
Bunyi bel istirahat membuat suasana lesu kembali ceria. Setelah guru fisika keluar dari kelas, beberapa murid mulai berburu makanan di kantin. Ada pula yang memilih melanjutkan soal fisika yang belum sempat terselesaikan seluruhnya.
Aku membereskan semua peralatan belajar setelah berhasil menghela napas beratus kali karena soal-soal yang membuat otakku keriting. Ini baru hari pertama belajar, namun pelajaran ini mampu membuat hidupku berantakan selama dua jam.
"Ariva, gimana pelajaran fisikanya?"
Eung? Karin sudah membelokkan kepalanya kearahku.
"Gitu, deh." Jawabku dengan senyum kecut. Nggak begitu suka fisikaaa.
"Semangat ya, Pabo." Kai menepuk-nepuk punggungku. Dengan cepat aku menepisnya. Apa-apaan dia. Sok akrab banget.
Terdengar tawa lirih Kai yang entah apa maksudnya, tapi aku tahu tawa hina itu tertuju padaku.
"Joon." Kai memanggil Hajoon lalu memberi kode dengan kepala, yang lalu membuat Hajoon berdiri.
"Apaan tuh?" Bisik Hajoon, dan aku bisa melihat Kai melirikku dengan tawa pelan lalu keluar kelas berangkulan dengan Hajoon.
Mataku menatap mereka sampai menghilang. Ada apa, sih? Dari tadi ketawa nggak jelas. Ah, lupakan. Kai kan, emang gila.
"Karin, ayo ke kantin." Dari pada itu, aku lebih ingin berteman dengan orang baru yang keliatannya baik banget padaku.
Tapi Karin menggelengkan kepala dengan senyuman, menolak ajakanku.
"Gue mau ke perpus."
"Nggak makan?"
Lagi, Karin menggeleng. "Belum laper. Sorry ya, Ariva. Gue emang jarang keluar kelas. Kalo pun keluar biasanya cuma ke perpus, atau toilet aja." Jelasnya padaku.
Oh, gitu. Jadi dia emang gak pernah keliatan karena jarang keluar. Pantes aja. Padahal kalo dia bergaul kaya yang lain, dia pasti seterkenal Vita.
"Gue duluan ya, Ariva." Karin menenteng beberapa buku, lalu keluar kelas.
Aku memberi jempol dari tangan kanan, lalu kembali membereskan barang.
Kalau dipikir-pikir, Karin juara berapa, ya. Sering ke perpus artinya dia rajin belajar dan pintar, kan? Kayaknya aku melewatkan informasi siapa si juara tiga sampai sepuluh, deh.
Setelah selesai membereskan barang, aku berjalan menuju toilet. Sebelum ke kantin, aku mau membereskan panggilan alam dulu.
Tapi saat aku berjalan di koridor, banyak mata menatapku dengan tawa geli. Beberapa diantara mereka tertawa dan saling berbisik menatap kearahku. Ada apa? Aku beberapa kali merapikan rambut. Rasanya gak ada yang aneh. Seragamku juga biasa, kok. Pada kenapa, ya? Aku jadi melangkah cepat ke toilet untuk melihat sesuatu yang terjadi pada diriku.
Namun belum sampai ke toilet, sebuah tangan mengulur ke depan wajah mencegat jalanku. Aku menoleh, ternyata Danu.
"Apa?" Tanyaku padanya yang berdiri menghalangi.
Lalu Arsya yang ada disana berjalan ke belakang, dia menarik sesuatu dari punggungku.
__ADS_1
Hah. Ada sesuatu di punggungku dari tadi? Arsya diam membaca isinya, sampai aku ikut mengintip apa yang membuat Arsya hanya mematung.
Aku langsung menganga melihat sebuah kertas dengan tulisan 'aku pabo (bodoh)' terlihat besar disana.
Issshhh sialan! Tanganku mengepal. Ingin rasanya menonjok wajah Kai sampai babak belur.
"Kerjaan siapa, nih?" Tanya Zaki, membentangkan kertas itu.
Aku merampas kertas itu dan meremasnya. "Kai. Siapa lagi."
Aku ingin berbalik mencari Kai tapi sialnya rasa sesak di bawah sana tidak bisa diajak kompromi.
"Aduh. Gue ke toilet dulu."
Aku memasukkan kertas itu ke kantong rok dan berlari memasuki salah satu bilik toilet.
Setelah menyelesaikan rasa sesak, aku pun membuka handel pintu bilik. Beberapa kali aku menggoyangkan handel saat terasa macet.
Ini.. terkunci?
Aku kembali berusaha menarik dan mendorong pintu, memastikan kalau pintu ini sebenarnya cuma macet dan akan segera bisa terbuka.
Tapi seberusaha apapun aku, pintu tetap gak bisa dibuka dan dari situlah aku yakin bahwa ini terkunci dari luar.
"Heii. Bukaa." Aku berteriak dan terus menggedor pintu. "Siapapun tolong bukain pintu inii. Gue terkunci dari luarr!" Aku terus berusaha membuka pintu, menggerakkan handel, dan menggedornya kuat-kuat.
