dalam restoran itu dan menemukan seorang pria duduk sendiri membelakangi. Dia beberapa kali melirik jam dan tangannya mengetuk-ngetuk meja. Itu dia, dari belakang pun aku masih mengenalinya.
Aku melangkah, dan dia berdiri saat melihatku berjalan ke arahnya.
"A-ariva."
Penilaian pertama yang kulihat dari papa adalah rapi, berkumis tipis dengan janggut yang mulai sedikit memutih. Rambut disisir kebelakang, rapi sekali dengan kaos polo hitam dan celana jeans. Ini papaku, Nugra Tama. Terakhir kali aku melihatnya lima tahun yang lalu dan dia hampir tidak ada bedanya.
Bisa dibilang, Papaku seumuran dengan papa Arga. Sebab pernah kudengar mereka bicara santai waktu itu.
"Kamu udah makan, nak?" Tanya Papa saat aku duduk di hadapannya. Wajahnya cerah ceria, juga terlihat gurat bahagia disana.
"Belum."
"Biar papa pesankan. Kamu mau makan apa?" Tanya papa, matanya mencari pelayan dan kemudian memanggil dengan menaikkan tangan.
"Terserah anda saja."
"Creamy chicken mushroom 2, ya." Tukas papa pada pelayan yang datang. "Lemon tea juga." Imbuhnya.
Masih ingat dengan makanan kesukaanku? Bagus juga.
__ADS_1
Pelayan itu pergi, dan menyisakan kami berdua yang saling diam. Aku bersandar pada kursi dan menatap ke bawah meja. Canggung. Aku dan papa memang pernah saling menyayangi. Bahkan aku masih ingat bagaimana cintanya dia padaku saat usia 4 tahun itu. Sayangnya, sakit hati saat ditinggalkan di panti asuhan lebih dominan sekarang.
"K-kamu ada kegiatan setelah ini?"
"Ada." Jawabku bohong.
Hening kembali. Aku bahkan tak ingin bertanya banyak hal. Semua rasa penasaranku selama ini kutelan sendiri dan tak mau mengungkit soal masa lalu. Aku udah membulatkan tekat untuk tidak lagi mau tau urusan orang tuaku.
"Maafkan papa, Ariva."
Eh?
"Papa sangat merasa bersalah atas apa yang telah kami lakukan padamu. Maaf untuk belasan tahun penderitaan yang kamu rasakan. Papa.. belum pernah minta maaf secara langsung padamu."
Papa menunduk seolah menunjukkan rasa bersalahnya padaku. Walau dia pasti tahu, semua itu ga bisa gantiin penderitaanku.
Percakapan terhenti saat pelayan membawa makanan. Lalu papa melanjutkannya lagi.
"Sebenarnya, papa ingin membentuk keluarga kita lagi. Papa ingin menjemputmu dan juga mamamu."
Hatiku berdesir. Aku mulai tak tenang sebab dadaku berdetak sangat kencang. Membentuk keluarga lagi, katanya? Ini.. terdengar menyenangkan. Aku, papa, mama, menjadi keluarga utuh lagi seperti keluarga bunda. Keluarga yang hangat. Tapi kenapa baru sekarang?
"Papa tahu kamu bertanya-tanya, kenapa baru sekarang papa tergerak untuk memulainya." Papa mengeluarkan sebuah lembaran foto, meletakkannya di atas meja, dan menggesernya ke arahku.
"Maafkan papa, Ri. Karena terlambat bagi papa untuk menyadari semuanya. Menyadari kalau keluarga adalah yang utama. Papa terlalu mengejar karir, sampai setelah mendapatkan puncaknya, papa nggak merasa bahagia."
Dia menunduk, lalu melanjutkan. "Papa baru sadar, kalau apa yang papa kejar bukanlah yang utama dalam hidup papa, sampai papa menyadari bahwa ada hati yang tersiksa karena ulah papa." Papa menaikkan kepala, menatapku dengan mata berkaca.
"Papa ingin menebus semua dosa papa padamu, Nak. Papa ingin kamu menganggap bahwa dirimu mempunyai ayah. Bukan anak yatim piatu yang selalu kamu bilang ke orang lain."
Kini papa menangis. Dia menghapus air mata yang bahkan belum jatuh. Sementara aku menahannya, tak ingin meruntuhkan ego di hadapan orang yang telah membuangku ini.
Aku menarik dan menghela napas perlahan. Dadaku sesak, tapi aku tetap mencoba tenang. Melihat foto kami bertiga membuatku ingin sekali menangis. Tapi memaafkan? Apa aku bisa. Tahun-tahun lalu teringat kembali bagaimana aku berteriak menangis dan memohon, meminta kalian untuk membawaku. Tapi kalian pergi tanpa ada rasa belas kasihan terhadapku.
"Papa memang egois. Seharusnya papa turuti kemauan mamamu yang ingin terus bekerja. Bukannya menantangnya dan mengatakan hal yang menyakiti hatinya."
