HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Birthday Party 44


__ADS_3

Pertanyaanku membuat mata Kai menyipit. "Emang sekarang enggak?" Wajahnya mendekat kearahku, membuat jantungku seperti berhenti berdetak, lalu ia berbisik. "Gue masih benci tuh, sama lo."


Senyumku malah melebar saat Kai menjauhkan wajahnya dan kembali pada pekerjaannya membubuhkan banyak angka dan rumus di kertas kosong.


"Yang benerrr..."


Kini aku yang menggoda Kai. Ingin tahu reaksinya, apa benar dia benci padaku. Kalau dilihat-lihat sih, udah enggak ya.


"Yang benerr?" Tanyaku lagi dengan suara yang lebih kuat.


Kai meletakkan pulpen dan memiringkan tubuh menghadapku. Wajahnya berubah serius.


"Emang gue keliatan lagi bercanda?!"


Eh.


Serius Kai masih benci sama aku? Jadi yang belakangan ini apa, dong.


Nggak puas, aku kembali bertanya pada Kai yang sudah kembali fokus pada kertasnya.


Aku menunduk dan menatapnya supaya Kai beralih fokus dan melihatku. "Kai, lo serius masih benci sama gue? Padahal gue udah ga benci lagi, lho."


"Hm."


Ck. Apaan sih, jadi nyebelin banget.


"Kai-"


Aku memundurkan kepala saat Kai mendekatkan wajahnya tiba-tiba. Napasku sampai tertahan. Ini.. kami dekat banget.


"Trus lo maunya gue suka sama lo, gitu?"


Eh. Enggak. Bukan gitu.


"Kai, lo salah paham."


Padahal niatnya ingin bercanda, tapi Kai kenapa seserius ini.


"..maksud gue..." aduh. Kenapa jadi susah jelasinnya, ya.


Disela aku memikirkan jawaban, kulihat punggung Kai terguncang dengan tangan menutup mulut.


Aku langsung paham dengan apa yang terjadi. Ohhh. Jadi lagi ngerjain aku?? Sialan.


Tanpa menunggu waktu lama, Kai semakin melepaskan tawa. "Lucu bangettt!" Dia menepuk-nepuk meja sampai membuat beberapa orang menoleh ke belakang.


"Lo ga liat tadi gimana reaksi lo, hah?" Kai lagi-lagi menepuk meja sambil cekikikan.


Kesal, aku melepas earphone yang menggantung di telingaku dan fokus menulis pekerjaan, membiarkan Kai yang masih terus tertawa lepas.


"Dia kenapa?" Tanya Karin, sampai ikut bingung dengan tawa Kai. Sementara aku menaikkan bahu, tak peduli dan anggap saja tidak tahu.


"Seru ya, Kai?"


Spontan suasana hening saat mendapati guru fisika yang katanya tidak masuk, tahu-tahu berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan bersedekap. Bu Erin, guru fisika itu berjalan mendekati meja kami.


"Ketawa lepas, nggak ngerjain tugas, lalu dengerin musik di kelas!"


Kai terkesiap. Dia menarik earphone dan membelalak saat ternyata aku udah ngelepas earphone dari telingaku.


Fyuhh. Untung aja! Ditambah guru juga ngira kertas yang ada di depanku --milik Kai, adalah milikku.


"Maju ke depan. Sekarang."

__ADS_1


Bu Erin berjalan ke depan. Dia duduk menunggu Kai menjalankan perintahnya.


"Kamu mau nilai kamu turun?" Tanyanya saat Kai sudah berdiri di depan.


Kai menunduk, lalu menggeleng pelan.


Hihii. Lucu banget, kaya anak kucing yang kehilangan induk.


"Kamu dihukum. Jangan karena kamu anak orang berpengaruh, trus ibu takut sama kamu?"


Kai mengangkat kepala, lalu berbicara pada bu Erin dengan suara pelan.


Setelah membisikkan sesuatu, bu Erin kini melihatku.


"Ariva!"


Mataku membulat. Mampus. Apa ini?


"Ariva, ke depan sekarang!"


Hah? Gue? Aku menunjuk diri, bertanya apakah memang aku yang dimaksud bu Erin? Tapi yang mengangguk malah Kai.


Aku bangkit dengan bingung dan berjalan ke depan. Di belakang bu Erin, Kai tertawa tanpa suara.


"I-iya, bu."


"Kamu kerjain soal nomor 5 di halaman 67, cepat."


Aku melirik buku bu Erin di atas meja. Aduh, ini sih yang tadi. Liat soalnya aja aku pusing. Lagian ni guru kenapa tiba-tiba masuk, coba. Bukannya tadi katanya ga masuk??


"Ga bisa??"


Aku memejamkan mata, takut disembur.


Hah??


Kai, mataku melotot padanya. Bisa-bisanya dia ketawa puas begitu.


"Kalian sana berdiri diluar. Angkat sebelah kaki dan kedua tangan pegang telinga!"


"Hah? Yang bener, bu?" Kok kayak hukuman anak SD, yang bener aja bu, aelah😭


Di luar, akhirnya aku dan Kai berdiri dengan satu kaki dan kedua tangan di telinga. Sampai sekarang aku bingung, kenapa harus ada hukuman seperti ini di bangku SMA, dan ini kali pertama aku kena hukum begini.


Walau aku ga pinter, tapi aku ga pernah tuh dihukum kaya gini. Malu banget kalo diliat orang. Tapi sialnya Kai terus senyum dan terlihat tak ada beban. Terbiasa dihukum, ya?


"Ini semua gara-gara lo!" Tukasku padanya.


Kai menoleh, lalu memudarkan senyum. "Kalo ga pinter, nyadar diri. Jangan malah nyalahin orang. Emang salah gue kalo lo ga bisa ngerjain soal fisika??" Ketusnya padaku.


