
Malam itu, pukul 11 malam, Arga memasang tv besar dan meletakkan beberapa makanan dan minuman dari berbagai macam ragam untuk menemani malam mereka.
"Happy anniversary pernikahan, sayang." Arga meraih dagu istrinya dan mencium lama bibir lembut itu. Syahdu sudah menjadi partner in life yang paling klop selama delapan belas tahun.
Syahdu mengelus pipi suaminya. Pria yang telah mengorbankan banyak hal demi dirinya. Melakukan apa saja yang ia minta. Betapa ia merasa beruntung bisa memiliki Arga dalam hidupnya.
Tapi kesenangan Syahdu malam itu berangsur pudar saat kembali ingatannya melayang pada sang anak tunggal. Permintaannya malam itu, dia belum mendiskusikannya pada Arga.
Arga duduk disebelah Syahdu, menaikkan kaki berempetan dengan kaki sang istri, lalu ia selimutkan atasnya. Malam ini mereka ingin menonton, alias netflix and chill. Bukan chill yang lain, benar-benar chill buat bersantai.
Tatapan kosong Syahdu bisa ditangkap Arga. Memang sorot matanya ke depan, tapi Arga tahu Syahdu sedang tidak menonton film.
"Ada apa?"
Syahdu menoleh, dia tersenyum kecil. "Anak kita udah tumbuh besar..."
Mendengarnya membuat Arga tertawa kecil. "Dia pernah tanya, kenapa hanya punya satu anak padahal dia selalu melihat kita mesra-mesraan di rumah."
Syahdu ikut terkekeh. "Jadi dia mau punya adek?"
"Telat ah, kita udah tua. Biarin dia aja yang buat sendiri."
"Heh!"
"Hahaha. Dia kan, udah besar, sayang." Arga menarik Syahdu dalam pelukan dan bersandar di sofa. "Dulu waktu aku sebaya dia, aku udah tahu rasanya perempuan."
"Dia ga kaya gitu, kan?" Tanya Syahdu khawatir. Suaminya dulu pernah liar, dia tidak mau anaknya menurunkan itu.
"Ya enggaklah. Kamu hebat bisa ngedidik dia dengan baik. Kalo aku dulu, orang tua pada sibuk ngurus usaha mereka. Sampai aku terlantar begitu."
Keduanya diam. Pandangan sama-sama menatap layar yang menampilkan film romantis. Tapi tidak ada yang fokus kesana.
"Tapi Ga, malam waktu dinner itu, Arsya minta sesuatu ke aku."
"Adik?" Tanya Arga langsung.
"Bukan, ih. Apa, sih kamu." Protesnya, dan Arga terkikik geli. "Dia.. minta tunangan sama Ari."
"Haaah?" Arga sampai duduk tegak menatap istrinya. Apa dia ga salah dengar? Masalahnya, anak itu baru aja nginjak 17 tahun. "Trus kamu bilang apa, sayang?"
"A-aku ga tau, Ga. Aku cuma diam.. trus Arsya mohon, katanya dia bisa menjaga Ari dan segala macamnya. Aku sampe pusing." Syahdu memijit pelipisnya, mengingat lagu ucapan Arsya malam itu.
"Ssstt.." Arga kembali merebahkan kepala Syahdu di dadanya. "Kalo dia udah seyakin itu sih, artinya emang serius, beib. Tinggal kita tanya Tama."
"Arsya bilang dia udah ngobrol sejak lama ke mas Tama soal itu."
"Haah?" Lagi, Arga tercengang. Cepat betul anak itu, pikirnya.
"Anehnya, papanya Ari malah senang dan setuju aja waktu aku telepon balik untuk tanyain soal itu."
Mendengar ucapan Syahdu, Arga malah terkekeh. Kepalanya menggeleng-geleng salut pada anak laki-lakinya.
"Gaa, kok malah ketawa!"
"Eh, haha. Iya, sayang. Kayaknya ini karena aku, deh." Arga menyadari sesuatu. "Malam itu, dia tanya sama aku soal perasaan cinta di usia 17. Aku jawab aja, kalau ketemu kamu di usia segitu, aku pasti akan ikat dan nikahi kamu. Ehh ternyata dia terinsiprasi. Hahaha."
"Apaa?" Syahdu malah dibuat semakin stres, sementara Arga tertawa bahagia karena telah dijadikan inspirator oleh anaknya.
...🍭...
Satu minggu berlalu, ujian akhir semester telah dilewati Arsya yang lebih banyak belajar ditemani Ari. Hanya tinggal menunggu hasil, dan Arsya tak pernah khawatir soal itu. Dia lebih memilih mengajak Ari ke Lombok, tempat dimana ia bisa menghabiskan waktu bersama Ari yang dua minggu lagi akan kembali ke Rusia.