"Ari, kamu tahu, nak. Papa menemui mamamu empat tahun yang lalu. Papa ingin meminta maaf secara langsung, walau kami sudah berdamai, tapi papa ingin menariknya kembali dalam hidup papa. Papa bertekat memperbaiki semuanya. Tapi mamamu menolak papa, karena ternyata dia sudah menikah dengan pria lain, dia.. juga sudah memiliki keluarga baru dan juga anak."
Tes! Detik itu juga air mataku jatuh. Tak kuasa menahan bendungan air yang akhirnya pecah, membuatku menunduk mengeluarkan semua air mata.
"Maafkan papa, Ariva."
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. Aku terlalu sakit hati mendengar ini semua. Benar aku menderita, aku kekurangan kasih sayang papa mama kandung yang membuangku. Jauh dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku mau kembali pada mereka. Aku ingin keluarga bahagia. Tapi bisa-bisanya...
"Ari.." papa berpindah duduk ke sebelahku. Dia menarik tubuhku hingga rengkuhan hangat pun kuterima. Aku.. menangis sesegukan dengan bahu terguncang.
"Maafkan papa. Maafkan papa.."
Entahlah. Bisa-bisanya aku mendengar berita ini. Sakit hatiku saat mendengar dia memiliki anak, sementara aku ditelantarkan dan tak pernah dilihat keberadaannya. Lalu, atas dasar apa dia memiliki anak lagi? Apa dia memang gila?
Siang itu, aku dan papa menghabiskan lunch dengan saling bertanya kabar selama ini. Berulang kali papa meminta maaf, dan setelah mendengar berita soal mama, membuat kami semakin dekat karena sama-sama mengerti perasaan masing-masing.
"Terima kasih udah maafkan papa."
Aku mengangguk, lalu menunduk menatap sepasang sepatu putih milikku. Ini saatnya berpisah. Entah kenapa mendadak hatiku terasa berat.
"Apa papa boleh temui kamu lagi, nak?"
Apa boleh? Tentu boleh.
__ADS_1
Aku mengangguk lambat. Dan terlihat pula senyuman dari wajah papa.
"Boleh papa peluk?"
Kali ini aku diam mematung. Teringat akan pelukan tanpa sadar tadi, dan pelukan itu mampu meruntuhkan egoku.
Aku maju selangkah, melingkarkan kedua lengan di pinggang papa. Dia langsung mendekapku.
"Makasih, nak." Bisiknya. "Papa sangat beruntung punya putri yang sangat pemaaf. Papa janji akan jadi ayah yang lebih baik lagi."
Yah, coba saja. Aku ngga terlalu berharap karena tak mau sakit hati lagi.
"Papa disini sekitar satu bulan lagi. Jadi, papa akan habiskan waktu untukmu sebelum kita berpisah lagi. Luangkan waktu buat papa, oke?"
Aku mengangguk, lalu papa mengusap kepalaku dengan kasib sayang. Sumpah, aku menyukai ini. Rasanya.. Nggak mau pisah.
Tapi yah, akhirnya dia mengantarkanku sampai menaiki taksi.
Aku menolak diantar dan lebih memilih pulang sendiri.
Di dalam taksi, kak Juna menelepon, meminta untuk bertemu. Dan aku menolaknya.
'Please, sayang. Aku pengen banget ketemu. Kangen..' rengeknya dengan manja.
Aku menghela napas. Padahal sore ini niatnya mau rebahan saja.
'Aku pengen nonton bareng kamu. Ada film seru yang aku ga mau lewatin malam ini.' Tukasnya lagi. 'Ya? Please...'
"Iya." Ucapku dengan malas, lalu memutuskan sambungan setelah mendengar berbagai macam ucapan dari bibir Juna.
Akhirnya aku meminta supir berbelok ke tempat yang dimaksud Juna.
~
"Ariva, sini."
Kak Juna melambaikan tangan, dan aku segera mendekat. Dia langsung menggenggam tanganku dan melangkah.
Di dalam twenty one, aku menunggu kak Juna membeli tiket dan juga makanan. Terus terang, aku sangat tidak bergairah sekarang. Kalau bukan karena paksaan, mungkin aku ga akan sampe disini.
"Eh, Ariva?"
Aku menoleh ke samping, saat kulihat ada Vita yang menggandeng tangan Arsya.
Aduhhh...
"Lho, kalian disini juga?" Sahut kak Juna yang baru datang membawa banyak makanan di tangannya.
"Iya nih, mau nonton."
Aku melirik Arsya. Lagi-lagi dia menatapku seperti itu.
"Eh, gimana kalo bareng aja?" Celetuk Vita.
"Apa?" Ucapku spontan.
"Iya, bareng. Namanya double date. Gimana?"
TBC
__ADS_1
Aku dah kasih tambahan bab nih walaupun bintang 5nya masih banyak yg belum ngasih🫠...