HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Kejutan! 53


__ADS_3

"Apa Ariva kenal dengan Vita? Dia terkenal di sekolah, lho."


Kutatap wajahnya yang sudah pucat pasi.


"Ngga kenal." Jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari Vita. "Atau mungkin anak om yang kenal aku?"


Dia menaikkan pandangan, menatapku sebentar lalu menunduk lagi. Sepertinya Vita udah tau dimana posisinya sekarang. Lihatlah, menatapku pun tak berani.


"Vita, kamu kenal dengan Ariva?" Tanya om Adisuryo.


"Ee.." Vita terlihat gelagap, ingin menghindar tapi ia tahu, ia harus tetap disini sampai kamilah yang mengakhiri percakapan. "Pa, Vita eng-"


"Kenal, lah. Masa enggak. Aku kan, cukup terkenal di sekolah." Selaku cepat. Aku ingin membuatmu lebih tertekan lagi.


"Oh, ya? Pasti Ariva anaknya pintar." Tebak om Adi.


"Bukan terkenal karena itu." Pandanganku justru tak bisa lepas dari Vita. Aku benar-benar menikmati pemandangan ini. Wajah panik dan tertekan yang belum pernah kulihat dari Vita.


"... Seseorang membuat gosip dan mempermalukan aku di sekolah. Mengatakan aku pacaran dan mendapatkan harta dari pria tua."


Om Adi cukup kaget mendengar pernyataanku. Terlebih mataku tak lepas dari Vita yang menunduk.


"Jahat sekali. Om ga tau kalau SMA Garuda jadi tempat bullying begitu. Apa mereka ngga tau siapa Ariva ini?"


"Kayaknya ngga tau, om. Soalnya pria tua yang mereka sebut sebagai sugar daddy-ku justru papaku sendiri."


Mendengar itu, papa justru tertawa.


"Keterlaluan. Kenapa Ariva ngga cari pelakunya? Itu bahaya, seharusnya penyebarnya mendapatkan sanksi besar!" Ujar om Adi dengan wajah tegas dan serius menanggapi ocehanku.


Aku tersenyum miring. "Begitu ya, om."


"Ya, benar kan, Tama?"


"Tentu. Saya sedang menyiasati kasus ini dan akan mendepak semua yang pernah mengganggu anak semata wayang saya." Jawab Papa, yang tentu sudah tahu siapa dalangnya.


Jangan tanya bagaimana Vita sekarang. Karena aku benar-benar menikmati raut takut yang tak bisa dia sembunyikan.


"Saya setuju. Saya juga akan membantu jika diperlukan." Sahut om Adi.


"Om mau bantu?" Tanyaku ulang.


"Tentu, Ariva. Kamu bisa hubungi om kapan saja kamu butuh bantuan."


"Tapi, aku khawatir om akan kaget kalo tau siapa pelakunya."


"Kenapa? Apa om kenal?"


Vita, gue ga tau harus mendeskripsikan lo kayak apa sekarang. Tapi ngeliat lo nelan ludah dengan susah payah aja udah buat gue bahagia. Gimana kalau gue lanjutin, dan bilang kalau pelakunya anak om Adi sendiri?


"Entahlah. Kita liat aja nanti. Aku akan kirimkan foto-foto pelakunya pada om."


"Ya, segera kirim. Biar om yang akan menyingkirkan semua pelaku yg berani membullymu."


Baru kenal, papa Vita udah mau aja bersusah payah mengurusi kasus anak kecil. Inilah efek papa di hidupku.


Pandanganku kembali pada Vita. "Gimana menurutmu, Vita. Bukankah papamu sangat baik?"


Pandangannya terangkat, melihatku dan papa secara bergantian dengan sorot takut.


Hmpfft. Lucu banget.


Baru lo tahu siapa gue, kan. Selama ini lo terlalu congkak karena merasa semua orang akan berpihak ke elo. Tapi gimana kalau bokap lo ini tau kelakuan lo selama ini ke gue?


Oh, satu lagi.


"Oh ya, om. Wajah om dan Vita, kok ngga mirip, ya? Apa Vita mirip banget sama istri om?"


Mata Vita membelalak. Kini rahangnya mengeras seolah ingin menerkam ku yang berani menyenggol soal ini.

