
Pembacaku yang terhormat. Kalian pengen tak hiiihhh. Padahal kan, aku setiap hari update😭, kemaren ga up Krn hp rusak dan ini aku masih pinjem hp orang buat tetap up setiap hari. Aku makasih banget kalo kalian sukak sama cerita ini, but please ya jgn lagi lapor-lapor. Kalian bisa komen aja, aku tetap baca kok walau agak telat. Kalian vote aja banyak2 biar aku semangat. Makasih🌻
😁
...🍭...
Penggalangan dana, salah satu acara bisnis perusahaan yang mengundang banyak kolega, investor, atau perusahaan lainnya untuk mengumpulkan benefit yang akan diserahkan pada badan amal. Dan beberapa pemilik bisnis biasanya mengambil kesempatan emas untuk menaikkan nama dengan mengenalkan bisnisnya pada perusahaan yang lebih besar supaya mau menjalin kerjasama.
Begitu penjelasan papa waktu itu. Dan kehadiran orang penting yang dikatakan Kai tadi nampaknya membuat peraturan benar-benar dijalankan demi mendapatkan peluang dan keuntungan yang lebih besar.
Aku jadi penasaran, siapa saja anak pebisnis di sekolah Garuda. Selama ini aku ga pernah tau tentang perkumpulan bisnis atau sejenisnya yang membuat anak-anak pebisnis sendiri menjadi satu kelompok yang bergengsi dari kelompok lain. Dipandang lebih terhormat dan berkelas sampai-sampai banyak yang rela melakukan apa saja asal bisa bergabung dengan kelompok mereka.
Dan beberapa cewek yang ada dibelakang Vita jadi buktinya.
"Wah, lagi rame, ya. Gue boleh gabung nggak?"
CK. Dia lagi. Mau apa, sih?
Vita duduk tanpa diminta. Beberapa temannya hanya berdiri menunggu di belakangnya.
"Gue denger lo bahas soal pertemuan bisnis besok malam. Nampaknya kita akan ketemu disana."
Karin menyandarkan punggung sembari melipat tangan di dada. "Ngga ada yang nanya lo."
"Cuma mau konfirmasi kehadiran aja. Lo tau kan, bokap lo bakalan ketemu bokap gue disana. Secara, siapa yang butuh siapa." Jawabnya dengan tersenyum pada Karin.
Oh. Jadi kerjasama perusahaan juga soal siapa yang butuh siapa, ya. Bener juga, sih. Apa selama ini Karin banyak diam karena tau posisi perusahaannya ada dibawah perusahaan orang tua Vita?
Lalu Vita pun menatapku. "Lain kali, jangan bicara soal bisnis di depan Ariva. Itu gak sopan. Anak panti kan, ga tau apa-apa soal bisnis begini."
Karin berdiri. "Lo gak tau malu banget, ya."
"Kenapa gue harus malu? Ariva tuh, yang harusnya punya rasa malu. Minimal ngga nunjukin tampang di sekolah."
Aku mendesah pelan. Yah, aku lagi. Rasanya pengen banget nampol ni anak. Tapi aku harus sabar.
Kai juga berdiri. "Udah-udah. Kita balik aja ke kelas."
Hajoon berdiri dan bergerak keluar meja mengikuti Karin dan Kai. Lalu saat aku hendak berdiri, Vita tersenyum smirk padaku.
"Gue turut prihatin ya, soal kemarin malam. Sedih gue liat keadaan lo sekarang."
Aku menunda untuk berdiri dan tersenyum pada Vita. "Sebenarnya, gue lebih kasian liat keadaan lo."
__ADS_1
Senyumnya memudar, emosinya memuncak setelah mendengar ucapanku. Ia pun berdiri. "Lo pikir lo siapa sampe kasiani gue? Udah ngerasa hebat lo, gundik?"
Aku menyeruput es teh terakhir, lalu berdiri. "Sampai ketemu nanti, Vita." Masih dengan senyuman, aku pergi meninggalkan Vita dalam keadaan kesal, apalagi ia belum sempat membalas.
"Lo liat aja ntar, lo bakalan tau udah berhadapan dengan siapa!" Teriaknya padaku.
Aku berbalik. "I'm waiting for that." Kataku, dan Vita terlihat kesal banget. Hehehe.
Aku menerobos kumpulan teman-teman Vita yang sudah ingin menghajarku. Untung saja masih ada Kai yang menunggu.
Aku berjalan bersisian dengan Kai, sementara Karin dan Hajoon ada di depan kami. Kai sejak tadi terus menerus melirikku.
"Apa?" Tanyaku saat merasa Kai ingin menanyakan sesuatu padaku.
"I don't know, gue ngerasa lo akan ngelakuin sesuatu."
"Sesuatu apa. Perasaan lo aja, kali." Jawabku dengan angkat bahu.
...🍭...
Katanya masa-masa SMA adalah masa yang tak terlupakan. Yang kaya gini maksudnya?