Sore di saat matahari sudah tidak menunjukkan teriknya, Arsya menarik tangan Ari berlari dengan semangat. Dia membawa keranjang coklat berisikan makanan. Dia dan Ari akan piknik di tepi laut.
Tanaman alang-alang dilangkahi begitu saja oleh Arsya. Dibelakangnya, Ari keberatan langkah karena tumbuhan tinggi yang masuk ke dalam dressnya, juga topi yang ingin terbang kena terpaan angin laut.
__ADS_1
"Syaaa, pelan-pelan, doong.." Seru Ari dari belakang, saat tangannya terus dibawa lari oleh Arsya, sementara satu tangan lainnya memegangi topi bundar agar tidak terbang.
Mereka sampai di atas tebing yang tidak begitu tinggi. Di bawah mereka ada pantai yang tak berpenghuni.
"Capek tauuu.." Ari terbungkuk menahan sesak. Dia sulit napas karena Arsya tak memberinya waktu istirahat.
"Hehe. Maaf, sayang. Aku bahagia banget soalnya."
Ari mengelap keringatnya. Walau angin menerpa, keringatanya tetap muncul.
"Senang kenapa.." Tanya gadis itu ditengah sesaknya.
Arsya tersenyum saja, lalu membuka keranjang yang sejak tadi ia bawa, mengambil tikar kain berwarna putih lalu membentangkannya di atas rumput.
"Sini." Arsya membuka sendal, lalu duduk di tikar.
Ari melepas sendal bertali yang ia pakai, lalu muncul semangat saat Arsya mengeluarkan isi keranjang.
Makanan, minuman, novel, dan kamera kecil.
"Mau makan dulu?" Tawar Arsya.
"Enggak, ah. Aku mau istirahat..."
"Ooh. Oke. Sini." Arsya menyelonjorkan kaki, menepuk pahanya yang kelihatan sedikit, sebab ia memakai celana pendek selutut.
Ari merebahkan kepala di pangkuan lelaki itu, lalu membuka novel untuk membaca, sementara Arsya kembali ke dunia game-nya.
Sejenak suasana begitu tenteram. Sinar matahari yang bersembunyi saat waktu telah menunjukkan untuknya bergantian dengan bulan, suara ombak pantai, juga semilir angin membuat mereka menikmati liburan berdua.
Ari menurunkan novelnya. "Sya."
"Iya.."
Ari duduk. Tiba-tiba dia memikirkan sesuatu yang mengganjal.
Biasanya, dua orang tua itu paling protektif, terlebih bunda. Mana mungkin dia izinin pergi terlebih hubungan mereka berdua sudah menjadi sepasang kekasih.
Arsya menggaruk kepala. Sejak tadi dia merasa ringan saja. Tau-tau Ari menanyakan hal ini.
"Bagus, dong. Itu artinya mereka percaya ke kita."
"Aneh aja.." Ari menatap lurus ke depan. Duduk disebelah Arsya dengan arah wajah yang saling membelakangi.
"Ngapain dipikirin, sayang. Yang penting kita ada waktu 3 hari disini. Kamu mau ngapain aja, bebas." Ucap Arsya seraya mengelus rambut panjang Ari.
"Iya, sih." Ari menghempaskan perasaan aneh di pikirannya. Arsya benar, seharusnya dia senang karena diizinkan pergi berdua seperti ini.
"Mending kita main layangan aja." Arsya berdiri, dia mengikat rambutnya ke belakang.
"Layangan?"
Arsya menunjuk bebatuan di bawah sana, ada layangan yang nampaknya sengaja ditinggalkan disana.
Arsya menuntun Ari turun ke bawah. Menjelang malam, mereka asyik bermain layangan di pantai. Berlari kesana kemari mengejar saat layangan tertiup angin kencang dan terjatuh ke pasir, sampai membuat gemercik air ombak mengenai tubuh mereka.
Dadanya serasa meledak, Ari sangat senang dengan liburannya kali ini. Terlebih hanya berdua bersama Arsya.
Layangan tenang di atas sana, tetapi benangnya tetap harus dipegang. Arsya yang ada dibelakang Ari memberi instruksi kapan harus mengulur dan menarik benang agar layangan tetap terbang.
"Aku baru pertama main layangan. Seru yaa." Ucap gadis itu, tertawa bahagia menatap layangannya di atas sana.
Ari melirik ke belakang dengan rambut yang terbang membuat Arsya terkesima. Cantik. Arsya semakin mendekap tubuh Ari dari belakang.
Kaki mereka tersapu air ombak yang menggulung, tetapi itu sama sekali tidak mengganggu. Arsya menggeser rambut yang menutupi pipi Ari, lalu mengecup telinga gadis itu.
