HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Patah Hati Pertama 36


__ADS_3

...**Sesuai Janji yaaa ya ampun gercep banget😭 Thanks Vote-nya Pen🙏**...


...🍭...


Karin membentangkan gaun putih yang baru saja kami beli atas ranjang. Dia mengamati dengan senyuman lebar, merasa puas karena aku sudah membeli dress seharga hampir lima puluh juta itu.


Hah. Kali pertama aku memiliki baju mahal. Biasanya aku ga tertarik membeli baju begitu. Selain ga pernah pergi pesta-pestaan, aku juga ga begitu suka keramaian. Hidupku cuma ada Arsya dan anak panti, sosialisasi yang sempit buat aku ga pinter soal berteman. Ini juga karena Karin yang duluan menegur dan banyak mengobrol. Kalau ngarepin aku, mungkin sampe sekarang kita ga sedekat ini.


"Tapi ini ga terlalu berlebihan kan, Rin? Gue takutnya, mereka malah style-nya biasa, eh malah gue yang terlalu mewah." Kataku sambil menghanduki rambut yang basah. Baru aja aku mandi, karena Karin menyuruhku bersiap di rumahnya.


"Bagus, dong. Tujuan dia tuh, emang mempermalukan elo. Walau pesta kecil, nyatanya disana jadi ajang flexing."


Aku manggut-manggut. Sebenarnya pengen banget nanya soal hubungan dia dan Vita. Tapi sopan nggak, ya. Aku takut jadi ga enakan.


"Tapi Va, kenapa lo tadi ga pake blackcard lo?" Tanya Karin tiba-tiba.


"Takut gue. Gue kan, ga tau sifat bokap gue gimana. Ntar kalo gue pake, trus dia minta uangnya dibalikin berkali-kali lipat, gimana? Trus kalo gue ga bisa ganti dan sebagai gantinya harus ikut dia ke Rusia, gimana?" Kataku dengan seribu kemungkinan yang mungkin akan terjadi.


"Aneh, ih. Sama bokap sendiri, juga." Karin menggelengkan kepala. "By the way bokap lo di Rusia?"


"Iya." jawabku lalu duduk di kasur Karin.


Drrt..


Ponsel Karin bergetar. Dia meraih benda pipih yang tergeletak di atas ranjang.


"Oh, Kai." Karin mengangkat dan membesarkan volume-nya. "Halo."


'Rin, kalian dimana?'


"Di rumah gue, kenapa?"


'Gue sama Hajoon kesana, ya.'


"Eeh. Nggak. Ini girls time. Ngapain lo ikut-ikut." Tolak Karin, dan aku terkekeh.


'Yaelah pake girls time segala.'


"Lagian lo kan, ada undangan party-nya si Vita."


'Iya, sih. Males gue.'


"Datang deh, sekalian jagain Riva."

__ADS_1


'Loh, Pabo diundang?' Kini terdengar pula nada keheranan dari seberang.


"Iya, diundang. Makanya, gue khawatir terjadi hal-hal tak terduga. Lo paham kan, maksud gue."


'Jangan suudzon. Bisa aja dia ngundang karena Pabo temen kecilnya Arsya.'


"Halah. Ga percaya gue. Pokoknya lo temenin Ariva. Jangan sampe Riva dipermaluin di acaranya dia."


'Iyaaa iyaaa. Ya udah, ntar malam gue sama Hajoon jemput Pabo. Dia di rumah lo, kan?'


"Great. Gue tunggu."


Karin memutuskan sambungan telepon. Dengan napas lega, dia mengambil gaunku dan menaruhnya di hanger.


"Udah bisa dandan nih, acaranya dua jam lagi, kan."


Aku mengangguk. Tanya nggak, ya. Ngeganjel banget.


"Duduk deh, Va. Biar gue dandanin." Karin menarik kursi di depan cermin, memintaku duduk disana.


Oke, aku duduk berhadapan dengan cermin. Karin pun mulai menyalakan hairdryer dan mengarahkannya ke rambutku yang masih setengah basah.


"Rin."


"Gue boleh nanya, nggak."


"Nanya aja lagi, Va. Yaelah kaya siapa aja." Ucapnya sambil terus mengeringkan rambutku.


"Elo.. ada sesuatu ya, sama Vita?"


Tangannya sempat berhenti sebentar, kemudian melanjutkan lagi aktifitasnya.


"Sorry ya, kalo gue nanya yang buat lo ngga nyaman."


Karin memutuskan kontak hairdryer dan mengambil vitamin rambut.


"Ngga apapa. Gue emang pernah deket sama Vita."


"Temenan, ya?"


"Lebih dari itu sebenarnya. Tapi dulu. Sekarang kita ga punya hubungan apapun." Katanya, mulai menyisir rambut setelah mengaplikasikan vitamin tadi.


"Gue harus mulai dari mana, coba. Ngomongin dia aja bikin gue kesal."