Beberapa menit setelah tak ada yang mendengar, aku berhenti sembari berpikir. Kenapa ga ada satu pun orang yang masuk ke toilet? Padahal biasanya toilet diisi banyak siswi. Aku jadi takut...
Rasa takut mulai muncul. Kalau gak ada yang denger, aku bisa seharian disini. Aku gak berani, aku gak mau terkurung di toilet. Mana Hp ku tinggal di kelas, lagi. Akhirnya aku kembali mengatur napas dan menggedor pintu sambil teriak.
"Heei tolong bukain pintu. Gue terkunci disini. Please, help!"
Aku terus menggedor sampai tiba-tiba pintu terbuka.
"Ariva?"
"Karin?" Tubuhku lemas seketika, terduduk di atas closet.
"Lo nggak apapa, Va? Lo kenapa? dikunciin?"
Hah? Aku sampai bengong. Dikunciin? Siapa yang kunci gue?
"Kayaknya lo lagi dikerjain, deh. Soalnya di depan pintu ada tulisan toilet rusak."
Mataku membulat sempurna. Jadi, ini aku lagi dikerjain? Siapa yang ngerjain aku?
"Kai. Sialan, nggak puas juga dia ngerjain gue." Desisku penuh kekesalan. Udah pasti dia. Cuma dia musuhku di sekolah ini. Sialan banget.
__ADS_1
"Rin, thanks, ya. Gue mau nemuin Kai dulu." Aku berlari keluar toilet dan menuju tempat dimana Kai biasanya duduk.
Aku berjalan cepat dengan kertas yang tadi ada di punggungku. Aku ingat betul dia menepuk punggung lalu tertawa pelan. Aku baru sadar sekarang kalau dia lagi ngetawain aku karena ini. Sialan banget.
BRUK! Aku menggebrak meja dengan mata tajam kepada Kai yang tengah duduk di meja kantin. Dia terkaget dan beberapa temannya juga heran melihatku.
"Maksud lo apa, hah?"
Kai melirik kertas yang aku taruh diatas meja, lalu tertawa kecil menatap Hajoon.
Aku sadar saat ini aku tengah menjadi tontonan bagi anak-anak yang ada disana. Terlebih Vita dan... Hani. Mereka satu meja?
"Gue cuma bercanda. Gue berusaha ngasih tau semua orang kalo lo-"
"Kalo gue bego, gitu??" Aku melipat tangan di dada. "Emang lo ngerasa pinter banget, ya. Lo ngerasa dewa disini? Trus lo pikir lucu sampe ngekunci gue di toilet, hah?"
Alis Kai bertaut. "Ngunci lo di toilet?"
Aku melengos. Pake nanya segala, padahal jelas ini kerjaan dia.
"Gue tau lo gak sukak sama gue. Tapi lo nggak perlu ngebully gue dan kunci gue di toilet. Gue pikir elo, cowok nomor satu di sekolah, bebas ngerjain gue kayak gini?"
Hening sesaat. Yang terdengar hanya bisik-bisik dari berbagai sisi. Anak-anak di kantin mulai berkumpul memperhatikan kami. Tapi aku nggak peduli.
"Kalo lo emang gak mau sebangku sama gue, fine, gue bakalan minta sama kepsek buat tuker bangku! PUAS LO?!"
Setelah mengatakan itu, aku pergi dengan napas yang naik turun. Sungguh, baru hari pertama belajar sudah membuatku frustrasi sebangku dengan Kai. Gimana kalo sampe setahun? Bisa gila aku.
Lagi jalan dengan emosi memuncak, aku kaget saat lenganku ditarik masuk kedalam ruang UKS yang sepi.
Hampir aku melayangkan tinju saat kulihat wajah Arsya ada di depanku.
"Arsya? Hah." Napasku terasa lebih lapang sekarang. Aku pikir entah siapa yang menarikku masuk kesini.
"Kalo lo mau, gue bisa minta pindah dari IPA1 ke IPA2 dan sebangku sama lo." Ujar Arsya dengan wajah datar tanpa terlihat emosi apapun di dalamnya. Walau begitu, ucapannya terdengar sangat khawatir padaku.
Sebangku sama Arsya? Mau bangett...
"Ngga perlu, Sya. Gue bisa kok, ngadepin ini. Makasih, ya. Gue juga sebenarnya pengen banget sebangku sama lo biar bisa nyontek terus. Tapi kalo gue ngehindar, Kai bakalan merasa menang karena berhasil ngusir gue dari bangku itu."
Wajah Arsya tetap nampak tenang dengan mata yang terus menatapku. Tapi aku tahu makna tatapan itu.
"Gue yakin, gue bisa ngelewatin satu tahun duduk dengan Kai walau berperang setiap hari pun!" Jawabku yakin dan penuh percaya diri.
Yah, aku juga ga tau kenapa ngomong kayak gini padahal tadi sempat mikir mau pindah sekolah aja. Tapi setelah ditimbang-timbang, Kai pasti akan seneng banget kalo aku pindah dan terusir. Artinya misinya berjalan sukses.
No, aku nggak mau buat dia senang karena telah mengalahkanku. Malah aku akan buat agar akulah yang bisa mengalahkannya. Wuahahahaha.
__ADS_1
(Visual Karin)