__ADS_1


"Ah, itu." Tangan om Adi merangkul Vita. "Saya ini papa sambungnya Vita."


Bibirku membulat. "Oooh. Begitu."


"Ya, tapi saya sudah menganggap Vita anak kandung saya sendiri. Dia anak yang baik dan pintar."


"Ah, anak baik?" Aku mengangguk-angguk seolah setuju dengan apa yang om Adi sampaikan.


Perbincangan antara papa dan om Adi berlanjut, mereka menggeser tempat untuk perbincangan penting berdua, meninggalkan aku dan Vita yang masih menunduk dengan wajah menahan amarah.


"Anak baik, ya."


Vita mengangkat kepala. Dia sekarang menunjukkan rahang yang telah mengeras sejak tadi.


"Jadi.. lo bukan anak kandung Adisuryo? Berani bener pake nama Adisuryo dibelakang nama lo. Gimana ya, kalo satu sekolah tau ini?"


Tangan Vita mengepal. Rasa-rasanya dia ingin menerkamku. Yah, coba aja kalo berani.


"Shaqueena Verche. Mantan model yang karirnya rusak setelah membuat gosip dengan Arga Alexander."


Mata Vita membulat. Napasnya tersengal seolah oksigen di ruang ini habis.


"Jangan tanya gue dapet dari mana info yang ketutup rapat ini. Bukan anak Nugra Tama namanya kalo yang begini aja ga bisa gue dapetin."


Info yang aku dapat dari Karin memang ada, tapi informasi dari papa jauh lebih membuatku merasa di atas angin menghadapi Vita.


"Selama ini lo ngehina gue karena anak panti. Padahal lo sendiri anak hasil pemerkosaan!"


Tangan Vita naik, seperti ingin menampar. Namun dia menahan diri dan menurunkan tangannya kembali.


Aku tertawa sinis, lalu mendekatinya dan berbisik. "Lain kali, lo harus tau siapa yang lo ganggu ini. Besok, lo harus berdiri di belakang gue. Lo udah bisa nebak apa yang akan terjadi kalo lo nolak, kan?"


Vita meremas ujung dressnya dengan geram. Sayang sekali, dia ga bisa nyalurin amarahnya ke aku.


"Sampai ketemu lagi, Vita." Aku melambaikan tangan dengan anggun, lalu berjalan mendekati seseorang yang ingin aku peluk tubuhnya.


"Karriinnn."


Kali ini aku yang menyapa. Merentangkan tangan dan berjalan mendekati gadis anggun berbalut dress merah muda. Cantik sekali.


"Arivaa!" Dia pun tak kalah semangat, memelukku erat dan tersenyum bahagia. "Gue ngga nyangka banget lo datang kesini. Kok lo ga bilang? Padahal kita ngobrol soal acara ini kemarin."


Hehe. Aku bukan ga percaya, tapi lebih mengetatkan diri soal rencana.


"Soalnya gue juga belum yakin mau ikut. Tapi karena anak itu." Aku menunjuk Vita dengan bola mataku. "Gue terpaksa."


Karin terkekeh. "Gimana, gimana? Seru banget pasti ya, liat mukanya dari jauh aja gue pengen ketawa banget pas dia tau siapa lo sebenarnya. Lo sukses bikin dia mati kutu, tuh."


Kami berdua terkekeh melihat Vita yang hanya diam dengan wajah kusut disamping papanya. Aku yakin, dia tengah sibuk memikirkan cara aman agar dirinya ga jatuh di hadapanku.


"Wah, dia liat kesini tuh." Lagi-lagi Karin terkekeh dan melambaikan tangan pada Vita yang langsung mengalihkan pandangan ke arah lain.


Syukur deh, aku berhasil buat dia menyesali diri. Yah, walaupun sebenarnya agak nyesel udah bahas soal kasus pemerkosaan mamanya. Toh, dia ga salah apapa soal itu. Tapi, itu salah satu cara buat dia bungkam!


"Tinggal satu lagi."


"Hng? Lo masih ada rencana?"


Aku mengangguk. "Besok pasti heboh di sekolah soal siapa gue. Dan belum tentu itu berita baik."


"Belum tentu apanya? Ini udah jelas banget, tau. Banyak anak Garuda juga disini yang kaget sama kedatangan lo."