"Gue tau ini akal-akalan lo supaya gue kena! Jelas-jelas tadi bu Erin ngga ngeliat gue dikit pun."Omelku pada Kai. Bola matanya melirik ke atas, jengah dengan ocehanku. "Tadi lo bilang apa ke bu Erin, hah?"


Kai tiba-tiba tertawa kecil. "Ga bilang apa-apa. Bu Erin feelingnya emang bagus. Dia sampe tau mana yang nyontek dan ga punya kemampuan dalam mengerjakan tugas fisika!"


"Apa lo bilang!!"


"Week!" Kai menjulurkan lidah, membuatku berani mendorong tubuhnya hingga kakinya yang cuma sebelah itu bertahan dengan melompat-lompat kecil, membuatku tertawa lucu melihat bagaimana berusahanya Kai untuk tetap berdiri. Padahal dia kan, bisa nurunin satu lagi kakinya.


Kai ga tinggal diam. Dia juga membalas, berusaha membuatku supaya terjatuh sampai akhirnya kami malah bermain di teras kelas.


Kami tertawa sambil terus saling menyenggol agar ada yang jatuh sampai aku tak sadar Arsya lewat di depan kami.


Beberapa detik aku terdiam menatap kehadiran Arsya sampai diamku dimanfaatkan oleh Kai hingga dia berhasil membuatku hilang keseimbangan.

__ADS_1


Aku sempat menurunkan kaki namun ternyata dorongan Kai di bahuku membuatku ingin jatuh ke belakang.


"Eeehhhh!!!"


Tap! Kai menahan lenganku. Lalu dia menarik hingga aku benar-benar merapatkan tubuhku, hampir berpelukan kalau saja aku tidak bisa menahan kaki. Tapi nyatanya, wajahku tetap menubruk dada Kai hingga aku terdiam sesaat disana.


Deg!


Eh. Ini.. suara jantung Kai. Perlahan aku mendongak, kulihat lelaki itu menunduk menatapku dengan sepasang mata yang kini melihatku dengan sorotan berbeda.


A-ada apa dengannya?


...🍭...


Kejadian pagi itu terlewati begitu saja. Aksi saling tatap antara aku dan Kai harus terpecah lantaran Arsya yang entah gimana menarik lenganku dan bilang bahwa dia ingin mengatakan sesuatu. Walau sudah sedikit menjauh dari Kai, nyatanya dia tidak mengatakan apa-apa.


Kai pun sialan. Bisa-bisanya dia minta guru juga ngehukum aku. Kakiku jadi pegel, nih!


"Kalian tau ga tadi gue bilang apa ke bu Erin?" Ucap Kai pada kami bertiga setelah bu Erin si guru fisika keluar kelas tadi.


"Apa?" Tanya Karin dan aku yang menyusun buku ke dalam tas pun ikut memasang telinga.


"Gue bilang gini. 'Bu, hukum Ariva juga, dong. Ntar saya kirimin hadiah ke rumah ibu'." Setelah berkata begitu, Kai tertawa terpingkal-pingkal.


Aku menganga. "KAAAIIIIII!!"


Dan terjadilah peperangan di kelas yang sebagian isinya sudah keluar beristirahat. Jangan tanya apa yang kulakukan, karena tanganku yang telah mengepal dan siap menghantam kepalanya, nyatanya tak bisa melakukan itu. Kai cepat banget, geraknya gesit, gimana mau nampol!


Yah, sekarang tinggal melangkah sendirian ke kantin. Laper juga.


"Eh, Ariva."


Elah. Dari suaranya aja aku tau ini siapa.


Aku membalikkan tubuh dan memberikan seulas senyum. Vita, dia dan beberapa member cheers ada di hadapanku sekarang.


"Va, i'm so sorry to hear gossip tentang lo di sekolah. Apalagi soal.." Vita menggantungkan kalimat yang aku paham tentang apa itu.


".. lo ga bener-bener ngelakuin itu, kan?"


"Menurut lo?" Tanyaku balik.


Vita mengangkat bahu. Dengan wajah sok prihatin, dia berujar. "Gue ga tau gimana cara berpikirnya anak panti. Tapi gue tau kok, lo ga sampe kehilangan kasih sayang banget sampe lo memilih jadi sugar baby-nya om-om."


"Iyyuuuhhh." Sahut orang-orang di belakang Vita sambil tertawa.


"Vit, kayanya keputusan lo buat pilih-pilih teman itu bagus juga."


"Iya, Vit. Jangan sampe lo yang keturunan keluarga Adisuryo kecoreng gara-gara..."


Aku menghela napas perlahan. Celoteh Vita dan teman-temannya ternyata berhasil membuatku naik pitam.


"Ayo, Vit. Jangan dekat-dekat. Ntar lo ketularan ga bener, lagi."


Vita menyentuh bahuku dengan tangannya. "Sorry ya, temen-temen gue emang kaya gini. Tapi.. ada benernya juga lho, Va."


Kutatap tangan yang menyentuh bahuku, hingga ia melepasnya dan berjalan pergi begitu saja.


Ternyata yang kemarin-kemarin bukan karena lo cemburu ke gue soal Arsya, Vit. Tapi emang lo udah nunjukin sifat asli lo ke gue. Oke Vita yang dipuja-puja semua orang. Tunggu aja tanggal mainnya. Lo akan ngerasain gimana rasanya berada pada posisi terbawah yang sebenarnya.


TBC


GUYS UDAH SENIN NIH, BURUAN VOTE SUPAYA GUE BISA CRAZY UP!! SALAM, ARIVA!

__ADS_1



__ADS_2