__ADS_1


Walau begitu, Karin tetap menceritakan kisah mereka. Mulai dari pertemuan di usia 12 tahun, saat kelas 6 SD. Mereka bertemu di acara pertemuan bisnis orang tua. Dan ternyata saat SMP, mereka bertemu kembali di kelas yang sama. Mulai saat itu, mereka semakin dekat dan bersahabat.


Disana pula mereka bertemu Kai. Tapi belum terlalu dekat sebab Kai juga punya teman kelompok sendiri.


Singkat cerita, Vita ternyata punya sifat iri yang ga disadari Karin. Setiap ada cowok yang menyatakan suka pada Karin, Vita orang pertama yang akan marah pada cowok itu. Awalnya Karin menganggap apa yang dilakukan Vita adalah bentuk perlindungan sesama teman. Tapi lama-lama terasa aneh apalagi Vita ketahuan menyimpan diam-diam semua surat dan hadiah yang diberikan orang lain melalui dirinya.


"Gue ga tau kenapa dia kaya gitu ke gue. Sampe waktu temen-temen tanya kenapa gue ga pernah pake hadiah yang mereka berikan, gue sampe bingung. Hadiah apa, sih. Eh ternyata mereka tuh nitipnya ke Vita. Tapi ga disampein ke gue. Katanya sih, barang murah makanya dia buang."


"...Vita emang gitu. Terlalu peduli soal brand dan kualitas. Bukan cuma barang, teman juga. Kalo ga selevel, dia mana mau. Tapi intinya kan bukan itu. Dia ga nyampein semua pesan yang seharusnya buat gue.."


Aku manggut-manggut. Lalu Karin kembali menceritakan hal yang sering terjadi. Setiap kali mereka belanja barang, pilihan Karin selalu ditolak Vita.


Pernah Karin akan membeli sepatu yang menurutnya sangat cantik, tapi Vita bilang kalau sepatu itu ga cocok buat Karin. Sampai dia menunjuk satu sepatu yang sebenarnya jelek dan ga disukai Karin. Tapi karena bujukan dan pujian Vita akan sepatu itu, Karin akhirnya membeli juga. Dan kagetnya dia saat ternyata sepatu yang disukai Karin malah dipakai Vita beberapa minggu setelahnya. Kejadian ini nggak sekali. Berkali-kali terjadi. Saat ditanya, Vita beralasan bahwa sepatu itu dibelikan oleh mamanya.


Gak sampe disitu aja. Setiap Karin menyukai satu laki-laki, maka Vita diam-diam berusaha membuat laki-laki itu suka padanya.


Vita juga bisa menjadi cewek yang tega melakukan apa aja asal kemauannya tercapai.


Lalu apa yang membuat Karin akhirnya menjauh?


Waktu itu kelas 3 SMP, Karin menyukai teman di kelas lain, namanya Alvaro. Padahal Karin sering banget curhat soal cowok itu, tapi ga taunya Vita malah pacaran sama Alvaro. Tentu Karin kesal banget. Ditambah Vita mempermalukannya dengan menyebar gosip bahwa Karin menyukai pacarnya.


"Gue marah. Jelas-jelas dia tau gue duluan yang naksir Alvaro waktu itu. Pake bilang pacaran sama Alvaro karena terpaksa, lagi. Akhirnya kita berantem sampe jambak-jambakan. Sial banget gue pernah punya temen kaya gitu." Gerutu Karin.


"...padahal kita sering nginap bareng, liburan bareng. Gue selalu nurut sama apa yang dia bilang soal fashion atau apalah. Gue ga nyangka ternyata Vita sebusuk itu. Huff. Kalo inget masa-masa suram gue, duhhh, sakit ati banget." Lanjutnya dengan wajah ceria yang berubah menekuk. Ternyata Vita menyimpan luka bagi Karin.


Pantes aja di awal ketemu aku punya feeling ga enak ke Vita. Semua perlakuan dia emang keliatan ga tulus.


"Lo ga tanya kenapa dia kaya gitu ke elo, Rin?"


"Gue tanya, dan jawabannya ngeselin banget. Katanya dia ga suka karena setiap jalan berdua, yang sering ditegur orang-orang itu gue, bukan dia. Yang sering dipuji itu gue, bukan dia. Yang sering ditembak cowo itu gue, bukan dia. Yang sering disanjung guru itu gue, bukan dia. Gila, kan? Maksud gue, masa gara-gara itu dia marah ke gue? Mana gue tau kalo orang muji gue kaya gitu. Aneh banget. Emang toxic banget, sih." Karin menggeleng kepala mengingat itu. Alisnya terus bertaut saat menceritakan gimana Vita sesungguhnya.


"Tapi sebenarnya hidupnya Vita kasian, tau." Tukas Karin tiba-tiba.


"Kasian?"


Karin mengangguk. "Bokapnya yang sekarang itu tiri. Tapi dia tetap pakai nama bokap tiri dibelakang namanya."


"Kok gitu?"


"Malulah. Dia kan, anak hasil..." Karin mendadak menggigit bibir.


~Wait ya, up bentar lagi, oke?~

__ADS_1


__ADS_2