"Fakta juga bisa berubah jadi hoax kalo yang nyebarkan mulutnya berbisa. Makanya, gue punya rencana lain buat beberapa hari ke depan."


"Gue yakin rencana lo bakalan berhasil. Gue aja sampe kaget ngeliat lo dateng bareng orang yang menjadi sorotan disini. Ngga nyangka banget bokap lo bener-bener orang penting."


"Gue juga kaget, sih." Ya, aku juga ga nyangka. Papa hebat juga.


Aku menatap papa yang berdiri bersama beberapa orang, mengobrol bersama. Sosok ayah yang baru saja hadir dalam hidupku.

__ADS_1


Kemarin papa bilang.


'Apa yang papa dapatkan sekarang tidaklah membuat papa bahagia, karena telah menyia-nyiakan permata hati, satu-satunya kebahagiaan sesungguhnya yang papa miliki.'


Ah, terharu rasanya. Walau belum benar-benar sembuh, tapi aku berusaha memaafkan papa yang kini juga berusaha menjadi ayah yang baik buatku.


"Wah liat, siapa ini."


Aku menoleh ke belakang dan mendapati Kai berdiri tegak dengan setelan jas hitam dan dasi rapi yang melilit di kerah bajunya.


"Kaaiii!"


"Pabooo!" Tangannya merentang, bersiap memelukku. Namun dengan cepat aku meninju pelan ulu hatinya. "Aauw!"


Dia merintih memegangi tempat yang baru aku berikan pukulan.


"Kai, malam ini lo keren banget!" Pujiku terus terang. Dan dia tersenyum manis.


"Yang bener?"


Aku mengangguk cepat. "Bener."


"Kalo gitu, lo dansa sama gue, ya."


Eh? Ada dansa?


"Ihh kok gitu. Lo kan janji dansa sama gue." Rengek Karin tak terima.


"Ngalah dong, setiap tahun gue dansanya sama lo mulu!"


"Trus gue sama siapaaa!"


"Eeng, gue nggak bisa dansa. Jadi, gue ga ikutan." Tolakku cepat.


"Tuh kan, lo sama gueee!!" Karin mengguncang lengan Kai.


Di tengah perdebatan Kai dan Karin, mataku menangkap Arsya yang berdiri di sudut ruang, sendirian. Ternyata dia datang dan memperhatikan aku dari sana?


Arsya kenapa datang? Bukannya dia ga pernah mau hadir setiap papa Arga ngajak dia pergi acara bisnis?


Tiba-tiba aku teringat soal ucapan Karin siang tadi. Apa benar keluarga mereka udah saling kenal?


'Para hadirin, sebelum kita mulakan acara inti, kita akan memasuki acara pembukaan terlebih dahulu.' suara moderator acara terdengar.


Tak lama setelah itu, seorang pianis duduk di depan piano dan mulai memainkan musik. Di saat bersamaan pula, beberapa orang sudah bersiap di lantai dansa.


"Ayo." Karin menarik tangan Kai menuju tempat yang sudah diisi beberapa orang.


"Ariva, diam disana, ya!" Seru Karin dan aku mengangguk tertawa melihat tingkah mereka.


Kembali aku menatap Arsya. Dia sudah bersama seseorang yang mengajaknya bicara. Sesekali bola matanya bergulir kepadaku.


Pandangan kami bertemu cukup lama, sampai ia yang mengalihkan ketika teman bicaranya menyentuh bahunya saat terlihat tak fokus.


Apa dia ga dansa? Atau dia akan dansa sama Vita?


Yah, biarkan ajalah. Toh, itu hidupnya. Dia masih mau memperhatikan aku saja udah bagus banget. Emang aku ngarepin apa?


Huff. Aku mengarahkan pandangan ke lantai dansa dan tersenyum melihat Karin dan Kai yang banyak bercanda disana.


Lalu mataku menangkap seseorang yang wajahnya sangat kukenal, tengah berdansa dengan bahagia tak jauh dari Karin dan Kai. Seorang pria memeluk pinggangnya dengan mesra.


Aku.. ga salah liat, kan?


Aku yakin aku kenal wajah itu. Wajah yang saat ini sangat bahagia seolah tak punya beban apapun dalam hidupnya. Justru membuatku ingin berteriak dan menangis di depannya.


Bisa-bisanya sebahagia itu.


Tega sekali, Mama...

__ADS_1


__ADS_2