__ADS_1
Ari merasa dirinya seperti terbakar. Terlebih bulu kuduknya langsung berdiri seperti terkena sengatan listrik.
"Are you Happy?" Arsya meletakkan dagunya di bahu Ari. Mendekap gadis itu supaya tetap hangat ditengah terpaan angin yang tak ada hentinya.
"Happy banget." Bibirnya menyunggingkan senyum lebar, membuat Arsya yang melihat dari samping tidak puas.
Arsya mengenyahkan kaleng benang yang dipegang Ari, lalu memutar tubuh gadis itu menghadapnya. Dia merapikan rambut Ari yang terkena hembusan angin hingga menutupi wajahnya. Arsya menyelipkannya ke belakang telinga gadis itu, supaya tidak mengganggunya untuk menatap wajah sang kekasih.
"Kamu ga tanya aku?"
Ari melingkarkan tangannya di pinggang Arsya. "Kamu bahagia, Sya?"
Arsya menyelipkan tangannya di tengkuk leher Ari. "This is the best God's gift ever. This moment, this feeling, scent, scenery, and... you."
Bibir Ari kembali tersenyum. Ia tahu apa yang ingin Arsya lakukan sejak lelaki itu memegangi tengkuknya. Ari berjinjit untuk menerima ciuman yang paling ia nantikan.
Sunset, temaram, juga suara ombak menggulung membuat ciuman semakin dalam. Air yang mengenai kaki membuat sensasi dingin dan malah menambah kesan romantisme diantara mereka.
Arsya melepas pagutan bibir, lalu mengusap bibir Ari dengan ibu jarinya. Lelaki itu juga melepaskan tangan Ari yang melingkar di tangannya, membuat alis Ari berkerut. Terlebih saat Arsya mundur beberapa langkah seolah menjauh.
"Sya.." Ari sempat berpikir, kesalahan apa yang ia lakukan sampai Arsya mundur begitu.
Namun tiba-tiba lelaki itu berlutut dengan satu kaki sebagai tumpuan. Tangannya memperlihatkan kotak kecil beludru merah, lalu membukanya.
"Ariva..."
Tidak menyangka akan apa yang terjadi, Ari yang menganga harus segera menutup mulutnya dengan kedua tangan. Terlebih melihat dua benda berkilau putih yang sangat cantik.
"Aku meminangmu dengan sunset yang tengah mengintip..."
Ari tertawa mendengarnya. "Syaa..." tangannya terulur, meminta lelaki itu langsung saja memakaikan ke jarinya. Dia sudah tidak kuat. Ini manis sekali...
Arsya memakaikannya, lalu berdiri dan meminta Ari memakaikan juga untuknya.
Terpasanglah cincin bagi dua orang yang lalu saling berpelukan itu.
Duaar!
Ari tersentak kaget saat melihat tiba-tiba ada kembang api di atas kepala mereka. Ternyata di atas tebing telah ada Tama, Syahdu, Arga, Karin, Hajoon, Kai, dan banyak lagi yang belum Ari bisa lihat dari jauh sana, membuatnya kaget tak percaya.
"Selamaaattt!" Teriak Hajoon, lalu melepaskan satu kembang api lagi sampai membuat Ari dan Arsya yang ada dibawah tertawa sambil menutup telinga.
"Syaa.." Entahlah. Ari tidak bisa berkata-kata, selain kembali menarik Arsya untuk bisa ia peluk. Rasa bahagianya sama seperti kembang api yang menyala diantara malam. Indah, dan dia tidak bisa menggambarkannya.
"I love you, Sya. Love you so much..."
"I love you too, my love." Balas Arsya dan terus mengecup puncak kepala Ari dengan penuh cinta.
Foto hanyalah contoh.
***********
CERITA ARI DAN ARSYA AKAN ADA DI LANJUTAN NOVEL INI YA GUYS.
Tapi Sabar karena butuh waktu buat nulisnya.
dan sekarang kalian tunggu novel terbaru aku yang ini...
*** JUDUL BERBUBAH: SEPUPUKU, CANDUKU.
__ADS_1
Gagal menikah karena calon suaminya selingkuh dengan sesama jenis, ternyata membuat Bulan tidak lagi menyukai laki-laki bertubuh atletis seperti yang telah menjadi kesukaannya. Dia bahkan menganggap laki-laki bertubuh kekar semua sama seperti Andra, mantan tunangannya.
Lalu ia dikirim ke rumah kakak dari sang ibu, dan bertemu dengan Samudra Biru, sepupu yang sama sekali tak dilirik Bulan karena traumanya terhadap laki-laki berperut sixpack. Berbeda dengan Samudra Biru yang ternyata juga dosen Bulan di kampus, diam-diam Samudra Biru ternyata menyukai Bulan.