
"Syaa. Disini rupanya." Vita duduk di sampingku. "Eh, buku siapa ini?"
Ah, novel Ari... ketinggalan.
"Buku.. gue." Zaki langsung merebut novel itu dari tangan Vita, menyimpannya ke dalam tas.
Kami diam saat Bartender tadi meletakkan pesanan terakhir. "Ice cream minty, dan vanilla latte less sugar." Katanya, lalu pergi setelah pesanan dipastikan sesuai.
"Pesenannya ada 4?" Tanya Vita heran. Sebab kami bertiga.
Hening. Tak ada yang menyahut. Aku menatap vanilla latte yang nggak kupesan, tapi bisa ada di atas meja, pasti karena Ari yang tahu apa yang ku mau. Begitu juga ice cream minty itu, pasti pesanannya.
"Ice cream ini punya siapa?" Tanya Vita lagi.
"Aku." Jawabku.
"Buat aku, ya." Vita menggeser mangkuk eskrim dan mulai menyantapnya.
"Emm. Enak bangett. Pilihan Arsya emang bagus-bagus!" Katanya menikmati eskrim pesanan Ari tadi.
"Iya, bagus. Makanya dia milih elo. hehe." Sahut Zaki pula, sampai membuat Vita melingkarkan tangannya di lenganku.
"Jelas itu!" Jawabnya sampai membuat Danu dan Zaki tertawa.
Huffft. Aku menatap keluar jendela. Hujan deras. Apa kabar si Ari? Udah dapat taksi, kah? Atau dia kehujanan?
Aku mengeluarkan ponsel, ingin menghubungi Ari.
"Ariari siapa?" Tanya Vita yang ternyata mengintip layar ponsel yang tengah menampilkan nama Ari.
"Temen." Jawabku singkat, lalu berdiri dan menjauh untuk mencari tempat mengobrol. Lama aku menunggu, tak ada jawaban. Apa Ari kehujanan?
Gue jadi mau jemput tuh anak. Tapi gimana mau pulang, ngga ada mantel. Ck. Sial banget.
"Kenapa, Sya? Kok gelisah banget." Tanya Vita saat aku kembali duduk.
"Nggak. Bukan apapa."
...🍭...
Hujan mulai reda, aku langsung pulang tanpa izin Vita saat mendapat pesan dari kak Adit kalau Ari diajak pulang sama bokapnya.
Nggak boleh, lah. Mana bisa seenaknya bawa Ari. Dia udah janji mau nemenin aku sekolah sampe lulus. Bokapnya juga kenapa tiba-tiba dateng di saat yang tidak tepat? Aneh aja.
Aku sampai di rumah dalam keadaan tubuh yang agak basah. Gerimis lumayan juga, sampe bikin aku kedinginan.
"Sayang.."
Mama sampai berdiri mendapatiku berlari kecil ke arahnya yang menikmati teh di ruang santai.
__ADS_1
"Ma, Ari mana? Katanya papanya datang, ya? Ari mau dijemput, ma? Dia mau?"
Mama sampai bengong mendengar rentetan pertanyaan yang keluar gitu aja. Aku ga sabar.
"Duduk dulu." Mama menarik tanganku sampai duduk di sofa. "Loh. Kamu basah."
"Iya, nanti Arsya ganti. Soal Ari gimana, ma?"
"Ari di kamar. Dia ga mau pulang, kok. Malah marah-marah karena papanya mau jemput."
Huwwff. Syukurlah. Lega.
"Tapi kayanya Papa Ari serius mau bawa dia. Soalnya mama denger papanya mau memperbaiki hubungan mereka sekeluarga."
Gitu, ya. Kalau emang kaya gitu, aku mana bisa berontak. Keluarga utuh, itu keinginan Ari sejak dulu.
"Ya udah, deh. Arsya ke kamar, ma." Kataku sambil bangkit.
"Udah makan, nak?"
"Udah, ma." Aku mengecup pipi mama, lalu naik ke lantai dua.
Sesampainya di kamar, aku langsung menuju jendela yang terbuka lebar menghadap jendela Ari.
"Ari. Lo di kamar, kan?"
Dia muncul dan berdiri di depan jendelanya. Memperhatikanku yang agak basah.
Ari menarik kursi dan duduk dengan tangan yang melipat di bingkai jendela. "Ngga apa-apa, apanya."
"Gue udah denger dari Bunda. Katanya.. lo mau dijemput bokap lo."