Padahal aku cuma pengen punya kisah cinta yang manis. Aku pikir, aku udah dapetin itu dari kak Juna. Nggak taunya malah zonk.
Udah diselingkuhin, dikhianati sahabat, dipermainkan pula perasaannya.
Ini sih, udah bisa dibuatkan novel dengan judul; kisah cinta tragis semasa SMA. Pasti ngga ada yang beli. Emang siapa yang mau baca kisah tragis? SMA tuh, harusnya penuh dengan kisah romantis.
Ck!
Aku melempar pulpen lantaran nggak ada ide mengarang cerita dari salah satu jenis teks. Bukannya mikir cerita, malah melamunin kisah hidup!
Errghh...
Lagi kesulitan gini biasanya aku lari ke kamar Arsya.
Aku pun menoleh pada jendela kamarnya yang tertutup. Dia kemana, ya? Dari kemarin aku ga liat dia. Padahal aku mau sapa dan memulai kayak biasa. Aku mau tau, sebenarnya perasaanku ke dia itu gimana, sih. Soalnya setelah kejadian kemarin, nggak sedetik pun pikiranku lepas dari Arsya.
Ngomong-ngomong soal perasaan, gimana kalau ternyata aku beneran ada perasaan ke Arsya? Aku khawatir, entah sebenarnya karena aku terlalu terbiasa dengan Arsya, lalu aku menyalah artikan perasaan. Aku pengen tau gimana perasaan aku sebenarnya ke dia.
Bener kata Zaki dan Danu. Ngga ada persahabatan antara cewe dan cowo. Biasanya salah satunya pasti akan jatuh cinta. Dan, sepertinya akulah orang yang udah jatuh duluan ke lembah perasaan.
Aku berdiri dan mendekati jendela, mencoba menerawang ke dalamnya, apakah Arsya ada disana? Tadi malam, aku sempat denger dia nutup jendela jam 1 malam. Artinya dia baru pulang di jam segitu, kan? Kemana ya, dia.
Srekkk!
__ADS_1
Aku terkejut saat jendela dan tirai kamar Arsya dibuka. Terperangah melihat siapa yang berdiri disana.
"Wah, ada yang lagi ketangkep basah meratiin kamar cowo gue, nih."
Kenapa Vita bisa masuk ke kamar Arsya?
Aku menelisik ke dalam, dan tak ada Arsya disana.
"Ngapain lo disitu?" Tanyaku.
"Hah?" Vita malah tertawa. "Nggak salah pertanyaan lo? Ya terserah gue, lah. Ini kan, kamar cowo gue."
"Udahlah ga usah ngaku-ngaku. Gue tau Arsya ga punya hubungan sama lo."
Vita melihatku dengan kepala miring. "Dia bilang gitu?" Senyum miringnya terulas. "Dia cuma ga mau lo cemburu. Dia tau lo sukak sama dia, makanya dia bilang gitu."
Eh? Arsya tau aku sukak sama dia?
"Masa lo ga liat gimana kita selama ini. Kalo emang gue ga pacaran sama Arsya, ngapain gue sampe masuk ke kamarnya?"
Perkataan Vita spontan membuatku diam. Apa yang dibilang gadis itu benar juga. Tapi segera kutepis prasangka buruk pada Arsya. aku yakin Arsya nggak bohong. Dari caranya bicara dan tatapan matanya, i know him so much.
Aku melipat tangan di dada, lalu tersenyum. "Kasian banget. Nggak dianggep pacar, tapi malah ngebet pengen diakui. Pake ngarang candle light dinner segala, lagi."
Aku bisa melihat mata Vita yang membelalak, lalu dia mencoba menetralkan wajahnya dan kembali tersenyum.
"Terserah, lo mau percaya atau nggak. Just for your information, keluarga gue dan Arsya bakalan ketemu di penggalangan dana malam ini. Yah, lo tau sendiri lah kalau udah saling ketemu keluarga artinya kita serius ngejalani hubungan ini. Lo yang anak panti, mana ngerti."
Terserah lo deh, nenek sihir!
"Kalau gitu, selamat bersenang-senang, Vita." Aku langsung menutup tirai jendela. Nampaknya gadis ini memang ga tau malu. Sekarang aku cuma tinggal perlu ngebuktiin aja, apa semua yang Karin bilang soal Vita benar? Aku bakal buktiin malam ini.
Ponselku berdering, papa yang menelepon.
'Sayang, kamu siap-siap. Papa udah hampir sampe panti.'
"Loh, papa yang jemput? Katanya temen papa yang akan jemput aku." Sahutku sambil membawa tas selempang dan bersiap turun.
'Enggak, papa pengen ngabisin waktu sama anak papa. Bentar lagi kan, papa balik ke Rusia. Kamu tunggu ya, kita ke butik dulu cari baju buat kamu.'
Senyumku mengembang sempurna. "Oke."
Wah, sampai ketemu malam ini, Vita....
TBC
__ADS_1
Gue gatel pengen Crazy Up beberapa Bab tapi Vote nya dikit ihh ga seru nih:(