Ari mengangkat bahu. Kayaknya dia kesal soal bokapnya, ya. Atau.. dia masih kesal karena tadi Vita datang?
"Lo beneran gak mau ikut bokap lo ke Rusia, kan?" Tanyaku memastikan.
Alisnya mengerut. "Kenapa? Takut gue pergi?"
Takut lo pergi? Hah. Aku menatap langit yang mulai hitam.
Gimana ya, cara jelasinnya. Masa iya gue jujur sama lo kalo gue cuma punya sabahat elo, Ri. Mana mau gue ditinggal sahabat yang ngerti gue banget.
"Lo kan, pernah janji ga akan pergi kemana, pun." Ucapku dengan memandang langit. "... katanya, mau lulus bareng. Kuliah bareng, pake toga bareng."
"Kan, lo udah ada Vita. Ngapain lagi ngarepin gue. Temen lo juga sekarang banyak." Jawab Ari dengan gampangnya.
Hadeh. Apaan, sih. Mereka itu bukan temen. Apalagi Vita. Nggak tau kenapa, lama-lama agak males karena banyak ngaturnya. Ini juga Hp getar terus di saku, pasti karena Vita. Tadi dia kesal karena aku langsung kabur gitu aja ninggalin dia.
"Jadi gimana? Lo gak kesana, kan?" Tanyaku memastikan.
__ADS_1
"Yah, ga tau juga. Tergantung gimana nasib gue disini."
"Kok lo gitu. Nasib lo aman selama deket sama gue."
"Nggak kebalik?" Alis Ari sampai terangkat.
"Emang selama ini lo kenapa?"
"Masih nanya gue kenapa? Lo tanya aja fans lo!" Sungutnya geram.
"Itu kan, dulu. Sekarang gue kan, nurut. Lo maunya ga saling kenal di sekolah, ya gue iyain supaya lo nyaman." Kataku dengan kesal. Padahal udah ngalah banyak, masih aja ni anak ngerasa kurang.
Ari malah senyam-senyum ngeliat aku yang gusar.
"Sya."
"Hm."
"Kalo gue.. jadian sama seseorang, menurut lo gimana?"
Hah, maksudnya gimana? Dia udah jadian sama Juna? Enggak, kan?
"Lo... ditembak Juna?" tanyaku sembari berharap dalam hati, supaya itu nggak terjadi. Please...
"Engg.. belom sih, tapi besok dia ngajak gue jalan. Hihii. Seneng banget akhirnya cowok yang gue taksir ngajak gue jalan."
Ya ampun, sampe nyengir gitu. Jadi tadi lo ketemu Juna, hah? Nyesel banget gue ngekhawatirin lo!
"Selamat, deh." Ucapku nggak tulus.
".. tapi lo serius gak jadi pergi, kan?" Tanyaku memastikan lagi.
"Astaga itu mulu yang dibahas. Enggak. Gue gak pergi. Mana mungkin gue bisa ninggalin elo yang ngekorin gue mulu." Jawabnya lantang. Aku senang dengernya.
"Gue gak pernah lagi ngekorin lo, ya!"
Ari tertawa lepas sampai kepalanya terdongak ke atas. Weh. Udah lama juga gue ga liat lo ketawa, Ri. Belakangan kita jarang nongkrong, ya. Padahal gue mau bawa lo besok. Tapi lo udah janji duluan sama Juna brengsek.
Aku mengulurkan jari kelingkingku pada Ari. "Janji, lo jangan pergi sampe kita selesai sekolah dan kuliah. Setelah itu, gue serahin pilihan ke elo. Tapi sampe kuliah, lo harus tetap jadi sahabat gue."
Ari menyambut kelingkingku dan melingkarkan kelingkingnya. "Iya. Gue janji sama lo. Gue akan tetap disini sampe lo nikah dan punya anak, deh. Biar lo puas."
Kini aku yang tertawa mendengar ucapannya. Oke, deal, ya. Minimal lo yang nilai istri gue ntar gimana. Lo harus sukak. Kalo lo ga setuju, gue ga bakal nikah hahaha.
"Eh, ponsel gue."
Ari langsung meraih ponselnya diatas meja belajar. Senyum di bibir Ari terulas lebar.
"Kak Juna, aku angkat dulu, yaah." Dia melambaikan tangan dan menutup jendela.
__ADS_1
Ck. Apaan, sih. Padahal gue belom selesai ngomong, woi!
** Bersambung **